
Lisa POV.
Setelah menerima telepon dari Tika dan menceritakan semua padanya. Aku merasa sedikit lega. Kulirik jam dinding di kamarku dalam cahaya remang-remang lampu ruang tengah yang menyelinap melalui pintu kamar. Sudah pukul tiga dini hari. Tubuhku basah akibat keringat dari mimpi yang kualami tadi.
Mimpi itu benar-benar seperti nyata.
Aku menghela napasku berkali-kali, kemudian beranjak menuju ruang tengah. Menyalakan televisi lalu mengambil kotak rokokku yang tergeletak di tengah meja di depanku. Aku memutuskan untuk merokok di dalam rumah, sebab aku takut jika harus duduk di halaman luar belakang rumah. Takut jika Dana tiba-tiba kembali datang dan melakukan adegan dalam mimpiku, membuatnya menjadi nyata.
Aku kembali menghela napas dengan kasar, lalu menyelipkan sebilah rokokku dan menyulutnya. Sambil menonton televisi. Sebenarnya bukan menonton televisi, lebih tepatnya aku menatap televisi itu. Sedangkan pikiranku melayang jauh entah kemana.
Kuembuskan asap rokok yang tadi kuhirup. Otakku benar-benar kacau balau. Terlalu banyak yang aku pikirkan. Di satu sisi aku bahagia karena Tika kembali mau menjadi sahabat serta kembali menganggapku sebagai saudaranya. Begitu juga dengan Alex yang mau kembali menerima kekhilafanku dan melanjutkan rencana pernikahan kami.
Namun di satu sisi lainnya, aku takut akan kehidupanku di masa depan. Karena aku tahu, Dana pasti akan menggila dan tidak akan membiarkanku hidup tentram. Sebab yang aku tahu, dia tidak akan berhenti sebelum mendapatkan keinginannya.
Bulu kudukku tiba-tiba berdiri, aku merasa ngeri sendiri jika memikirkan apa yang akan dilakukan Dana. Dia begitu menggilai Tika saat ini.
Aku kembali menyulut rokokku, setelah beberapa detik yang lalu bilah pertamaku habis.
Tak terasa, kini waktu sudah menunjukkan pukul enam pagi. Mentari sudah mulai bersinar, masuk melalui celah gorden jendelaku. Sengaja semua jendela di rumahku ini, kututupi dengan gorden semenjak aku keluar dari rumah sakit. Dan tidak pernah kubuka lagi.
__ADS_1
πΆ
Wait, can you turn around, can you turn around?
Just wait, can we work this out, can we work this out?
Just wait, can you come here please? 'Cause I want to be with you
πΆ
Tiba-tiba saja ponselku di kamar berbunyi, membuatku terpekik kaget. Aku segera berlari untuk mengambilnya. Kulihat di layar siapa yang meneleponku, ternyata Alex. Aku bernapas lega.
"Hallo? Iya, aku gak bisa tidur. Tadi malam mimpi aneh. Iya, aku tunggu." Kuputuskan kembali sambungan telepon itu.
Tak terasa air mataku kembali menetes, meratapi nasibku yang terlalu kejam bagiku.
Kedua orangtuaku yang meninggalkanku di saat remaja, membuatku semakin meneteskan air mataku di bawah guyuran air shower. Hidupku terlalu keras hingga membuat pola pikirku jauh dari hati nuraniku.
Serta tanpa kasih sayang dari kedua orangtuaku yang tidak kurasakan sejak lama, membuatku berpikiran terlalu praktis. Kusia-siakan tubuhku hanya untuk sebuah kepuasan batin dan materi yang bisa habis dalam sekejap.
__ADS_1
Aku terlalu berdosa.
Tubuhku terlalu kotor.
Aku hina ...
Tak berapa lama setelah mandi, tiba-tiba bel rumahku berbunyi, aku berharap itu adalah Alex. Aku membutuhkannya saat ini.
Segera kukenakan pakaian bersih yang kuambil dari dalam lemari, lalu berjalan menuju pintu depan rumah. Sebelum membuka pintu, kulihat dari lubang pintu siapa yang datang. Aku kembali mengembuskan napas lega, memang Alex yang datang.
Kubukakan pintu untuknya, aku langsung memeluknya erat hingga dia menggiring tubuhku masuk ke rumahku dan mengunci pintunya.
Aku kembali menangis dalam pelukkannya.
'Betapa beruntungnya aku memiliki Alex sekarang,' pikirku dalam isak tangisku.
Bersambung ...
βββββββββββββ
__ADS_1
Maaf episode kali ini sangat pendek π€
Tinggalkan komentar kalian π