
Selamat membaca ...
——————————
Clara POV.
Hari ini adalah hari terakhir aku dapat bebas keluyuran ke sana-kemari, menjelang hari pernikahanku yang sisa tiga hari lagi akan di gelar. Sebelum ayah mengurungku di rumah untuk melakukan beberapa ritual yang entah apa itu. Sudah seperti ratu pantai selatan saja harus melakukan ritual. "Dasar ayah!” gumamku sambil terkekeh pelan memasuki kamar.
Tepat dua jam lagi Haikal akan menjemput kami, menjemput aku dan juga ayah untuk bersama-sama pergi menuju ke Hotel Raffles. Kami akan melihat awal dekorasi dan juga bertemu dengan pihak wedding organizers.
Kini waktu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi di mana seharusnya Haikal sudah datang menjemput. Beberapa kali aku memeriksa ponselku lalu mengirimkan pesan padanya, tetapi tetap tidak ada balasan. Hingga akhirnya aku mencoba untuk meneleponnya.
“Sabar, Clara. Siapa tahu dia sudah di jalan dan sedang menyetir, 'kan tidak bisa menerima telepon sembarangan?” protes ayah padaku.
Sedari tadi aku memang seperti panik sendiri dan sedikit rempong. Kakiku tidak ada henti-hentinya bergerak mengetuk lantai, mirip dengan orang yang sedang menggerakkan kakinya pada mesin jahit atau mesin obras kain.
“Dia gak pernah telat kalau urusan waktu, Ayah. Dan ini sudah lewat dari lima menit.” Aku mulai emosional.
“Astaga ... sejak kapan anak ayah jadi perhitungan seperti ini?”
Aku mencebik dan memutar kedua bola mataku, jengah. Lalu berdiri menuju dapur untuk mengambil segelas air. Rasanya terlalu kering mulut ini menunggu kehadirannya.
Baru saja aku menelan beberapa teguk air dari dalam gelasku, pintu depan rumah sudah diketuk oleh seseorang. Dengan cepat aku meminum semua isi air dalam gelas itu hingga tandas dan tersedak. Berniat untuk membukakan pintu, tapi ternyata ayah lebih gesit untuk lebih dulu membukanya.
Haikal tersenyum di ambang pintu lalu memperlihatkan sebuket bunga mawar merah yang kini menjadi kebiasaannya saat pagi bertemu denganku. Tadinya aku ingin merajuk jadi mengurungkan niat. Apalagi senyuman manisnya itu semakin hari, semakin meruntuhkan imanku. Membuat dada ini bergejolak tak karuan.
“Tuh 'kan, apa kata ayah? Dia pasti lagi di jalan tadi. Kamu aja yang gak sabaran. Udah kayak kebakaran jenggot.” Ayah mendampratku.
Aku memajukan bibirku lalu menyahuti, “Abisnya dia gak ada kabar. 'Kan khawatir!” kelitku.
Ayah berdecak sedangkan Haikal hanya tersenyum-senyum karena ayah selalu saja membelanya. Kemudian ayah langsung mengajak pergi sebab waktu sudah menunjukkan pukul sembilan lebih delapan menit, yang mana kami berjanji akan berada di sana tidak lebih dari jam setengah sepuluh.
Aku langsung berlari ke lantai atas untuk meletakkan bunga mawar ini pada sebuah vas bunga besar yang aku beli sebelumnya. Isi vas itu semuanya adalah bunga mawar yang Haikal berikan padaku, sejak awal dia memberikan bunga. Ya, bukan semenjak beberapa minggu yang lalu tetapi semenjak awal kami menjalin hubungan.
Tangkai mawarnya yang mulai membusuk pun tetap aku biarkan di sana. Aneh? Iya aku memang aneh. Dan aku menyukai itu. Aku suka jika mengingat kembali saat pertama kali kami bertemu. Berbaring sambil menatapi vas bunga tersebut dan membayangkan senyumannya. Terkadang aku juga sampai terlelap tidur jika wajahnya selalu hadir dalam ingatanku. Penuh dengan dirinya dan hanya dia.
Butuh waktu sekitar dua puluh lima menit untuk sampai ke Hotel Raffles yang berada di daerah Kuningan. Saat pagi seperti ini memang ada beberapa ruas jalan yang macet berdesakan, hingga Haikal harus segera mencari jalan tikus.
Begitu selesai memarkirkan mobil, aku melihat mamah mertuaku dan juga kakak ipar beserta istrinya sudah berdiri di depan pintu masuk hotel. Aku menyapa mereka dengan sopan, diiringi dengan ayah yang juga menyapa mereka. Lalu bersama-sama masuk menuju ballroom, tempat pernikahan kami digelar.
Ruangan itu begitu luas, mungkin seluas lapangan sepak bola dengan beberapa bagian kain yang sudah menghiasi bagian dindingnya. Perpaduan warna putih dan beberapa warna pastel yang mendekati putih sudah terpasang dengan rapi.
Meja dan kursi juga sudah tertata begitu mewah dan elegan. Aku sampai meneteskan air mata melihat sebagian dekorasinya. Memang belum rampung dan terkesan hanya 20% tetapi semuanya sudah mampu membuat aku begitu bahagia. Rasanya seperti mimpi jika hari pernikahanku akan semegah ini.
Shilla terus mendampingiku, menemaniku menyusuri satu per satu bagian sudut ruangan itu. Sedangkan yang lainnya sibuk bertemu dengan pendekor dan juga pihak weeding organizers. Saat ini beberapa orang pendekor sedang menata bagian panggung yang menjadi tempat kami berdiri menerima tamu. Tapi mungkin hanya beberapa jam, karena sisanya akan kami adakan sesantai mungkin.
“Kamu suka?” Suara Haikal tiba-tiba mengejutkanku. Aku hanya bisa mengangguk dengan begitu bersemangat.
__ADS_1
Lalu aku juga melihat seorang pekerja yang sedang mendorong sebuah kereta lalu mengeluarkan beberapa barang kaca untuk menghiasi di atas meja. “Seharusnya gak usah pakai kaca, aku takut itu pecah dan kita akan ganti rugi dengan semua itu,” bisikku pelan pada Haikal.
“Haikal sudah lama gak menghamburkan tabungannya, jadi nikmati aja,” balas bisikkan seseorang yang ternyata adalah Max.
Aku yang tadinya terkejut jadi terkekeh mendengar alasannya. Lalu Max juga mengatakan jika sebagian itu adalah permintaan mamah mertuaku karena rekan bisnis keluarga kami juga akan hadir sebgai tamu. Dan ayahku? Beliau juga mendukung semuanya, walaupun pada awalnya ayah terkejut jika Haikal memilih ballroom ini sebagai tempat acara kami.
Di satu sisi aku merasa semua ini terlalu mewah dan apakah semuanya akan sepadan dengan kehidupan pernikahan kami nantinya?
Tetapi di sini lain, aku juga tidak bisa membohongi hati, jika aku juga menginginkan pesta perkawinan yang layaknya seorang puteri kerajaan. Dan Haikal mengabulkan impianku itu.
Setelah beberapa jam kami semua berada di sana untuk memeriksa dan menyiapkan segalanya, kami memutuskan untuk segera beralih melakukan makan siang pada salah satu restoran di sekitaran kawasan itu.
Namun, betapa terkejutnya aku saat melihat seorang wanita yang aku kenal dan pernah bertemu denganku sebelumnya di salah satu mall, saat aku bersama dengan Tika.
“Jovanka?! Haii!!” seruku begitu hampir berpapasan dengannya.
Raut wajahnya terkejut melihatku saat dia sedang menggandeng seorang lelaki gang mungkin hampir seumuran dengan ayahku. Tapi aku masih ingat dengan wajah ayahnya dan yang ini, sepertinya bukan ayahnya. Lagi pula menurut berita yang aku dengar dari teman-teman yang lain, bukankah kedua orang tuanya sudah meninggal?
“Ha—hai, Clara!” sahutnya saat mendekat lalu melepaskan gandengan tangannya pada lelaki berumur itu.
Lelaki itu tampak seperti sedang menghindari sesuatu karena dia menundukkan wajahnya sesekali dan juga menutupi wajahnya, lalu segera pergi meninggalkan Jovanka setelah mengucapkan padanya jika akan menunggu di mobil.
Lalu beberapa saat kemudian, Haikal berdiri di sampingku. “Ah, Jovanka ... kenalkan, ini Haikal, calon suamiku. Ah iya, ini undangannya buat kamu. Untung aku selalu membawa beberapa lebihnya di dalam tas,” cerocosku yang juga bingung melihat Jovanka menatap Haikal dengan begitu intens.
“Kalian saling kenal?” tanyaku menatap mereka secara bergantian.
“Sejak dari sana tadi aku sudah melihat dan tidak menyangka jika kalian berteman. Dan aku pikir tadi dia tidak akan menyapaku karena aku atasannya,” jelas Haikal.
“Atasan?” pekikku.
“Iya, dia karyawan di rumah sakit. Dan aku sudah memberikan undangan kita pada semua karyawan di sana.”
“Maaf, aku memang dapat undangannya, tapi aku gak tahu kalau ternyata kamu orangnya yang akan menjadi istri dari dr. Haikal. Sekali lagi aku minta maaf. Dan makasih undangan ini. Aku buru-buru, maaf ya. Permisi, Dok!” Jovanka menundukkan wajahnya dengan sopan sebagai tanda berpamitan. Lalu langsung berlari kecil keluar dari lobby hotel.
Aku bingung melihat tingkahnya, apa benar lelaki tadi adalah sugar daddy-nya seperti apabyang diceritakan oleh anak-anak beberapa hari yang lalu?
“Kal, itu tadi siapa?” tegur Max yang muncul tiba-tiba. “Mirip sama mantan asisten bokapnya Jefri deh!”
“Masa sih, Max?”
“Kenapa?” tanyaku yang sedari tadi mendengar obrolan mereka.
Kemudian Haikal mengatakan tidak apa-apa dan menyuruhku untuk melupakan obrolan yang aku dengar tadi. Setelah itu kami semua segera menuju mobil masing-masing lalu keluar dari daerah itu. Menuju ke sebuah restoran untuk makan siang bersama.
**
__ADS_1
Begitu memasuki sebuah private room dalam restoran, betapa terkejutnya aku, begitu melihat semua teman-teman kantorku ada di sana. Bahkan teman-teman masa kecilku pun ada. Tak ketinggalan Tika dan suaminya, anak-anaknya pun ikut berhadir siang ini. Benar-benar sebuah kebahagiaan yang tiada ternilai bagiku.
Dengan bebas air mataku kembali berlinang membasahi kedua pipi. Entah siapa yang merencanakan acara Bridal Shower ini, yang jelas kegiatan ini sungguh tidak pernah ada dalam agendaku menjelang hari pernikahan.
Aku hanya bisa memeluk ayah dengan begitu bahagianya. Setelah beberapa minggu yang lalu aku menangis dengan sekuat tenaga karena kehilangan bunda. Dan hari ini, tangis itu serasa digantikan oleh Tuhan dengan rasa bahagia yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya.
Lagi-lagi aku merasa bersyukur atas semua yang sudah menimpa hidupku selama dua puluh sembilan tahun ini. “Andaikan bunda ada, aku mungkin bisa mengucapkan rasa terima kasihku karena sudah di lahirkan dari rahimnya. Disayangi dan dimanjakan oleh kalian hingga aku sebesar ini,” ucapku terbata saat memeluk ayah, dengan isak tangisku yang kini mengiringi.
Ini bukan sebuah tangisan kesedihan ataupun penyesalan. Tapi ini adalah satu-satunya tangisan kebahagiaan dan rasa bersyukurku karena Tuhan sudah menitipkan aku kepada seorang ayah dan ibu yang begitu luar biasa bagiku.
Lalu mempertemukan aku dengan seorang lelaki di waktu yang tepat. Dan keluarganya yang menerima aku apa adanya tanpa memandang strata latar belakang keluargaku. Bahkan saat menjalani hubungan dengannya, bermimpi akan membina rumah tangga dan hidup selamamya dengannya sajabaku tidak berani.
Belum lagi hatiku yang selalu meragu dan bimbang untuk meyakinkan pilihan. Hingga satu hari itu datang, Tuhan seolah menuipkan hati ini untuk menggenggam janji lelaki yang akan menikahiku. Untuk percaya pada kuasa-Nya.
“Sudah!! Ini kok dari tadi nangis aja?!” protes ayah sambil mengusap punggungku. Lalu beliau melepaskan dekapan kami dan menghapuskan air mataku.
Semua orang di ruangan ini seperti mematung, sebagian ikut menitikkan air mata memandangi aku dan ayah.
“Nikmati hari melajang kamu yang tersisa beberapa hari lagi. Setelah itu, jadilah seorang istri yang menurut dengan semua perkataan dan perintah suami kamu. Karena dia yang berhak atas apa yang ada pada jiwa dan raga kamu. Ayah yakin, kalian berdua bisa menjadi suami istri yang terbaik versi kalian.”
Aku mengangguk menerima nasihat ayah. Lalu keriuhan kembali terdengar, Shilla menarikku dari sisi ayah untuk bergabung ke tengah dekorasi lalu mereka semua mulai mendandaniku dengan sesuka hati mereka. Layaknya ritual seorang wanita yang akan melepas masa wanitanya.
Lalu dari kejauhan, aku melihat sebuah senyuman manis yang mengembang pada wajah calon suamiku. Yang tinggal beberapa hari lagi akan menjadi matahari di setiap pagiku dan akan menjadi bulan di setiap malamku.
Menjadi seorang penghangat sekaligus pendingin. Menjadi seorang pelindung sekaligus penasihat. Menjadi segala-galanya bagi hidup dan menjadi doa di setiap aku mengembuskan napas ini.
Bersambung ...
——————————
Hai hai holla lohha!!
Udah cukup yaa bacanya pake tissu 😝
Sudah menjelang prosesi pernikahan.
Jadi, siapa yang udah siap buat menghadiri pestanya??? Coba angkat tangan 😂👏
Undangan digital-nya menyusul yaa 🤣
Jangan lupa juga buat vote, masih aku pantau 🧐😂
Sekian dulu, #salambucin
Babay ...
@bossytika 💋
__ADS_1