
Lisa POV.
"Tik ... Tika!!!" Dengan sebelah tanganku, aku mencoba menggoyangkan tubuh Tika yang kini menimpaku, kupukul pelan salah satu pipinya agar ia tetap tersadar. "Buka mata, Tik, please!" lirihku serasa takut sesuatu terjadi padanya. Tanganku gemetar melihat dadanya yang tadi mengucurkan darah segar akibat sebuah peluru tajam yang merasukinya.
Dengan sekuat tenagaku, aku memeluknya dan menarik tubuhku untuk dapat duduk. Walaupun sebelah tanganku masih terikat erat pada seutas tali yang membelit di kepala ranjang. Seketika aku melihat beberapa orang masuk ke dalam kamar, menyergap Dave dan Dana. Menangkap dan membawa mereka berdua keluar dari kamar ini, entah ke mana. Selintas aku juga melihat tangan Dave yang memegang sebuah pistol. Menatap nanar ke arahku.
Sedangkan Max dan Jefri menghambur menghampiriku. Bukan, bukan menghampiriku, melainkan menghampiri Tika. Wanita yang mereka sayangi.
Aku hanya bisa tertegun, melihat selimut putih yang menutupi tubuhku, kini bersimbah penuh darah. Bunyi gemeretak gigiku sampai terdengar oleh telingaku sendiri. Aku acuhkan kepanikan Max dan Jefri yang dibantu dengan beberapa orang untuk mengangkat Tika, menjauhkannya dari diriku.
Pandanganku seketika menjadi buram, semua yang aku lihat menjadi tidak jelas. Lalu seseorang melepaskan seutas tali yang masih membelenggu sebelah tanganku. Kutatapi wajahnya yang tidak bisa aku kenali dengan begitu jelas, lalu ia menarikku, membawa tubuhku masuk dalam dekapannya. Sempatku hirup wangi tubuhnya yang selalu aku rindukan, sebelum akhirnya aku tidak sadarkan diri.
—————
Jefri POV.
Aku mengangkat tubuh Tika yang sudah tidak sadarkan diri. Membawanya masuk ke dalam sebuah mobil yang yang sudah ada Alex di dalamnya, lalu membawa mereka ke rumah sakit. Aku bahkan tidak tahu siapa mereka semua yang membantu kami tadi. Aku juga tidak melihat mengapa Tika bisa sampai tertembak. Semuanya begitu cepat terjadi, secepat aku membalikkan kepalaku untuk melihat keadaanya yang sudah tidak sadarkan diri. Ditambah lagi kondisi Alex yang juga memerlukan perawatan.
Sungguh tidak ada yang bisa aku pikirkan saat ini selain mereka dan kedua anak kembarku.
***
Sudah dua jam lebih Tika berada di dalam ruangan operasi, membuat aku semakin terpuruk menantikan kabarnya. Jantungku tak ada hentinya berdegup dengan sangat kencang, tidak beraturan. Max berlari di ujung lorong mengarah kepadaku.
"Gimana Tika?" tanyanya panik, aku hanya menjawab dengan gelengan kepalaku lalu menunduk.
Bersandar pada dinding di samping pintu ruang operasi, aku rasa cukuo untuk mengistirahatkan tubuhku sejenak. Sedangkan Max langsung sibuk dengan ponselnya.
Tak lama berselang kedua orangtuaku datang, kemudian mama memelukku begitu erat, ia menangis begitu mendengar kabar dari Max. Untungnya Max dengan cepat mengabari semuanya. Tak lama setelah itu, mertuaku pun datang bersama dengan bi Mince.
Beliau menangis meraung, memukul dada Max di saat Max mendekapnya. Meracau menyalahkan Max yang tidak becus menjaga anggota keluarganya. Ya, setahuku, selama ini Max lah yang bertanggung jawab atas segalanya setelah papahnya tiada. Aku mengetahui itu dari Tika, sebab aku pernah menanyakan padanya bagaimana latar belakang saudaranya bahkan papahnya. Sebab aku tidak pernah mengenal beliau.
__ADS_1
Cukup lama raungan itu terus terdengar, sampai akhirnya mertuaku jatuh pingsan. Tidak sanggup menerima kenyataan yang terjadi saat ini. Ia kehabisan napasnya akibat isak tangis yang terus-terusan terjadi tiada henti.
Mamah mertuaku akhirnya dilarikan ke ruangan IGD bersama bi Mince yang menemani, sebab Max memutuskan untuk menunggu Tika di sini. Dokter Ranti yang kebetulan juga akan membantu mamah mertuaku. Aku sengaja meminta orang yang mengendarai mobil van, yang membawa kami tadi untuk mengantar ke rumah sakit ini.
Bukan tanpa alasan, pertama karena rumah sakit ini adalah rumah sakit bertaraf internasional terbesar di sini. Lalu kedua, Haikal serta dokter lainnya sudah tahu betul bagaimana kondisi tubuhnya. Ditambah lagi aku hanya percaya pada tempat ini.
Papa dan mama kini sedang duduk di sebuah kursi sambil masing-masing menenangkan diri. Lalu Max berdiri di depan pintu ruangan operasi dan aku terduduk di lantai sambil bersandar pada dinding. Semua menunggu kabar selanjutnya dari ruang operasi.
Dengan berbagai macam jenis ketakutan yang merasuk dalam kepalaku, aku mencengkram erat rambutku. Lagi-lagi aku menyesali perbuatanku yang ceroboh meninggalkannya mandi dalam situasi yang seperti itu. Semestinya aku terus bersama dengannya, semestinya aku memahami kondisinya yang begitu menyayangi sahabatnya itu.
Aku mengembuskan napasku, menundukkan kepalaku dan menyelipkannya di antara kedua lututku. Aku sungguh menyesali semuanya.
Tiba-tiba pintu ruangan di sampingku terbuka, spontan aku berdiri dan mendapati Haikal yang keluar dari dalam sana.
"Kondisi Tika melemah, peluru di dadanya sudah berhasil di keluarkan dan rahimnya juga mulai berkontraksi. Leher rahimnya sudah membuka. Aku harus melakukan prosedur persalinan sekarang sebab semua ini termasuk gawat janin," Haikal berucap dengan penuh kegetiran.
Gawat janin adalah suatu keadaan di mana janin tidak menerima oksigen cukup. Pola jantung janin pada monitor janin elektronik mungkin menunjukkan bahwa bayi dalam keadaan bahaya kecuali ia dilahirkan dengan cepat. Salah satu cara untuk mengatasi kondisi ini adalah kelahiran secara caesar.
Gemeretak di dalam mulutku sungguh tidak bisa aku hindari lagi. Aku takut terjadi sesuatu pada mereka bertiga.
"Lakukan yang terbaik. Kamu paling tahu harus bertindak seperti apa. Ini keahlian kamu." Max membantu memapahku untuk segera duduk pada bangku tunggu yang semula di tempati oleh kedua orangtuaku.
Tidak ada lagi kalimat yang Haikal ucapkan padaku. Ia hanya menepuk pundakku lalu kembali ke dalam ruangan operasi itu, menghilang di balik pintu berlapis besi.
Dengan kalut aku membungkuk, menyelipkan jemariku pada rambut di kepalaku sendiri lalu mencengkramnya dengan kuat. Tidak ada lagi sebuah kalimat yang bisa menjelaskan tentang apa yang aku rasakan saat ini. Yang aku mau hanya satu. Tika selamat.
Seorang perawat datang, berjalan ke arahku yang sedang di kelilingi oleh Max dan kedua orangtuaku. Dia menyerahkan beberapa lembar kertas yang terjepit pada sebuah papan penyangga, untuk menulis lalu memberikan sebuah bolpoin padaku. Aku mencoba menarik udara di sekelilingku, lalu mengembuskannya. Menatap beberapa lembar kertas yang harus aku tanda tangani sebagai seorang suaminya yang berhak adan tubuhnya.
Aku mengangkat wajahku. Mengarahkan pandanganku pada pintu besi di mana Haikal tadi masuk. Beberapa detik kemudian aku kembali memandangi kertas di pangkuanku.
"Haikal pasti melakukan yang terbaik. Tika pasti baik-baik aja, dia kuat. Cuman kita aja yang gak percaya sama kemampuannya." ucap Max meyakinkanku.
__ADS_1
Sekali lagi aku menarik napas, kemudian kutandatangani keempat lembar kertas itu. Hingga akhirnya sang perawat mengucapkan pamitnya. "Tunggu, apa saya gak boleh masuk? Pertanyaanku membuat sang perawat itu memberhentikan langkahnya lalu menoleh sopan padaku.
Kemudian ia menjawabku dengan nada penuh ketegasan. "Maaf, Pak, untuk kondisi yang seperti ini, tolong percayakan semuanya kepada tim medis kami yang sedang berjuang di dalam sana. Kami hanya meminta ketulusan kalian untuk mendoakan segala prosedur yang akan kami lakukan pada pasien." Perawat itu berucap dengan penuh makna yang tersirat. Membuatku seketika yakin bahwa Tuhan akan memberikan keajaibannya pada seluruh umatnya di permukaan bumi ini.
—————
Max POV.
Ada perasaan bersalah yang menggelenyar di batinku.
Mestinya aku tidak membawa pistol itu. Aku masih ingat betul sekilas kejadian tadi, saat bergelut saling memojokan. Dan saat senjata api itu akhirnya jatuh dari punggungku lalu dipungut oleh lelaki yang tidak aku kenal. Ya, aku memang menerjangnya, mendaratkan kepalan tanganku dengan brutal karena dia sudah berani menyentuh Lisa. Hingga tanpa aku sadari lagi jika ternyata saat aku menghindar dari ujung pistol yang ditujukannya padaku, peluru itu malah mengenai Tika, adikku sendiri.
Tak berapa lama kemudian, istriku datang lalu langsung menghampiriku. Aku memeluknya erat, menumpahkan isi hatiku melalui dekapan itu.
'Maafkan aku yang sempat memalingkan hati darimu, walau hanya beberapa detik,' jeritku dalam hati sambil merengkuh erat tubuhnya.
Bersambung ...
—————
Sekali lagi aku ingin meminta maaf pada kalian yang jika membaca tentang Tika dan Jefri menjadi bingung, karena di judul satunya aku menambahkan extra part Lisa.
Mungkin jika ada pembaca yang bertanya, tolong yang tahu untuk membantuku menginformasikannya.
Lalu ...
Jangan lupa untuk tekan tanda like dan love di akhir bab, karena itu sangat berarti bagi aku pribadi. Terima kasih untuk kalian yang selalu mendukung karyaku. Dan untuk yang tidak mendukung karyaku, aku juga mengucapkan terima kasih karna kalian sudah mengikutiku sampai sejauh ini 😊
Semoga kita semua selalu dilindungi dan sehat selalu.
With love, #salambucin 💋
__ADS_1