Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
S2 - Eps 28


__ADS_3

Still Haikal POV.


Aku mencoba menutup mataku, setelah berbaring di sofa. Berharap bisa tertidur pulas sebentar saja. Tapi ternyata tidak bisa. Berkali-kali ku coba, sampai dalam hati aku mencoba berhitung sampai ratusan, tetap saja aku terjaga.


Ku buka mataku. Lalu ku lirik Clara yang masih melakukan pekerjaannya dengan baik. Ku lirik lagi meja kerjaku. Sudah terlihat total lima wadah file berhasil diselesaikannya.


"Hei, Clara! Lu gak capek?" tanyaku sambil melirik jam tanganku, "Udah enam jam lu bolak balik bacain seabrek kertas itu."


"Capek sih enggak, pusing iya, udah berkali-kali gua salah." dia menjatuhkan tubuhnya di kursi kerajaanku, "Lu gak jadi tidur?" serunya tiba-tiba.


Aku duduk lalu menggelengkan kepalaku.


"Gua masih punya waktu tiga jam sebelum jam istirahat gua habis. Yuk ikut gua!" ucapku lalu menarik tangan Clara membawanya keluar dari lingkungan rumah sakit ini.


"Eh eh eh tas gua!" serunya sambil meraih tasnya lalu berjalan mengikuti langkah kaki ku.


"Mau kemana sih?" tanyanya yang masih mengimbangi langkah kakiku di sampingku.


Tangannya masih ku genggam.


"Masuk." titahku sambil membukakan pintu mobil ku.


Ia masuk dengan raut wajah yang bingung. Lalu ku tutupkan pintunya dan aku segera masuk ke mobilku lewat pintu driver. Ku nyalakan mesin mobilku dan melaju pergi, keluar dari kawasan rumah sakit.


"Lu mau bawa gua kemana?" panik Clara.


Aku hanya meliriknya kilas lalu kembali fokus mengemudi. Sadar pertanyaannya tidak ku jawab ia langsung menggunakan safety beltnya sendiri dan duduk manis menatap lurus ke depan, cemberut.


----------------------------


Clara POV.


Ni cowo apaan sih main tarik, nyuruh ikut, tapi ga jawab mau bawa aku kemana, batinku.


Sialan!


Kenapa aku mau aja sih ngikut dia?


Padahal kan tadi aku bisa nolak. Mending nyelesein file-file tadi biar cepet kelar.


Jadi aku bisa bebas, ga terikat sama kesalahanku sendiri.


Batinku lagi.


Aku melemparkan pandanganku keluar mobil. Lalu melirik jam tanganku, jam tiga kurang empatbelas menit.


Dia mengarahkan mobilnya memasuki halaman parkir sebuah mall di kota ini. Lalu memarkirkan valley.


"Serius lu mau masuk mall pake seragam gitu? Ntar dikira gua bawa lari pasien rumah sakit jiwa," ucapku asal.


"Gua pake jaket kok," sahutnya lalu meraih jaketnya di kursi belakang kemudian turun dari mobilnya. Aku pun turun lalu ia menyerahkan kunci mobilnya pada petugas valley.


Ia berjalan didepanku memasuki pintu lobby mall kemudian berbelok memasuki sebuah toko baju ternama, aku mengikutinya di belakang.


"Tunggu disini," titahnya sambil menunjuk sebuah sofa untuk menunggunya.


Aku duduk disofa itu, mematuhi perintahnya. Ku lihat ia memasuki sebuah ruangan lagi didalam toko itu yang tertutup tirai hitam pekat.


Cukup lama aku menunggu, hingga aku merasa bosan lalu aku mengeluarkan ponselku dan membuka sebuah aplikasi media sosial, menscroll melihat-lihat beranda dari isi akun media sosialku.


"Yuk!" suara berat seorang lelaki di hadapanku yang rasanya aku kenal.


Aku lihat dari balik ponselku. Sepatunya seperti familiar, lalu celana jeans dark grey, naik lagi ke atas baju kaos hitam lengan pendek yang pas di tubuhnya, membuat dada bidangnya tercetak sempurna di kaos itu, lalu ku naikkan lagi pandangan mataku dan astaga!


"Dokter?" pekikku.

__ADS_1


Seketika satu tangannya membekap mulutku gesit.


"Sssttt! Cukup panggil nama gua, jangan bawa profesi gua ke sini," tegasnya lalu melepaskan tangannya dari mulutku.


"Udah ga terlihat kayak pasien rumah sakit jiwa kan?" tanyanya.


Aku hanya menganggukan kepalaku, speechless. Penampilannya sungguh diluar dugaanku. Aku terkagum-kagum selama beberapa detik sebelum ia menarik tanganku lagi dan membawaku keluar dari toko baju itu.


Aku berjalan di sampingnya, masih dengan tangannya yang menggenggam jemariku.


"Hei, yang ini bisa di lepas?" ucapku pelan sambil mengangkat tangannya yang menggenggam jemariku.


Dia kaget dan refleks melepaskannya, "Sorry."


Aku hanya memutarkan kedua bola mataku, memaklumi tingkahnya.


"Kita mau ngapain sih ke sini? Cuman mau beli baju langsung pakai doang?" ucapku asal.


"Temenin gua nyari sesuatu, mumpung ada lu. Kalo gua sendirian ke sini, gua juga males." sahutnya.


Ia membawaku memasuki sebuah toko perhiasan mewah. Lalu salah satu pegawainya menyambut kami dengan ramah.


"Selamat sore Pak Haikal. Apa kabar? Sudah lama tidak kesini." ucap pegawai wanita itu, "Mari silahkan duduk didalam saja."


Haikal tersenyum ramah, lalu mengikuti langkah kaki pegawai tersebut. Setelah memasuki sebuah ruangan, dia langsung duduk di sofa yang tersedia, aku pun mengikutinya duduk disampingnya.


"Langsung saja, aku mencari sebuah kalung yang indah dan elegan." ucapnya to the point.


Pegawai wanita itu dengan gesit langsung mengambilkan beberapa buku demo dan menyerahkannya pada Haikal, dan juga aku.


Haikal langsung membuka buku itu dan melihat-lihat setiap lembar gambarnya.


"Aku ingin melihat ini, ini, dan ini." ucapnya memberitahu.


Lalu wanita itu mengatakan suatu kode pada walkie-talkie di tangannya. Tak berapa lama, masuk pegawai lain yang membawakan tiga kotak beledru berwarna biru dongker.


"Menurut lu mana yang bagus?" tanyanya padaku.


Aku tersentak, "Lu minta pendapat gua?"


"Iya, buat apa gua bawa lu? Gua ga ngerti selera wanita seumuran lu. Jadi lu bantu gua pilihin."


"Oh buat hadiah pacar lu ya? Oke oke, bentar gua liat jeli-jeli dulu," ucapku asal (lagi).


Lalu aku memilihkannya satu buah kalung yang menurutku cocok, sesuai dengan seleraku. Maksudku selera wanita seusiaku.


"Kirimkan ke alamat rumahku nanti jika aku mengabari kalian." pintanya setelah semua transaksi pembayaran selesai.


Lalu kami keluar dari toko perhiasan itu. Berjalan santai. Dia memasukkan kedua tangannya di saku celana jeans barunya. Membuat dia terlihat lebih cool dan bukan seperti seorang dokter.


"Mau ngopi dulu? Atau makan cake? Atau apa pun yang lu mau, kita masih punya waktu satu setengah jam." ucapnya lagi.


"Terserah lu," sahutku singkat.


Dia membawa langkah kaki ku menuju salah satu coffee shop. Lalu memesan menunya.


"Lu lagi diet? Ato ada larangan?" tanyanya di depan meja order.


"Ga ada sih."


"Suka yang ice atau yang hot?"


"Hot."


"Sweet or less sugar?"

__ADS_1


"Sweet."


"Oh oke, Mas tolong satu tall vanilla latte, satu doppio, trus sandwich dua sama scarlet velvetnya satu," pesannya lancar tanpa menanyakan kemauanku apa, aku hanya melongo.


"Lu mau air mineral?"


"Boleh."


"Tambah air mineralnya dua," ucapnya lagi.


Kemudian pegawai lelaki itu mengulangi pesanan, menyebutkannya satu persatu. Lalu Haikal menyodorkan platinum debit cardnya untuk membayar.


Setelah itu kami bergeser perlahan mengambil pesanan kami di meja take order.


Haikal membawakan nampan isi pesanan kami lalu aku memilih salah satu tempat duduk yang menurutku strategis untuk mataku memandang. Tapi sayangnya, Haikal memilih untuk duduk disebelahku, membuat aku duduk bersebelahan dengan dinding kaca.


Sialan!


Dia mengunci ruang gerakku, batinku.


Hampir tiga puluh menit kami dalam suasana hening dan akhirnya aku memutuskan untuk membuka pembicaraan.


"Lu tuh emang gini ya orangnya?" aku menoleh padanya yang sedang santai melipatkan sebelah kakinya diatas lutut kaki sebelahnya. Dan sebelah tangannya tergeletak di atas sandaran sofa di belakangku. Lalu tangannya satu lagi sibuk memainkan ponselnya.


Dia melihatku, pandangan kami beradu. Kemudian dia meletakkan ponselnya di atas meja.


"Gini gimana maksudnya?"


"Em... Sejenis control freak," sahutku frontal.


Dia tertawa nyaring, "Emang gua gitu?"


"Iya. Maksa ikut tanpa nanya dulu. Nyuruh milihin sesuatu buat lu. Trus pesen makan minum tanpa nanya mau gua apa. Kan itu control freak?"


"Gua gak ngerasa gitu."


"Ga ngerasa? Lu pesenin gua minum ini tanpa nanya, lu pesenin ini kue tanpa nanya."


"Loh, bukannya tadi gua nanya? Hot or ice? Sweet or less sugar?"


"Iya itu pertanyaan gak spesifik. General."


"Ya kalo lu ga suka minuman sama cakenya, ga usah dimakan." kemudian dia merogoh dompetnya, mengeluarkan dan menyodorkan kembali debit cardnya padaku, "Lu bisa pesen lagi apa yang lu mau."


"Bukan itu maksud gua."


"Trus?"


"Udahlah, forget it!" aku mulai malas.


Dia mengambil doppio-nya lalu menengaknya sekali angkat. Fantastis.


Aku kembali ke scarlet velvet-ku, memakannya perlahan.


"Oh iya, seragam lu dimana? Sekali pakai buang ya?" tanyaku random.


"Gua kirim ke rumah sakit," sahutnya sambil meraih sandwichnya dan memakannya


"Kok bisa?"


"Ya minta kirimin sama toko baju ini tadi," sambil mengunyah makanannya.


"Wiih, sultan mah bebas ya? Mau apa juga bisa. Gak ada yang gak mungkin," frontalku lagi.


Lalu ku sendokkan kue terakhirku. Belum sempat ku masukkan ke mulutku, tangan Haikal mencengkram tanganku dan mengarahkan sendokku ke mulutnya dan ia melahap potongan terakhir kueku. Aku speechless untuk yang kedua kalinya.

__ADS_1


Tidak ku sangka, bisa juga dia melakukan hal itu dengan spontan.


__ADS_2