Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
S2 - Eps 58


__ADS_3

Still Tika POV.


"Sayaaaaannngg!! Cepet sarapan!!" teriakku dari dapur.


Setiap pagi ku usahakan untuk menyiapkan sarapan untuk Jefri. Dan syukurnya lagi, ia selalu memakan apapun yang aku suguhkan untuknya. Tidak pernah mengeluh.


"Iya, sebentar sayang. Ini hape kamu mau dicopotin nggak?" balasnya dengan berseru.


"Iya, sekalian tolong bawain chargernya juga." Ku siapkan piring makan sarapan kami di meja bar.



Jefri segera turun melewati tangga, sambil sesekali aku melirik melihatnya berjalan mengarah padaku. Ia meletakkan charger dan ponsel ku di meja bar, disamping piring makannya. Kemudan dia asik mengancingkan lengan kemejanya.


Aku menggelengkan kepala, hampir setiap hari ia selalu tidak merapikan kerah bajunya dengan rapi. Ku dekati ia yang sudah duduk. Ku selipkan tanganku di lehernya, ia terpekik. "Kebiasaan deh, kerahnya pasti gak dirapiin."


"Kan sengaja, biar kamu yang rapiin."


Aku terkekeh pelan mendengar ucapannya. Kemudian kami pun melanjutkan sarapan.


🎶


You so fuckin' precious when you smile


Hit it from the back and drive you wild


Girl, I lose myself up in those eyes


I just had to let you know you're mine


🎶


Ponselku berbunyi.


Lisa calling.


Jefri juga melihat nama siapa yang sedang menelponku. Aku melirik ke arahnya.

__ADS_1


"Angkat, pasti penting." Suruh Jefri padaku. Lalu segera ku geser tanda hijau pada layar ponselku.


"Hallo?" Ku lirik Jefri yang sedang kembali melanjutkan sarapannya. "Iya, gua masih dirumah ... Boleh, tapi ntar siang ya? Iya, jemputin di kantor aja. Bye."


"Apa katanya?" tanya Jefri.


"Dia mau ketemu. Ntar siang sekalian lunch."


Jefri menganggukkan kepalanya, lalu kembali melanjutkan makan, begitupun denganku.


Setelah sarapan selesai, kami bergegas untuk pergi ke kantor. Seperti biasanya, Jefri selalu mengantarkanku ke kantor. Sudah lama sekali aku tidak mengendarai mobilku sendiri. Mobilku terparkir awet di dalam garasi di rumah mamah.


"Nanti siang kalo kamu jadi lunch sama Lisa, kasih kabar ya?" pinta Jefri sesaat setelah sampai di halaman parkir kantorku.


"Iya, nanti aku kabarin." Kemudian ku kecup pipi bibirnya lalu turun dari mobil, segera berjalan memasuki kantor.


Menyapa, ya aku menyapa siapa saja pegawai kantor. Dari pak satpam, rekan kerja lain, bahkan salah seorang Office Boy pun tak luput dari sapaan 'selamat pagi' yang ku lontarkan.


"Pagi, Mett!" sapaku pada Metta kemudian langsung duduk di kursi meja kerjaku. Menyalakan komputer.


"Pagi, eh itu tadi ada titipan dari Rossi di receptionist, trus gua taruh di samping dokumen lu," jelas Metta.


Ku raih kotak itu, ku lihat tak ada tanda sesuatu dari siapa yang mengirimnya. "Rossi gak ada pesen sesuatu gitu, Mett, buat gua?" tanyaku heran sambil memperhatikan box itu.


Metta memunculkan kepalanya dari balik dinding pembatas meja kerja kami. "Hm, gak ada deh. Coba telepon dia aja, tanya langsung."


Aku menganggukkan kepalaku. Kemudian perlahan ku buka box itu, aku mengernyitkan alisku. Heran dengan apa yang aku lihat di dalamnya. Sepasang sepatu. Berwarna biru dongker, senada dengan warna box yang membungkusnya. Dengan tinggi heels sekitar tujuh centi meter. Kulit mengkilap, bagus, bermerk. Dan mungkin harganya juga lumayan.


Aku mencari sesuatu di dalam box, berharap ada sebuah kartu atau kertas yang terselip dari pengirimnya. Hasilnya nihil. Ku letakkan kembali box itu di atas tumpukan dokumen-dokumen ku. Ku raih telepon dan mencoba menghubungi Rossi di receptionist.


Tuutt..


Tuutt..


Tuutt..


"Hallo, Ros? Ini pagi-pagi yang ngasihin paket siapa? Kurir atau pengirimnya langsung?" Sambil mendengarkan penjelasan Rossi, aku mencoba meraih keyboard komputerku lalu mulai membuka sebuah file kerja yang harus segera aku selesaikan.

__ADS_1


"Oh, ya udah kalo gitu. Makasih ya." Ku tutup kembali telepon di mejaku dengan rapi.


Tak ku hiraukan box sepatu itu dengan segala macamnya yang entah siapa pengirimnya. Aku kembali pada pekerjaanku. Sampai akhirnya ponselku berbunyi.


🎶


You so fuckin' precious when you smile


Hit it from the back and drive you wild


Girl, I lose myself up in those eyes


I just had to let you know you're mine


🎶


Ku raih kembali tas yang ku letakkan di kursi, dibelakang punggungku. Merogoh isi tas untuk mengambil ponselku. Melihat siapa yang menelpon. Aku mengernyitkan alis sekali lagi.


Unknown number calling.


Ku geser tanda hijaunya karena rasa penasaran. "Hallo?"


Aku tersentak mendengar suara di seberang sana. Suara yang sudah lama tidak lagi ku dengar dan tidak lagi ku idamkan. Suara yang dahulu pernah ku tangisi. Untuk apa lagi dia menghubungiku. Bukankah ia sudah mengetahui jika aku sudah menikah sekarang?


-------------


Hayooo penasaran kaann??


Ahahahahhaaa


Terimakasihhh untuk kalian yang selalu menantikan kisah ini 🤭


Oh iya, untuk kalian yang menantikan kisah Haikal dan Clara, kisah itu akan aku pisah dari novel ini.


Jika kalian setuju, tolong tinggalkan pesan kalian di kolom komentar 😍


Dan jangan lupa untuk follow aku di Instagram dengan nama akun @bossytika ya, agar kalian bisa berinteraksi lebih dekat denganku 🥳

__ADS_1


#salambucin💋


__ADS_2