
Selamat membaca ...
——————————
Haikal POV.
Setelah selesai pagi ini aku memeriksa pekerjaan di rumah sakit yang sudah lama aku tinggalkan, aku bergegas berniat kembali pergi mengunjungi Clara. Rencananya, hari ini kami akan melakukan fitting pakaian untuk pernikahan kami nanti dan juga memilih ulang design undangan kami. Karena pilihan awal menurutnya terlalu mewah. Namun, sebelum pergi aku memutuskan untuk bertemu dengan Dokter Brian.
Tok tok tok!!
“Sorry, boleh kita bicara sebentar?” tanyaku begitu membuka pintu ruangannya sebelum ia izinkan.
“Masuklah ... aku punya waktu sepuluh menit lagi sebelum menerima pasien selanjutnya,” sahutnya seraya melirik jam tangannya.
Setelah menutup kembali pintu ruangan, aku segera duduk dan langsung membicarakan tentang rencanaku padanya untuk memeriksa Clara. “Clara sudah bersedia untuk memeriksakan kondisinya. Kapan kamu bisa menyelipkan jadwal untuknya?”
“Gimana kalau besok pagi? Rasanya aku hanya punya dua pasien besok pagi, paling jam sepuluh sudah kelar,” usul Dokter Brian padaku.
Aku mengangguk kepala kemudian kembali menanyakan padanya tentang apa yang harus dilakukan oleh Clara, jika hasilnya nanti mengatakan Clara memang masih dalam tahap penyakit asma yang biasa saja.
“Kamu harus memastikan dia terus dalam lingkungan yang sehat, terutama harus terhindar dari aktifitas yang berkaitan dengan debu.”
Aku kembali menganggukkan kepala. Memang, aku harus extra dalam menjaganya kelak sebab penyakit asma bukan penyakit yang biasa saja. Apalagi bagi Clara sendiri, setelah melihat bundanya yang menyerah dengan penyakit itu.
Setelah berpamitan pada Dokter Brian, aku segera meninggalkan ruangannya agar dia bisa kembali bekerja, melakukan tugas serta tanggung jawabnya. Dalam benakku, sudah ada berbagai macam rencana yang nantinya akan aku wujudkan bersama Clara. Jadi aku berharap, semoga saja Clara tidak memiliki penyakit serupa dengan bundanya. Semoga ...
“Haikal!!” Suara seseorang yang diiringi derap langkah kaki bersahutan ada di belakang, membuatku menghentikan langkah kemudian menoleh, mencari sumber suara itu.
Dan benar saja, suara itu memang suara seorang wanita seperti tebakanku dan itu adalah Dokter Ranti. Dia setengah berlari menghampiri dan berhenti tepat di depanku dengan napas yang terengah.
“Ada apa? Bukannya sudah aku bilang jangan teriak di lingkungan rumah sakit? Selalu kamu dan Adam yang terlalu berani melanggar peraturan di sini,” tegasku padanya.
Dokter Ranti mencibir. “Mau gimana lagi? Kamu kalau lagi pakai jas itu sudah pasti gak pegang handphone, apalagi kalau pakai seragam. Langkah kaki itu juga terlalu lebar, aku lelah mengejar.”
“Ya sudah, ada apa?” Aku mengalah. Dokter Ranti selalu memiliki jawaban dari semua perkataanku.
Kini dia berdiri tegap, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku seragam biru muda yang dikenakannya. “Seminggu lagi para pekerja magang mulai siap dengan tugasnya. Kemarin pembekalan terakhir untuk pekerja magang sebelumnya.”
__ADS_1
“Trus?” Aku bingung dengan maksud dari ucapannya itu.
“Kok terus sih?”
“Lah iya, trus apa hubungannya sama aku? Bukannya itu tugas kamu buat ngurusin para anak magang?” sanggahku cepat.
“Astaga! Kamu ngelupain kewajiban kamu sebagai pimpinan di rumah sakit ini? Kamu harus ngasih mereka kata sambutan dong!!” bentaknya membuatku terkejut.
“Oh, itu. Ok, tenang aja. Sehari sebelumnya nanti ingatin aku lagi buat acara itu. Aku buru-buru.” Kemudian aku tinggalkan Dokter Ranti yang masih berdiri di sana. Aku melangkah dengan tergesa-gesa menuju parkiran mobil sambil melepaskan jas putihku.
**
Kini aku, Clara dan juga ayahnya sudah sampai di tempat kami akan melakukan fitting pakaian. Sebuah tempat yang menyediankan segala jenis gaun dan juga tuksedo pernikahan. Di sana juga sudah ada mamah dan Max. Rencananya ayah Clara dan juga mamah akan melakukan hal serupa di tempat ini. Sedangkan Max hanya akan menemani.
Semua berjalan dengan lancar, hanya butuh waktu sekitar dua jam bagi kami menyelesaikan fitting pakaian itu. Clara juga sudah menemukan gaun impiannya. “Aku mau ini aja. Gimana?” tanya padaku di saat aku masih terpukau akan pesonanya.
Saat ini dia hanya berdandan sederhana, tetapi dengan gaun itu membuatnya terlihat semakin bersinar. Beberapa kali aku terpesona padanya, hingga Max harus berkali-kali menyenggol untuk menyadarkanku.
“Oh iya, bagus, bagus banget kok!” Aku mengangguk terpukau.
“Ya habis gimana dong? Emang bagus, semua yang dia kenakan selalu bagus dan terlihat sempurna.” Aku tidak tahu lagi harus berkata apa. Namun, tiba-tiba saja Clara tertawa pelan mendengar ucapanku. Dan ini adalah kali pertamanya ia tertawa seperti itu, semenjak kepergian bundanya.
Selesai melakukan itu, Clara juga kembali memilih design undangan. Tempatnya masih di sekitaran wilayah itu. Tidak terlalu jauh.
“Gimana kalau makan siang di rumah kami? Tika bilang siang ini dia akan memasak banyak makanan. Sebab Shilla juga sedang ada di rumah,” tawar mamah kepada Clara dan juga ayahnya. Setelah semua urusan kami siang ini selesai.
Clara dan ayahnya terlihat saling berpandangan. “Apa tidak merepotkan?” tanya ayah malu-malu.
“Gak ada yang merepotkan. Kita sudah berkeluarga sekarang,” sahut mamah sambil membelai wajah Clara.
Max menyenggol bahuku, membuatku sedikit malu. Begitu pula dengan Clara yang menampilkan wajah tersipunya.
Kemudian kami segera pulang menuju ke rumah mamah dengan menggunakan mobil masing-masing.
Sesampainya di rumah, aroma sedap dari masakan di dapur sampai ke depan pintu rumah. Membuat perutku terasa semakin lapar. Kami segera masuk lalu menuju dapur. Aku penasaran, apakah benar Tika yang sedang memasak makanan sewangi ini.
Benar saja, aku mendapati Tika dan juga bi Mince sedang asik mencampur bahan-bahan masakan ke dalam penggorengan. Ada pula beberapa masakan yang telah selesai ia buat. Sedangkan ayah Clara menunggu di ruangan televisi bersama dengan Max dan juga Shilla yang menjaga anaknya dan juga anak kembar Tika. Jefri juga terlihat bersantai di sana.
__ADS_1
“Tika jago masak ya? Ini keliatannya enak, aromanya wangi banget.” Clara memberikan pendapatnya dengan berbisik padaku.
Di depan kami saat ini sudah ada ikan gurame asam manis, ikan salmon goreng tepung dan juga cumi masak hitam. “Kalo kamu mau belajar masak, nanti bisa sama dia atau sama mamah. Tapi kalau kamu gak mau juga gak apa-apa, aku gak permasalahin itu. Kita bisa beli nanti.”
“Hai, kalian udah datang. Bentar lagi sayurannya jadi. Habis itu kita bisa langsung makan bareng-bareng,” sapa Tika pada kami berdua.
Bi Mince mulai memindahkan hidangan tadi ke meja makan, serta menyiapkan beberapa peralatan lainnya. Sedangkan mamah langsung membuatkan minuman segar untuk menemani makan siang kami.
“Kapan-kapan aku mau dong diajarin masak. Kayaknya gampang banget.” Clara tiba-tiba berucap pada Tika dan menghampirinya yang kembali menyentuh spatula-nya lalu mengaduk sayuran dalam penggorengan itu.
“Boleh, kapan aja kamu punya waktu, bisa datengin aku. Nanti minta aja nomer handphoneku sama Haikal. Kita bisa janjian. Entah itu mau di sini, di rumah kalian nanti ataupun di rumah aku.”
“Kalau di rumah ayahku, boleh?” tanya Clara lagi dengan antusias.
“Loh, memang nanti kalian mau tinggal di rumah ayah kamu?” tanya mamah tiba-tiba yang sekilas melirik padaku.
Clara terlihat gugup begitu mendengar sanggahan mamah. “Emm ... rencananya nanti Clara mau minta izin dulu sama ayah, Tante.”
“Kok masih panggil tante sih?” protes Tika sambil mengangkat hidangannya.
“Mulai saat ini panggil mamah aja ya, biar semuanya sama. Kamu juga sudah mamah anggap sebagai anak mamah.” Mamah kembali membelai pipi Clara kemudian pergi keluar dapur sambil membawa seteko minuman dingin.
Aku merasa bahagia melihat semua ini. Tidak menyangka jika semua anggota keluargaku akan menerima Clara dengan sangat baik. Bahkan mamah bisa mengatakan kalimat seperti itu padanya.
Bersambung ...
——————————
Jangan lupa untuk mendukung karya ini.
Caranya, cukup dengan memberikan like serta komen pada setiap episode setelah kalian selesai membaca naskahnya.
Jika ingin vote silakan ke judul baru ya, The Hand of Death.
Terima kasih 💋
@bossytika
__ADS_1