Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
S2 - Eps 107


__ADS_3

Jefri POV.


Dengan ponsel yang masih kugenggam dan gelas minum yang kupegang di tanganku yang satunya lagi, aku melangkahkan kaki menuju dapur. Aku menahan amarahku. Mencoba untuk tidak memperlihatkannya pada Tika dan Lisa.


Begitu sampai di dapur, aku segera menghela napasku. Berkali-kali hingga aku merasa lebih tenang. Amarahku muncul karena telepon yang kuterima tadi. Itu dari nomer yang tidak dikenal dan ternyata adalah Dana.


Tidak aku sangka dia akan seberani itu untuk mencari nomer teleponku dan menghubungiku langsung. Walaupun menggunakan panggilan dengan nomer yang disembunyikan. Tapi tetap saja itu membuatku kesal.


Aku mengisi air dalam gelasku kemudian kutengak sampai habis dengan sekali angkat. Aku butuh sebilah rokokku saat ini. Baru saja aku akan mengisi kembali gelasku tiba-tiba bi Mince muncul di ambang pintu belakang, membuatku terkejut.


"Astaga! Bibi ngagetin aku aja." Aku mengelus dadaku sendiri, "hampir aja berenti ini jantung. Oh iya Bi, tolong bikinin minum ya, buat Tika sama Lisa di depan. Aku mau ngerokok bentar." Setelah bi Mince menyetujui permintaanku, barulah aku keluar menuju halaman belakang melalui pintu belakang dapur.


Duduk di pinggiran kolam renang, sambil menyulut sebilah rokok. Aku memikirkan kalimat yang diucapkan Dana lewat telepon tadi. Dia mengancamku.


Dia mengatakan bahwa akan merebut istriku. Entah itu melalui hatinya atau secara paksa. Mengatakan pula bahwa hanya dia yang mampu memberikan segalanya untuk Tika. Hanya dia yang sanggup membahagiakan Tika dengan segelimang hartanya.


Ya, aku sadar. Aku bukan siapa-siapa. Aku tidak memiliki banyak harta seperti lelaki sialan itu. Bahkan aku belum bisa memberikan kado barang branded 'setiap hari' untuk istriku sendiri. Jika dibandingkan dengan dia, aku memang kalah jauh.


Akan tetapi, apa Tika akan melihat semuanya berdasarkan harta? Lagi pula, Tika sekarang sedang mengandung anakku. Itu yang membuatku melepaskan keegoisanku, kembali mengurusi perusahaan papa. Seperti layaknya anak tertua yang memang semestinya melakukan semua ini.


Sebab, jika aku terus saja menjadi karyawan dan bekerja di perusahaan orang lain, belum tentu penghasilanku nanti akan cukup untuk menghidupi istri dan anak-anakku. Ya, aku ingin memiliki banyak anak dengan Tika. Aku ingin dia melupakan masa lalunya dengan kehadiran anak kami.


Tapi sepertinya aku salah. Saat ini, Dana malah mencoba untuk merebut Tika dari tanganku. Apa dia tahu kalau Tika sedang mengandung anakku? Atau jangan-jangan dia tidak tahu?


Belum selesai masalah Dana ini, sekarang masalah baru di perusahaan muncul. Itu pun sebelum aku benar-benar resmi menjabat di sana. Kepalaku seakan pening.


Aku kembali menyulut bilah rokokku yang kedua. Sambil mengawang, memikirkan semua permasalahan yang muncul dalam hidupku.


Aku kembali masuk ke dalam rumah saat hari sudah mulai senja. Dari kejauhan, aku melihat Tika dan Lisa masih saja asyik mengobrol, yang berbeda hanya ada mamah yang sekarang duduk di samping Tika sambil melihat-lihat album yang tadi dibawa oleh Lisa. Aku menghampiri mereka.


Memandangi Tika dengan senyumanku. Melihatnya tertawa dan bahagia saat ini. Apa aku sanggup menepati janjiku untuk selalu membuatnya tertawa seperti itu?


***


"Yang nelpon tadi sore siapa?" tanya Tika tiba-tiba mengalihkan fokusku saat menyetir menuju pulang. Aku menatapnya sekilas, lalu kembali mencoba fokus pada kemudiku lagi.


Masa iya aku harus bilang kalau itu telepon dari Dana?


"Dari orang kantor."


Dalam kepalaku, berbagai macam pikiran tentang keselamatan istri serta anakku adalah yang pertama bagiku. Dan ini kali kedua aku bersikap seperti ini. Bersikap seakan aku memiliki kekuatan penuh untuk menjaga mereka berdua.


Aku kembali melirik, melihat Tika yang sekilas sedang memandang pinggir jalanan di luar sana.


"Besok kita check up kandungan kamu ya?" tawarku padanya yang spontan membuatnya langsung memandangku. Sekilas aku meliriknya. Kuraih jemari tangan kanannya lalu kugenggam, kukecup punggung tangannya itu.


Tika tidak menyahut, ia hanya memandangiku saja. "Aku sudah chat Haikal tadi sore, dia yang aturin jadwalnya." Kukecup lagi punggung tangan calon ibu dari anak pertamaku.



Dari remang-remang cahaya lampu jalanan, aku dapat melihat raut wajahnya yang datar kali ini. Tanpa ada respon dan ekspresi apapun.

__ADS_1


Butuh waktu sekitar 30 menit untuk sampai ke rumah kami dari rumah mamah Ida. Dan itu cukup membuat kami lumayan letih.


Setelah aku selesai membersihkan diri, aku langsung menuju ranjangku dengan membawa laptop. Mengecek kembali perkembangan perusahaan. Sedangkan Tika baru hendak mandi.


Tak berapa lama setelah Tika memasuki kamar mandi dan guyuran air dari shower terdengar. Tiba-tiba ponsel Tika berbunyi.


🎶


You so fuckin' precious when you smile


Hit it from the back and drive you wild


Girl, I lose myself up in those eyes


I just had to let you know you're mine


🎶


Ponsel itu ia letakkan di atas lemari kumpulan buku-buku bacaannya.


Aku penasaran lalu beranjak mendekati ponsel itu. Untuk melihat, siapa yang menelpon istriku malam-malam seperti ini. Nomer tidak di kenal. Aku rasa, aku sebagai suaminya memiliki hak untuk mengangkat panggilan telepon ini kan? Apa lagi dalam kondisi waspadaku pada Dana sekarang?


Aku memutuskan untuk segera menggeser tombol hijau pada layarnya dan menempelkan benda tipis persegi panjang itu ke telingaku. Mendengarkan suara siapa di seberang sana.


Betapa terkejutnya aku. Ternyata benar dugaanku tadi, telepon ini dari Dana. Aku mencoba menahan embusan napasku saat ini, saat lelaki kurang ajar itu mengatakan hal-hal menjijikkan tanpa malu.


Geram hati ini. Tapi aku mencoba untuk menahannya. Membiarkan lelaki itu berbicara semakin liar dan tidak tahu malu. Sampai saat di mana dia menjelaskan bagaimana perasaannya saat menikmati tubuh Tika dulu.


"Bajing*an!! Lelaki sialan!" Aku tersulut emosi.


Sesaat kemudian, Tika keluar dari kamar mandi. Aku langsung berpura-pura melihat ke arah layar laptop dan mengetikkan sesuatu di sana.


Tika sudah menggunakan baju tidurnya. Lalu bersiap berbaring di sampingku. Menarik selimut yang kami gunakan berdua. Lalu memandangiku. Aku menoleh.


"Aku turun ke bawah bentar ya? Mau ngerokok sambil ngerjain ini. Soalnya besok aku langsung presentasi sama beberapa pemegang saham." Aku mencium keningnya, lalu mengecup bibir ranumnya sebentar. Tika hanya menatapiku dengan sendu.


"Kamu tidur aja duluan. Gak apa-apa kan?" Aku mengelus lembut puncak kepalanya.


***


Keesokkan paginya. Aku terbangun di atas sofa di depan televisi. Mencium harum aroma masakkan dari dapur. Aku melirik jam dinding di atas televisi. Ternyata sudah jam 6 pagi. Aku memutuskan untuk mendatangi istriku dulu yang memasak sebelum aku pergi mandi.


Aku merengkuh tubuhnya dari belakang, mengelus perutnya. Mencium pelipis kirinya. Sampai is menoleh padaki.


"Kenapa jadi tidur di sofa? Aku punya salah?" tanyanya polos sambil memasak nasi goreng untuk sarapan.


"Aku bukannya sengaja tidur di sana." Aku membenamkan wajahku di ceruk lehernya, sambi mengecap bagian itu.


Tika mematikan kompornya, menghentikan kegiatannya yang telah selesai. Lalu berbalik arah menatapku. Mengalungkan kedua tangannya di leherku. "Kamu kenapa sih?"


"Hari ini hari terakhir kamu ngantor. Aku sudah minta tolong pak Hardi buat urus semuanya. Selebihnya buat nyelesaikan tugas, kamu bisa kerjain di rumah," titahku yang seketika membuatnya melepaskan tangannya lalu mendorong dekapanku.

__ADS_1


"Kamu kok?" Tika terbata. Hingga aku bisa memotong ucapannya.


"Aku mau kamu di rumah aja, biar gak capek."


"Tapi aku—" Tika protes tapk segera ia tidak membantah lagi. Aku mengecup bibirnya. Lalu segera pergi mandi untuk bersiap ke kantor.


***


Pagi ini adalah hari pertama aku masuk ke kantor papa. Menjabat sebagai Direktur Utama. Dan semua itu diawali dengan rapat pemegang saham yang aku pimpin langsung. Rapat itu berjalan dengan lancar. Semua pemegang saham masih mau mempertahankan sebagian saham mereka.


Aku tidak menyangka akan seperti ini. Setelah rapat selesai, aku dan pak Hardi langsung menuju ke tempat di mana dulu papa duduk. Seharian menangani tentang permasalahan kantor ini.


Baru saja aku menginjakkan kaki di ruangan ini, mataku sudah menatap lekat sebuah kursi kokoh yang terletak di belakang meja kaca. Meja kerja seorang direktur. Pemilihan semua furniture dalam ruangan ini memang merupakan ciri khas papa.


"Maaf Pak, jika Anda ingin memindahkan atau mengganti perabotnya, saya harap menunggu hingga keuangan perusahaan kembali stabil." Pak Hardi dengan sopan mengatakannya dan mengingatkanku tentang kerja sama dengan kantor Tika.


"Pertama, jangan panggil saya bapak. Kedua, saya tidak akan merubah atau mengganti apapun yang sudah papa beli untuk ruangan ini. Ketiga, untuk masalah kerja sama dengan kantor istri saya, nanti akan saya pikirkan lagi. Dan keempat, kita harus menemukan sebuah perusahaan yang mau menolong pendanaan Great Company," ucapku tertata sambil memandangi kursi papa.


Aku berbalik menghadap pak Hardi, "makasih Bapak selalu di sini dan bersedia membantu papa selama ini." Aku menyodorkan tanganku untuk bersalaman dengan beliau dan memeluk beliau.


Tak lama berselang, saat aku sedang membahas tentang anak perusahaan papa itu, tiba-tiba ponselku berbunyi.


🎶


Can't we just talk?


Can't we just talk?


Talk about where we're goin'


Before we get lost


Let me out first


Can't get what we want without knowin' ...


🎶


Ponsel itu sudah berada di atas meja. Kuletakkan sejak aku mulai menduduki kursi utama yang kokoh tadi. Aku melihat di layarnya bahwa Max yang menelepon. Aku mengacungkan jari telunjukku pada pak Hardi, tanda bahwa aku meminta waktu sebentar untuk mengangkat telepon.


"Hallo? Iya aku di kantor. Baru aja kelar meeting. Kenapa? Bo—leh ... oke, aku ke sana." Kututup telepon itu dengan rasa penasaranku.


Max mengatakan bahwa ia ingin bertemu denganku. Tapi bukan di kantor ini ataupun di kantornya, melainkan di sebuah rumah makan formal, restoran. Saat jam makan siang nanti.


Waktu sekarang masih menunjukkan pukul sepuluh lewat lima belas menit. Aku segera pergi ke kantor Tika. Untuk menjemputnya, membawanya untuk check up kandungan.


—————


Lohaaaaa 😁


Jangan lupa ritual 😍

__ADS_1


Makasih 💋


__ADS_2