
Still Tika POV.
Dari pagi hingga menjelang siang, aku hanya uring-uringan di atas tempat tidurku. Aku juga belum sarapan dari tadi pagi. Hanya menonton televisi dan meminum segelas susu, tapi bukan susu untuk ibu hamil.
Hari ini juga adalah hari pertamaku terbebas dari pekerjaan kantor dan resmi menjadi pengangguran. Oh bukan, bukan pengangguran, tapi calon ibu rumah tangga yang baik dan benar.
Kulirik jam yang menempel pada dinding di atas televisi, waktu sudah menunjukkan jam 11 siang. Kemudian aku menoleh lagi, melihat ponselku yang sengaja kuletakkan di atas ranjang dari tadi. Tidak ada apa pun di sana. Bahkan pesan singkat dari Jefri pun tidak ada.
Aku memutuskan untuk membersihkan tubuhku. Berendam dengan air hangat untuk merelaksasi pikiranku sendiri. Mencoba tenang. Sebab sedari tadi aku tidak bisa menahan air mata yang terus saja mengalir.
Hampir berjam-jam aku berendam di dalam bath tub, sambil terus mengelus perutku yang semakin berisi. Pikiranku melayang, mengingat kembali semua kejadian tadi malam hingga tadi pagi. Saat Jefri menatapku lalu mengacuhkanku.
Sebelum air mataku kembali mengalir, aku putuskan untuk menyudahi kegiatan ini. Berendam di sini hanya membuat pikiranku semakin kalut. Dan membuatku semakin memyesali semuanya.
Aku beranjak untuk membilas tubuhku lalu meraih handuk dan mengerikan tubuhku. Saat hendak masuk ke ruangan wardrobe tiba-tiba ponselku berbunyi. Aku segera berjalan menuju ranjang untuk mengambil ponselku.
Lisa calling.
Aku langsunggung menggeser tombol hijau pada layar. Menerima panggilannya.
"Hallo? Iya, gua di rumah aja. Gak usah Lis, gua gak papa kok. Iya serius, gak papa. Iya iya, ya udah." Aku memutuskan panggilan telepon itu.
Lisa mengajakku untuk pergi ke dokter, memeriksakan kembali kandunganku. Akibat jatuh didorong oleh Jefri kemarin. Tapi aku menolaknya, aku yakin kedua anakku ini kuat.
Sesaat setelah aku selesai berpakaian, tiba-tiba ponselku kembali berbunyi. Kali ini dering singkat sebagai tanda ada pesan masuk. Aku kembali meraihnya. Pesan dari Max.
(Untuk isi pesan yang lebih jelas bisa melihat di Instagram dengan nama akun @bossytika setelah naskah ini publish, kembali akan aku masukkan isi chatnya.)
Aku yakin Max akan membantuku dan juga perusahaan Jefri. Aku percaya padanya. Dan apa yang ia lakukan kemarin juga ada benarnya. Max hanya mengambil langkah cepat untuk mengatasi semua itu. Tapi aku malah memperlambat semuanya.
Ya, ini memang salahku.
***
Lisa datang dengan membawakanku berbagai macam jenis makanan. Aku menyambutnya dengan mataku yang masih sembab dan tidak dapat lagi aku sembunyikan.
Dia mengangkup pipiku dengan kedua tangannya saat aku kembali menghampirinya di meja makan. Setelah meletakkan beberapa alat makan yang kami butuhkan.
"Semaleman nangis aja? Hm?" ucapnya sambil menatapku intens.
__ADS_1
Hanya pertanyaan itu yang dia lontarkan, namun seperti membuat hati ini kembali teriris. Aku menghela napasku dengan berat. Lisa langsung membawaku ke dalam pelukannya.
Air mataku mengalir, tangisku pecah dikala itu. Aku membalas pelukan Lisa dengan erat. Meraung melampiaskan rasa sesak di hati ini. Lisa tidak berbuat apa-apa. Ia hanya membiarkanku dan menemaniku saat ini.
Dia tahu betul bagaimana aku mencintai Jefri dari dulu hingga sekarang.
Hingga akhirnya langit kembali berubah menjadi gelap. Hawa sejuk kembali hadir menyelimuti jiwaku yang sepi.
Akhirnya Lisa memutuskan untuk pamit pulang. Ia tidak ingin melihat Jefri yang masih tidak mau menyapaku atau bahkan tersenyum padaku. Mungkin Lisa merasa kesal dengan sikap suamiku yang seperti itu. Entahlah, aku tidak mau ambil pusing.
Setelah mengantarkan Lisa ke depan pintu depan rumah hingga melihatnya menghilang di sudut jalan dengan mobilnya, aku kembali masuk ke dalam rumah. Belum sempat aku menutup pintunya, kulihat mobil Jefri yang datang memasuki halaman samping. Aku kembali membuka ointu dan menyambut kepulangannya.
Suamiku itu terkejut melihatku yang berdiri di ambang pintu. Ia mendekati, aku berharap ia akan memelukku dan mengecup keningku, lalu mengatakan bahwa betapa rindunya ia denganku.
Tapi aku salah. Semua itu hanya angan-angan semata. Ia memang berjalan mendekati, namun terus berlalu, melewatiku. Menganggapku tidak ada. Seketika dadaku sesak, jantungku seakan berhenti berdetak menerima perlakuan itu.
Aku berbalik menatap punggungnya yang terus saja berjalan menaiki tangga menuju kamar kami. Separah ini kah kesalahanku?
Kucengkram erat pakaian yang menutupi bagian dadaku. Menekan kuat daerah jantungku. Kembali menguatkan diri. Jangan sampai air mata ini kembali menetes. Aku harus kuat!
Aku langsung pergi ke dapur saat itu, untuk menyiapkan makan malam. Setelah selesai, aku segera naik untuk menyuruhnya makan. Namun hal yang lebih pahit harus aku terima saat ini. Dia sudah memejamkan matanya di balik selimut.
Berkali-kali aku menghirup oksigen di sekelilingku. Dadaku sungguh terasa sesak. Kusangga tubuhku dengan kedua tanganku yang bertumpu pada meja kitchen. Meringis meratapi kesalahanku, lagi dan lagi. Tiada hentinya.
Dengan sisa tenaga yang aku miliki. Aku kembali menuju ke kamar. Melewati anak tangga satu per satu sambil terus mengelus perutku. Dan berakhir pada rebahan tubuh di samping suamiku.
Tiba-tiba saja ia bergerak menyamping, membelakangiku yang tadinya hendak menatapi wajahnya saat tertidur. Lagi-lagi aku harus menerima perlakuan ini. Dan merelakan semuanya, membawanya ke dalam alam mimpiku.
***
Berminggu-minggu berlalu ...
Dan Jefri masih saja tidak memedulikanku. Sarapan dan makan malam yang aku siapkan selalu saja tidak ia makan. Jangankan untuk memakan, melihat aku memasak saja tidak.
Setiap pagi ia selalu saja langsung bersiap dan pergi ke kantor. Tanpa berpamitan atau mengecup keningku. Bahkan kebiasaannya mengecap bibirku pun ia lupakan.
Ia meninggalkanku sendiri di rumah. Tanpa kabar atau pun sekedar pesan singkat yang menanyakan 'sedang apa aku di rumah'. Bahkan makan siang yang biasanya selalu bersama juga ia hapuskan dalam jadwal kesehariannya.
Sepulangnya dari kantor, ia memang lamgsung ke rumah. Tapi selalu berakhir dengan memejamkan matanya terlebih dahulu sebelum aku memanggilnya untuk makan malam.
__ADS_1
Pernah sekali Jefri pulang agak larut malam. Dan kebetulan juga Lisa bersama Alex menemaniku di rumah. Mereka bingung dengan piring serta alat makan lainnya yang mendadak menjadi sedikit.
Awalnya mereka berdua mengira jika aku dan Jefri bertengkar hebat hingga harus memecahkan alat makan. Sampai akhirnya hari ini mereka melihat sendiri dengan mata kepala mereka. Bahwa Jefri mendiamkanku. Tidak menegurku sama sekali.
Dan akhirnya mereka melihat aku yang kesal, membuang makanan yang kumasak sendiri. Kubuang beserta piring makannya ke dalam tempat sampah.
Lisa meraih tanganku. "Gak ada perubahan?" tanyanya sambil menatapku dari samping.
Aku hanya menatap tempat sampah yang kini sudah tertutup otomatis. Napasku menjadi berat. Gemeretak gigiku semakin menjadi. Dapat aku rasakan jika di pelupuk mataku kini sudah siap menjatuhkan air mata. Menumpahkan kesedihanku.
Lisa menarik tanganku hingga mata kami saling bertemu. Air mataku jatuh, aku memeluknya. Rasanya aku sudah tidak sanggup untuk menutupi semua ini. Aku kembali menangis terisak.
"A-aku gak sang-gup ... a-aku harus gimana lagi?" ucapku di sela tangisku.
Mungkin Lisa dan Alex tahu diri. Mereka berdua memilih diam dan hanya menenangkanku, saat Jefri kembali menuruni tangga. Sekilas ia menatap kami, membuatku menghentikan tangisku dan mencoba tersenyum membalas tatapannya. Tapi setelah itu, ia kembali melangkahkan kakinya keluar dari rumah. Entah kemana tujuannya.
Tidak hanya sampai di situ. Masih banyak lagi sikap dinginnya yang membuatku hampir menyerah menghadapinya. Bahkan di usia kandunganku yang sekarang menginjak 20 minggu. Perutku kini sudah mulai membuncit.
Dari awal kehamilan aku memang tidak pernah merasakan fase yang sering dikatakan dengan 'mengidam'. Entahlah, mungkin anak kembarku tahu jika ayah mereka sedang mengacuhkanku.
Begitu pula di saat aku harus memeriksakan kandunganku. Aku sudah mengiriminya pesan singkat. Yang isinya, memintanya untuk menemaniku pergi ke dokter. Tapi pesanku itu hanya bertanda contreng garis dua berwarna biru. Tidak ada balasan.
Sampai akhirnya aku meminta tolong pada Lisa untuk menemaniku.
"Jefri masih gak berubah?" tanya Lisa memecah keheningan saat di perjalanan. Aku hanya menggeleng kecil saat ia menoleh padaku sekilas.
Lisa memukul setir mobilnya, membuat aku sedikit terkejut dengan reaksinya.
"Tu anak kenapa sih? Bini lagi hamil bukannya diurusin, diperhatiin, dimanja, ini malah dicuekin. Masa cuman gegara itu doang harus berbulan-bulan perang dingin sih?!" Lisa akhirnya melampiaskan kekesalan di hatinya.
Aku hanya meliriknya sekilas, lalu kembali memandangi pemandangan di luar kaca jendela mobil. Pikiranku melayang, membayangkan andai saja masa kehamilan yang aku jalani ini menyenangkan dan membahagiakan. Tapi sayang, semua itu lagi-lagi hanya ada di pikiranku. Tidak mungkin menjadi nyata.
Aku terkekeh pelan, menertawakan nasibku saat ini.
Setelah selesai memeriksakan kandunganku dan semuanya telah dinyatakan sehat serta baik-baik saja. Aku dan Lisa segera menebus obat serta vitamin dan kembali pulang. Namun aku tidak meminta untuk diantar ke rumahku melainkan pulang ke rumah mamah. Ya, ke rumah orangtuaku.
Begitu sampai di rumah mamah, tidak banyak yang aku katakan padanya. Aku hanya mengatakan bahwa aku sedang ingin menginap di kamar tidurku dulu. Dan beliau membolehkanku. Lisa pun segera pulang setelah berhasil mengantarkanku sampai ke tempat tidurku.
Sore itu aku mencoba untuk langsung memejamkan mataku, setelah Lisa menutup pintu kamarku.
__ADS_1
Bersambung ...