
Jangan lupa ritual sebelum dan sesudah membuka episode ini ya :)
Selamat membaca ...
—————
Tika POV.
Aku tidak percaya dengan apa yang baru saja aku dengar. Dana bebas?
Segera aku bangkit dari dudukku lalu berjalan dengan cepat menuju kamar. Mataku sempat menoleh sebelum langkah kakiku menginjakkan anak tangga. Kedua anakku bangun dari tidurnya tetapi masih berada di dalam bouncer mereka masing-masing. Namun rasa sesak di dadaku sepertinya harus aku luapkan.
Braak!
Dengan kasar aku mendorong kenop pintu kamarku lalu berjalan cepat menuju balkon, napasku hampir hilang! Kugeser pintu kaca yang menjadi penyekat antara balkon dengan kamarku.
Wuussh!
Desau angin siang itu yang berlalu di atas balkon kamarku terasa sangat menyejukkan. Aku menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya melalui mulut dengan perlahan. Melangkahkan kaki mendekati pagar pembatas lalu mengulangi untuk melancarkan pola pernapasanku.
Aku sedikit merasa kecewa dengan Max dan juga Jefri. Mereka menyembunyikan informasi itu lumayan lama dariku. Membiarkan lelaki gila itu hidup dengan bebas di luar sana. Pikiranku kembali mengawang saat kejadian beberapa minggu lalu di rumah ini. Apa teror bangkai itu ulah Dana?
Ya, pasti dia. Tapi kenapa dia bisa sekejam itu? Mengirimkan beberapa bangkai hewan itu bukanlah perkara yang main-main. Jika ia ingin menarik perhatianku, bukankah cara itu termasuk salah?
Jemariku dengan erat mencengkeram pagar balkon, guna melampiaskan rasa kesal di dadaku saat ini. Mendadak sepasang tangan melingkar pada perutku dengan tubuhnya yang merengkuh tubuhku. Lalu terselip wajahnya di atas pundakku. Dengan spontan aku menoleh dan mendapati wajah suamiku sendiri. Dia mendekapku dengan erat.
"Aku tahu aku salah, Max juga salah. Kami salah. Semua itu kami lakukan biar kamu gak banyak pikiran. Dan selama itu pula Max ngelindungin kita. Kamu pasti lupa sama hadiah yang tiba-tiba dikirim ke rumah kita, aku pikir dari sana kamu ngerti kalau Dana masih keliaran," lirih Jefri pelan.
Ah, benar! Aku melupakan satu hal itu sejak sekian lama. Semestinya sikapku tidak berlebihan seperti tadi dengan Max ataupun dengan suamiku sendiri. Mengapa aku bisa sebegitu bodohnya. Aku membalikkan tubuhku menghadap padanya. Memandangi semua bagian pada wajah suamiku.
"Maaf, aku lupa sama kejadian itu." Aku merasa bersalah.
__ADS_1
Seharusnya aku berterima kasih pada mereka berdua karena selalu melindungiku, terlebih lagi untuk Max. Dia selalu menjagaku bahkan setelah aku menikah dengan lelaki yang kini ada di hadapanku. Dan dengan kebesaran hatinya, Max juga menjaga lelaki ini, lelaki yang aku cintai dengan segenap hatiku.
Aku memeluknya, menempelkan telingaku pada dadanya yang bidang. Desiran ketenangan kini kembali merasuki begitu hidungku dapat mencium aroma tubuhnya. Aroma kedamaian bagiku.
Untuk sejenak kami berdua menikmati waktu yang berlalu, hingga akhirnya Jefri mengajakku untuk kembali ke bawah, menemui Max. Sebab masih ada hal lain yang akan dia sampaikan. Aku membujuknya untuk mengatakannya terlebih dahulu padaku. Tetapi dia bersikeras untuk mengatakannya nanti.
Akhirnya kami melangkah bersama menuju ke bawah yang mana ternyata sudah ada mamah dan juga Shilla. Sedangkan Max masih berada di halaman belakang. Kami kembali mendatanginya.
"Max ... maaf, aku lupa sesuatu," lirihku pelan setelah duduk di sampingnya. Sesekali aku memandangi Jefri yang duduk di sofa terpisah dari aku dan Max.
Terlihat lipatan pada kening Max. Kemudian aku menceritakan padanya tentang kiriman mainan anak-anak yang dulu pernah aku terima saat masih di rumah kami dulu. Lalu aku dan Jefri baru menyadari hadiah itu bertepatan saat kami akan menjemput buah hati kami dan membawa mereka ke rumah mamah ini.
"Jadi sebenarnya kamu udah tahu?" tegas Max.
Aku melipat kedua bibirku, tersenyum canggung dan juga mengangkat kedua bahuku untuk menjawab kekeliruanku. Sedang Max menghela napas lega sambil memelototiku. Aku tersenyum memperlihatkan gigi.
"Oke, sekarang intinya aku bukan mau nakutin. Dana dengan bebas ada di luar sana. Igo sudah berkali-kali gak bisa lacak dia karena selalu berpindah. Dan kalaupun kalian mau balik ke rumah kalian, bukannya itu gak aman? Dia tahu alamat kalian, secara dia ngirimin kalian hadiah." Max memandangi aku dan Jefri secara bergantian, sebab Max duduk di antara aku dan Jefri.
"Aku berubah pikiran." Jefri tiba-tiba menyahut. "Aku akan bawa keluargaku ke rumah orang tuaku. Gimana? Kamu mau 'kan, Sayang?" tanya Jefri padaku.
"Ya, itu juga boleh. Gak apa-apa 'kan, Max?" Aku berharap Max ingat dengan perkataanku tempo hari.
Bahwa tujuan awalku ingin pulang ke rumah kami agar kedua orang tua Jefri bisa mendatangi cucunya. Namun jika keadaan seperi ini, seharusnya dari awal aku bisa memikirkan itu. Mungkin tawaran Jefri untuk mengajakku menginap di rumah orang tuanya bisa aku setujui.
Perlahan aku, Jefri dan juga Max saling membicarakan semuanya dengan kepala dingin. Mencari solusi atas kesalahpahaman yang terjadi di antara kami bertiga. Lagipula yang Max khawatirkan itu jika kami kembali ke rumah kami, bukan ke rumah mertuaku.
Mungkin ini adalah yang terbaik untuk saat ini. Sebab aku juga ingin Jefri mendapatkan kembali rasa percaya dirinya dengan posisinya yang menjadi suamiku. Dan lagi, bukankah sudah menjadi tugasnya untuk menjagaku? Melindungi keluarga kecilnya?
Sekarang aku mulai mengerti dengan jalan pikirannya saat ini. Mungkin menurut Jefri jika kami terus tinggal di sini, dia akan mengira bahwa aku tidak mendukungnya, tidak percaya pada kemampuannya serta tidak menghargai kewajibannya. Entah itu sebagai lelaki, suami ataupun sebagai seorang ayah.
"Kalau kalian sudah sepakat, aku bisa apa?" jawab Max pasrah.
__ADS_1
Aku tersenyum padanya lalu beranjak meninggalkan mereka kembali ke dalam rumah. Membiarkan mereka berdua kembali menikmati lintingan tembakau itu.
Langit kembali memancarkan keindahannya lewat lukisan bias cahaya orange yang begitu cantik. Membuat kagum semua mata yang menyaksikannya. Tapi tidak denganku, sebab sejak matahari berhasil terbenam dan warna langit berubah menjadi hitam, aku masih berdiri di balik tirai pintu menuju balkon kamarku.
Bukan tanpa alasan aku berdiri di sinj. Tetapi karena nasihat mamah yang tadi sore aku dapatkan. Tentang kewajiban aku yang seharusnya saat menjadi seorang istri. Di mana aku semestinya tinggal dan mengikuti apa kata suamiku. Karena surgaku kini berpindah kepadanya.
Hal itu membuat aku semakin memantapkan keputusan kami untuk tinggal sementara di rumah mertuaku. Tempat aman menurutku saat ini, dari gangguan teror ataupun yang lainnya.
Jefri tiba-tiba kembali merengkuhku, menanyakan apa yang sedang aku pikirkan saat ini. Lalu dengan singkat aku mengatakan, "Mikirin kamu."
Dia terkekeh, melonggarkan sedikit dekapannya yang membuatku bisa berbalik menghadapnya. Kukalungkan kedua tanganku pada pundaknya lalu mengecup bibirnya kilas. Satu malam lagi telah berhasil kami lalui dengan penuh kasih sayang.
***
Seminggu sudah aku, Jefri dan kedua anakku menginap di rumah orang tuanya. Kami benar-benar diperlakukan dengan sangat spesial di sana. Mama dan papa mertuaku begitu menyayangi kedua buah hati kami. Semua itu sangat jelas terlihat, bahkan mereka tidak segan-segan untuk membeli beberapa keperluan untukku dan kedua anakku.
Papa juga sengaja mengubah tatanan ruang televisinya agar kami bisa berkumpul di sana. Kini umur kedua anakku sudah menginjak usia lima bulan. Mereka sedang lucu-lucunya belajar berguling dari telentang ke tengkuran dan sebaliknya. Tawa mereka mulai menghiasi keseharian kami.
Beberapa kali mamahku juga datang berkunjung untuk melihat cucunya. Ya, mamahku tergolong seorang ibu yang sangat santai. Hampir tidak ada rasa gengsi dalam dirinya. Namun beliau juga tergolong orang yang senang memendam perasaan, apa pun itu. Apalagi jika perasaan sedihnya. Pasti akan tersimpan rapat dalam hatinya. Mungkin kebanyakkan seorang ibu akan bersikap seperti itu. Dia tidak ingin membuat anaknya merasa khawatir.
"Mamah tadi dari mana?" tanyaku saat mamah datang berkunjung kali ini ke rumah mertuaku.
"Gak dari mana-mana, memang mau ke sini aja, ngeliat cucu. Gak boleh?" ucap mamah cuek membuatku merasa tidak nyaman dengan mama mertuaku yang juga sedang bersama kami.
"Tika ini ada-ada saja." Mama Alena mengusap pundakku sambil tersenyum. "Oh iya, Jeng, jangan pulang dulu ya? Kita makan siang sama-sama, mau ya?"
"Boleh," jawab singkat mamah yang kemudian membuat mama Alena berdiri dan segera pergi ke dapur untuk menyiapkan segalanya.
Tidak ada yang berbeda antara rumah mamahku dengan rumah mertuaku. Kegiatanku pun sama. Yang berbeda hanyalah di sini semua serba mama Alena dan papa Atta yang menyiapkan, mereka melakukan semuanya serba sendiri tanpa adanta bantuan asisten rumah tangga. Dan jika Jefri tidak ada, hanya mereka berdua yang menemani aku dan anak-anak di rumah.
Dan untuk teror, entah mengapa selalu datang menghampiri. Tapi kali ini bukan padaku, melainkan pada Max dan juga Jefri. Tak jarang mereka mendapatkan kotak-kotak hadiah sepertiku dahulu yang dikirimkan ke kantor mereka, bukan ke rumah mamahku. Jefri selalu menceritakan teror yang terjadi itu padaku, begitu pula dengan Max yang selalu menghubungiku melalui pesan singkatnya.
__ADS_1
Tidak ada lagi yang mereka sembunyikan dariku, semua sudah mereka ceritakan, begitu pula dengan kematian Dave, saudara Dana yang dibunuh oleh Max secara tidak sengaja. Dari semua cerita itulah yang membuat kami semakin yakin, jika yang dilakukan Dana sekarang adalah bentuk balas dendamnya pada kami. Dan itu harus kami terima, inilah konsekuensinya.
Bersambung ...