Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
Eps 182


__ADS_3

Selamat membaca ...


——————————


Haikal POV.


Dokter Brian menceritakan semua kronoligis dan diagnosis yang dialami oleh ibunda Clara kali ini, sebab kasus ini adalah ruang lingkup keahliannya. Dia juga mengatakan bahwa saat ini keluarganya—suami dan anaknya, sedang berada di ruangan tunggu operasi. Aku segera pergi ke sana, setelah urusanku dengannya selesai.


Tanpa berpikiran apa-apa lagi, langkah kaki ini langsung membawa menuju ruang tunggu—berbeda dengan ruang tunggu keluargaku. Dari kejauhan, aku melihat Clara yang meringkuk dalam dekapan ayahnya.


Langkah kaki ini seketika terhenti. Entah mengapa, melihat kesedihan mereka membuat hatiku sedikit ragu untuk mendekat atau sekedar untuk menyapa. Cukup lama aku memerhatikan mereka. Clara terus saja menangis terisak, ayahnya pun melakukan hal yang sama. Hanya saja, beliau terlihat lebih tegar walaupun beberapa kali, beliau sempat menghapuskan air mata yang membasahi pipinya.


Hatiku terenyuh, kembali teringat akan penyakit serupa yang diderita oleh Clara. Kemudian terlintas beberapa kemungkinan dalam pikiranku yang akan terjadi suatu saat nanti jika aku bersama dengannya. Apa kebahagiaan juga akan menjauhi kami nantinya? Apa aku juga harus merasakan sedih yang seperti ayahnya rasakan saat ini? Apa aku sanggup sengan semua itu?


Aku memundurkan langkahku perlahan hingga tiba-tiba sebuah tepukan pada pundakku membuat aku terpekik kaget. “Kamu kenapa?” tanya Adam melihatku sambil memanjangkan lehernya, menengok ke sana-kemari, melihat ke sekitar kami.


Dengan menggelengkan kepala pelan aku menyahuti pertanyaan darinya lalu membalikkan tubuh, melangkah pergi menuju ke ruang kerjaku. Sebanyak langkah kakiku bergerak, baru kali ini aku meragukan keputusan yang telah aku buat.


Benar. Kali ini aku sungguh merasa plin-plan. Tidak biasanya aku seperti ini. Padahal, modal dasar sebagai seseorang yang bekerja dalam bidangku adalah otak dan insting. Pelajari segala hal sedetail mungkin dan jangan ragu untuk mengambil tindakan. Biasanya aku selalu berpikiran seperti itu. Namun kali ini sungguh berbeda.


Apa aku kurang lama mengenal Clara dan keluarganya? Apa aku harus memundurkan tanggal yang telah aku tentukan sendiri? Atau aku harus membatalkan semuanya dan mengulang dari awal kembali dengannya?


Otakku benar-benar payah kali ini. Aku mengembuskan napas dengan begitu kasar, semuanya kini terasa semakin berat. Dengan berlalunya waktu, semakin hari sungguh semakin membuatku meragu menjalani semua ini.


Aku merebahkan diri pada sebuah sofa panjang di dalam ruanganku. Lalu menatap langit-langit ruangan ini. Kemudian kembali menanyakan lagi kepada diriku sendiri. 'Apa aku sudah siap menjalani kehidupan seperti yang Max katakan tadi?' ucapku membatin.


Aku melipat tangan kiriku lalu menyelipkannya ke bawah kepala sebagai bantalan. Lalu lengan satunya lagi aku letakan di atas keningku. Perlahan aku mencoba menutup mata sambil menenangkan pikiranku serta menormalkan deru napas yang begitu terasa berat.

__ADS_1


——————————


Clara POV.


Isak tangisku masih terdengar, sisa-sisa gemetar di tubuhku pun masih dapat aku rasakan. Detak jantungku yang terpacu akibat rasa takut saat melihat kondisi bunda yang semakin parah tadi, sungguh membuatku tidak bisa berkata apa-apa.


Begitu pula dengan ayah yang panik melihat bunda yang jatuh tersungkur dengan tiba-tiba, saat beliau hendak mencuci piring setelah makan malam kami selesai. Saat itu tidak ada lagi yang bisa ayah dan aku pikirkan, selain cepat-cepat membawa bunda ke rumah sakit.


“Sudah ... kalau kamu terus begini, pernapasan kamu juga bisa terganggu. Ayah tidak ingin bunda marah, hanya karena ayah tidak bisa menjaga kamu.” Ayah terus membelai rambutku.


Kemudian aku menegakkan tubuh, melepaskan diri dari dekapan ayahku. Mengusap kasar sisa air mata di pipiku lalu menatapnya sambil menenangkan diriku sendiri.


“Kamu tahu? Kita harus kuat. Kalau bukan kita berdua yang saling menjaga dan menguatkan, bagaimana kita bisa membuat bunda kamu cepat sembuh?” Lagi-lagi satu kalimat dari ayah ini dapat membuatku tenang.


Aku memeluknya sebentar, kemudian ayah menyuruhku pergi ke toilet untuk membasuh wajahku. Menghapus sisa-sisa air mataku. Aku menuruti ucapannya, berdiri dan melangkah pergi meninggalkannya.


Kakiku terus melangkah, mataku hanya memandang lurus ke depan, sesekali memandang ke bawah, melihat langkah kakiku. Tiba-tiba sebuah cengkeraman tangan menangkap erat lenganku, menghentikan langkah kakiku karena terkejut setengah mati. Aku menoleh melihat siapa pemilik tangan tersebut. Ternyata salah satu dokter wanita di rumah sakit ini.


Ya, aku tahu dia dokter, sebab sebelumnya kami pernah bertemu, bahkan sering. Dan dulu Haikal pernah mengenalkan dia padaku. Tunggu dulu, ya betul, Haikal. Aku melupakan tunanganku sendiri, calon suamiku. Melihat wajah dokter wanita ini menjadi mengingatkanku padanya.


“Hei, Clara, 'kan?” sapanya.


“Kamu temennya Haikal, 'kan? Bisa tolong sampaikan padanya, jika ibuku sedang di operasi sekarang. Semenjak aku di sini, aku tidak tahu dia di nama dan aku tidak membawa ponselku.” Dengan cepat aku berbicada pada dokter wanita itu. Sayangnya, aku lupa dengan nama yang dimilikinya.


“Terakhir yang aku tahu, dia juga sedang melakukan operasi. Adik iparnya tertembak. Mungkin nanti akan aku sampaikan.” Dokter itu kemudian berpamitan padaku karena dia hanya menyapa tetapi juga dalam situasi yang sedang terburu-buru.


'Sial!!' rutukku dalam hati.

__ADS_1


Mengapa bisa-bisanya aku meninggalkan ponselku dan parahnya aku melupakan calon suamiku sendiri! Aku benar-benar mengutuk diri seraya masuk ke dalam kamar kecil.


**


Selesai dari kamar kecil, aku segera kembali ke ruang tunggu menemui ayah. Langkahku terhenti di ambang pintu, begitu melihat beliau tersandar pada kursinya sambil memejamkan mata. Kedua tangannya sengaja dilipat di depan dada.


Lagi-lagi aku mengembuskan napas dengan perlahan lalu melangkah masuk dan duduk di samping ayah. Beliau terjaga, membuka matanya dan menatapku.


“Ayah istirahatlah. Biar aku yang menunggu kabar.” Aku meraih salah satu tangan ayah dan menggenggamnya.


Setelah itu, ayah kembali memejamkan matanya. Sedangkan aku mengusahakan mataku agar tetap terjaga. Bahkan dalam hati kecilku, aku juga menantikan kehadiran Haikal di sini. Sekedar untuk menemaniku menunggu kabar dari ruang operasi bunda.


Dinginnya ruangan ini semakin membuat suasana saat ini terasa mencekam. Bukan karena seram melainkan karena rasa khawatir yang terus menghantuiku. Menit demi menit terus berlalu. Sejuta pemikiran yang kini hinggap ke dalam otakku, terasa sesak hingga ke dadaku.


Namun, hanya satu doaku ditengah malam ini, semoga bunda baik-baik saja.


Bersambung ...


——————————


Jangan lupa untuk mendukung karya ini.


Caranya mudah, cukup dengan memberikan boom like serta komen pada setiap episode yang akan diterbitkan.


Terima kasih.


IG : @bossytika

__ADS_1


__ADS_2