
Jefri POV.
Kami sudah sampai di halaman depan rumah orang tuaku. Ku lihat istriku sedang tertidur. Nyenyak sekali. Wajahnya memang terlihat lelah. Ku pandangi wajahnya untuk beberapa saat, entah apa yang sudah dialaminya hari ini.
Perlahan ku elus pipi kirinya dengan lembut. Ia masih tertidur pulas, tak sengaja kedua sudut bibirku tertarik, tersenyum melihatnya. Ku condongkan tubuhku, ku kecup pelan bibirnya. Tubuhnya bergerak.
"Hmmm?" deham Tika yang kemudian membuka matanya pelan.
Tika agak terkejut mendapati kami yang sudah sampai di rumah orang tuaku. Aku tersenyum kembali melihatnya lalu mengajaknya untuk turun dan memasuki rumah.
Sesampainya di dalam rumah, suasana lumayan sepi. Beberapa kali ku panggil mama namun tidak ada jawaban, hingga akhirnya ku dengar suara sahutan pelan di arah dapur. Aku dan Tika bergegas menuju dapur dan ternyata kami mendapati papa yang sedang duduk dimeja makan, sendirian.
"Mama mana, Pa?" tanyaku yang sambil melihat Tika mencium punggung tangan papa, bersalaman.
"Di toilet, kalian baru pulang kerja?"
Aku mengangguk kemudian mencium pipi papa. Tak berapa lama mama akhirnya muncul lalu mengajak kami untuk makam bersama dengan mereka. Aku dan Tika menyetujuinya, dengan sigap Tika menaruh tasnya di kursi lalu ke dapur untuk mengambilkan piring serta gelas. Melayaniku makan, mengambilkan nasi dan lauknya serta menuangkan segelas air padaku. Kemudian kami terhanyut dalam obrolan ringan yang terjadi di ruang makan ini.
Aku sedikit lega melihat kondisi papa yang begitu cepat untuk masa recovery. Belum genap seminggu, papa sudah bisa kembali memakan makanan seperti biasanya. Papa sudah bisa berbicara lagi, walaupun dengan napas yang masih tersenggal. Bahkan papa sudah bisa tertawa walaupun akhirnya harus batuk-batuk karena pernapasannya yang masih pendek.
Mamapun terlihat lebih ceria, wajahnya tidak sesedih beberapa hari yang lalu. Saat aku dan mama bervideo call untuk menanyakan kondisi papa. Sebenarnya Tika sudah berkali-kali menawarkan padaku untuk tinggal di rumah ini saja. Bukan tanpa alasan, tapi Tika ingin aku bisa setiap hari melihat perkembangan kondisi papa. Dan Tika juga ingin membantu mama dalam pekerjaan rumah yang bisa dilakukannya. Namun beberapa kali pula aku menolaknya.
Aku hanya tidak ingin adanya kecemburuan sosial antar keluarga. Malah seharusnya, jika disuruh untuk memilih, tidur dimana kami saat ini? Aku akan lebih memilih untuk tidur di rumah orang tua Tika. Ya, di rumah mamah. Mengapa? Karena orang tua Tika tinggal sendiri, rumah anak-anaknya jauh darinya. Aku lebih mengkhawatirkan mamanya ketimbang keluargaku. Karena ku pikir, jika orang tuaku, mereka masih bisa saling bertatap, berbincang dan rumah Jerry adikku, hanya berjarak beberapa langkah saja dari sini. Tapi jika mamahnya?
Mamah Tika lebih membutuhkan anaknya. Dia hidup hanya bersama bi Mince di rumah itu. Waktu dulu berkunjung ke sana saja, kami mendapati mamah yang tertidur dikamar Tika sambil memeluk boneka kesayangan itu. Aku terenyuh melihat kondisi itu, sekaligus merasa bersalah. Apa aku sejahat itu, merebut seorang anak gadis dari tangan ibunya??
Tika menyenggol lenganku, membuyarkan semua lamunanku. Hingga aku menoleh padanya lalu bertanya ada apa. Ternyata, mama sedang menanyakan suatu pertanyaan padaku di saat pikiranku melayang, tak ada dalam ragaku.
"Iya, kenapa, Ma? Pa?" tanyaku agak bingung.
__ADS_1
Sambil menatap kedua orang tuaku secara bergantian, lalu aku menatap istriku kilas. Ia menggelengkan kepalanya sambil mencibir. Sedangkan kedua orang tuaku terkekeh geli.
"Kamu lagi ngelamun ya?" tanya Tika. Aku segera menggelengkan kepalaku cepat.
"Trus kamu denger gak kami tadi ngobrolin apa?" tanyanya lagi. Aku kembali menggelengkan kepala sambil tersenyum tipis.
Aku tahu, jika sudah begini, Tika pasti kesal melihat tingkahku yang seperti ini. Tersenyum tanpa dosa. Dan benar saja, tangannya dengan gesit mencubit pinggangku.
"Aww!!" seruku sambil terkekeh pelan, membelalakkan mata menatapnya. Ia mengerucutkan kedua bibirnya layaknya anak kecil yang cemberut.
Papa dan mama kembali terkekeh, kali ini lumayan nyaring hingga membuatku semakin ingin tertawa lepas.
----------
Lisa POV.
Aku kembali membawa mobilku menyusuri jalanan ibukota. Sebelah tanganku masih saja menyapukan bekas tetesan airmata yang membasahi pipi. Ini kali kedua aku menangisi sahabatku, Tika. Yang pertama, saat ia akan menikah. Aku merasa akan kehilangan sahabat sekaligus saudara wanitaku yang selama ini menemani hariku. Kami banyak menghabiskan waktu bersama. Entah itu bertemu langsung atau sekedar lewat telepon. Tapi tidak, saat itu aku harus bahagia untuk masa depannya, untuk cintanya yang ia perjuangkan. Dan itu kebahagiaannya.
Tak terasa butiran airmata kembali muncul di ujung kelopak mataku. Perlahan semakin membanjiri mata hingga mengalir di pipiku lagi. Kembali ku tepikan mobilku dipinggir jalan. Aku kembali menangis tersedu, mengingat Tika yang tadi berpamitan padaku seolah tak ingin melihat wajahku. Biasanya kami selalu berciuman pipi kanan dan kiri jika selepas meet up. Tadi?
"Gua juga pingin bahagia! Apa gua salah?!" jeritku semakin membuat dadaku terasa sesak.
Pikiranku kembali melayang, teringat lelaki yang telah memberikan semua ini padaku.
FLASHBACK ON
Lagi-lagi aku terbangun pagi ini diatas ranjang beralaskan sprei putih bersih yang lembut. Hari ini adalah hari terakhir aku berada di Bali, di tempat ini. Ku lihat di sekelilingku, lelaki yang menemaniku selama seminggu di sini sudah tidak ada. Namun ku lihat lagi, di atas sofa di pojok kamar, masih ku dapati pakaian lengkap lelaki itu bertengger manis di sandaran sofanya. 'Mungkin pakaian itu tidak akan di kenakannya lagi,' batinku.
Dengan bantuan bedcover putih yang lembut menutupi tubuh polosku tanpa busana ini, aku berdiri, berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhku.
__ADS_1
Setelah selesai mandi dengan rambut yang ku keringkan menggunakan handuk ala barbie dan tubuhku yang terbungkus dengan handuk bathrobe, aku berlenggang keluar kamar mandi. Langsung menuju meja rias dengan santai dan duduk. Aku tersentak melihat pantulan seorang lelaki di belakangku melalui cermin!
"Lama banget mandinya? Pake kunci pintu segala," tanya lelaki itu tegas kemudian berdiri, langsung menuju kamar mandi.
Aku hanya terdiam melihatnya dari pantulan cermin. Bukan karena tidak mengenali lelaki itu, hanya saja aku terlalu syok melihat dia di pagi hari tanpa baju yang di kenakannya. Ya kalian benar, dia saat itu sedang bertelanjang dada dengan celana training sebagai bawahannya. 'Mungkin dia baru selesai jogging,' pikirku.
Aku kembali melakukan rutinitasku. Berdandan dan besiap packing untuk pulang ke kotaku. Lelaki itu keluar dari kamar mandi setelah sekitar satu jam berada di dalam sana. Entah apa yang dia lakukan, yang jelas kini aku sudah mulai mengemasi barang-barangku. Aku hanya menoleh sekali padanya, mata kami beradu, kemudian ku putuskan untuk kembali menyelesaikan kegiatanku.
Tiba-tiba lelaki itu memeluk tubuhku dari belakang, sampai handuk yang membungkus rambutku pun ikut terjatuh. "Gua mau lu tetep disini," lirihnya di telingaku.
Aku menoleh ke arahnya yang membenamkan wajahnya diceruk leherku. "Gak bisa, gua hatus pulang."
Lelaki itu semakin mengeratkan dekapannya, kemudian mengecup leherku. Tak berapa lama, ia melepaskan dekapannya. Aku langsung meraih handuk kepala yang terjatuh tadi kemudian menutup koperku dengan rapat. Dengan pakaian yang telah siap akan ku kenakan, aku segera menuju kamar mandi.
Begitu pakaian itu sudah ku kenakan, sekali lagi aku mengecek penampilanku melalui pantulan cermin di kamar mandi. Lalu keluar dari sana. Namun begitu keluar, betapa takjubnya aku akan lelaki itu. Ia sudah mengenakan setelan formalnya. Dengan kemeja putih tertutup vest berwarna hitam yang serasi dengan celana panjang kain berwarna hitam.
Ia membelakangiku, menghadap jendela yang mengarah langsung ke lautan lepas. "Gua sudah transfer sedikit uang ke rekening lu. Makasih sudah nemenin gua disini," ucapnya yang masih membelakangiku.
Ku langkahkan kaki ku perlahan kemudian meraih tangkai koperku, berbalik arah menuju pintu keluar dari kamar itu. Baru saja aku mencengkram knop pintu dan terbuka sedikit, aku ingat akan sesuatu lalu berkata, "Makasih buat semuanya, semoga setelah ini kita gak saling mengingat dan merindukan," ucapku tanpa membalikkan badan.
Aku melangkah dengan pasti keluar dari kamar, berharap semua yang terjadi cukup sampai disana dan hanya disana.
FLASHBACK OFF
----------
Ketemu lagi reader 🤭
Malam ini aku kasihnya 1 bab aja yah buat nemenin yang jomblo menyendiri dalam kamar sambil selimutan 🤣
__ADS_1
#salambucin💋
Babay!!