
Selamat membaca ...
——————————
Still Haikal POV.
Clara sadar beberapa jam kemudian setelah mendapatkan oksigen yang masuk ke dalam tubuhnya. Membuatku dapat bernapas lega. Begitu pula dengan ayahnya yang terlihat langsung memeluk anaknya. Kemudian aku pergi meninggalkan mereka berdua. Menutup rapat pintu kamarnya dengan perlahan.
Aku kembali bergabung dengan situasi duka yang terjadi di lantai bawah. Duduk merenung di samping mamah sambil melamun. Menunggu prosesi pemakaman berlangsung. Begitu pula dengan Max yang juga ikut menemaniku.
Tepat pada pukul 9 pagi, Clara dan ayahnya menuruni tangga dan bersiap melakukan semua prosesi pemakaman. Keluarganya yang lain juga ikut membantu kelancaran acara ini. Bahkan dari kejauhan, aku sempat melihat Clara yang menoleh memandangiku. Aku hanya bisa tersenyum tipis padanya sebelum pergi ke tempat pemakaman.
Di salah satu sudut tempat pemakaman umum aku berdiri sendiri. Setelah sebelumnya tempat ini begitu ramai dengan orang-orang yang melakukan penghormatan kepada bundanya Clara.
Kini mereka semua telah kembali pulang, mamahku juga ikut pulang ke rumah Clara sebab dia mamah terlalu mengkhawatirkannya. Jadi tinggallah saat ini, aku sendiri berdiri di sini. Memandangi sebuah makam yang baru saja memuat tubuh calon ibu mertuaku. Tanah itu masih basah, penuh dengan berbagai jenis bunga hingga menghasilkan aroma harum yang semerbak.
Air mataku kembali menetes begitu saja, meratapi kebodohanku yang tidak bisa membantu apa-apa saat operasi berlangsung tadi malam. Namun, rasanya menyesal pun sudah tidak akan berguna lagi saat seperti ini. Yang ada hanya akan membuat semakin terluka.
“Kal, ayo balik,” ajak Max padaku. Aku hanya mengangguk.
“Bunda, Haikal pulang dulu,” pamitku pelan. Kemudian langsung berbalik dan melangkah pergi.
Di sepanjang perjalanan pulang alias menuju rumah Clara, aku sengaja tidak berbicara sepatah kata pun pada Max. Entah mengapa aku lebih memilih untuk diam dan larut dalam pikiranku sendiri. Begitu pula dengan Max yang fokus mengendarai mobil, dia tidak mempermasalahkan aku yang seperti ini.
Sesampainya di rumah Clara, suasana di sana masih cukup ramai. Sebagian sanak keluarga masih berkumpul. Begitu turun dari mobil, Max langsung mencari di mana keberadaan mamah. Kami mendapati beliau yang ternyata ada di tengah rumah, duduk bersama keluarga yang lain.
Sedangkan aku memutuskan untuk mencari Clara, aku harus berbicara padanya. Setidaknya aku ingin meminta maaf atas kelancanganku. Aku hanya mengkhawatirkan kondisinya.
“Clara ada di kamarnya, naiklah ke atas. Ayah sudah beberapa kali mencoba menjelaskan padanya.” Ayah Clara mengizinkanku untuk pergi ke kamarnya di lantai atas.
__ADS_1
“Makasih, Yah.”
“Bujuklah dia untuk melakukan tes itu. Ayah tidak ingin dia mengabaikan kondisinya,” tambah beliau lagi. Aku mengangguk mengerti.
Tok tok tok!
Tidak ada terdengar sahutan. Sekali lagi aku mengetuk pintu kamarnya. Kemudian memberanikan diri untuk menyentuh kenop pintu dan membukanya, tetapi terkunci. “Clara ... ini aku ....” Masih sama, tidak ada jawaban.
Aku menempelkan keningku pada dinding pintu lalu kembali berkata, “Aku minta maaf. Aku khawatir, aku takut kehilangan kamu. Tolong, aku mohon ... jangan hukum aku kayak gini.” Pintu itu terus saja bergeming, tidak ada pergerakan. Bahkan dari dalam sana pun juga tidak terdengar suara apa-apa.
“Clara, Sayang!! Aku mencintaimu bukan untuk sementara.” Tak terasa air mataku kembali menetes. Jatuh begitu saja tidak bisa aku bendung lagi.
Dan kali ini, aku kembali menyadari bahwa aku benar-benar mencintainya. Melihatnya yang seperti ini sungguh membuat hatiku rasa teriris, pedih. Aku tahu bagaimana rasanya ditinggalkan orang yang dicintai. Bahkan dua kali aku merasakan itu. Dan aku tahu, ini bukanlah perihal yang mudah untuk diterima.
**
Terdengar suara notif ponselku, sebuah pesan singkat yang berasal dari WhatsApp membuat kepalaku menoleh. Menatap sebuah benda tipis yang sengaja aku letakkan di atas meja kamar. Aku berjalan perlahan menuju meja tersebut, lalu meraihnya. Menggenggam benda itu setelah sebelumnya melihat nama Max yang muncul pada tampilan layar. Tetapi pesan itu belum aku buka.
Meletakkan ponselku di atas meja lalu membuka bungkus rokok yang membelit kotak itu. Mengambil sebatang rokok dan menyulutnya dengan sebuah pemantik yang memang tergeletak di samping asbak. Aku menghisap bakaran tembakau yang tersaring pada filternya, lalu sedikit menghirup asapnya dengan lubang hidungku. Sisanya aku buang kasar ke satu arah. Embusan angin segera menyapu kepulan asap itu.
Langit sore ini begitu indah. Menampilkan awan yang berwarna keabuan dan juga sedikit tercampur dengan gelapnya hitam. Membuat udara yang sejuk semakin dingin terasa. Aku mendongakkan kepalaku memandangi langit yang kelabu lalu memejamkan mata. Merasakan semilir angin membelai seluruh tubuhku. Aku menikmatinya ...
Angin itu membuat hati ini terasa begitu damai. Ketenangan yang aku rasakan kini, terasa sangat berharga bagiku. Bagi hidupku.
Sepertinya aku sudah terlalu letih untuk terlarut dalam masalah ini terlalu lama. Hingga membiarkan diri sendiri diselimuti rasa bersalah yang mendalam. Bahkan tidak terasa sudah beberapa hari aku meninggalkan rumah sakit tempatku bekerja. Tempat yang selama ini aku nomor satukan. Aku kembali menundukkan wajahku, menghisap kembali sebatang rokok itu dan menikmatinya hingga habis.
Setelah mematikan sisa rokok itu di dalam asbak, barulah aku meraih ponselku. Membuka pesan singkat yang Max kirimkan padaku. Aku terlalu larut dalam rasa bersalahku yang mendalam, hingga melupakan orang-orang terdekatku. Orang-orang yang memerhatikanku.
Baru saja aku selesai membaca pesan Max yang menanyakan keadaanku. Tiba-tiba ponselku sudah kembali berdering dan ini adalah panggilan telepon darinya. Segera kutekan tombol volume down pada ponselku. Lalu kuletakkan kembali ke atas meja. Kemudian aku kembali terhanyut dalam sepiku.
__ADS_1
Entah sudah berapa lama waktu yang aku habiskan untuk duduk merenung di tempat ini. Dan entah sudah berapa banyak batang rokok yang aku sulut sejak tadi siang. Hingga akhirnya suara seseorang mengganggu ketenanganku.
“Haikal!! Buka pintunya!! Kal!! Haikal!!” Suara teriak di luar sana yang membuat gaduh. Aku mengenal jelas siapa pemilik suara itu. Hingga membuatku terasa malas untuk membukakan pintu rumahku untuknya.
“Come on!! Semua itu bukan salah kamu!” teriaknya lagi. Kali ini diikuti dengan suara gedoran pintu, membuatku mau tidak mau harus beranjak berdiri dan membukakan pintu untuknya, kalau tidak bisa-bisa pintu rumahku akan didobraknya kali ini.
Baru saja anak kunci pintu dua kali aku putar, lelaki itu sudah dengan tidak sabarannya mendorong pintu di depanku hingga nyaris saja membuatku terjatuh karena melangkah mundur untuk menghindari arah daun pintu yang ke dalam.
“Akhirnya kamu bukain juga!” tegasnya.
Ya, suara gaduh itu berasal dari Max. Dialah lelaki yang sudah merusak ketenanganku sore ini, juga—hari-hari sebelumnya. Hanya saja, baru kali ini akhirnya aku membukakan pintu untuknya. Setelah sebelumnya, selalu aku abaikan dan aku tinggalkan masuk ke kamar lalu bersembunyi di balik bantal.
“Kamu gak apa-apa, 'kan?” tanyanya yang terdengar khawatir.
“Yang dokter itu aku, bukan kamu. Aku tahu batas-batas untuk tetap jadi manusia yang sehat.” Aku menjawab asal lalu berbalik, melangkah menuju dapur untuk membuka kulkas. Mengambil sekotak besar jus mangga dan sebuah gelas, lalu kembali pergi ke balkon samping dan menikmati jus itu di sana. Max mengikuti di belakang tanpa membalas perkataanku.
Aku tahu, Max pasti cemas karena aku menutup diri. Mengunci diri dari segalanya selama berhari-hari, hingga menutup segala akses untuk bertemu denganku.
Max menyulut rokoknya yang diambil dari saku celananya lalu melemparkan bungkus kotaknya ke atas meja. Sambil memandangiku yang juga sedang menatapnya dengan segelas jus mangga di tanganku.
Bersambung ...
——————————
Jangan lupa untuk mendukung karya ini.
Caranya, cukup dengan memberikan boom like serta komen pada setiap episode yang akan diterbitkan.
Jika ingin vote silakan ke judul baru ya, The Hand of Death.
__ADS_1
Terima kasih 💋
@bossytika