Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
Eps 189


__ADS_3

Selamat membaca ...


——————————


Clara POV.


Aku tertunduk lemas, kemudian menangis terisak saat Haikal telah melangkah pergi meninggalkanku di sini. Entah apa yang ada dalam pikiranku sendiri, yang aku tahu, hidupku saat ini terasa kacau. Seakan tidak ada gairah.


Sekilas, aku kembali teringat akan ucapan ayah tadi malam saat kami makan berdua. Memang tidak seperti biasanya. Sudah beberapa hari ini, semenjak bunda tidak ada, ayah selalu membeli makanan dari luar. Bahkan dengan setengah memaksaku, ayah tetap ingin saat makan malam selalu dilewati bersama. Walaupun tanpa bunda dan tanpa masakannya.


Aku dan ayah memang tidak pandai dalam memasak. Ayah sibuk melakukan kewajibannya untuk memberikan nafkah. Namun, ayah tidak pernah meminta bunda untuk berhenti dari pekerjaannya, sebab bunda melakukan keduanya dengan sangat seimbang. Beliau bekerja dan juga melakukan tugasnya sebagai istru dan juga ibu untukku.


Lalu aku? Aku sibuk terobsesi akan jenjang karir. Bekerja untuk menabung. Entah untuk apa uang tabungan itu. Aku tidak pernah mau belajar memasak pada bunda. Padahal berkali-kali bunda mengatakan bahwa seorang wanita dewasa sudah harus bisa memasak, paling tidak memasak untuk kedua orang tuanya sebelum dipersunting oleh lelaki impian.


Dan tadi malam, sebelum ayah angkat bicara, mendadak air mataku jatuh begitu saja. Aku menyesal tidak belajar memasak pada bunda. Andai saja aku bisa memasak, pasti ayah tidak akan kesusahan seperti sekarang. Memakan makanan dari luar yang belum tentu terjamin kebersihannya.


“Sudah ... jangan menangis lagi. Gak ada gunanya,” tegur ayah. Kemudian dengan cepat aku mengusap air mataku dan meraih gelas minumku. Menelan beberapa tegukan air untuk menenangkan hati ini.


Setelah itu aku memandangi ayah diam-diam. “Ayah ... maaf. Aku belum bisa nepatin janji. Air mata ini terus keluar tanpa aku minta. Dan maaf kalau ayah harus terus beli makanan di luar karena aku gak bisa masakin Ayah.” Aku berbicara sambil masih terisak.


Ayah melepaskan sendok dan garpunya, lalu tangannya menggenggam jemariku. Dengan sedikit keberanian aku mengangkat wajahku untuk memandangnya.


“Ayah sedikit menyesal sekarang,” lirihnya sembari mengembuskan napas, “dulu ayah pernah bilang pada bunda kamu agar jangan memaksa kamu untuk belajar memasak. Karena pada akhirnya seorang wanita pasti akan bisa memasak karena itu sudah kewajibannya.” Ayah tersenyum tipis lalu melepaskan genggamannya, kembali mencoba menyantap makanan di hadapannya.


Aku tidak sanggup untuk mengucapkan apa pun. “Tapi ternyata ayah salah. Ayah terlalu memanjakan kamu. Sudah ... ayo cepat habiskan makanannya. Setelah itu kita istirahat. Besok pagi ayah harus mulai membersihkan gudang.”


**


Aku segera menghapus air mataku lalu berdiri. Berbalik dan masih melihat Haikal dalam mobilnya, belum benar-benar bergerak pergi meninggalkan aku. Begegas aku melangkah menuju mobilnya lalu dengan jantung yang berdetak cepat ini, aku beranikan mengetuk kaca mobilnya pada pintu bagian penumpang.

__ADS_1


Dia yang tadinya sedang memejamkan mata dan menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi, kini membuka matanya dan menoleh melihatku. Haikal tidak menurunkan kaca jendelanya melainkan dia membuka kunci pintu mobilnya.


Cekrak!


Ragu-ragu, akhirnya aku membuka pintu mobilnya itu dan segera masuk. Dengan napas yang tersengal, kedua mata yang setengah tertutup dan menunduk memandangi kedua lutut, mendadak dia menyodorkan sebuah botol air mineral padaku. Sambil menelan saliva, aku menoleh menatapnya. “Minumlah, agar lebih tenang,” ucapnya dengan senyuman manis.


Aku mengambil botol air mineral itu, membuka tutupnya, masih dengan kedua mataku yang menatapnya dengan lekat.


“Minum dulu, jangan liatin terus, nanti matanya jereng loh. Masa udah cantik matanya jereng.”


“Iih apaan sih!!” Kemudian perlahan aku meneguk minuman itu. Diiringi dengan suara kekehannya.


Setelah beberapa saat, kami kembali hening. Aku masih ragu ingin berucap dan juga bingung harus memulainya dari mana.


“Gimana kalau kita jalan dulu? Kamu gak perlu ngomong apa-apa. Aku tunggu sampai kamu siap ngomong sama aku, kapan pun itu.” Haikal memintaku untuk berkeliling bersamanya dan aku mengangguk untuk menyetujui itu.


Akhirnya Haikal mulai menyalakan mobilnya, tersenyum kilas padaku lalu dia mulai menginjak pedal gas mobil untuk melaju keluar dari kompleks pemakaman ini. Membawaku mengelilingi kota ini.


Saat ini, jam di tanganku sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Pantas saja, banyak orang yang berlalu lalang pada pinggir jalanan, mungkin mereka sedang berusaha menuju ke tempat pekerjaan mereka masing-masing. Sedangkan aku masih dalam masa cuti.


“Kamu dikasih cuti berapa hari sama kantor?” mendadak suara Haikal memecah suasana hening di antara kami. Sontak aku menoleh padanya.


“Sisa dua hari lagi,” jawabku pelan sembari membenarkan posisi dudukku dan menghadap kepadanya, “apa aku boleh nanya sesuatu?”


Haikal melirik padaku sekilas lalu kembali menatap jalanan di depannya. “Apa? Tanya aja.”


“Kapan aku bisa memeriksakan diriku?” Aku memutuskan untuk segera melakukan pemeriksaan yang sebelumnya Haikal sarankan padaku melalui Dokter Brian.


Sekilas aku melihat raut wajah Haikal yang tercengang menatap jalanan di depannya. Namun, aku juga tidak dapat menyembunyikan rasa kekhawatiran pada diriku sendiri. Ya, aku tidak ingin menyerah seperti bunda. Dan aku juga menginginkan hidup bersama dengannya. Seperti ucapannya tadi saat di depan makam bunda.

__ADS_1


Aku menundukkan kepala memandangi cincin bertahtakan sebuah berlian yang ia berikan saat melamarku. Melamar untuk yang kedua kalinya itu. Kemudian aku menyentuh cincin itu dengan jemariku yang satunya lagi.


“Kamu serius mau melakukan itu?” tanyanya, entah ia menatapku atau tidak, aku hanya terus memandangi perhiasan yang melingkar di jari manisku dan tersemat indah di sana.


Untuk sejenak aku memejamkan mataku, mengambil napas dalam-dalam lalu mengembuskan perlahan. Kemudian menengadahkan kepalaku, kembali memandanginya dari samping.


“Iya, aku serius. Dan aku juga ingin hidup bersama kamu, menua bersama melihat anak kita menikmati hidupnya dan merawat kita dengan baik. Apa kamu masih mau melakukan itu denganku?” lirihku pelan.


Haikal langsung menepikan mobilnya lalu menoleh memandangiku. “Apa pun yang terjadi, aku mau melakukannya. Hanya dengan kamu.”


Kemudian mata ini langsung meneteskan air mata, napas ini langsung berembus dengan begitu bebas. Lega begitu mendengar dia yang tetap menerimaku dengan segala kekuranganku ini.


Haikal meraih tubuhku dan memelukku. Erat, begitu pun dengan aku yang membalas pelukan itu. Masih dengan tangisku. Dan kali ini, sebuah tangisan yang terasa membahagiakan dan juga melegakan.


Semoga saja aku dan dirinya dapat terus bersama seperti impian kami ini. Bukan terpisah di tengah jalan. Semoga juga kami bisa mengatasi semua masalah yang nantinya akan datang menerpa kehidupan kami berdua.


Semoga saja ...


Bersambung ...


——————————


Jangan lupa untuk mendukung karya ini.


Caranya, cukup dengan memberikan like serta komen yang banyak pada setiap episode yang akan diterbitkan.


Jangan lupa yang banyak komennya 😂


Terima kasih 💋

__ADS_1


@bossytika


__ADS_2