Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
S2 - Eps 142


__ADS_3

Tika POV.


Berhari-hari berlalu setelah terbongkarnya rahasia besar yang Lisa sembunyikan. Dan Berhari-hari pula aku mencoba dengan sekuat tenaga untuk tidak memikirkan hal itu. Tapi nyatanya nihil. Otak ini tetap saja memikirkannya, memikirkan betapa teganya dia.


Tapi pagi ini rasanya berbeda, aku bangun dengan penuh semangat. Jelas saja, bagaimana aku tidak bersemangat jika akhirnya hari ini kedua anakku sudah boleh pulang dari rumah sakit. Mereka berdua dinyatakan sehat total tanda ada penyakit yang menempel di tubuh mereka.


Ibu mana yang tidak bahagia??


Aku membangunkan Jefri dengan semangat yang begitu membara. Bahkan saking semangatnya aku melupakan rasa nyeri pada bagian perut bawahku.


"Sayangg ... banguunn!! Cepeet!!" seruku.


"Mmm," jawabnya dengan dehaman.


Aku tidak ingin menyerah, kalau urusan membangunkan tidur pagi, Jefri selalu seperti ini semenjak tidak diberi jatah. Selalu malas. Dengan tangannya yang masih mengunci perutku, ia semakin mengeratkan pelukannya. Dan bermanja-manja padaku.


Ya, kami tadi malam sudah membicarakan tentang hari ini. Jefri tidak akan bekerja hari ini dan kami akan membawa kedua anak kami ke rumah mamah Ida, sebab aku yang menginginkannya seperti itu.


"Gak apa-apa kan? Kalo kita tinggal di rumah mamahku dulu?" ucapku saat makan tadi malam.


"Gak apa-apa kalo kamu mau nya begitu."


"Serius? Iya, jadi kamu gak kewalahan cuman berdua sama bi Mince, kan di sana ada Shilla juga?"


"Oh ya? Kok kamu tahu?"


"Max yang bilang. Mereka nemenin mamah di sana."


Aku tersenyum mendengar jawaban Jefri tadi malam. Kemudian setelah makan malam selesai, aku dengan semangatnya memulai packing. Sebagian keperluan si twins memang sudah siap sedia. Hanya saja karena kesibukan Jefri di kantor, ia sampaibtidak sempat menyiapkan kamar untuk buah hati kami.


"Nanti selama di rumah mamah, ruang pakaian kita aku renovasi ya? Kita jadiin kamar si twins aja," tawa Jefri pagi ini padaku. Itu pun setelah perjuangan keras aku lakukan untuk membangunkannya.


"Trus pakaian kita?"


"Di tengah sana, cuman kayak lemari tas sama sepatu kita bikin yang simpel bertingkat, aku udah dapet contohnya kok. Soalnya aku gak mau bongkar dinding buat nambah kamar. Gimana?" usulnya lagi.


Aku hanya tersenyum lalu mengangguk. Sebab apapun yang ia rencanakan untuk si twins pasti yang terbaik. Aku percaya padanya.


"Biar lebih mudah aja, lagian kamar kita juga cukup luas. Soalnya aku gak mau kamu repot naik turun tangga. Biar lebih gampang juga kalo aku lagi kepingin," bisiknya sambil menyapu telingaku dengan lidahnya, membuatku terkekeh geli.


"Oh jadi itu alasannya?" Aku menoleh menatapnya sambil menahan tawa.


Namun Jefri hanya mengullum senyumnya sambil menggesekkan hidungnya pada pipiku. Menarik tubuhku agar lebih menempel dalam dekapannya.


Jefri juga semakin nakal pagi ini denganku. Entah ini yang ke berapa kalinya ia menjadi bersikap layaknya kenanak-kanakan. Tangannya selalu saja usil untuk menelusup ke bagian-bagian sensitif di tubuhku.


"Sisa berapa hari lagi sih?" rajuknya saat aku mencoba untuk melepaskan tautan tangannya itu.


"Berapa hari apanya?" Aku sedikit bingung dengan pertanyaannya itu. Malah aku tidak paham ke mana arah tujuan pembicaraan kami ini.

__ADS_1


Jefri semakin kuat mengunci tubuhku, kini ia malah menaiki tubuhku lalu semakin mengungkung tubuhku. Aku panik. Mencoba menjauhkan tubuhnya sambik mendorongnya dengan kuat. Tapi sepertinya percuma. Pagi ini Jefri sungguh mengujiku.


"Sayang jangan gini deh ya, perut aku masih rada nyeri," cegahku untuk menakut-nakutinya.


Awalnya Jefri menyeringai, ia tahu itu hanya sebuah trick dariku untuk membuatnya luluh. Perlahan ia menurunkan tubuhnya, menciumiku dengan begitu lembut. Mulutku berkali-kali meloloskan desahan nakal yang tidak mampu lagi aku tahan.


"Sayang, please, kalau kamu gini, kapan lupa di perutku bisa sembuh?" ucapku tergagu. Ia terus saja menjamah bagian leherku dengan bibir dan lidahnya, bahkan ia juga mengisap bagian-bagian tertentu. Dan aku semakin tidak kuat.


"Sayang ... ntar kalau jahitan bekas operasinya lepas gimana?" Aku terus saja mencari alasan yang tepat agar dia menghentikan aksinya. Sebab belum genap sebulan rasanya setelah aku melahirkan si twins.


Seketika Jefri menarik kepalanya lalu menatapku. Yes! Alasan ini mujarab, manjur. Teriakku dalam hati.


"Memang bisa lepas ya?" tanya Jefri dengan wajahnya yang begitu serius.


Aku yang dilontari dengan pertanyaan seperti itu mendadak bingung untuk menjawabnya. Pertama, jika aku menjawab sembarangan, maka ia tidak akan percaya lalu bisa-bisa dia langsung menerkamku tanpa ampun. Kedua, jika aku menjawab sungguh-sungguh, maka ia pasti akan terus-terusan bertanya, sampai ia merasa pyas dengan semua jawabanku.


"Mmm, ia lah. Kan kalau kita gituan. Perut aku bereaksi. Kamu juga tahu kan bagian mana aja yang ketarik tegang? Kali jahitannya blm kering trus ke tarik, gimana?"


"Huuekk!" Seketika itu Jefri bangkit dari atasku dan berlari menuju kamar mandi. Dia muntah!


Aku tidak percaya dengan apa yang aku lihat. Aku tertawa terpingkal-pingkal dibuatnya.


***


Selesai sarapan pagi ini, bi Mince segera membersihkan dapur lalu membungkus beberapa bahan makanan yang ada di dalam kulkas untuk di bawa ke rmh mamah, sebab begitu selesai menjemput si twins, kami akan langsung ke rumah mamah.


Jefri mengangkat beberapa barang yang sudah selesai kami bereskan. Dibantu dengan bi Mince, sedangkan aku saat ini hanya di suruh duduk oleh mereka berdua. Padahal aku bisa membantu mereka untuk membereskan semuanya. Tapi yang ada mereka malah memarahiku jika aku ikut-ikutan mengangkat beberapa barang. Alhasil hanya sebuah ponsel yang boleh aku bawa di tanganku.


"Hah? Emang kita ada beli mainan bayi?" Aku sedikit bingung dengan apa yang di maksudkan oleh suamiku itu.


"Loh, itu yang kamu taruh di atas mesin pemanas makan."


Aku berpikir sejenak, Jefri yang tadinya di samping mobil, meminta tolong pada bi Mince untuk tetap di sana, menjaga mobil. Ya kali aja mobilnya dicolong sama orang, yee kaan?? Haha.


Jefri beranjak berjalan mendekatiku kemudian meraih kenop pintu dan kembali membukanya. Kemudian ia mengajakku untuk kembali masuk ke dalam rumah, ia berjalan cepat ke arah dapur, sedangkan aku menunggunya berdiri di samping meja makan.


Dia kembali dengan membawa sebuak kotak kerdus berwarna coklat dan menghampiriku. "Ini kamu yang beli kan?"


Aku mengambil kotak itu lalu membuka penutup kotaknya. Aku terkejut melihat isinya ternyata memang sebuah mainan bayi. Aku menyebut mainan itu 'twister sing', sebab mainan itu di gantung kemudian saat kita menekan tombol aktifnya, maka secara otomatis mainan yang menjulur itu akan berputar dan mengeluarkan sebuah nada lagu yang berbeda-beda di setiap waktunya.


"Bukan, aku gak pernah beli yang beginian." Aku mengangkat wajahku kemudian kembali menatapnya. "Kamu kali nih yang beli sendiri, trus nuduh aku yang beli." Aku menyipitkan kedua mataku menatapnya dengan penuh selidik.


"Ngapain aku kayak gitu?" ucapnya lemas.


Aku paham betul jenis nada suara apa yang Jefri ucapkan itu. Ia pasti merasa jika aku menuduhnya. Ya jelas saja, dari kalimat yang aku lontarkan pun sudah begitu jelas jika aku memang menuduhnya.


"Oh astaga!" pekikku tiba-tiba mengingat sesuatu lalu menarik tangannya, berjalan menuju keluar rumah. "Bi, ini kotak yang kapan hari itu di antarkan sama kurir paket kan? Yang di kirim ke sini?" seruku dari atas teras rumah, sedangkan bi Mince di halaman parkir mobil.


"Iya, Non. Yang kapan hari bibi disuruh taruh di dapur, waktu kita mau sarapan." Bi Mince menjawab dengan jelas.

__ADS_1


Aku berbalik menghadap Jefri yang berdiri di belakangku saat ini. "Kamu denger kan, bi Mince ngomong apa?"


Wajah ekspresi Jefri masih datar, tetapi aku hiraukan itu. Aku kembali membuka kotak itu, lalu memberikan mainannya pasa Jefri, agar ia memeganginya. Aku yakin, pasti ada sesuatu lainnya di dalam kotak kerdus ini.


Aku mengeluarkan beberapa potongan kertas yang menjadi pelengkap isian dan benar saja, aku menemukan sesuatu. Selembar kertas ucapan yang berada di dasar kotak. Tertimbun potongan kertas yang berfungsi sebagai pengganjal isinya, agar mainan itu tidak bergerak dan rusak saat kotak ini terbentur ataupun terjatuh.


Kini kuberikan kotak itu pasa Jefri yang dengan cepat dia memasukkan mainan itu ke dalamnya. Lalu ikut melihat isi kertas yang sedang aku baca.


'***Congratulation for a born new babies, hopefully that your future will fill with love.'


From, The hurting one***.


Begitu isinya, sontak aku terkejut dan meraih pundak Jefri yang kini berdiri di sampingku. Menoleh menatapnya. Napasku seketika memburu, naik dan turun dengan ritme yang cepat.


Sedangkan Jefri merebut kertas itu dengan cepat dan membacanya kembali.


Otakku hanya bisa mencerna satu nama, Dana.


"Aku belum pernah menanyakan hal ini. Malam itu saat aku tertembak dan kalian bawa aku ke rumah sakit. Lalu apa yang terjadi sama sama kedua lelaki itu? Kalian cuman pernah menceritakan saat kejadian aja ke Haikal di depan aku." Panjang lebar aku berucap saat Jefri menatapi kertas itu berulang kali.


Lalu ia menolehkan kepalanya. Mengarahkan pandangan matanya kepadaku. "Setelah itu kalian apakan mereka berdua?" Dengan lekat aku menatapnya.


"Dana kabur waktu anak buah Max berusaha membawanya ke tempat yang aman," lirih Jefri sambil meraih pipiku.


Mendadak tubuhku bergetar, kedua kakiku terasa lemas. Aku tidak percaya ini terjadi. Rasanya bayangan ketakutanku akan malam itu kembali menyeruak dalam jiwaku. Sungguh membuatku tiba-tiba menjatuhkan air mataku lagi. Pandnaganku pun jatuh menatap lantai di mana aku berdiri. Pikiranku kacau seketika.


BRUUK!


Jefri meraih wajahku setelah melepaskan kotak mainan di tangannya itu ke lantai dengan sembarangan. Lalu kedua tangannya menangkup kedua pipiku, mengarahkan pandangan mataku untuk menatapnya, hanya menatap bola matanya saja. "Heii sayang, liat aku. Aku janji akan nemuin lelaki satu ini. Aku gak bakalan biarin dia nyentuh kamu lagi. Aku juga gak bakalan biarin dia nyentuh kedua anak kita. Oke?"


"Tapi—" Bibirku kelu, aku sungguh ketakutan saat ini. Dadaku terasa sangat sesak.


"Gak ada tapi-tapi. Yang penting sekarang kita jemput mereka dan kamu tinggal sama mamah Ida. Kita tinggal sama Max juga di sana. Dan kamu harus janji sama aku, jangan pernah keluar dari rumah mamah, apapun yang terjadi. Sampai aku benar-benar dapetin dia. Oke?"


Aku mengangguk, "Ayo cepet kita ke rumah sakit," ucapku dalam isak tangis yang kutahan.


Tidak menunggu lama, Jefri lamgsung menutuo pintu rumah lalu mengunci pintunya. Kami berdua berjalan menuruni beberapa anak tangga di teras lalu aku langsung masuk ke dalam mobil. Begitu pun dengan bi Mince yang masuk ke dalam mobil, duduk di kursi di belakangku.


Jefri menutup pintu bagasi di belakang, kemudian segera masuk, duduk di balik setir kemudi di sampingku. Ia menyalakan mesin mobilnya, menjalankan dengan mundur berbelok, turun ke jalanan utama, sekilas ia menatapku lalu menginjak pedal gasnya dan kami langsung meluncul menuju ke rumah sakit.


Bersambung ...


—————


Happy fasting ...


And happy reading ...


Jangan lupa subsrek (love, like, kasih ratting trus tinggalin komentar)

__ADS_1


Mohon maaf juga jika masih banyak typo huruf, sudah beberapa kali diteliti, masih aja ada yang suka lolos 😅


#salambucin! 💋


__ADS_2