Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
S2 - Eps 145


__ADS_3

Happy fasting ...


And happy reading ...


Mohon maaf jika masih banyak terdapat typo/kesalahan pengetikan. Harap dimaklumi ...


—————


Tika POV.


Siang ini mama dan Shilla kembali membantuku untuk menjaga si kembar. Ya, sudah selama ini mereka lahir, aku dan Jefri belum menemukan nama yang cocok untuk mereka.


Tadi malam aku terbangun berkali-kali, padahal si kembar sangat tidur dengan nyenyak. Itu karena kewajibanku sebagai seorang ibu sekarang, untuk memberikan asupan terbaik bagi kedua buah hatiku. Ya, aku membangunkan mereka secara bergantian dalam tiga jam sekali untuk memberikan asi.


Oleh karena hal itu, pada saat siang hari aku selalu saja merasakan kantuk yang begitu luar biasa. Belum lagi setiap dua jam aku juga harus bagun di malam hari untuk melakukan pumping. Sebab jika tidak dilakukan, maka aku akan merasakan kesakitan yang luar biasa pada bagian itu.


Jadilah siang ini aku kembali merasa ngantuk sesaat setelah makan siang dan melakukan pumping.


Rasanya baru saja aku terlelap tiba-tiba suara ponselku sendiri menganggu telingaku.


🎶


You so fuckin' precious when you smile


Hit it from the back and drive you wild


Girl, I lose myself up in those eyes


I just had to let you know you're mine


🎶


Aku melenguh dan kembali bangkit dari tempat tidurku yang empuk. Duduk kemudian meraih ponselku dari atas meja di samping tempat tidur.


'Mestinya aku silent tadi sebelum rebahan,' batinku sambil mengembuskan napas.


Begitu kulihat nama 'My Love' yang melakukan video call, mataku serasa diberikan energi lain yang membuat segar layaknya setelah mandi dengan guyuran air dingin sambil keramas, haha.


Aku menerima panggilan video call itu sambil merebahkan tubuhku kembali.


"Hai, loh itu kamu di rumah?" Aku bingung melihat sedang berbaring dengan latar kamarnya di rumah orangtuanya.


"Iya, rencana aku ke sini mau ngomong sama papa tentang masalah kantor yang pernah aku ceritain ke kamu dulu itu."


"Trus?"


"Aku udah dapat sumbernya di mana, trus nyatanya penarikan itu sudah berjalan selama tiga puluh dua bulan terakhir."


"Wow! 2 tahun lebih. Trus trus?"


"Tadinya mau nanya papa langsung, soalnya penarikan cair atas nama papa dan tanda tangan papa. Eh, tahunya ada pak Hardi di sini," ucap Jefri lemas dari seberang sana.


"Sabar ...," sahutku pelan.


"Coba kalo ada kamu di sini, aku pasti bisa lebih sabar."


Aku tersenyum lebar mendengar gurauannya itu. Kemudian Jefri terus bercerita tentang maksud dan niat pak Hardi yang selalu saja menyuruhnya untuk menerima seorang sekretaris untuk membantu pekerjaannya. Tapi aku bisa melihatnya dengan jelas jika ia sangat tidak ingin memiliki seorang sekretaris di sisinya.


"Kenapa gak kepingin sih punya sekretaris?" tanyaku asal, aku hanya ingin mendengar alasannya saja.


"Saat ini aku belum butuh. Lagian gak segampang itu nerima orang. Sekretaris itu sama aja otak ketiganya sebuah perusahaan. Salah satu orang yang wajib tahu dan kenal seluk beluk perusahaan. Masa iya aku sembarang kasihin?"


"Kalo gitu kamu cari sendiri aja, kalo nanti udah butuh."


"Nah itu maksud aku. Tapi kok semuanya pada gak ngerti. Heran."


Lagi-lagi aku tersenyum melihat tingkahnya yang seketika terlihat seperti anak-anak. "Sayang ...," panggilku pelan.


"Anak-anak mana?" selanya.


"Di bawah, sama mamah sama Shilla."


"Ohh."


"Sayang ...," panggilku lagi. Ia menoleh menatapku dengan matanya yang dingin. Kemudian dia menjawabnya dengan dehaman.


"Jadi siapa nama si kembar?" tanyaku lagi.


Tokk tokk tokk!


"Emm, bentar! Sayang udah dulu ya, love you. Muuuaach!" ucapnya menyahuti ketukan pintu seraya berpamitan denganku. Aku hanya tersenyum kemudian sambungan video call terputus.


Aku kembali tersenyum saat mengingat wajahnya yang imut tadi. Tidak ada rasa kesal ataupun rasa marah saat dia tiba-tiba saja memutuskan sambungan teleponnya, sebab aku tahu, dia memiliki prioritas untuk setiap detik waktunya yang berujung tertuju pada aku dan kedua anakku.


Kuletakkan kembali ponselku ke atas nakas kemudian aku kembali melanjutkan tidur siangku.


—————


Jefri POV.


Ceklek!


Kubuka pintu kamarku dan kutemukan sosok papa sudah berdiri di ambang pintu dengan wajahnya yang berlipat seribu. Maksudnya wajahnya kusut.

__ADS_1


Kemudian aku membukakan pintu kamarku sedangkan aku langsung berbalik arah. Kembali masuk ke dalam kamar dan duduk di tepi ranjang. Dengan setumpuk berkas yang aku bawa tadi.


Begitu aku duduk, papa terlihat berjalan menghampiriku lalu menarik kursi meja belajarku dan menempatkannya tepat di depanku. Beliau menduduki kursi itu. Terdengar helaan napas panjang yang coba beliau embuskan. Mungkin untuk menenangkan detak jantungnya yang sesak.


"Papa paham kamu kesel sama pak Hardi, tapi cara ngomongnya bukan begitu." Papa memulai pembicaraan.


"Lagian dia ngapain lagi sih? Pake ke sini segala. Bukannya kerjain laporan yang aku minta, malah keluyuran." Aku mulai merasa jengah dengan sikap baiknya yang mungkin saja menyembunyikan sesuatu.


"Papa gak tahu aja, semenjak aku mintain tolong buat rancang pesta perpisahan Tika sama temen kantornya, dia jadi semakin ngatur-ngatur. Bukannya aku gak mau sopan, tapi di sini kan aku atasannya? Gak peduli umur, Pa. Kalau menurut aku melampaui batas ya buat apa di pertahankan? "


"Papa percaya sama kamu. Buktinya belum genap setahun kamu ngurusin perusahaan itu, kamu udah nemuin kasus ini," ucap papa dengan bijak.


Aku hanya diam sambil sesekali menatap mata papa yang tajam bagaikan elang. Dan inilah sebabnya, dulu aku bersikeras tidak ingin masuk ke dalam perusahaan papa. Sebab segala ujian hidup ada di posisi ini.


"Nih, papa bacain aja deh ini semua. Aku udah gak mood lagi mau jelasin. Nanti kalo ada yang kurang papa paham baru tanya aku." Aku berdiri hendak melangkahkan kakiku menuju ke bawah, ke dapur mencari makan.


"Bukannya mestinya kamu yang tanya sama papa? Kalo ada yang gak kamu mengerti?" celetuk papa saat aku hampir sampai di ambang pintu kamarku. Membuat langkahku seketika berhenti.


Kemudian aku berbalik menoleh dan menampilkan senyuman garingku padanya. Lalu kembali melanjutkan langkahku menuju dapur. Lapar!


***


"Papa udah bacain semuanya," ucap papa sambil menuruni tangga dan menghampiri aku yang duduk tersandar akibat makan kekenyangan dengan porsi double.


Kemudian papa duduk di sofa panjang, lalu meletakkan beberapa dokumen yang ada di tangannya itu ke atas meja. "Papa gak ada melakukan penarikan apapun di tanggal-tanggal yang kamu lingkarin itu. Semua bisa papa pastikan. Kalau kamu mau, kamu bisa tanya langsung ke bagian keuangan. Dengan siapa mereka kasihkan tanda itu slip itu."


"Dulu kata mamah cuman pak Hardi yang bisa cairkan uang. Berarti ...," tebakku.


"Silakan kamu cari buktinya. Kalau terbukti, kamu boleh berhentikan dia. Perusahaan itu milik kamu, Dul." Dengan tegas papa berucap membuatku seketika berduduk tegak.


"Papa yakin?" tanyaku sekali lagi.


"Jangan sampai papa kamu berubah pikiran. Sudah saatnya kamu jalankan perusahaan itu. Kamu yang bertanggung jawab sama papa dan juga mama." Mama menambahi kemudian duduk di samping papa, mendekap papa.


Aku menatap mereka berdua dengan napasku yang bergemuruh. Beban di pundakku kini terasa lebih berat dari sebelumnya. Pasalnya untuk mengembalikan posisi yang hampir collapse, yang papa perbuat saja, sudah lumayan membuatku kewalahan. Karena harus selalu secara diam-diam melakukan transaksi dengan perusahaan Max.


"Kamu yang pegang kendali atas perusahaan itu. Dan kalau kamu yakin, besok papa akan panggil pengacara papa, buat mengalihkan semuanya. Jerry juga sudah setuju." Sekali lagi papa menambahi.


"Bahkan Jerry tidak masalah dengan hal itu. Dia malah bangga jika kamu yang memimpin." Lagi-lagi mama menambahi.


Aku benar-benar menghirup oksigen dengan rakus. Tidak menyangka dengan semua yang telah aku dengar dari mereka. Tidak ada satu kata pun yang terlontar dari mulutku. Hanya tetesan air mata yang tiba-tiba menjadi luapan akan perasaan yang saat ini aku rasakan.


Aku berdiri kemudian bersimpuh dengan lututku, di depan mereka berdua lalu memeluk mereka secara bergantian.


Setelah acara tangis-menangis dan sistem kejujuran mereka padaku, akhirnya aku memutuskan untuk segera pulang ke rumah mamah mertuaku. Rasanya aku ingin sekali cepat sampai dan merengkuh tubuh istriku dengan erat.


Namun di saat yang bersamaan pula, aku teringat akan sebuah titipan dari istriku yang wajib untuk aku beli, yaitu baby monitor.


Sebuah alat yang dapat memantau kondisi bayi di setiap saat. Jadi jika sibuk mengerjakan tugas rumah tangga atau berada di lantai bawah, aku akan tetap bisa mengetahui keadaan bayiku saat mereka berada di dalam keranjang tidurnya.


"Hei, Jeff??" tegur seseorang dari belakangku. Aku berbalik dan menemukan sosok Nadine sudah berdiri dengan senyumannya di sana.


"Hai, sendirian lu?"


Nadine mengangguk. Tiba-tiba saja aku mengingat tawaran Nadine yang menginginkan sebuah pekerjaan lapangan padaku beberapa hari silam. Membuatku seketika memiliki sebuah ide gila. Dengan track record yang aku ketahui tentang Nadine, mungkin pekerjaan ini akan pas untuknya.


"Iya gua sendirian aja. Gadun gua udah menghilang," celetuknya.


Pas! Timing yang tepat dengan kebetulan yang sempurna. "Eh habis ini lu ada waktu? Gua ada perlu sama lu bentar.


"Gak ada sih, tadinya cuman kepingin jalan aja liat-liat."


"Oke, lu tunggu bentar di sini. Gua ke kasih dulu, bayar ini." Aku bergegas pergi ke kasir dan menyelesaikan transaksi pembayaranku.


Kemudian kembali menghampiri Nadine dan mengajaknya untuk duduk di coffee shop. Ia menyetujuinya.


Setelah kami berdua memesan minuman kami masing-masing, aku tidak ingin membuang waktuku lebih lama lagi.


"Nad ...," panggilku padanya sambil menoleh ke kanan dan ke kiri, melihat ke sekeliling kami. "Lu masih seneng sama gadun?" tanyaku dengan suara yang lebih pelan.


Gadun merupakan pria matang atau pria sangat dewasa alias om-om. Secara positif, banyak wanita menyukai gadun karena pria jenis ini pasti sudah matang secara psikis maupun finansial. Wanita juga menyukai gadun karena sifatnya yang kebapakan dan bisa mengayomi mereka.


Begitupun dengan Nadine. Dia sangat menyukai pria-pria jenis ini walaupun sebenarnya umurnya setara denganku. Tapi entah mengapa sejak dulu ia menyukai yang lebih tua. Menjadi sugar baby untuk para sugar daddy? Sering Nadine lakukan sejak ia menginjakkan kakinya sebagai anak kuliahan.


"Masih lah, gua emang seneng yang begitu. Lebih penyayang." Nadine mengakui sambil menghirup kopi panasnya.


"Trus kemaren lu minta kerjaan kan?"


Nadine sontak mendongakkan wajahnya menatapku dan mengangguk-anggukan kepalanya dengan cepat.


"Tapi ada syaratnya," tambahku lagi.


Dia terlihat sedikit berpikir, lalu kembali menatapku dengan mengernyitkan keningnya. "Apa?"


Aku mengacungkan jari telunjukku padanya, kemudian berbisik. Memberitahukan rencana, target, serta persyaratam yang aku ajukan untuknya.


"Oke, gua sanggup. Cuman buat godain sama nyari tahu latar belakangnya aja kan?" tantang Nadine.


Aku mengangguk sambil tersenyum. "Tapi itu om cakep kan?" Nadine kembali memastikan. Lagi-lagi aku mengangguk dengan pasti.


Setelah selesai meminta Nadine untuk menjalankan rencanaku. Aku lantas langsung berpamitan padanya. Setelah sekali lagi memastikan nomer ponselnya sama, dengan nomer yang dulu pernah aku simpan. Lalu kami pun berpisah di deoan coffee shop itu.


Aku segera menuju ke parkiran mobil dan kembali pulang ke rumah mamah mertuaku.

__ADS_1


—————


Max POV.


Aku pulang dari kantor lebih awal dari biasanya hari ini. Sebab beberapa laporan sudsh habis aku periksa. Dan aku juga udah menandatangani pencairan uang untuk membayar gaji karyawanku siang ini.


Dalam perjalanan pulang ke rumah mamah, tiba-tiba saja ponselku berbunyi.


🎶


My location unknown tryna find a way back home to you again


I gotta get back to you gotta gotta get back to you


My location unknown tryna find a way back home to you again


I gotta get back to you gotta gotta get back to you


🎶


Aku segera merogoh saku celanaku, lalu mengambil benda mahal yang sangat ajaib itu. Aku melihat nama Haikal tertera di layar depan. Tanpa berpikir panjang, aku langsung menggeserkan tombol hijau pada layar yang berfungsi sebagai penerima panggilan telepon.


"Hallo?"


Di seberang sana Haikal mengatakan bahwa tadi pagi Lisa sudah dinyatakan boleh pulang dan menjalani rawat jalan. Kemudian siangnya Lisa kangsung kembali ke rumahnya. Dijemput oleh Reza dan juga Alex tentunya. Aku hanya menanggapi semua itu dengan dehaman yang malas.


"Kok gitu? Lu gak mau jelasin apa gitu ke dia?" tanya Haikal.


Kemudian dengan menarik napas panjang lalu mengembuskannya, barulah aku menceritakan pada Haikal. Jika aku sudah mengatakan semuanya kepada Lisa. Aku juga sudah mengatakan dengan terang-terangan pada Lisa tentang kesalah pahaman di antara kami yang berujung sebagai sebuah kekesalan. Yang jelas, melalui telepon ini, aku menceritakan pada Haikal semua yang terjadi saat itu, hingga ternyata Tika pun mendengar perdebatanku dengan Lisa saat itu dari luar ruang rawat inap itu.


"Oh jadi yang waktu itu Tika sempet ke rumah sakit jengukin anaknya. Dia nyamperin itu sempet ketemu kamu juga?" Haikal semakin bersemangat menanyakannya.


"Gak ketemu. Kamu kasih tahu Tika kalo Lisa kecelakaan?" Aku mulai kebingungan, dari mana asalnya Tika mengetahui kalau Lisa masih di rumah sakit. Pastilah Haikal yang lebih dahulu mengabarinya.


Namun dari seberang sana, Haikal menyangkal keras. Membantah tuduhanku padanya. Dan mengatakan bahwa dia tidak ada mengatakan sepatah kata pun tentang kondisi Lisa pasca kejadian mengenaskan itu.


"Ya sudahlah, lupakan. Tapi Tika berubah. Di rumah dia gak terlalu menegurku. Bahkan terkadang ia cuman lewat-lewat acuh di depanku."


"Masa sih? Tapi ya sama aja, ke aku juga, dia udah lama gak ngehubungin aku. Biasanya ada-ada aja yang dia tanyain." Suara Haikal pun terdengar pasrah di seberang sana.


Ya benar. Semenjak Tika mengetahui kenyataan bahwa Lisa, sahabatnya itu menghianati ketulusan hatinya dalam persaudaraan yang mereka jalin berdua. Hubunganku dengan Tika pun ikut berubah.


Meskipun saat ini aku dan dia kembali berkumpul lagi, tinggal satu rumah dengan mamah, dia menjadi lebih cuek padaku.


Tidak ada lagi tegur sapa yang hangat, hanya Jefri yang menegurku. Menemaniku menikmati berbatang-batang rokok di setiap malamnya. Bahkan aku sampai memcoba memaklumi sikapnya.


'Mungkin Tika kelelahan mengurusi kedua anak bayinya saat malam hari sehingga saat siang hari, mood-nya tidak bagus karena kurang tidur,' tadinya begini pikiranku.


Tapi ternyata aku salah.


Tika memang tidak mau menegurku.


Pasalnya tidak terjadi apa-apa saat sore hari ia berada di dalam kamarku, bermain dan bercerita dengan Shilla seperti biasanya.


Namun begitu aku datang dan masuk ke kamarku, tiba-tiba saja ia membawa salah satu anaknya atau bahkan pernah ia keluar begitu saja, dengan alasan ingin buang air besar.


Karena sikapnya itulah, aku menjadi merasa bersalah padanya. Dan aku juga tidak memiliki kesempatan untuk berbicara berdua dengannya. Untuk menanyakan memgapa ia bersikap seperti itu padaku.


Hingga akhirnya kemarin malam Shilla menyadari sikap Tika itu padaku dan menanyakannya padaku.


"Kamu sama Tika baik-baik aja kan?" tanya Shilla sesaat setelah menidurkan Icel dan Feli, anak kami. Aku hanya bisa mengangguk dan tersenyum.


Namun tidak dengan Shilla. Ia pandai mencari tahu sesuatu yang dianggapnya janggal.


Perlahan ia mendekatiku. Menyusupkan kedua tangannya yang bergerak merayap ke arah masing-masing pundakku. Lalu menarik tengkuk leherku dan menempelkan bibirnya pada bibirku. Dia menggodaku.


Setelah puas, ia kembali menanyakannya pertanyaan yang serupa, tetapi tidak sama penyebutannya. "Kalian berdua terlihat aneh. Gak seperti biasanya."


"Memang biasanya aku sama Tika gimana?" akhirnya aku terpancing.


Dengan tidak adanya jarak diantara kami, dia kembali mencecap bibirku dengan lembut. Lalu melepaskannya saat aku hendak membalas perlakuannya. "Biasanya Tika manja sama kamu. Tapi beberapa hari ini, jangankan bermanja, negur kamu aja enggak. Aku bisa lihat itu loh," tambahnya lagi.


Kueratkan rangkulanku padanya dan akhirnya aku mengatakan padanya bahwa Tika sedang merajuk padaku.


"Ngambek kenapa?"


"Aku juga gak tahu."


Bersambung ...


—————


Hallo lohhaa ...


Terima kasih sudah mau menungguku untuk menulis dan update cerita ini.


Jangan lupa subsrek (love, like, kasih ratting trus tinggalin komentar)


Aku juga mau minta kalian buat VOTE POIN/KOIN di judul novel ini. Semoga saja ada dari kalian yang berbaik hati mau melakukannya ya?


Silakan bergabung dalam Grup Chat NovelToon


Folow my Instagram @bossytika

__ADS_1


With love,


#salambucin! 💋


__ADS_2