Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
Eps 218


__ADS_3

Selamat membaca ...


——————————


Lisa POV.


Sejak siang hingga sore hari aku masih berada di rumah Tika dan juga Jefri. Satu per satu mengeluarkan semua benda yang Dana dan Dave berikan padaku. Sebagian kecil ada yang tidak aku kenali, yang mana mungkin itu milik Tika dari Dana.


“Tika sama Jefri udah jalan?” tanyaku begitu melihat Alex kembali melangkah mendekatiku setelah dia mengantarkan sang pemilik rumah untuk pergi menjemput kedua anaknya.


Alex menghempaskan tubuhnya pada sofa, duduk di sampingku dengan sebuah gelas minum di tangannya yang dia sesap. Aku melepaskan jam tangan Dave dari jemariku lalu menatap Alex. Dia mengernyitkan alisnya lalu meletakkan gelas di tangannya itu di atas meja, tepat di antara benda-benda yang aku rasa milik Tika.


“Kenapa?! Hm?!” tanya Alex lalu meraih jemariku.


Awalnya aku menatapi tangannya yang meraih jemariku lalu digenggamnya, setelah itu baru aku mengangkat wajahku untu menatap kedua bola matanya. Dalam otak ini sedang merangkai beberapa kata agar dapat aku ucapkan kepadanya, sambil terus menatap ke dalam kedua mata itu.


“Maaf kalau ternyata ini belum selesai,” lirihku yang mulai merasa panas di seputaran kelopak mataku.


Alex menarik tanganku dan mengecup buku jemariku sambil memejamkan matanya, lalu kembali menatapku dengan menghadirkan sebuah senyuman manis pada kedua sudut bibirnya.


“Tapi bagi aku ... semua sudah selesai. Tinggal ada kita berdua untuk menatap masa depan. Dan aku akan nemenin, sampai semuanya kamu anggap sudah selesai.” Alex membelai pipiku dan lagi-lagi air mata ini menetes begitu saja.


Aku langsung memeluknya dan menangis sepuasnya dalam dekapan ternyaman saat ini. Ya, rasanya perjalanan hidup yang aku alami begitu panjang dan berat. Penuh dengan keserakahan dan juga kebodohan yang aku perbuat. Aku menghancurkan segalanya. Aku tidak hanya mengacaukan hidupku sendiri, tetapi aku juga mengacaukan kehidupan orang-orang yang berada di sekelilingku.


“Kamu gak akan ninggalin aku, 'kan?” lirihku dengan nada yang gemetar dan juga terputus akibat isakan tangis ini.


Alex mencengkeram kedua lenganku lalu merenggangkan tubuh kami. “Lihat ke sini,” titahnya, memintaku untuk menatap wajahnya lagi. Aku melakukan permintaannya itu. “Seharusnya pertanyaan itu keluar dari mulut aku. Kamu gak akan ninggalin aku lagi, 'kan?”


Tangisku semakin menjadi saat dia mengulangi pertanyaanku dengan penuh penekanan, lalu sambil kembali merengkuhnya, aku melingkarkan kedua lenganku pada lehernya dan menyematkan wajah ini pada tengkuknya. Alex membelai punggungku.


Aku semakin merasa bersalah padanya. Sudah lebih setahun aku mengenalnya dan baru ini aku sadar akan sebuah kesetiaan dari berbagai macam lelaki yang berbeda. Seperti kata pepatah, penyesalan datangnya selalu terlambat.


Semua itu benar, banyak hal yang terlambat untuk aku sadari. Dan kali ini, aku benar-benar tidak ingin melakukan kesalahan yang sama. Aku ingin memperbaiki hidupku di hari esok dan seterusnya. Menjadi seorang wanita, seorang istri atau bahkan seorang ibu yang dapat dibanggakan oleh orang-orang di sekitarku. Aku ingin menebus masa kelamku.


“Apa ini?” tegur Alex tiba-tiba sambil memajukan tubuhnya, membuatku melepaskan dekapan itu lalu berbalik menoleh melihat apa yang diambilnya.


Sebuah kantong hitam yang terbuat dari kain beledru dan terikat oleh seutas tali berwarnakan gold mencuri perhatian Alex. Dia membukanya lalu mengeluarkan sebuah kertas dan sebuah kotak hitam kecil lainnya yang ternyata isi kotak itu adalah sebuah cincin berlian.

__ADS_1


Aku mengingat jelas tentang cincin itu. Dengan cepat aku membuka kertas yang terlipat di tangan Alex dan menemukan tulisan tangan Dave di sana. Dengan perlahan aku membaca rangkaian kata tersebut.


Lisa, sayangku ...


Maaf untuk semua kesedihan yang aku berikan padamu.


Maaf untuk setiap detik waktu yang kamu habiskan hanya untuk meneteskan air mata.


Maaf untuk setiap masalah yang aku hadirkan.


Mungkin aku terlalu menggilaimu hingga akal sehat ini seakan menghilang bersamaan saat kamu pergi meninggalkan aku.


Biarkan aku yang menanggung semua rasa sakitmu dan aku tebus dengan apa pun yang terjadi di hari esok dan seterusnya.


Terima kasih untuk kamu yang kembali mengajari aku dengan apa arti sebuah ketulusan dan kesetiaan.


Terima kasih untuk kamu yang memberikan aku kekuatan saat ini untuk menjalani hidup.


Walaupun aku tidak tahu, apakah masih ada tempat yang layak bagiku di dalam relung hatimu.


Tubuhku kembali gemetar membaca bagian akhir dari tulisan tangannya. Dan seketika itu pula, Alex kembali merengkuh tubuhku, mengecup puncak kepalaku.


**


Malam hari menjelang, semakin banyak sepucuk surat dari Dave yang aku temukan pada benda-benda yang pernah ia berikan padaku dan yang mungkin benda itu berkesan baginya. Sebagian isi surat itu bercerita tentang perasaannya padaku dan sebagian lagi tulisan tangannya yang menceritakan tentang benda-benda tersebut.


Semua itu seolah membawaku kembali ke masa-masa indah saat bersama dengannya. Bahkan juga terdapat sebuah botol wine yang pernah kami beli saat pertama kali aku bertemu dengan mantan istrinya itu.


Botol wine itu terbungkus sangat rapi dan juga kuat, aman dengan sebuah kotak dan juga buble warp yang menyelimuti botolnya. Dan dalam surat yang ia tinggalkan di sana, isinya menjelaskan betapa menyesalnya dia tidak menceritakan semua itu dari awal.


Dan aku juga mengingat semua itu. Masalah itulah yang menjadi percikan awal pertengkaran di antara kami berdua. Pertengkaran yang aku pikir akan mereda begitu saja seiring berjalannya waktu. Tanpa tahu mengapa alasannya tidak lagi memunculkan batang hidungnya setelah malam itu.


Andai saja aku tahu jika dia mengalami kecelakaan dan juga kelumpuhan sementara pada kedua kakinya, mungkin aku akan melupakan rasa sakit hati itu dan bersedia untuk merawatnya. Dan andai saja aku tahu, dia mengalami masa kelamnya bertahun-tahun dalam dekaman sel penjara seorang diri, mungkin aku tidak akan melakukan hal bodoh dengan tidur dengan beberapa lelaki di luar sana. Hanya demi menuntaskan hasratku karena merindunya.


Entah ada berapa ratus kemungkinan lagi yang ada dalam pikiran dan batinku untuk semua pengandaian dalam penyesalan langkah kaki ini. Seakan tidak ada habisnya.


Kemudian terdengar suara Jefri dan juga Tika yang sudah kembali, lengkap dengan suara celotehan kedua anak kembarnya itu. Tika muncul di depan pintu kaca dengan menggendong Naila. “Tuh, lihat, ada onty Lisa sama uncle Alex,” ucapnya pada Naila.

__ADS_1


“Sini sini sama uncle! Udah lama uncle gak ketemu sama cewek cantik!” goda Alex sambil berdiri menghampiri mereka dan mengambil alih Naila dari gendongan Tika.


“Belum selesai juga?” tegur Tika dari kejauhan padaku.


Aku menggeleng lalu Alex menyahuti, “Butuh waktu. Mungkin Jefri juga akan bilang begini, nanti.”


“Oh ya?! Kalau gitu aku akan kasih waktu yang banyak buat Tika. Tapi setelah selesai, dia harus kembali mencurahkan segalanya untuk aku yang masih haus akan semua tentang dirinya.” Jefri menyahuti dengan lantang di sana sambil menggendong Nathan.


Kemudian aku tergerak untuk ikut menghampiri mereka di sana lalu langsung merangkul Alex. Menyandarkan kepalaku tepat di depan dia menggendong Naila.


“Kalau begitu, aku siap mencurahkan segalanya. Hati, pikiran, waktu bahkan raga ini untuk dia yang membuat aku merasa utuh saat ini,” ucapku sambil menatap kedua bola mata Alex. Dia merangkulku dan lagi-lagi mengecup keningku.


Berkaca dari Tika dan Jefri, ternyata bukan hubungan mereka yang rapuh. Karena di awali dengan cara yang tidak wajar. Tetapi pandangan akulah yang sangat rapuh dalam menilai suatu komitmen.


Setiap hubungan akan selalu kuat, jika seterusnya dijaga dengan ketulusan walaupun diawali dengan nafsu belaka. Setiap hubungan akan selalu bertahan lama, jika dilindungi dengan kejujuran dan kepercayaan walaupun dihiasi dengan pertengkaran dan kecemburuan. Dan setiap hubungan akan kekal abadi, jika selalu disirami dengan sebuah kesadaran diri.


Karena cinta tidak menuntut.


Karena cinta tidak memaksa.


Dan karena cinta tidak memulu tentang sebuah kebahagiaan.


Semua akan indah dengan caranya masing-masing.


Bersambung ...


——————————


Uwowoowowooooo ketemu lagi 💋


Masih pada mewek ya? Ya aduh maaf 😂


Oke masih aku pantau nihh mana aja pembaca yang loyal kasih vote 🧐


Pokoknya aku usahakan untuk memberikan kisah yang bagus dan se-real mungkin untuk kalian. Jadiiiiiiii ... jangan lupa juga buat vote 😂


Sekian dulu, #salambucin

__ADS_1


Babay ...


@bossytika 💋


__ADS_2