
Happy reading ...
—————
Lisa POV.
Aku memeluk Tika dengan segenap hatiku. Benar apa yang ia ucapkan. Aku menyakiti diriku sendiri. Aku yang tidak mengizinkan diriku sendiri untuk bahagia. Aku menyesal demgan semua yang telah aku lakukan. Sungguh!
Perlahan aku melepaskan pelukan kami. Hatiku terasa lega sekarang bisa menatap wajahnya yang selalu menemaniku. Dari dulu hingga sekarang. Aku sadar, dia begitu tulus menyayangiku dari dulu.
Seharusnya aku bisa menjadi lebih bijak menghadapi semua ini. Bukannya malah melimpahkan semua yang terjadi karena Tika. Tapi memang karena diriku sendiri lah yang bermasalah.
"Ayo gendong satu-satu," ucap Tika yang masih mengizinkanku untuk kembali menjadi bagian dalam hidupnya. Dengan segala kesalahan yang pernah aku lakukan padanya.
"Kenapa? Kenapa bisa dengan mudah kamu maafin aku?" tanyaku yang kembali meneteskan air mataku, melihatnya yang begitu berlapang dada dengan semua kesalahan yang sudah aku perbuat.
"Aku kan udah bilang tadi, kamu gak perlu minta maaf sama siapapun. Maafkan diri kamu sendiri aja. Itu udah cukup."
Tidak ada sebuah kata atau serangkaian kalimat yang mampu untuk menjelaskan perasaanku saat ini padanha. Dan di sini aku sadar, sebenarnya bukan Tika yang paling beruntung, tapi aku.
Ya, aku lah paling beruntung dari segala sisi. Memiliki Tika yang begitu menyayangiku. Dan nyatanya, dia tidak melupakan janjinya untuk tetap bersamaku. Tidak meninggalkanku ataupun melupakanku. Walau aku terus saja menyakiti hatinya. Malah aku yang melakukan hal itu padanya. Aku yang melupakan kesetiaannya.
Aku menghapus kasar sisa air mata yang masih menggenang di kelopak mataku. Lalu mataku teralihkan pada kedua wajah anaknya yang begitu mirip dengannya. Hanya beberapa bagian saja yang mewakili ayahnya. Aku terkekeh sekaligus bersyukur boleh melihat wajah anaknya.
"Bener boleh?" tanyaku sekali lagi, memastikan untuk boleh menggendong mereka satu per satu. Tika mengangguk.
Perlahan aku mengangkat salah satu bayi mungil yang terbungkus kain berwarna biru. 'Pasti yang ini laki-laki,' pikirku.
Wajahnya begitu meneduhkan hati. Lagi-lagi air mataku jatuh, anak ini yang melindungi Tika dari timah panas yang menembusnya saat menyelamatkanku waktu itu. Yang secara tidak langsung, mereka pula yang melindungiku.
Benar apa kata Alex saat dalam perjalanan menuju kemari tadi. Betapa jahatnya aku, jika masih menganggap Tika yang bersalah atas hidupku. Padahal aku lah yang sudah membuat hidup mereka semua menderita. Semuanya, bukan hanya Tika. Aku yang menyebabkan mereka semua harus mengalami masa sulit seperti ini.
"Sudah sepantasnya kamu yang meminta maaf pada mereka." Begitu kata Alex untuk meyakinkan langkahku memasuki rumah ini kembali. Setelah sebelumnya ia mengecup pelipisku, sesaat sebelum pintu rumah Tika terbuka.
Dan saat ini, aku sungguh merasa beruntung. Sangat beruntung!
Lalu aku kembali mengangkat bayi perempuannya setelah kuletakkan bayi laki-laki tadi. Dia sama cantiknya dengan Tika. Matanya, alisnya, mulutnya, bahkan mereka berdua sama-sama memiliki lesung pipi di kedua sisi pipinya. Jefri hanya sedikit memberikan kemiripannya pada buah hatinya.
"Hai, ada Lisa ya?" sapa Shilla. Ya benar, dia istri Max. Aku tersenyum padanya. Walau sebenarnya aku sedikit terkejut melihatnya yang tiba-tiba muncul.
"Masih tidur ya Feli-nya?" tanya Shilla pada Tika.
"Iya, nyenyak banget, tadi udah minum sussu juga. Cepet banget abisnya," cerita Tika padanya.
Sekilas aku memandangi Shilla, melihatnya mengangkat anaknya dengan caranya sendiri, buah hatinya bersama Max. Dan melihat Tika yang juga akrab dengannya. Bahkan saat Shilla menggendong anaknya, ia masih ingat dengan anak Tika dan mengelusnya. Caranya itu benar-benar memperlihatkan ketulusannya sebagai seorang wanita. Wajar jika Max begitu mencintainya. Entahlah, aku baru kali ini melihatnya dengan jarak dekat seperti ini.
Dulu memang sering bertemu dengannya tapi tidak untuk duduk mengobrol seperti ini. Dia memang sempurna sebagai seorang istri dan juga seorang ibu. Dan seharusnya aku bisa belajar darinya. Bukan malah mencoba merebut suaminya. Aku sungguh menyesal.
Kuembuskan napasku yang berat dengan perlahan sambil menatapi wajah bayi perempuan Tika. Dan saat itu aku baru tahu jika saat ini mereka semua tinggal berkumpul di rumah ini. Lalu kami bersama-sama duduk di sini bertiga, membicarakan banyak hal, membunuh waktu hingga tak terasa pagi berlalu.
***
DEG DEG DEG DEG!
Jantungku berdegup tak karuan saat melihat Max yang berjalan mendekati meja makan. Aku menundukkan wajahku. Apa lagi saat semua sudah duduk berkumpul di meja makan untuk menyantap makan siang.
Semuanya lengkap, hanya aku dan Alex yang merupakan orang luar, bukan anggota keluarga mereka. Tapi mereka semua memperlakukanku dan Alex layaknya anggota keluarga mereka.
Tante Ida bahkan berkali-kali menyuruhku untuk menambah lauk dan yang lainnya, aku tersentuh. Aku benar-benar beruntung masih di terima dalam keluarga ini. Sejak orangtuaku tiada hingga sampai detik ini.
Apa masih pantas aku membenci Tika?
Berkali-kali aku merutuki kesalahanku ini waktu itu. Terlalu dibutakan oleh perasaan iri yang mendarah daging. Hanya karena aku hidup dalam ruang lingkup keluarganya.
Aku memang bodoh!
Semua yang berada di meja makan ini bahkan terlalu baik padaku yang tidak ada ikatan apapun dengan mereka. Begitu pula dengan lelaki yang duduk di sampingku saat ini. Dia begitu tulus. Berkali-kali aku mengecewakannya, tapi tidak pernah sekalipun dia pergi meninggalkanku.
Meskipun aku tidak bisa menerima hatinya, tapi tetap saja dia memperlakukanku dengan segenap jiwa dan raganya.
Kembali kuembuskan napas beratku dengan pelan. Seharusnya aku bersyukur memiliki mereka.
—————
Max POV.
Tika terlihat memaafkan Lisa, bahkan saat ini dia sudah bergabung kembali dalam makan siang hari ini. Duduk di samping Tika. Sejak keluar dari kamar hingga duduk di kursiku, aku memang memandanginya sesekali. Hingga ia akhirnya menundukkan kepalanya. Dan selama makan siang berlangsung ia tidak berani untuk mengangkat wajahnya dan menatapku.
__ADS_1
Setelah makan siang, aku melihat Tika dan Lisa yang duduk di ruang tengah. Sambil menemani Tika yang memberikan asi-nya pada salah satu anaknya. Mereka berdua juga sudah terlihat kembali seperti semula. Berbincang dan tertawa bersama.
Yah, memang begitulah seharusnya mereka berdua. Tanpa ada perasaan iri ataupun yang lainnya. Hanya ketulusan.
"Jefri mana?" tanyaku saat menghampiri mereka berdua.
"Di belakang sama Alex sama Haikal juga. Max tolong taruhin ink di dapur dong." Tika memintaku untuk meletakkan botol sussu anaknya dapur. Namun Lisa menyela.
"Sini biar aku aja," ucap Lisa yang langsung merebut botol sussu itu lalu segera berdiri dari duduknya. Beranjak pergi, berlalu dari hadapanku.
Aku sedikit bingung melihat mereka, seperti ada yang janggal di telingaku. Setelah Lisa berjalan lumayan jauh dari kami, aku kembali menatap Tika yang ternyata sedang memperhatikanku.
"Gak boleh, Max. Ingat Shilla." Tika menatapku dengan matanya yang terlihat tajam.
"Bukan gitu. Sejak kapan kalian cara ngomongnya ... begitu sopan?" tanyaku yang kemudian memutuskan menjatuhkan bokongku di tempat Lisa tadi duduk.
"Maksudnya?"
"Aku-kamu ...." Sambil mengernyitkan alisku.
"Oh, sejak tadi lah, kenapa?"
Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. Lalu menyentuh salah satu pipi anaknya.
"Max ...," panggil Tika yang seraya membuatku menoleh menatap ke arahnya. Kujawab dengan dehaman.
"Jaga hati kamu. Kasian Shilla sama Alex. Mereka berdua tulus."
Aku kembali memalingkan wajahku, menatap wajah si kembar yang terlelap dalam keretanya.
"Iya, aku tahu," jawabku singkat lalu Tika menyandarkan kepalanya di lengan bahuku.
Kami sibuk dengan pikiran kami masing-masing sambil menatapi wajah kedua bayi di hadapan kami.
Setelah itu, aku tinggalkan Tika yang masih duduk menonton televisi dengan kedua anaknya di ruang tengah. Lalu aku memutuskan untuk duduk di halaman belakang dengan membawa sebungkus kotak rokokku. Bergabung dengan Alex, Jefri dan Haikal.
Namun langkahku terhenti ketika sekilas melihat Lisa yang berdiri mematung menghadap washtafel. Seperti sedang berpikir. Awalnya aku merasa ragu untuk menghampirinya, bukan aku takut pada hatiku. Tapi aku takut pada hatinya, yang entah dia bisa mengontrolnya atau tidak.
Akhirnya aku putuskan untuk tidak menghampirinya. Membiarkan dirinya di sana dengan segala pemikirannya. Lalu aku melanjutkan langkahku ke halaman belakang. Mencoba mengacuhkannya. Lalu aku duduk bergabung dengan yang lainnya, menyulut sebatang rokokku di sana dan menikmati hisapann demi hisapann yang masuk ke dalam rongga mulutku. Lalu mengembuskannya melalui hidungku.
Mencoba bersikap seperti biasanya.
***
"Maah ... Mamaah!" teriak Tika saat menuruni tangga pagi itu.
"Kenapa sih berisik banget??" tegurku yang saat itu sedang membaca koran dan meyesap secangkir kopi buatan Shilla.
Ya, saat ini sedang weekend. Waktunya aku bersantai dan bermalas-malasan di rumah. Berkumpul dengan keluargaku.
"Mamah mana? Jadi kita berangkat jam berapa?" cerca Tika yang sudah berdiri di depanku.
Aku mengernyitkan alisku, merasa bingung dengan apa yang dimaksudkan oleh Tika saat ini. "Berangkat ke mana?!"
"Loh, Reza gak ngasih tahu kamu apa?"
Aku semakin bingung. "Bukannya tadi malam sebelum tidur aku kasih tahu kamu?" celetuk Haikal yang tiba-tiba muncul, keluar dari pintu kamarnya.
"Kasih tahu apaan sih?" Aku semakin bingung. Sedangkan Haikal saling bertatapan dengan Tika.
Perlahan Tika dan Haikal duduk mengapitku di tengah, lalu aku menatap mereka secara bergantian. "Ada apaan sih?" Aku bersikeras.
"Max ...." Tika mengembuskan napasnya, sedangkan Haikal sibuk melihat sekitar. "Jam sebelas siang ini, Lisa sama Alex tunangan, bulan depan mereka nikah." Sangat pelan Tika menyebutkan kalimat demi kalimat itu, bahkan hampir tidak terdengar, nyaris saja.
"Oh itu, kirain apaan." Aku pikir ada hal yang lebih penting ternyata tentang Lisa.
"Kamu udah tahu?" seru Haikal yang kujawab dengan anggukkan kepalaku.
PLAAKK!
Tika memukul pundakku sangat keras, aku bahkan sampai meringis kesakitan dibuatnya. Kuusap berkali-kali pundakku yang tadi mengenai telapak tangannya yang sangat pedas itu.
"Kalo udah tahu ngapain nanya, kirain gak tahu!" seru Tika di telingaku.
"Astaga!! Aku pikir kan ada berita yang lainnya. Kalau soal tunangan Lisa sama Alex ya pasti aku tahu. Masa iya Reza gak ngasih tahu aku."
"Halaah!!" sahut Haikal yang berdiri kemudian pergi menjauh entah ke mana.
__ADS_1
Sedangkan Tika masih tetap duduk di tempatnya sambil memandangiku dengan kedua matanya dan bibirnya yang mengerucut. Belum lagi kedua tangannya yang berlipat di depan dada, seperti bersedekap.
"Kenapa?" tanyaku.
Lalu Tika memajukan tubuhnya, tatapannya sengaja dibuat menyipit. "Gak sedih kan? Biarin Lisa bahagia sama Alex."
"Astagaa!" seruku sambil memutarkan kedua bola mataku. Lalu menarik napas dan mengembuskannya dengan kesal.
"Denger ya adikku sayang! Bukan kah kita sudah sepakat buat gak ngebahas masa lalu lagi? Kan katanya tutup buku!" jelasku panjang lebar.
Tika masih menatapku denfan serius. Sepersekian detik kemudian, baru lah dia tiba-tiba saja tertawa terbahak-bahak. Entah apa yang lucu. Hingga akhirnya ia berdiri dan meninggalkanku bersama dengan suara gema tawanya.
Kini waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi, aku dan keluarga besar telah sampai menuju ke rumah Lisa dibilangan Gatot Subroto. Dari kejauhan rumah itu sudah terlihat ramai.
Beberapa orang yang kukenal juga ikut berhadir dalam acara bahagia Lisa. Bahkan ada beberapa rekan bisnis yang juga ada di sana. Aku juga melihat Reza yang kini berdiri di ambang pintu untuk menyambut kehadiran kami.
"Selamat ya? Tugas kamu selesai," ucapku padanya sambil menyodorkan tanganku untuk berjabat tangan dengannya.
"Tugas kita yang selesai," balasnya seraya langsung memelukku.
Reza tahu segalanya, hanya saja dia mencoba untuk pura-pura tidak tahu. Pasalnya dia tidak ingin tertarik dalam masalah itu, yang mana akhirnya akan berpengaruh pada hubungan persaudaraan kami berdua.
—————
Tika POV.
Kali ini rumah Lisa terlihat sangat meriah. Bahkan suasana yang begitu ramah dan juga terkesan santai begitu terasa saat memasuki pekarangan rumahnya. Aku masih ingat betul saat pertama kali dia kembali pindah ke kota ini. Ke tempat asalnya di lahirkan.
Saat itu aku dan Jefri yang membantunya untuk mencari rumah. Yang mana akhirnya ia memilih rumah ini karena alasan pekarangan tanpa pagar dan halaman belakangnya yang lumayan luas.
Dia juga memilik rumah ini karena lingkungannya yang begitu sejuk, begitu terasa kekeluargaannya dengan para tetangga. Walauoun sebenarnya Lisa adalah orang yang mandiri dan terbilang acuh.
"Masuk sana, biar anak-anak sama aku. Lisa butuh kamu." Jefri memberiku izin untuk menemui Lisa sebelum acara dimulai.
Aku segera pergi setelah memberikan kecupan singkat pada suamiku dan meninggalkan kedua anakku padanya. Tanpa berpikir panjang aku langsung menuju ke kamarnya yang saat itu pintunya sedang tertutup.
Tokk tokk tokk!!
Kuketuk pintu kamarnya, lalu kubuka perlahan, memasukkan kepalaku untum melihat situasi.
"Sini masuk," seru Lisa yang sedang duduk di depan meja riasnya.
Aku berjalan masuk mendekatinya, setelah berhasil menutup kembali pintu kamarnya. Jujur saja, saat ini aku terpesona melihatnya. Begitu cantik!
Sang perias sedang menyelesaikan tatanan rambutnya. Wajahnya sudah berhasil dipoles dengan begitu sempurna. Memancarkan aura kebahagiaan tersendiri untuknya.
"Sebentar ya, dikit lagi selesai. Habis itu kita foto," ucap Lisa dengan senyumnya.
Aku terduduk di atas tempat tidurnya. Memandanginya lewat pantulan cermin yang terang, menyinari wajahnya yang membuatku terpukau. Dan entah mengapa melihatnya seperti ini membuat air mataku jatuh dengan sendirinya. Hingga aku harus segera menarik selembar tissu dari kotaknya yang tergeletak di sampingku.
"Hei, kok nangis sih, ntar jelek loh!" celetuknya yang mengingatkanku pada kalimat itu. Kalimat yang beberapa minggu lalu aku lontarkan untuknya.
Aku tertawa sambil mengusap air mataku.
Tak berapa lama kemudian, Lisa sudah selesai di dandani. Semua terlihat begitu menakjubkan. Semua yang menempel pada tubuhnya saat ini sangat elegant. Benar-benar mencerminkan Lisa yang aku kenali sejak dulu.
Kini ia beranjak dari duduknya, berjalan menghampiriku lalu duduk di depanku. Ia juga meraih tanganku lalu menggenggamnya.
"Makasih ya, untuk semuanya," lirihnya yang seraya membuatku kembali menjatuhkan air mataku, aku menarik tangannya lalu memeluknya. Erat.
Rasanya tidak mampu lagi aku menahan rasa bahagiaku di dalam hati ini. Sungguh! Melihatnya tertawa seperti tadi benar-benar membuatku bahagia. Dan aku tidak memerlukan hal lain lagi untuk membuatnya tertawa. Karena dia sudah menemukan kebahagiaannya sendiri.
"Makasih sudah gak ninggalin aku sejauh ini," tambahnya lagi yang aku jawab dengan anggukan kepalaku.
——————————
Terus berikan VOTE POIN dan KOIN agar aku semangat menulis untuk kalian 😂
Terima kasih sudah mau menungguku untuk menulis dan update cerita ini.
Jangan lupa subsrek (love, like, kasih ratting trus tinggalin komentar)
Silakan bergabung dalam Grup Chat NovelToon
Folow my Instagram @bossytika
With love,
__ADS_1
#salambucin! 💋