Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
S2 - Eps 128


__ADS_3

Jangan lupa siapkan sekotak tissu di samping kalian saat membaca episode ini.


Masih menyedihkan ๐Ÿ˜‚


Happy reading ๐Ÿ’‹


โ€”โ€”โ€”โ€”โ€”


Still Jefri POV.


Setelah beberapa waktu kedua bayi kembar kami menangis kencang. Sang perawat membantu kami untuk kembali meletakkan keduanya ke dalam box-nya lagi, setelah kami orangtuanya mengecup kedua bayi itu secara bergantian. Lalu perawat itu segera membawa mereka ke ruangan inkubator. Untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut dengan dokter yang ahli sesuai bidangnya.


Aku mengecup puncak kepala Tika dengan begitu lama, sambil memandangi box bayi kembar kami yang semakin menjauh di bawa kembali keluar. Seiring dengan suara tangisan mereka.


Tika meraih tanganku lalu mengecup punggung tanganku. Membuatku mengambil posisi untuk duduk di atas ranjang dan menatapnya.


"Aku keluar dulu, buat siapin kamar rawat," pamit Haikal yang kemudian mengecup pelipis mata adiknya. "Tinggal ya ...." Haikal berlalu setelah menepuk pundakku.


Arah pandangan mataku kembali menatap wajah istriku. Menyusuri setiap jengkalnya, mengamati dengan seksama. Sebelah pipinya masih terlihat memar dan di ujung sudut bibir kirinya terlihat luka. Aku meraih kedua tangannya, lalu mencium tangannya itu.


Untuk sejenak kami terdiam, hanya tatapan mata dan tindakkan yang akan terlihat nyata di dalam ruangan ini. Sampai akhirnya aku melirihkan kata maaf.


"Maaf ...." Aku mengucapkan itu dengan kepala yang tertunduk. Air mata sudah mengalir di kedua sudut mataku. Kututupi dengan genggaman tanganku pada kedua tangannya. Aku menangis dalam diam.


"Aku yang minta maaf, karena sudah pergi gitu aja. Bahayain anak kita." Suara Tika bergetar mengatakan itu. Aku mengangkat wajahku dan segera memeluknya.


Tika melingkarkan kedua tangannya pada pundakku. Aku memeluknya erat mencium ceruk lehernya. Aku merindukannya. Tidak ada satu kata pun yang mampu menggambarkan bagaimana perasaanku saat ini.


Aku mendapatkan dua keajaiban sekaligus dan aku akan menjaga mereka dengan segenap jiwaku.


"Jangan lagi lakukan hal aneh sebelum meminta izinku. Aku gak mau sampai aku harusโ€”"


"Iya! Gak akan aku lakukan lagi." Tika menyela kalimatku lalu mengecup pipiku. "Aku janji."


Tak lama berselang Haikal kembali lalu menyuruhku untuk menunggu di luar, bersama dengan yang lain, sebab Tika akan segera di pindahkan ke ruang rawat inap. Sekali lagi aku mengecupnya keningnya dan mencium bibirnya dengan pelan. Lalu tersenyum bersama.


Keluar dari ruangan itu, aku tidak bisa menyembunyikan rasa syukurku. Setelah melepaskan baju khusus untuk di dalam ruang operasi, aku mendorong pintu di depanku. Mencari sosok Max dan berjalan cepat ke arahnya. Aku memeluknya. Mengucapkan rasa terima kasihku berkali-kali bahkan dalam isak tangisku.


Semua bingung dengan apa yang aku ucapkan, termasuk Max sendiri samai akhirnya ia mendorong tubuhku dan mendesakku mengatakan yang sebenarnya. Aku memberitahukan mereka bahwa Tika sudah sadar dan kedua bayi kami yang dapat bernapas secara mendadak.


"Tika udah sadar. Begitupun kedua anak kami. Mereka bertiga selamat." Bergetar aku mengatakan semua itu dan Max kembali memelukku.


Suasana haru menyelimuti kami saat ini, bukan lagi sebuah haru akan kedukaan, melainkan sebuah haru kebahagiaan. Semua tidak menyangka dengan segala keajaiban yang terjadi. Terlebih lagi aku sendiri.


Kami saling memeluk satu sama lain bahkan aku dengan erat memeluk kedua orangtuaku secara bergantian.


***


Tokk tokk tokk!


Aku mengetuk sebuah pintu ruang rawat inap, lalu mendorong kenop pintunya. Dan masuk bersamaan dengan yang lainnya.


"Ssstttt!" desis istriku saat ia sedang memberi asinya pada salah satu anak kami. Aku tersenyum melihat semua itu.


Yang lainnya perlahan menghambur menghampirinya dengan penuh kebahagiaan, aku dapat melihat semua itu. Terlebih lagi saat Haikal berjalan mendekatiku. "Apa boleh?" tanyaku yang lagi-lagi melihat sebuah keajaiban. Sebab setahuku, kedua anakku mestinya menjalani perawatan yang intensif di ruang inkubator selama beberapa hari.


"Hanya kali ini. Aku rasa ini sebuah keajaiban yang sangat besar, jika mereka bertiga bisa kembali bernapas. Tadinya aku sempat putus asa. Maaf jika aku kurang maksimal," lirih Haikal pelan padaku.


Aku menoleh padanya lalu berkata, "Aku yang seharusnya minta maaf, karena kelalaiankuโ€”"

__ADS_1


"Sudah lah," sela Haikal kemudian ia menarik napasnya, memandangi Tika dari posisi kami berdiri. "Kita lupakan yang kemarin." Ia menoleh padaku lalu menepuk bahuku.


Tak lama kemudian, pintu kembali terbuka. Mamah masuk dengan menggunakan kursi roda, di dorong oleh dokter Ranti. Dan ada Shilla pula yang membukakan pintu.


Aku langsung menghamburkan pelukanku pada mamah dan meminta maafnya. Beliau tidak mengatakan apa-apa. Hanya menatapku lalu menangkup kedua pipiku dan mencium keningku. Baru kali ini beliau melakukan ini padaku dan aku sungguh merasa bersalah.


Setelah itu aku yang mendorong kursi roda mamah untuk memghampiri Tika dan kedua anak kami. Suasana haru kembali hadir. Bahkan kami semua telah sepakat bahwa hanya kami saja yang mengetahui semua proses itu, tidak untuk Tika dan tidak untuk mamah. Tidak untuk saat ini.


โ€”โ€”โ€”โ€”โ€”


Max POV.


Setelah kedua bayi kembar Tika dan Jefri kembali di bawa ke ruangan inkubator. Kami semua berkumpul di sekitaran ranjang Tika, mensyukuri atas semua yang terjadi saat ini. Hingga tiba-tiba saja Tika menanyakan kondisi sahabatnya, Lisa.


"Lisa mana?" lirihnya. Menatapi satu per saru wajah kami saat ini hingga akhirnya tatapan matanya bertemu dengan pandangan mataku.


Aku yang dipandangi seperti itu seakan merasa bersalah. Kemudian aku membuang arah pandanganku ke wajah Shilla yang tersenyum menatap Tika. Hingga secara tiba-tiba ponselku berbunyi.


๐ŸŽถ


My location unknown tryna find a way back home to you again


I gotta get back to you gotta gotta get back to you


My location unknown tryna find a way back home to you again


I gotta get back to you gotta gotta get back to you


๐ŸŽถ


Aku segera merogoh saku celanaku, di saat Jefri dengan spontan menyadari pandangan Tika yang terus menatapku. Jefri menarik wajah Tika lalu mengecupnya, membuyarkan arah pandangannya yang begitu tajam. Sedangkan aku mengucapkan kata permisi, meminta izin untuk menerima panggilan telepon itu dan bergegas keluar dari kamar.


"Hallo? Loh kok bisa?? Cari sampai ketemu. Trus yang satunya lagi? Oke, kabarin terus."


Orang kepercayaanku itu mengatakan dalam sambungan teleponnya bahwa, salah seorang dari lelaki yang menyebabkan kekacauan tadi malam sudah kabur. Hilang di saat mereka membawanya ke tempat yang aku maksudkan. Sebab aku juga ingin sedikit bermain pada mereka.


Mereka berdua harus merasakan ketakutan dan kekhawatiran dari yang Tika dan Lisa rasakan. Lalu jika salah satu dari mereka kabur, artinya Lisa?


Aku kembali menatap layar ponselku dan menekan nomer orang suruhanku yang lainnya. "Hallo? Aku kirimkan sebuah gambar, kalian segera cari orang itu sampai ketemu. Iya." Lalu kembali memutuskan sambungan telepon.


Kukirimkan sebuah foto Lisa pada orang yang tadi kuhubungi. Seketika aku merasakan gelisah, panik bahkan khawatir dengan segala situasi ini. Tadinya aku pikir semua akan segera berakhir. Namun ternyata tidak.


Tiba-tiba sebuah tangan mencengkram erat pundakku, membuat aku terkejut lalu menoleh. Ku dapati wajah sendu istriku, Shilla.


Aku membalikkan badanku lalu langsung mendekapnya. Merengkuh tubuhnya untuk sekedar tempatku bersandar dan berkeluh kesah. Walaupun hanya dalam diam, tidak pernah sedikit pun ia memaksaku untuk menceritakan padanya tentang apa yang sedang aku alami. Ia hanya akan menunggu sampai aku yang menceritakannya sendiri.


Dari sikapnya itu aku mengetahui satu hal, bahwa ia pasti akan setia menemaniku. Karena rasa sabarnya dan pengertiannya yang tidak bisa aku acuhkan begitu saja. Lalu apa masih pantas jika aku mengkhianatinya? Berpaling meninggalkannya? Hatinya bagai malaikat dan aku beruntung memilikinya.


***


Waktu sudah menunjukkan pukul enam pagi. Mengendap-endap aku keluar dari ruang rawat inap mamah. Mataku tidak bisa terpejam sama sekali. Sedangkan Shilla sudah tertidur di dalam bersama mamah dan bi Mince.


Kedua orangtua Jefri juga sudah pulang sejak dua jam yang lalu. Sebab Tika tiba-tiba harus kembali masuk ke ruangan ICCU karena merasakan tubuhnya yang menggigil dan ia kesulitan untuk bernapas, entah kerena apa.


Berkali-kali aku menghela napasku dengan berat. Aku pijat dengan pelan bagian pelipis mataku dengan jempol dan jari telunjukku. Lalu aku memutuskan untuk duduk di lantai. Di depan kamar mamah. Sampai akhirnya sebuah suara menghampiriku.


"Kak Max?"


Suara itu membuatku menoleh ke arah sumber suara dan mendapati dokter Ranti yang berdiri di belakangku. "Hai, Dokter Ranti." Aku mencoba memaksa sudut bibirku untuk tersenyum.

__ADS_1


"Boleh aku temani duduk sebentar?" tanyanya.


Aku bingung dengan pertanyaannya, sebab tidak biasanya ia seperti itu. Karena aku sudah lama mengenalnya di rumah sakit ini. "Yah, please!" jawabku canggung.


Dokter Ranti segera duduk tepat di sampingku. Lalu kami sama-sama memandangi sebuah taman yang memang sengaja dibuat di dalam rumah sakit ini. Awar para pasien yang sedang dirawat dapat menghirup udara segar di pagi hari. Seperti saat ini, seperti yang sedang kami lakukan.


"Gak bisa tidur, Kak?"


Aku mengangguk dan sekilas tersenyum menjawab pertanyaannya lalu kembali memandang lurus ke depan. Ya, dokter Ranti memang selalu memanggilku dengan sebutan kakak. Walau sudah beberapa kali kukatakan padanya, cukup panggil aku dengan sebutan nama. Tapi dia juga selalu menolaknya. Kurang sopan katanya. Lalu sejak itu aku tidak pernah lagi mempermasalahkan tentang panggilan itu.


"Maaf kalau aku lancang, Kak. Tapi ... wanita yang kakak bawa tadi malam untuk diobati itu, bukannya dia temennya Tika?"


"Iya, dia sabahat Tika. Yang dulu pernah dirawat di sini. Memang kenapa?"


"Dia kecelakaan." Ranti mengucapkannya dengan begitu pelan, aku hampir tidak mendengarnya. Lalu aku menoleh padanya. "Begitu selesai diobati, dia bilang mau jenguk tante Ida. Trus sejam yang lalu, tepat saat Tika dipindahkan ke ruang ICCU, aku menemukannya masuk ke ruangan UGD," tambahnya.


Deg deg deg!


Detak jantungku kembali berdegup tidak karuan, begitu mendengar dokter Ranti yang mengatakan bahwa Lisa kecelakaan dan sekarang sedang dirawat di UGD. Setelah beberapa menit yang lalu selesai melakukan operasi.


Dokter Ranti juga mengatakan bahwa, menurut para saksi yang membawanya ke rumah sakit, mereka melihat wanita itu yang linglung dengan pandangan yang kosong. Berjalan menyeberangi jalan tol yang tak jauh dari rumah sakit. Lalu sebuah mobil dengan kecepatan mobil yang sedang menabraknya hingga Lisa harus terpental jauh. Mereka juga kembali mengantarkan Lisa ke rumah sakit ini karena pakaian yang melekat pada tubuhnya.


"Lalu sekarang?" tanyaku mencoba bersikap tenang. Padahal dalam hatiku, ada suatu perasaan aneh yang kembali muncul. Begitu mendadak dan tanpa persiapan. Seperti sebelumnya saat aku melihatnya menjadi korban keliaran kedua lelaki be*at tadi malam.


"Tinggal menunggunya siuman. Tapi ... dia terus nyebutin nama kakak. Maaf kalau aku lancang, Kak. Ini salah satu prosedur. Jika ada keluarganya yang lain pasti akan aku beritakukan. Tadinya aku mau memberitahu Haikal, tapi dia sedang sedang ada operasi lanjutan. Sekali lagi maaf, Kak," lirihnya.


Aku menoleh, menatap dokter Ranti yang menundukkan wajahnya. Ia terlihat takut denganku. Lalu sekarang apa yang harus aku lakukan? Aku tidak ingin perasaan aneh ini semakin terbuka dan kembali seperti dulu. Aku tidak ingin mengkhianati Shilla. Berpaling darinya walau hanya sedetik. Tapi di sisi lain aku juga tidak ingin seorangpun tahu.


Cukup dokter Ranti yang tahu, jika ia memanggil namaku dalam ketidaksadarannya itu.


Aku berpikir dengan keras sambil sesekali menoleh pada dokter Ranti yang terus menunggu jawabanku. Lalu tiba-tiba pintu kamar mamah yang ada di belakang kami terbuka, bi Mince keluar dari sana.


Aku segera berdiri lalu menghampiri bi Mince, lalu di susul oleh dokter Ranti di belakangku. Kemudian aku meminta bi Mince yang melihat kondisi Lisa. "Bi, bibi tolongin dong, liatin kondisi Lisa, nanti biar dokter Ranti yang anterin bibi ke sana, mau 'kan, Bi?" pintaku memelas.


Bi Mince mau saja mendatangi Lisa setelah sebelumnya aku jelaskan lagi jika Lisa mengalami kecelakaan. Kemudian bi Mince bersama dokter Ranti bergegeas pergi meninggalkanku yang mematung di ambang pintu ruang rawat inap mamah. Sambil menatap punggung mereka yang menghilang di balik pintu besar.


Aku harus menutup pintu hati ini rapat-rapat untuk wanita itu. Sudah cukup selama ini aku menahannya. Tidak boleh ada lagi rasa bersalah yang menggerogoti tubuhku, hanya karena aku pernah hampir melakukan itu padanya. Hampir merusak masa depannya dan hampir merenggut kesuciannya.


Bersambung ...


โ€”โ€”โ€”โ€”โ€”


Loha pembaca semua ...


Huft, selesai juga satu bab ini aku tulis. Beberapa bab terakhir ini aku benar-benar menulisnya dengan berat dan butuh perjuangan. Mungkin bab ke depannya juga akan tetap tegang (hihihi aku spoiler sedikit!)


Tapi semoga saja cerita ini tidak membosankan. Lalu sepertinya untuk kisah Haikal akan aku jadikan satu nanti dijudul ini, tapi nantiiiiiii ...


Oh iya, jangan lupa untuk follow instagramku dengan nama akun @bossytika trus jangan lupa juga buat bergabung dalam Grup Chat yang tombolnya berada di beranda novel ini.


Trus apa lagi ya ๐Ÿ™„


Jangan lupa like semua bab karya aku, jangan hanya judul ini. Lalu tinggalkan komen kalian, entah itu tanggapan kalian, ide atau bahkan hanya sekedar unttuk memberikan semangat padaku. Sebab dengan adanya peraturan baru untuk para penulis, like dan komen kalian sangat berarti bagiku.


Jangan lupa kunjungi juga bagian Extra Part Lisa dalam judul novel Milik Wanita Lain ๐Ÿ˜


With love,


Tika ๐Ÿ’‹

__ADS_1


__ADS_2