Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
Eps 203


__ADS_3

Selamat membaca ...


——————————


Haikal POV.


Di dalam perjalanan menuju ke kantor Clara, aku terus menggenggam jemarinya. Sesekali aku mengangkat jemarinya itu untuk aku kecup. Dan entah mengapa, semakin hari aku memang semakin mencintainya.


“Oh iya, sore ini aku gak bisa jemputin kamu pulang kerja loh. Soalnya aku ada jadwal jaga UGD.” Aku memberitahukannya.


“Gak apa-apa. Aku bisa pulang naik taksi.”


“Beneran gak apa-apa?” Aku sedikit khawatir. Clara terlihat menganggukkan kepalanya dengan tegas. Lalu aku menyuruhnya untuk selalu mengabariku.


Begitu selesai mengantarnya aku segera kembali meluncur menuju ke rumah sakit. Hari ini adalah jadwalku menjaga ruang UGD bersama dengan Dokter Adam. Seperti kataku tadi, mungkin ini akan menjadi hari tersibuk kembali untukku.


Bagaimana tidak, ruang UGD adalah satu-satunya ruangan yang tidak aja jam tutupnya dari segala bagian ruangan dalam rumah sakit. Satu-satunya pos penjagaan yang selalu hidup, selalu ramai dan selalu banyak memiliki pasien. Dan beberapa hari lalu, aku memang sudah menambahkan beberapa dokter baru untuk membantu bagian ini.


“Kal, kamu mending istirahat deh, gak baik juga buat calon pengantin terlalu lelelahan. Ntar malam pertamanya gak jos loh!” goda dokter Adam.


“Apaan sih. Masih lama acaranya, masih bisa selow.”


Dokter Adam terkekeh lalu aku tinggalkan untuk memeriksa pasien lanjutan lainnya yang sebelumnya sudah ditindaklanjuti oleh dokter Adam.


Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Sudah sepuluh jam lebih aku berada di dalam ruangan ini. Hingga aku melupakan makan siangku kali ini. Dan pasien terus saja berdatangan dari waktu ke waktu.


Tiba-tiba seseorang menggambil tablet dari tanganku dan ternyata orang itu adalah dokter Jason. Seorang dokter jaga baru yang memang khusus dipekerjakan untuk di ruangan UGD ini. Dia juga merupakan alumni dari universitas yang sama denganku, teman satu angkatan yang sengaja aku minta untuk bekerja di sini.


Sudah seminggu dokter Jason bekerja di rumah sakit ini dan kinerjanya sangat bagus. Dia sangat gesit melayani pasien dan dia juga memiliki sopan santun yang tinggi untuk menghadapi pasien beserta keluarga pasien.


“Istirahat sana! Aku liat dari siang belum makan. Cuman minum dan nyemil kue di pantry,” ujarnya yang lalu mengambil alih pekerjaanku.


Tidak ada kata lain yang aku ucapkan selain mengatakan, “Thanks bro!” Sambil menepuk pundaknya lalu melangkah pergi.


Tidak bisa aku sangkal, aku memang belum makan siang. Tapi berat di mataku ini jauh lebih tidak bisa untuk aku kendalikan. Dan akhirnya aku memutuskan untuk menuju ke ruang kerjaku. Setelah aku membuat sendiri secangkir kopi hitam panas.


Tik tok tik tok!


Suara jam dinding di dalam ruanganku terdengar begitu nyaring, merasuk ke dalam gendang telinga. Beginilah keadaan ruang kerjaku di saat malam menyapa. Apalagi jika waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Seperti sekarang ini. Tapi aku masih saja betah duduk berlama-lama di kursi kerjaku yang empuk ini.


Bagaimana tidak? Aku masih harus memeriksa beberapa file yang dikirimkan oleh bagian administrasi, untuk menghitung berapa persen biaya kebutuhan rumah sakit ini.


Sejak dulu aku memang melakukannya sendiri. Sebab aku pikir kegiatan ini akan membantuku untuk menghilangkan rasa jenuhku akan kesendirian. Tapi sekarang aku mulai merasakan kewalahan untuk melakukan semua tugas itu sendiri.


Belum lagi jadwal jagaku di ruangan Unit Gawat Darurat (UGD) yang selalu menyita waktu. Hingga akhirnya aku jarang pulang ke rumah. Dan ditambah lagi dengan kegiatan baruku untuk selalu menjaga komunikasi dengan Clara. Menjaga hubungan percintaanku.


Sudah berkali-kali aku menguap, menahan kantuk yang begitu menggelitiki kelopak mataku. Mengerjabkan mata yang akhirnya membawaku masuk ke alam mimpi. Dan setengah tubuhku tersungkur di atas meja kerja dan aku ... terlelap.


“Kal ... Haikal ....”

__ADS_1


Terdengar suara seorang wanita yang memanggil namaku. Suaranya khas jenis mezzo-sopran itu begitu lembut dan begitu aku kenali. Tak lama kemudian tubuhku terasa berguncang hebat dengan sistem pernapasanku yang tiba-tiba tertutup seperti ada yang ... aku gerakkan tanganku untuk memeriksa kondisi lubang hidungku dengan mata yang masih terpejam dan aku menemukan sebuah tangan. Jari yang menutupi lubang hidungku dan aku langsung menangkap lengan itu.


Hap!


Dengan kesal aku membuka mata, mengerjabkan lagi kedua kelopak mataku lalu dengan sigap mengangkat kepalaku untuk melihat siapa pemilik tangan yang sekarang sedang kucengkram erat. “Clara?”


Aku terperangah melihat sosok wanita ini. Untuk apa dia malam-malam ke sini? Harusnya dia di rumah saja sekarang, bukannya keluyuran.


“Kamu tidurnya nyenyak banget, sampe aku panggil-panggil gak denger,” ucapnya memberi alasan.


Aku menarik tangannya agar dia berdiri lebih dekat lagi denganku. “Kamu ngapain malam-malam ke sini? ‘Kan udah aku bilang, habis pulang kerja langsung ke rumah aja. Jangan mampir-mampir lagi.” Aku langsung memarahinya.


Clara yang sekarang memang sudah berbeda dengan Clara yang dulu, saat pertama kali aku kenal. Wanita itu dulunya sangat sembrono, sangat ceroboh bahkan terkesan barbar. Semua itu terlihat dari cara berpakaiannya yang selalu saja kekurangan bahan. Entah itu di bagian atasan ataupun di bagian bawahan. Tetapi sekarang sungguh berbeda, lebih normal. Dan aku suka.


“Malam-malam apaan? Udah siang gini!” Clara menarik lengannya mencoba melepaskan cengkraman tanganku padanya.


Kalimat yang dikatakannya barusan sontak membuatku terkejut, lalu aku langsung berdiri dan menarik tali pembuka tirai jendela di belakangku duduk tadi. “Astaga! Jam berapa sekarang?” seruku yang sekilas menoleh padanya kemudian langsung memandangi jam dinding di atas pintu masuk ruanganku.


Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi, yang itu artinya aku sudah terlelap selama 12 jam lebih. Cepat-cepat aku melangkahkan kakiku menuju ke kamar mandi.


Ya, perlu kalian ingat sekali lagi, aku memiliki kamar mandi tersendiri di dalam ruanganku. Begitupun dengan ruangan dokter tetap lainnya yang bekerja di rumah sakit ini. Lebih tepatnya, rumah sakit yang aku kelola.


Aku langsung mencuci wajahku, menggosok gigiku dan melakukan ritual lainnya setelah bangun tidur. Lalu keluar dari sana setelah selesai dan melangkahkan kakiku menuju ke lemari besi yang aku miliki di depan kamar mandi, untuk menggambil jas dokter milikku. Lalu mengenakannya.


“Kamu tunggu di sini, jangan ke mana-mana,” titahku pada Clara yang kini sudah duduk di kursi di depan meja kerjaku. “Aku cuman sebentar.”


Kemudian aku segera berlari kecil keluar dari ruanganku, menuju ke ruangan UGD yang ada di lantai dasar. Sedangkan ruanganku berada di lantai dua.


Dengan napas sedikit tersengal aku mendorong pintu di depanku, lalu berjalan pelan menuju meja perawat di bagian tengah. Mataku langsung mencari sosok dokter Ranti, tetapi tidak aku temukan di sekitara. sana.


“Dam, kamu ada liat dokter Ranti?” tanyaku pada Adam yang sedang menulis sesuatu di meja center. Dokter Adam menggeleng.


Mataku kembali menyusuri satu per satu sudut ruangan UGD ini, hingga 360° aku pandangi. Namun tidak juga aku temukan sosok dokter wanita yang satu itu.


“Memang kenapa cari dokter Ranti? Ada janji?” tanya dokter Adam yang menghentikan kegiatan menulisnya lalu menatapku. Aku mengangguk. “Janji apa?” tanyanya lagi.


“Membawanya ikut meeting dengan pemilik rumah sakit ini. Aku ingin mengenalkannya. Siapa tahu, dia punya kesempatan untuk mengambil gelar spesialis ke Inggris.” Aku menghela napas.


“Oh, yang beasiswa itu ya? Yang dulu pernah kamu ceritakan.”


“Iya, itu. Dokter Sam ‘kan sudah selesai pendidikannya. Jadi bisa gantian, mumpung ada kesempatan,” ceritaku pada dokter Adam. Sebenarnya aku lupa jika pernah mengatakan hal ini pada dokter Adam. Karena seingatku, aku hanya menceritakan hal ini kepada dokter Ranti saja.


Akhirnya, aku memutuskan untuk kembali ke ruang kerjaku. Setelah mendapatkan saran dari dokter Adam untuk mencoba menghubunginya. Aku sempat berputar sebentar melalui ruangannya yang berada di lantai dasar.


Dari luar aku melihat kursinya yang masih kosong, bahkan jas putihnya ia tinggalkan di sandaran kursinya. Artinya tidak mungkin jika ia berkeliaran memeriksa pasien tanpa mengenakan jas itu. Dan masih banyak kemungkinan lainnya yang mengacu pada ketidakhadirannya dalam lingkungan rumah sakit ini. Mungkin aku memang harus segera kembali ke ruanganku untuk mengambil ponselku dan menghubunginya.


Sesampainya di ruangan, Clara menghilang. Tetapi tasnya masih ada di atas meja kerjaku, jadi aku pikir mungkin ia sedang berkeliaran di luar sana. Aku menghela napasku dengan kasar. “Dasar pembangkang!” gumamku seraya tersenyum tipis.


Kemudian aku segera menghempaskan bokongku pada kursi kerja empuk yang aku tinggalkan tadi. Lalu tanganku meraih kenop laci meja dan menariknya, mengambil sebuah benda tipis yang dapat menghubungkan jarak yang terasa jauh, menjadi lebih dekat. Aku mencari nomer telepon dokter Ranti dan menyambungkannya.

__ADS_1


Berkali-kali aku mencoba menghubunginya, tetapi tidak ada jawaban. Nada sambung dari ponselnya terdengar, hanya saja dia seperti enggan untuk menerima panggilan teleponku. Lalu aku memutuskan untuk mengiriminya sebuah pesan singkat.


Tak berapa lama berselang, Clara muncul dari balik pintu ruanganku yang terbuka. Tadinya aku ingin memarahinya, tapi begitu melihatnya membawakan dua buah cangkir minuman, aku mengurungkan niatku itu.


“Bukannya aku sudah bilang jangan ke mana-mana?”


“Astagaa, aku cuman ke pantry ujung buat bikin ini,” protesnya lalu meletakan dua cangkir itu secara perlahan ke atas meja.


Aku melirik isinya, teh panas. Kepulan uap panas masih terlihat tipis-tipis di atasnya.


“Aku tuh tadinya ke sini mau ngajakin kamu sarapan bareng. Eh, akunya malah ditinggalin,” tambahnya lagi, kali ini ia menjatuhkan dirinya untuk duduk di kursi depanku.


“Kamu kenapa gak masuk kantor?”


“Hari ini tanggal merah, hari Raya Waisak. ‘Kan kantor aku tutup.”


Astaga! Iya, dia benar. Hari ini adalah tanggal merah. Aku sampai melupakan hal itu. Kemudian aku meletakan ponselku di atas meja, setelah selesai mengirimkan sebuah pesan singkat pada dokter Ranti sebelumnya. Lalu aku menegakan dudukku, meraih secangkir teh panas itu kemudian menghirupnya.


“Trus kamu mau naik apa tadi ke sini?” Mataku mendelik meliriknya.


“Nebeng sama om-om ganteng di pinggir jalan,” ucapnya, “ya naik taksilah!” ralatnya langsung begitu matanya melihat tatapan mataku.


Tak lama berselang pintu ruangankubkembali diketuk dan kali ini dokter Ranti muncul setelah membuka pintunya. “Hai, Clara!” serunya lalu melangkah masuk menghampiri calon istriku. Calon istri? Ck! Bukankah terdengar lebay? Aku terkekeh pelan.


“Kenapa kamu cari aku, Kal?”


Aku menghela napas. “Nanti sore ikut aku meeting sama pimpinan, aku mau kenalin kamu buat gantian beasiswa sama dokter Sam.”


“Boleh, nanti kabarin aja. Oh iya, kamu jadwalnya jam berapa sama dokter Brian?” Dokter Ranti mengalihkan pertanyaan pada Clara.


“Jadwal apa?” celetukku.


“Kamu lupa ya? Siang ini aku ada jadwal tes sama dokter Brian.” Clara mengingatkan.


Mulanya aku mencoba mencerna dan mengingat kembali sampai akhirnya aku benar-benar melupakan jadwal itu. Dan sontak menepuk keningku sendiri.


“Astaga! Ya udah, kalo gitu kita makan keluar dulu. Tesnya mulai jam satu, 'kan? Masih sempat kok, nanti kalo udah tes kamu gak boleh makan minum lagi.” Aku panik.


Bersambung ...


——————————


Jangan lupa buat vote 😂


Sekian dulu update hari ini ya, aku mau nulis buat yang kisah Lisa di Milik Wanita Lain. Kasian itu naskahnya masih kosong beberapa hari 🙈


#salambucin


Babay ...

__ADS_1


@bossytika 💋


__ADS_2