
Lisa POV.
Setelah menemani Tika check up kandungannya, aku langsung mengantarkannya untuk pulang. Bukan ke rumahnya, melainkan ke rumah mamahnya. Aku sempat bingung dengan keinginannya itu.
Aku akui, aku juga akan melakukan hal yang sama jika berada pada posisinya. Untuk apa pulang ke rumah sendiri jika suami pun tidak menghargai?
Jujur saja, aku juga merasa kesal mendengar sedikit cerita tentang suaminya itu. Bagaimana pun kesalahan Tika, semestinya Jefri mendengarkan terlebih dahulu alasannya. Mengapa sampai Tika tega mendiamkan masalah itu berbulan-bulan?
Dan semestinya, tidak perlu juga membalas sikap itu dengan hal yang sama. Dengan mendiamkan Tika selama berbulan-bulan pula. This is not fair! Apa lagi Tika sedang hamil.
Ingin sekali rasanya aku menarik rambut Jefri, menyeret kepalanya agar ia melihat penderitaan Tika saat ini. Melewati masa kehamilannya tanpa kasih sayang. Mana anak kembar!
Sedari tadi aku hanya asik dengan pemikiranku saja, setelah sebelumnya aku melampiaskan kekesalanku pada satu-satu sahabatku ini, saat mendengar kalimat per kalimat yang ia lontarkan tentang suaminya itu.
"Jadi beneran mau pulang ke rumah mamah aja nih?" tanyaku memastikan sekali lagi. Tika hanya mengangguk pelan dengan pandangannya yang lurus ke arah depan. Tanpa menoleh padaku.
Aku segera membelokkan arah mobilku saat di persimpangan jalan. Lalu memasuki sebuah komplek perumahan, menuju ke rumah orantuanya.
Sesampainya di depan rumah mamahnya, aku langsung mematikan mesin lalu membantunya turun dari mobilku. Menuntunnya berjalan perlahan memasuki rumah.
"Tanteeee ...," seruku masih sambil menuntunnya.
Tante Ida muncul seketika di depan kami, beliau kegirangan melihat Tika yang datang dan Tika langsung memeluknya.
"Mamah kangen banget sama kamu," ucap beliau yang sambil mengelus perut anaknya itu.
Tika hanya tersenyum saat itu. Lalu ia meminta izin pada mamahnya untuk menginap, kembali tidur di kamar asalnya. Aku sempat terkejut mendengar ucapannya itu. Karena tadinya, aku pikir ia hanya akan berkunjung saja, bukan untuk menginap.
"Boleh kan Mah?" Sekali lagi Tika bertanya pada mamahnya untuk memastikan.
"Kamu bebas mau nginap di sini, kapanpun kamu mau."
***
Langit masih sangat terang di luar sana. Sinar matahari sore juga masih berkilauan, kuning keemasan. Begitu indah. Namun keindahan itu sepertinya hanya ada pada perasaanku. Tidak bagi Tika.
Dia memutuskan untuk segera istirahat, masuk ke kamarnya. Lagi-lagi aku menuntunnya, karena aku takut terjadi apa-apa pada keponakkan kembarku. Padahal sudah berkali-kali pula ia mengatakan padaku, jika ia bisa melakukannya sendiri. Tapi tetap saja aku khawatir!
Tika langsung berbaring begitu sampai di ranjang empuknya. Dengan suasana kamarnya dulu yang sangat ia rindukan. Semua itu terlihat jelas dari raut wajahnya. Walaupun hatinya merasa tertekan. Bagaimana tidak tertekan jika menghadapi sikap suami seperti Jefri?
Aku menarikkan selimut untuknya, lalu berpamitan padanya untuk segera pulang. "Gua balik dulu ya? Lu beneran mau nginap di sini?"
Tika hanya mengangguk dengan senyuman tipisnya. Mendadak ia menjadi pendiam semenjak diacuhkan oleh suaminya. Rasanya aku tidak sanggup lagi melihatnya seperti ini.
Aku menutup rapat pintu kamarnya setelah tadi memeluknya, memberikan dukunganku padanya agar ia tetap kuat menghadapi Jefri. Demi anak-anak dalam kandungannya itu.
Tiba-tiba saja sebuah cengkraman tangan, mendarat kokoh pada pundakku. Membuatku terpekik kaget. Begitu aku menoleh ternyata itu adalah mamahnya Tika, tante Ida.
"Tante mau tanya sesuatu sama kamu," lirih beliau yang kemudian menarik tanganku. Membawa langkahku untuk melewati anak tangga, turun ke lantai bawah.
__ADS_1
"Kenapa Tante?" tanyaku penasaran.
"Tika sama Jefri lagi berantem?"
Bagai disambar petir!
Aku terperangah mendengar pertanyaan sekaligus tebakan benar dari tante Ida.
Jelas saja beliau tahu, karena beliau juga seorang wanita dan beliau seorang ibu. Yang mana seorang ibu akan selalu tahu jika anaknya sedang mengalami sebuah permasalahan. Apa lagi beliau bisa menangkap jelas semuanya dari tingkah laku anaknya yang mendadak aneh di depannya.
Aku tergagap menjawab pertanyaan beliau. Disatu sisi aku tidak ingin membocorkan curhatan sahabatku sendiri. Tapi di sisi lain aku ingin melihatnya kembali tertawa dan bahagia hingga proses persalinan nanti. Walaupun sebelumnya tadi aku sudah berjanji padanya, untuk menutupi permasalahan mereka berdua dari tante Ida.
"Lisa, tolong kasih tau Tante. Apa yang sebenarnya sudah terjadi pada Tika?"
Kalimat itu terlontar begitu saja. Membawa aku yang sangat bersemangat untuk menceritakan kondisi Tika dan Jefri pada tante Ida.
—————
Jefri POV.
Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam. Beberapa dokumen baru saja aku selesaikan. Aku mengembuskan napas sebagai tanda untuk mengakhiri kesibukkanku hari ini. Dan tanpa menunggu lama, aku langsung berdiri, meraih jas yang kugantungkan pada sandaran kursi lalu pergi meninggalkan ruangan ini.
Di sepanjang perjalanan tidak banyak yang aku pikirkan, hanya satu. Aku ingin segera sampai di rumah lalu bisa memeluk istriku dan mengucapkan permohonan maafku. Sebab ia telah berkali-kali mencoba menyapaku, hanya saja aku yang terlalu sibuk dan terlalu mengacuhkannya.
Sesampainya aku di rumahku sendiri, aku segera menuju ke kamar tidurku. Setelah sebelumnya aku berteriak memanggil Tika. Tapi tidak ada jawaban. Seluruh ruangan di kamar sudah aku cek. Hingga akhirnya aku berlari menuruni tangga lalu membuka pintu kamar di samping dapur. Juga tidak ada.
Astaga!
Bodoh!
Lagi-lagi aku melupakannya. Kembali melakukan kesalahan.
Aku berlari menuju kamar atas untuk mengambil kunci mobil. Lalu bergegas pergi meninggalkan rumah, menuju ke rumah sakit di mana kami pernah melakukan pemeriksaan awal. Yaitu rumah sakit yang Haikal kelola.
Saat dalam perjalanan, tiba-tiba saja ponselku berdering. Aku merogoh saku celanaku lalu melihat layar ponselku, nama Max tertera jelas pada layar. Segera aku terima sambungan telepon itu.
"Hallo? Iya, serius? Oh ya udah kalo gitu aku langsung ke sana. Makasih ya." Aku kembali meletakkan ponselku itu di atas dashboards. Lalu kembali fokus pada setir mobilku.
Aku langsung berbalik arah, bukan lagi menuju ke rumah sakit Haikal, melainkan ke rumah mamah Ida. Ya, telepon dari Max tadi yang memberitahukan di mana keberadaan Tika. Max juga mengatakan sesuatu yang membuatku semakin yakin, bahwa aku lah yang bersalah.
***
Sesampainya di rumah mamah Ida, aku langsung segera masuk dan mencari beliau. Hingga aku menemukan beliau yang sedang memasak di dapur. Menyapa beliau lalu menanyakan keberadaan Tika. Beliau langsung mematikan kompor dan menghentikan kegiatan memasaknya.
"Seberat apapun masalah yang kalian hadapi, komunikasi adalah hal yang paling penting dalam sebuah pernikahan. Dan mamah rasa kamu sudah mengerti betul akan hal itu," lirih mamah sambil menatapku. Aku mengangguk.
"Pergilah ke kamarnya. Tika bukan orang yang keras kepala dan kamu tahu itu," tambah beliau lagi.
Tidak ada yang dapat aku katakan pada mamah, selain ucapan terima kasihku. Sebab beliau mengizinkanku untuk bertemu dengan anaknya lagi. Aku senang bukan main, segera berpamitan lalu berlari kecil menuju kamar Tika di lantai atas.
__ADS_1
Di depan pintu kamarnya, aku sempat memejamkan mataku, berdoa semoga Tika mau memaafkan kesalahanku kali ini. Lalu dengan perlahan aku meraih kenop pintu itu dan mendorongnya. Dari kejauhan aku melihat Tika yang berbaring di balik selimutnya, tertidur dengan sangat lelap.
Aku berjalan mendekatinya. Menaiki ranjang lalu merengkuh tubuhnya yang tertidur dengan posisi telentang. Sambil mengecup pelipis matanya. Sentuhan yang kulakukan itu membuatnya terjaga, spontan tangannya memegang tangan kananku yang melingkar di atas dadanya. Lalu ia menoleh menatapku.
"Maafkan aku." Kutangkupkan sebelah pipinya pada telapak tanganku. Mata kami saling beradu.
"Seharusnya malam itu aku gak ngedorong kamu. Harusnya aku tanya kamu baik-baik. Lalu paginya, harusnya aku melupakan semua masalah kita. Bukannya pergi gitu aja." Aku semakin merengkuhnya, membawanya masuk ke dalam dekapanku. Kuselipkan tangan kiriku untuk menjadi bantalan kepalanya.
Ia membalas pelukkanku. "Aku yang minta maaf. Aku nutupin semuanya. Aku takut kamu membenci Max dan aku takut buat ngejelasin semuanya sama kamu saat itu."
"Aku yang bodoh! Membiarkan kamu melewati masa kehamilan ini sendirian. Karena tadinya aku pikir kamu marah karena sikap kasarku. Dan itu bikin aku takut buat negur kamu," lirihku yang terus mendekapnya. Menghirup aroma tubuhnya yang sudah lama aku rindukan.
Kami terlalu hanyut dengan perasaan kami masing-masing.
"Sayang ...," panggil Tika padaku. Sudah lama aku tidak mendengar kata itu keluar dari mulut mungilnya. Aku hanya menyahut dengan dehaman, sambil memejamkan mata dan meletakkan telapak tanganku di atas perutnya. "Maaf," ucapnya lagi.
Kurenggangkan dekapan itu, memberi jarak di antara kami agar aku dapat melihat wajahnya. Aku menatapnya lalu mengernyitkan alisku, menunggu kalimat selanjutnya yang ingin ia katakan.
"Piring di rumah hampir habis," lirihnya.
"Kok bisa?" Aku terpekik kaget. Membuat ku beranjak duduk. Tika pun melakukan hal yang sama, kubantu ia untuk duduk. Kutatap matanya lekat-lekat.
"Aku buang tiap kali kamu gak mau makan malam sama aku." Matanya bergerak ke sana kemari, merasa bersalah. Sikapnya ini membuatku tertawa terbahak-bahak.
"Kok gitu sih?"
"Habisnya tiap kali aku panggil buat makan, kamu selalu pura-pura tidur duluan," rengeknya kembali bermanja padaku. Aku menyukai itu.
"Sayang ... itu aku beneran ketiduran. Aku kecapean banget. Beberapa kali aku juga ketiduran di dalam kamar mandi," jelasku.
Saat ini aku semakin menyadari, betapa pentingnya sebuah komunikasi. Dan betapa pentingnya saling mengingatkan dalam sebuah hubungan.
Sampai pada akhirnya ponsel Tika berdering. Aku beranjak menuruni ranjang untuk mengambil benda tipis itu di atas meja riasnya. Lalu melihat siapa yang menelponnya malam-malam begini.
"Lisa," ucapku menyodorokan ponsel itu, ia meraihnya lalu aku mengatakan padanya bahwa aku ingin pergi ke kamar mandi.
—————
Tika POV.
Aku menerima panggilan telepon dari Lisa saat sebelumnya aku melirik jam yang ada di ponselku. Jam 9 malam, ada apa jadi dia menelponku?
"Hallo?" sahutku santai sambil menyenderkan punggungku pada sandaran ranjang. Tidak ada suara siapapun. "Hallo?! Lisa?!"
Tiba-tiba suara seorang lelaki tertawa di seberang sana. Aku tercengang saat mengenali suara itu. Jantungku berdebar.
Sesaat kemudian, aku mendengar suara Lisa yang berteriak. "Tolooooongggg!"
Bersambung ...
__ADS_1
—————
Maaf jika banyak typo ataupun kurang greget 🤣