Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
S2 - Eps 105


__ADS_3

Tika POV.


Jefri memegang perutku, mengelusnya, setelah tadi berkali-kali ia mengecup bibirku.


"Tidur lagi aja. Masih beberapa jam lagi baru nyampe." Jefri berbisik sambil mengecup pelipis mataku. Aku mendekapnya. Membenamkan wajahku dalam sebelah dadanya, ia membelai pipiku.


Aku senang saat seperti ini. Berdua, hanya berdua dengannya menikmati hari. Tiap jam dan tiap detik yang berlalu begitu saat berharga bagiku. Begitu sangat penting sebelum kami kembali pada rutinitas yang ada. Kami juga sudah merencanakan beberapa kagiatan ke depannya. Entah itu untuk pekerjaanku, untuk Lisa dan Alex atau bahkan untuk menghadapi Dana.


Ya, beberapa hari yang lalu aku sudah melupakan masalah itu. Saat ini, begitu kembali ke kotaku, rasanya aku kembali takut. Otakku kembali memikirkan Dana. Entah rencana apa yang sudah ia siapkan untuk menghancurkan aku dan Jefri. Yang jelas, aku berdoa, semoga saja aku dan Jefri selalu bisa seperti ini. Saling menyayangi dan mengasihi. Begitu pula saat anak kami lahir nanti.


Jefri kembali fokus pada laptopnya. Sepertinya ia sedang mempelajari beberapa dokumen penting perusahaannya. Sekilas aku teringat pada masalah perusahaan papanya beberapa minggu yang lalu. Permasalahan yang menyebabkan papa Atta harus masuk rumah sakit dan mengalami stroke.


Aku menghela napas pelan di sampingnya. Dengan tanganku yang kini membelit salah satu tangannya. Semakin banyak masalah pelik yang datang menghampiri kami. Belum selesai satu masalah, sudah muncul lagi masalah lainnya.


"Sayang, itu apa?" tanyaku yang menunjuk labtop-nya dengan mulutku. Jefri menoleh sekilas.


"Oh ... ini dokumen perusahaan papa. Ternyata ada salah satu anak perusahaan papa yang dalam masalah. Dan itu berdampak besar sama perusahaan utama." Jefri mencoba menjelaskan padaku.


Aku hanya mengangguk-anggukkan kepalaku. Pura-pura mengerti akan apa yang dijelaskannya. Dalam hati, aku ragu, bagaimana caranya aku mengatakan padanya tentang masalah ini. Bahwa sebenarnya perusahaan Max lah yang memenangkan tender itu, hingga membuat perusahaan papanya ambruk.


Semakin kudekap lengannya. Berharap ada waktu yang tepat untuk aku mengatakan semuanya. Karena di satu sisi, aku takut dia marah. Tapi di sisi lainnya, aku tidak ingin terus-terusan menutupi masalah satu ini.


"Kenapa?" tanyanya lagi padaku. Aku kembali menggelengkan kepalaku.


'Semoga semuanya akan baik-baik saja nanti,' batinku.


***


Setelah beberapa jam, akhirnya pesawat mendarat dengan sempurna di landasan pacu bandara. Aku dan Jefri sudah bersiap untuk keluar dari pesawat setelah tangga belalai melekat sempurna.


Malam ini yang menjemput kedatangan kami adalah Alex dan Lisa. Karena kami sampai tepat di jam dua belas malam.


"Haiiii," sapa Lisa yang langsung memelukku erat. "Gimana di sana? Happy?"


Aku mengangguk. Alex melakukan hal yang sama, menyapa Jefri. Kemudian kami berjalan menuju ke parkiran mobil. Alex membawakan tas belanja yang tadi kupegang.


Selama di perjalanan, aku dan Lisa duduk di kursi belakang sambil mengobrol. Begitu pula yang dilakukan kedua lelaki di kursi depan. Hingga akhirnya Jefri menawariku untuk makan terlebih dahulu sebelum Alex dan Lisa mengantarkan kami pulang ke rumah. Aku menyetujuinya.

__ADS_1


Sesaat kami telah sampai, mobil Alex memasuki kawasan parkir sebuah daerah yang memang menyajikan berbagai macam makanan. Mulai dari makanan yang ringan hingga makanan steak ala pedagang kaki lima. Ya, mirip dengan tempat jajanan makanan di depan komplek perumahan mamah.


Hampir semua makanan ada di sini. Dan kawasan ini hanya buka pada malam hari atau lebih tepatnya di jam sembilam malam hingga jam tiga dini hari.


"Kamu mau makan apa?" tanya Jefri padaku saat kami sudah duduk disalah satu meja. Sedangkan Alex dan Lisa berjalan menyusuri tempat ini sambil menuju ke arah gerobak steak.


Aku melihat-melihat ke sekeliling. "Emm, aku makan sup buntut aja," lirihku.


"Ya udah tunggu di sini aja, jangan ke mana-mana." Jefri memerintah dan aku menuruti.


Tak lama berselang Alex dan Lisa datang dengan membawa makanan mereka sendiri. Ya, begitulah Lisa. Lisa terbiasa apa-apa serba sendiri. Aku pun dulu seperti itu. Semua kami lakukan serba sendiri dan jika masih bisa menggunakan kaki dan tangan sendiri, itu akan kami lakukan.


Berbeda denganku yang sekarang sudah menikah dengan Jefri. Apa lagi saat ia tahu, aku sedang mengandung anaknya. Dia selalu melayaniku, memanjakanku selagi ia bisa. Bahkan sejak menikah dengannya, hampir tidak pernah lagi aku menyetir mobil sendirian. Contoh kecil yang sungguh membuatku merindukan masa itu.


"Oh iya, jadwal lu check-up kapan?" tanya Lisa tiba-tiba.


"Rencana sih minggu-minggu ini. Tapi belum bikin janji juga," jawabku sesaat sebelum Jefri datang dan duduk di sebelahku.


Banyak yang kami bicarakan saat itu sambil menyantap makanan yang telah kami pesan. Tak jarang kami juga tertawa bersama. Hingga akhirnya selesai makan dan Alex mengantarkan kami pulang.


"Dih, apaan sih. Kayak sama orang lain aja. Ya udah ya, kami balik dulu. Kalian istirahat. Bye!!" Alex melajukan mobilnya hingga menghilang dalam kegelapan malam.


Kami berjalan menuju pintu, aku membuka pintu depan dengan anak kunci. Sedangkan Jefri mengangkat barang-barang kami hingga ke kamar. Aku langsung menuju dapur, mengambil air untuk minum. Rasanya saat hamil muda seperti ini aku jadi lebih sering dehidrasi.


Jefri kembali turun lalu meminta izin untuk merokok di halaman samping kolam renang, aku mengizinkannya.


Kemudian aku segera beranjak menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhku, belum sempat langkah kakiku mebaiki anak tangga, Jefri sudah berseru sambil menyibak tirai. "Mandinya jangan terlalu lama, trus pakai air hangat." Lalu ia mengembuskan asap rokoknya ke samping. Aku tersenyum lalu melanjutkan langkah kakiku.


Setelah mandi aku segera mengenakan pajamasku. Ya, semenjak menikah aku sudah jarang menggunakan kaos gomblong dan celana pendekku untuk tidur. Sekarang malah merasa lebih nyaman menggunakan pajamas berbahan satin ini. Terasa sejuk.


Baru saja mataku terpejam, tiba-tiba Jefri sudah memelukku. Menghujamiku dengan ciumannya yang bertubi-tubi. Tapi entah mengapa itu malah membuatku merasa ... tidak nyaman. Bukan ciumannya, tapi karena bau asap rokok yang menempel di pakaiannya.


"Emh, kamu mandi dulu deh." Jefri menghentikan gerakkannya saat mendengar ucapanku itu. Menatapku di balik cahaya lampu yang menyelinap masuk dalam kamar kami. "Aku mual nyium asap rokok," rengekku.


Jefri tak banyak bicara, ia hanya tersenyum, kemudian mengecup keningku kilas lalu berdiri. "Jangan tidur duluan, tunggu aku," titahnya yang langsung membalikkan badan, segera menuju kamar mandi.


Kudengar suara percikkan air shower yang jatuh membasahi lantai. Lalu suara itu seakan merdu di telingaku hingga akhirnya membuatku hanyut dengan mata yang memang sudah sangat mengantuk. Aku perlahan tertidur, terlelap tanpa menunggunya keluar dari kamar mandi.

__ADS_1


Rasanya baru beberapa detik yang lalu aku terlelap masuk ke dalam dunia hitam yang pekat, tanpa kilasan mimpi, sebelum kurasakan sebuah tangan masuk menjalar menjelajahi bagian depan tubuhku. Dengan mata terpejam. Aku yakin itu Jefri. Dia selalu melakukan hal itu jika aku meninggalkannya tidur terlebih dahulu.


Aku hanya membiarkannya. Begitu jemarinya ingin menerobos masuk, menyentuh kedua bukit kembarku, entah mengapa aku menghalanginya, aku sengaja ingin menjahilinya. Kemudian tiba-tiba bibirnya menyentuh pundakku. Mengecup pelan dengan bibir dan lidahnya. Hingga berakhir di belakang punggungku, ia mengeluarkan lidahnya. Menyapu lembut bagian sensitifku di sana lalu mengecupnya. Ia sangat tahu bagaimana cara memancing hasratku serta memuaskan napsuku.


Lenguhanku masih berhasil lolos dari mulut nakalku. Bahkan kini tangan kokohnya sudah berhasil mencengkram lembut salah satu bukit kembarku. Membuatku mendesah sejadi-jadinya. Setiap sentuhan yang Jefri berikan selalu membuatku mabuk kepayang. Walaupun sudah berkali-kali aku merasakannya, tapi selalu saja berhasil membangunkan bulu kudukku.


Aku semakin menutup mataku rapat, menarik kuat daguku ke atas serta melengkungkan bentuk tubuhku, saat merasakan bibirnya bergerak mencumbu punggungku. Napasku menggebu membara membuatku semakin gelisah, namun menikmati semua sentuhan itu. Belum lagi jari jemarinya yang memainkan kedua bukit kembarku secara bergantian. Sungguh membuatku terlena.


Hampir setiap malam Jefri melakukan ini padaku. Lebih tepatnya sejak beberapa minggu lalu, semenjak aku hamil. Aku merasa menjadi lebih berhasrat semenjak mengetahui ada nyawa lain yang sedang berada dalam tubuhku.


Kini jemarinya merayap menuju ke bagian bawah tubuhku. Dengan bibirnya yang masih saja mengecup bagian punggungku. Perlahan Jefri menarik turun G-string-ku, meloloskannya terlepas dari kedua himpitan paha dan kakiku.


Perlahan Jefri menarik tanganku, membawaku untuk membalikkan tubuh agar aku terlentang menghadapnya. Aku mematuhinya, tapi tidak membuka mata. Dengan keadaan mataku yang masih tertutup rapat. Ia menindihku, menghujami bagian depan tubuhku dengan ciumannya yang menggebu-gebu. Mengecup nikmat setiap bagian tubuhku dan aku hanya menikmati semua permainannya.


Hingga saat di mana kecupannya terasa merambat ke arah bawah. Menyentuh pusarku lalu kembali bergerak semakin ke bawah. Entah apa yang membuatku akhirnya membuka mata lalu mencoba menatapnya, meraih wajahnya yang patuh mendongak melihatku.


Aku terkejut, sebab yang ku lihat adalah wajah Dana, bukan Jefri, suamiku. Seketika aku berteriak. "Aaaaaaakkkkk!!!" Lalu menginjak tubuhnya dengan beruntun. Hingga lelaki itu jatuh terjungkal dari atas ranjang.


Dengan sigap aku menarik selimutku lagi lalu menutupi seluruh tubuhku. Tak terasa bulir air mata jatuh membasahi pipiku. Aku seakan berteriak memanggil nama suamiku, tapi sepertinya isak tangis menghalangiku. Hingga hanya suara lirihku yang terdengar di telingaku.


Bersambung ...


———————————————


Lohaa 😘


Maaf ya KTS jadi jarang update. Semoga kalian tidak kabur dan masih menantikan kisah ini. Sebab aku sedang menulis kisah di aplikasi sebelah yang berwarna kuning 🤣


Tapi tenang saja, semua akan aku selesaikan. Dan jangan lupa nantikan kehadiran kisah Mr. Maxweliam, heuheuheu 😁


Lalu jangan lupa kunjungi pula kisahku di aplikasi sebelah yaa, judulnya 'Together' jangab lupa untuk memberi bintang. Ya, kalian masih ingat dong dengan ritual setelah membaca?


Jangan bosan2 yaa, nantikan karyaku yang selanjutny


#SalamPenyayangBucin 💋


@bossytika

__ADS_1


__ADS_2