
Shilla POV.
Aku bukanlah wanita yang pandai dalam menutupi perasaan dalam hatiku. Dan aku bukanlah seorang wanita yang mampu untuk mengatakan jika semua sedang baik-baik saja. Bahkan aku bukanlah wanita yang munafik, yang tidak bisa merasakan cemburu akan masa lalu orang yang aku cintai.
Diriku juga manusia biasa, sama seperti wanita lainnya. Yang memiliki rasa emosional saat mendengarkan tentang masa lalu pasangannya. Walaupun itu telah terlalu bertahun-tahun lamanya.
Dalam tangisku kali ini, baru ini aku merasakan sebuah keraguan yang terlambat aku sadari. Sebelumnya aku memang pernah menangis untuknya, tapi bukan karena wanita dan bukan karena sebuah rahasia yang ia sembunyikan.
Meskipun selama ini ia tidak pernah mendustaiku, ke mana pun kakinya melangkah, ke mana pun tujuannya pergi. Ia selalu berkata jujur. Tapi begitu mendengar percakapannya dengan Lisa yang tidak sengaja tadi, entah mengapa dinding kepercayaan yang aku bangun selama ini, untuk melindungi bahtera pernikahan kami seakan runtuh seketika.
Kilas balik ingatanku akan kejadian demi kejadian beberapa bulan yang lalu, kini kembali hadir.
Membuat otakku merangkai satu per satu kalimat yang pernah dia ucapkan saat itu.
Aku pikir, ia berjuang mati-matian karena ingin melindungi adiknya. Tapi tak kusangka ia ternyata memiliki maksud lainnya yang tidak aku sadari. Rela melakukan semua itu hanya untuk melindungi wanita dalam masa lalunya.
Dan bodohnya aku terlalu baik melakukan semua itu. Terus mendukungnya untuk melindungi keluarganya yang nyatanya juga melindungi wanita itu.
Mataku terus saja meneteskan butiran demi butiran kesedihan. Antara harus percaya dan melupakan atau tidak percaya dan mengakhiri semua ini. Aku tidak bisa terima diperlakukan seperti ini.
Dalam isak tangis pelan yang terdengar di telingaku sendiri, aku mencoba perlahan untuk menghentikannya, membuat diriku tenang dengan sendirinya sambil menatap wajah anak pertama hasil buah hati kami. Apakah saat itu terjadi, ia memikirkan wanita itu?
Entahlah, ingin sekali rasanya mata ini terpejam, melupakan semuanya yang terjadi beberapa jam, walau hati ini baru saja teriris tajam.
—————
Tika POV.
Waktu sudah menunjukan pukul 8 malam, langit semakin pekat dan udara semakin sejuk. Membuat aku dan Jefri memutuskan untuk segera pulang bersama dengan mamah. Mengakhiri hari bahagia Lisa dan Alex.
"Pulang dulu ya, sekali lagi selamat. Sehat terus sama lancar ya sampai harinya nanti." Jefri memeluk Alex diikuti dengan Haikal. Begitu pun denganku yang memeluk Lisa. Kemudian mamah yang juga memeluknya.
Lisa, Alex dan Reza mengantarkan kami hingga ke halaman depan, kemudian kami segera berpamitan masuk ke dalam mobil. Sedangkan Haikal memilih langsung pulang ke rumah sakitnya. Sebab ada tugas lain yang menantinya di sana.
Sesampainya di rumah, saat menaiki tangga menuju kamar, aku mendengar suara gemerecik air dari halaman belakang. Aku sempat menoleh, tetapi aku juga sudah bisa menebak siapa yang sedang berada di sana.
"Mah, biar aku aja," pintaku mencegah mamah untuk melihat ke halaman belakang.
Kemudian kuserahkan Nahtan yang sedang dalam dekapanku pada mamah untuk membawanya ke dalam kamarku, sedangkan Naila sudah berada dalam dekapan Jefri.
Aku melangkah menuju dapur lalu ke pintu keluar yang terhubung ke arah kamar bi Mince, dan membuka lemari di belakang sana untuk mengambil selembar handuk. Lalu kembali melangkah menuju kolam renang.
Dari kejauhan aku sudah bisa melihat itu pasti Max, sebab ada sebuah kepulan asap rokok yang tersaji di pinggir kolam renang. Perlahan aku duduk di samping asbak rokok itu, lalu mamatikan rokoknya. Menunggu Max kembali muncul ke permukaan.
Tadinya aku mendengar kepakan air saat ia berenang, tapi saat ini aku melihat dia yang hanya menyelam, berdiam diri di dalam sana. Aku masukkan tanganku ke dalam kolam lalu menyentil telinganya. Membuatnya kembali muncul dan terkejut melihatku.
"Baru pulang?" tanyanya sesaat setelah mengusap wajahnya. Aku hanya mengangguk.
Kemudian Max keluar dari kolam itu, tanpa memerlukan tangga. Dengan kedua tangannya, ia mampu melakukan itu. Aku sedikit terkejut melihatnya yang keluar dari kolam renang, lengkap dengan seluruh pakaian yang ia kenakan saat di pesta tadi. Hanya kurang jasnya saja.
Kuberikan handuk yang sebelumnya sudah aku siapkan untuknya tadi. Max menerimanya, lalu mengusapkan kain itu ke wajahnya. "Berantem sama Shilla?"
Kalimat itu langsung saja terlontar dari mulutku tanpa aku duga sebelumnya. Max langsung mendelik padaku. Menatapiku dengan matanya yang tajam. "Kenapa tahu?" tanyanya sambil meraih kotak rokoknya, kemudian menyulut sebatang rokok yang sudah diselipkannya di antara mulutnya.
Aku mengembuskan napasku dengan mulutku yang mengembang. Sial! Mau tidak mau aku harus ikut campur dalam hal ini. Sebab aku tidak ingin kembali ada masalah. Cukup aku saja yang memiliki masalah yang tak berujung. Max dan Shilla jangan sampai.
"Shilla udah denger kamu ngobrol sama Lisa tadi sore. Waktu kamu duduk berdua sama dia di sofa belakang rumahnya. Dia denger semuanya, walaupun kamu gak terlalu banyak bicara waktu itu." Aku juga memberitahukan pada Max bahwa Shila sempat menangis setelah mendengar semuanya, tetapi aku tidak membocorkan pada Max tentang apa isi curahan hati Shilla padaku.
Dan sejak detik itu, aku merasa bersalah pada Shilla, sebab aku tidak bisa menjadi seorang adik ipar yang baik untuknya.
Shilla memang tergolong dari keluarga yang berada. Tapi bukan berarti dia selalu hidup dalam kebahagiaan di setiap harinya bukan?
"Aku memang gak pernah cerita sama dia tentang Lisa. Karena aku pikir itu masa lalu. Dan dia gak pernah menanyakan tentang masa laluku, jadi buat apa aku ceritain?"
"Max, jangan membela diri. Kamu sempat bimbang 'kan? Walaupun akhirnya kamu tetap memilih Shilla, aku sebagai wanita gak membenarkan sikap itu." Aku bersikeras.
"Kalau kamu memang mau mempertahankan Shilla dan juga pernikahan kalian, lakukan itu atas dasar hati kamu, bukan karena lantaran kalian punya anak. Buah hati kalian bukan beban, mereka anugerah."
"Aku tahu. Aku juga sudah bilang gitu ke Shilla tadi. Aku sadar aku salah gak ceritain semuanya," lirih Max pada akhirnya.
"Kalau aku ada di posisi Shilla, mungkin aku juga akan berpikiran yang sama sepertinya saat ini," ucapku lalu menatap pada Max yang memandang kosong ke arah tangannya. "Aku pasti akan berpikir kalau kebaikan kamu beberapa bulan yang lalu itu, punya arti yang berbeda," lirihku dengan menatap tajam ke arahnya.
__ADS_1
Sebenarnya yang aku lakukan adalah salah satu caraku untuk mengatakan padanya, bahwa beginilah rasa sakit hatinya yang Shilla alami. Agar Max bisa berpikir lebih matang sebelum bertindak esok hari atau bahkan malam ini. Sebab aku takut jika dia akan pergi keluar dari rumah ini hanya untuk mencari kesenangan sesaat di luar sana.
"Kalian sudah berapa lama gak makan malam berdua?" Tiba-tiba aku mengajukan pertanyaan yang konyol pada Max.
Max menoleh terkejut, "Maksudnya?"
"Coba besok ajak dia dinner di luar, anak-anak biar aku yang jaga. Kamu jelasin sama dia ketulusan kamu itu." Aku berdiri lalu berbalik hendak melangkah pergi menuju kamar.
Sebelumnya aku sempat mengatakan sesuatu padanya, sambil menyentuh bahunya. "Jelasin pakai hati. Aku gak mau sampai punya kakak yang berstatus 'duren'."
***
"Siapa yang renang malam-malam gini?" tanya Jefri saat aku melihatku masuk ke kamar.
Dia sudah membersihkan dirinya, bahkan juga sudah mengganti bajunya. Sekarang ia sedang duduk di atas tempat tidur dengan sebuah buku di tangannya. Entah buku apa.
"Max," jawabku sambil melangkah menuju box tidur kedua anakku. Memeriksa kedua anakku yang masih tertidur pulas.
Apalagi yang dilakukan oleh bayi di bawah umur 5 tahun, kalau bukan tidur dan minum asi. Tapi tiba-tiba saja kedua tangan Jefri melingkar di perutku. Ia mendekapku dengan begitu erat, aku sempat menolak, meregangkan tangannya, tetapi percuma. Yang ada Jefri semakin mengeratkannya. "Trus? Kenapa dia?"
Aku berbalik lalu menatapnya, "Gak apa-apa, dia cuman lagi mumet aja." Aku mengecup bibirnya dengan rangkulan tanganku yang melingkar di atas pundaknya. "Aku mau mandi dulu," izinku pada Jefri yang kemudian ia melepaskan dekapan kami.
Kemudian aku melangkahkan kakiku menuju kamar mandi untik membersihkan tubuhku.
***
Keesokan harinya, hal yang tidak aku sangka-sangka ternyata terjadi.
"Sayang ... sayang, bangun deh." Jefri menggoyang-goyangkan tubuhku membuatku terpaksa membuka mata.
Aku membuka mata. Tadinya aku pikir semua akan baik-baik saja tapi ternyata tidak. Baru saja jam menunjukkan pukul 8 pagi, sudah terjadi ribut-ribut di lantai bawah. Pasalnya aku hanya mendengar sayup-sayup suara teriakan. Dengan pintu kamarku yang terbuka akibat Jefri yang membukanya.
Segera aku bangkit dari tempat tidurku lalu melangkah menuju keluar. Mamah juga terlihat baru keluar dari kamarnya. Hari ini kami memang kesiangan bangun, sebab terlalu letih akibat acara kemarin.
Suara teriakan Max terdengar nyaring dari dalam kamarnya. Aku dan mamah segera turun ke lantai bawah. Mamah membuka pintu kamar Max yang memang tidak tertutup rapat. Dan sontak membuat Max menghentikan teriakannya. Ia menatap nanar ke arah mamah dan aku yang berdiri di ambang pintu.
"Apa-apaan ini, Max?" tegur mamah.
Dengan amarahnya, Max melangkah mengambil dompetnya dan juga bungkus rokoknya, lalu dengan kunci mobil yang tidak lupa diraihnya, ia melangkah pergi keluar dari kamarnya melewati mamah dan juga aku.
Mamah masuk ke dalam kamar, mendekati Shilla dan merangkulnya, sedangkan aku melirik pada suamiku yang berdiri tidak jauh dari tempatku. Ya, Jefri sudah tahu apa yang terjadi. Sebab tadi malam sebelum terlelap, aku sempat menceritakan padanya tentang apa yang terjadi pada Max dan juga Shilla.
Aku memutuskan untuk menyusul Max. Sementara mamah sudah bersama Shilla di dalam sana. Aku berjalan dengan cepat untuk menyusulnya. Di depan rumah aku menarik lengannya. "Max!"
Ia menepis lalu berbalik menatapku. "Aku gak tahan kalau dia bersikap begitu. Lebih baik dia marah-marah atau mukul aku sekalian. Daripada terus diam," tegasnya kemudian kembali melangkah menuju mobilnya. Masuk kemudian pergi berlalu. Menghilang di balik pagar rumah mamah yang tinggi.
Tidak ada penjelasan lagi dari semuanya. Yang jelas, aku tahu duduk permasalahan mereka. Hanya saja aku enggan untuk menjadi penengah. Sebab posisiku juga tidak baik. Dan aku tidak ingin salah satu di antara mereka menganggapku sebagai pembela. Itu saja.
Aku kembali ke dalam rumah. Shilla tidak berkata apa-apa kepada mamah, dia hanya menangis tersedu dalam pelukan mamah. Lalu aku melirik ke dalam ranjang kecil yang terletak di dekat mereka. Feli masih tertidur di dalam sana. Lalu Icel ke mana?
"Kenapa?" tanya Jefri yang melihatku keluar dari kamar Max.
"Icel gak ada," lirihku bingung sambil memikirkan di mana anak itu berada.
"Tuh." Jefri mengangkat jari telunjuknya lalu mengarahkan ke halaman belakang.
Arah pandangan mataku segera mengikuti jari telunjuk Jefri dan menemukan sosok anak kecil yang sedang bermain lego di sana. Aku menghela napas lega. Kemudian mendekati anak itu, yang ternyata juga ada bi Mince di sana.
"Loh, ada bibi toh." Aku duduk di samping bi Mince. "Bi, udah lama tadi teriak-teriak begitu?" tanyaku berbisik.
"Lumayan, Non." Bi Mince membalas cepat.
Aku menghela napas sambil menatapi Icel yang terus saja bermain dengan gembira. Bahkan sesekali ia memperlihatkan hasil olahannya pada aku dan bi Mince.
—————
Max POV.
Dalam amarah aku mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Tidak ada arah tujuanku saat ini. Aku hanya memacu detak jantungku yang sedari tadi semakin tidak karuan. Dengan napas yang masih tersengal, aku terus saja menaikan kecepatan mobil ini, semakin memperdalam injakan kakiku pada pedal gas.
Aku tahu aku salah. Aku memang sedang membela diriku. Tapi untuk apa aku menceritakan sesuatu yang tidak penting menurutku. Dia tahu aku bagaimana. Selama menjalin bahtera pernikahan dengannya, tidak sedikit pun aku tergoda dengan wanita lain. Walaupun banyak yang mencoba menggodaku.
__ADS_1
Serasa seperti malapetaka bagiku saat ini. Aku ingat betul dengan reaksinya yang hanya diam saat aku mencoba menjelaskan semuanya. Tidak ada satu kata pun yang terlontar dari mulutnya. Entah itu ungkapan kekesalan atau kecewanya. Lalu bagaimana aku harus menyikapinya? Mengapa wanita selalu saja diam jika ingin dimengerti? Bukankah seharusnya diungkapkan jika ingin prianya mengerti?
Aku mengusap kasar wajahku. Lalu merogoh saku celanaku untuk menghubungi Haikal. Ya, siapa lagi yang aku hubungi di saat-saat seperti ini?
Laju kecepatan mobil sengaja aku kurangi, agar aku bisa menghubungi Haikal dengan santai. "Hallo? Kamu di mana? Iya. Ya udah gua ke sana sekarang."
Aku putuskan sambungan telepon itu, lalu langsung kembali menginjak pedal gas, melajukan kecepatan mobil menuju ke rumah Haikal. Dia sangat pandai menebak jika aku saat ini ingin meminjam rumahnya untuk beristirahat.
Ya, biasanya aku memang seperti ini jika ada masalah. Larinya ya tudak jauh-jauh, pasti ke rumah Haikal untuk istirahat atau sekedar mengobrol dengannya, seperti yang sudah-sudah.
***
Haikal membukakan pintu rumahnya untukku. Kemudian aku langsung menuju kamarnya, untuk merebahkan tubuhku di atas tempat tidurnya. Tanpa memandangi langit-langit kamarnya, aku memejamkan mataku.
Tadi malam aku tidak bisa tidur dengan tenang. Pikiranku sungguh kacau. Seluruh otakku benar-benar terkuras hanya untuk memikirkan Shilla. Memikirkan bagaimana caranya aku menjelaskan padanya tentang semua yang ia dengar kemarin.
Lalu pagi ini, dengan berani aku menjelaskan semuanya. Tapi apa yang kudapatkan? Dia tetap saja diam. Bahkan seakan tidak peduli dengan semua penjelasanku. Lantas aku bisa apa?
Aku mengembuskan napasku untuk beberapa saat hingga akhirnya kudengar Haikal memanggilku. Masih denga mata yang terpejam aku menyahutinya dengan sebuah dehaman.
"Max?"
"Hm ...," jawabku seadanya.
"Lagi ada masalah? Kamu begini itu cuman ada dua penyebabnya. Kalo gak diusilin sana rekan kerja kamu atau ada lawan bisnis kamu yang ngirimin anaknya lagi ke kantor?"
Haikal saja sampai begitu hafalnya. Tapi tidak kali ini. Masalah pagi ini terasa lebih berat dari sebelum-sebelumnya. Kemudian aku membuka mata dan bangkit dari tidurku. Duduk dengan menyangga tubuh pada siku tanganku yang menempel pada lututku.
Lalu perlahan aku menceritakan kejadian beberapa jam yang lalu pada Haikal. Semua aku ceritakan tanpa ada yang aku tutup-tutupi. Sebab aku tahu, Haikal lebih bisa bersikap bijak dalam memberikan solusi untuk permasalahan suami-istri yang aku hadapi. Walaupun dia belum menjalani fase tersebut, tetapi pola pikirnya jauh lebih bijak dibandingkan denganku.
Mungkin karena Haikal sudah begitu banyak menghadapi keluarga pasiennya, yang berbagai jenis macam sifat dan karakternya di setiap harinya. Hingga membuat Haikal justru jauh lebih luas pola pikirnya. Dan karena itu lah, aku lebih sering bertukar pikiran padanya dibandingkan dengan pergi ke psikolog.
"Jadi Shilla udah tahu?" tanyanya sekali lagi padaku. Dia menarik kursinya lalu duduk berhadapan denganku.
Aku mengangguk menjawab pertanyaannya. Sambil meremat rambut di kepalaku dengan kedua tanganku saat ini. Menundukkan wajah memandangi ujung jari kakiku. Saat itu aku baru menyadari, bahwa aku keluar dari rumah masih dengan menggunakan baju tidurku tadi malam.
"Trus gak coba dijelasin secara detail gitu?" tanyanya lagi.
Kali ini aku kembali mengangguk, "Aku udah jelasin juga, cuman dianya diem aja. Gak kayak biasanya," ucapku frustasi.
Haikal mengembuskan napasnya. "Mungkin dia butuh waktu, Max!"
Lagi-lagi aku mengembuskan napasku, tetapi kali ini melalui mulutku.
Kemudian Haikal menyuruhku untuk istrirahat, sementara ia pergi menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Sebab ia mengatakan jika ia memiliki janji lain dengan Clara hari ini. Ya, memang sudah semestinya dia melakukan penyegaran diri setelah sibuk berkutat di ruangan UGD-nya. Lagi pula hari ini hari Minggu, akan baik untuknya berjalan bersama Clara.
Aku langsung meletakan sebelah lenganku yang melipat ke atas keningku. Lalu memejamkan mata, mencoba untuk masuk ke alam mimpi.
***
Rasanya baru sebentar aku memejamkan mata, saat suara ponselku tiba-tiba saja berbunyi. Mengganggu tidurku yang lelap tanpa sebuah mimpi di dalamnya.
🎶
My location unknown tryna find a way back home to you again
I gotta get back to you gotta gotta get back to you
My location unknown tryna find a way back home to you again
I gotta get back to you gotta gotta get back to you
🎶
Dengan terpaksa aku membuka mataku, mengerjabkan beberapa kali setelah sebelumnya aku mengucek mataku dengan ujung punggung jari telunjukku. Salah satu tanganku mencoba merogoh saku celana, untuk mendapatkan benda itu.
Sebelah mataku menyipit untuk melihat nama siapa yang tertera di layar depan ponselku. Ternyata nama Haikal. Lalubaku segera menggeser tanda hijau untuk menerima sambungan telepon itu. "Hallo?"
Dari seberang telepon sana, Haikal mengatakan jika ia sedang makan siang bersama Clara. Dan tujuannya menelponku, sekedar untuk menanyakan apakah aku ingin dibungkan makanan atau tidak. Aku mengiyakan kemudian mengakhiri sambungan telepon itu.
Masih setengah malas, aku bangkit dari tidurku. Merasakan kepalaku yang berdenyut nyeri akibat terkejut mendengar suara telepon tadi. Lalu berdiri, melangkahkan kaki menuju ke kamar mandi untuk menyegarkan tubuhku.
__ADS_1
Bersambung ...