
Tika POV.
Aku dan Jefri telah sampai di depan rumah orangtuanya. Aku segera masuk ke dalam dengan membuka pintu menggunakan kunci rumah yang dimiliki Jefri, tanpa menunggu Jefri yang sedang mengangkat kedua tas jinjing hasil packinganku.
Jika sudah malam seperti sekarang, rumah ini selalu sepi. Sebab mama dan papanya pasti sedang di dalam kamar, usai melakukan makan malam. Apalagi dengan kondisi papanya yang masih dalam masa pemulihan.
Aku langsung menuju ke kamar mereka, mengentuk pelan pintu kamar, agar jika mama dan papa sudah tertidur, ketukkan pintu kamarnya tidak membuat mereka kembali bangun.
Tokk ...
Tokk ...
Setelah mengentuk pintunya, aku menunggu sebentar. Jika ada jawaban atau tiba-tiba pintu terbuka, itu artinya mereka belum terlelap. Tapi jika hening dan sepi, tidak ada pergerakkan dari pintu itu, artinya mereka terlelap telah beristirahat.
Aku melirik jam tanganku, waktu masih menunjukkan pukul sembilan malam. Masih terlalu cepat jika mama dan papa mertuaku ini memutuskan untuk tidur. Aku kembali menunggu sebentar sambil menggerakkan alas kakiku, menghentakkan pelan ke lantai.
Tokk ...
Tokk ...
Aku terkejut sambil menoleh, ternyata Jefri yang mengetuk pintunya. Sambil bersander di pintu ia tersenyum padaku dan menggerak-gerakkan kedua alisnya naik dan turun. Aku tersenyum.
Dia membelai pipiku, lalu menyingkap rambutku ke belakang telinga kananku. Kemudian menarik daguku perlahan membawanya hingga menyentuh bibirnya. Dikecupnya pelan dan sensual. Kemudian mata kami saling menatap dengan senyuman yang saling kami kembangkan.
Diulanginya kembali kegiatan tadi, namun kali ini dia mengecap lebih lama sambil mencoba menyelipkan lidahnya di antara sela mulutku dan berhasil menyusuri setiap jengkal di dalam sana. Sedangkan tangannya terdiam, tetap pada posisi semula. Yang satu memegang lenganku dan yang satunya lagi memegang daguku.
Ceklek ...
Ceklek ...
Suara anak kunci yang berbunyi dari pintu kamar mertuaku, membuat kami terkejut dan spontan melepaskan ciuman itu. Lalu kali saling terkekeh geli, menertawakan tingkah laku kami yang konyol ini.
Mama muncul dari balik pintu kamarnya, terkejut akan kehadiran kami. Aku segera memeluknya dan mencium kedua pipinya. Begitu pula dengan Jefri. Kemudian mama mempersilakan kami berdua untuk memasuki kamarnya, bertemu dengan papa yang masih bangun dan menonton televisi.
"Pah, gimana kabar hari ini?" sapa Jefri sambil bersalaman dan mencium pipi beliau.
Papa tersenyum lalu mengatakan bahwa beliau baik-baik saja, bahkan kata mama, papa sudah bisa berjalan dengan lancar sekarang. Tidak perlu dibopong lagi. Hanya saja beliau mudah lelah jika terlalu lama berdiri.
Kelihatannya papa memang sudah jauh lebih baik. Wajahnya sudah tidak lagi terlihat pucat. Tubuhnya juga sudah semakin berisi, hampir kembali ke penampilan sebelum sakit. Bahkan papa terlihat senang dengan kedatangan kami saat ini.
"Kalian mau kemana?" tanya mama yang arah pandangannya sempat melirik ke tas jinjing, yang tadi di tinggalkan Jefri di depan pintu kamar yang terbuka.
Aku dan Jefri sekilas sama-sama melirik ke tas itu kemudian saling berpandangan. Lalu dengan secepat kilat Jefri berkata, "Kami besok pagi mau ke Maldives."
Aku tercengang dan langsung menatapnya yang sedang duduk di atas kursi dekat papa. Sedangkan aku duduk di atas ranjang berdekatan dengan papa dan mama. Jarak kami lumayan jauh hingga terdengar jelas guamamanku itu. "Hah?!"
Sekilas aku melirik papa dan mama, kemudian pandanganku kembali mengarah pada Jefri. Aku benar-benar terkejut dengan ucapannya tadi. Karena jujur saja, sebelumnya dia mengatakan jika hanya akan menginap di rumah orangtuanya. Bahkan dia tidak ada mengatakan sepatah katapun bahwa akan melakukan perjalanan liburan ataupun semacamnya.
"Bukannya kamu bilang kita cuman nginep di sini?" tanyaku penuh penekanan di akhir kalimat. Sebab jelas-jelas dia sendiri yang mengatakan itu.
"Ya ini 'kan, kita nginap di sini. 'Ntar pagi kita berangkat ke bandara." Dia cengengesan.
Baru saja aku hendak kembali bersuara, tapi secepatnya dia berdiri dari duduknya lalu mengatakan agar papa dan mamanya lebih baik istirahat dan meminta mereka untuk membangunkannya sekitar jam dua pagi untuk bersiap, sebab pesawat akan berangkat tepat pukul empat pagi.
__ADS_1
Lalu aku tidak begitu memerhatikan lagi bagaimana reaksi mama dan papa mertuaku. Aku sibuk memerhatikan Jefri yang kemudian menarik tanganku dan membawaku segera keluar dari kamar orangtuanya.
***
Aku masuk ke kamarnya dengan wajah yang sengaja kutekuk dan dengan tangan yang berlipat di depan dada. Sebab aku tidak diberitahukannya tentang rencana liburan ini. Aku kecewa padanya.
Saat dia meletakkan kedua tas jinjing itu di atas buffet, aku langsung menyambarnya, membuka tas itu dan mencari baju tidurku. Setelah dapat aku langsung membawanya ke kamar mandi beserta tas kecil khusus perlengkapan mandi dan alat make-up.
Aku menghela napas dan mengembuskannya berkali-kali. Mencoba menenangkan detak jantungku yang emosi. Setiap kondisi emosiku meningkat seperti ini, aku selalu ingat akan janin yang sedang ada dalam kandunganku ini. Karena dengan begitu, aku menjadi lebih bisa mengontrol diriku sendiri.
Selesai aku membersihkan tubuh dan mengganti pakaian tidurku. Aku kembali keluar dari kamar mandi dan kudapati Jefri yang sudah berdiri di deoan pintu kamar mandi. Aku terpekik kaget melihatnya.
"Marah?" ucapnya santai menanyaiku.
Mata kami saling menatap. "Jujur aja aku kesal, kenapa gak ngasih tahu kalo kita mau pergi liburan?"
Dia menghela napas. "Aku juga baru dapetin tiketnya. Trus akomodasi di sana juga baru ACC."
"Kamu habisin uang tabungan anak kamu ya?" Aku menatapnya dengan tatapan curiga. Akan tetapi, dia tidak bergemin sedikit pun. Lalu dengan lemah lembut dia mencoba menjelaskan sambil merangkul pinggangku dengan kedua tangannya.
Bahwa ternyata, yang membelikan tiket pesawat round trip itu adalah Lisa. Sedangkan untuk akomodasi penginapan menjadi hadiah dari Alex. Mereka berdua memberikan semua itu sebagai ucapan terima kasih. Sebab mereka berdua telah memutuskan untuk tetap kembali bersama dan kembali pada rencana awal mereka untuk tetap melangsungkan sebuah pernikahan. Hanya saja waktunya di undur menjadi empat bulan lagi. Yaitu tepat pada bulan Juli.
Aku masih menatapnya dengan kesal. "Trus masih marah nih?"
"Kamu tahu? Aku cuman bawa pakaian sedikit, kalo kamu 'kan enak ada pakaian kamu di sini," omelku sambil di akhiri dengan cemberut.
Dia mengembuskan napasnya, mengencangkan pelukkannya padaku lalu tertawa. "Jadi marahnya karena bawa bajunya dikit?" ledeknya.
"Aku mau telepon Lisa." Kudorong tubuhnya agar sedikit menjauh dan melepaskan dekapannya padaku. Tapi sayangnya tenagaku tak cukup untuk sekedar menggeser tubuhnya yang menempel padaku.
Kemudian dia mengatakan bahwa nanti pagi Lisa dan Alex akan datang ke bandara untuk mengantarkan kepergian kami. Begitu juga dengan mamah. Mungkin mamah nantinya akan datang bersama Haikal atau Max. Aku mengangguk saja saat dia mengatakan itu.
"Ya udah, ganti baju sana gih!" saranku hingga membuatnya melepaskan pelukkannya. Dia menurutinya.
Setelahnya, aku sudah menunggunya di atas ranjang, di balik selimut yang sudah lama tidak kami gunakan. Wanginya masih tercium. Aku menyukai wangi sprei yang baru selesai di laundry. Begitu harum dan begitu lembut, nyaman.
Jefri langsung masuk menyelinap ke dalam selimut. Tanpa baju kaosnya, hanya celana panjangnya yang berjenis kain sutra tipis. Lalu memelukku yang sedang membaca sebuah novel. Hampir setiap malam dia seperti itu. Selalu menggangguku yang asyik sedang membaca.
Kemudian tiba-tiba aku teringat akan kondisiku yang sedang hamil saat ini, bukankah aku harus memeriksakan kandunganku pada sebelum berangkat?
"Yang ... sayang! Kamu udah tidur?"
"Hmm?" Jawabnya singkat dengan dehaman. Lalu dia bergerak membetulkan tubuhnya agar dapat duduk dengan sempurna.
Kemudian aku menanyakan padanya, bagaimana jika kondisinya seperti saat ini, tanpa adanya surat dokter yang mendampingi dalam keberangkatan, lalu Jefri mengusulkan untuk datang lebih cepat, agar aku dapat melakukan serangkaian pemeriksaan oleh dokter yang berada di bandara.
Tiba-tiba Jefri mendekatiku, menciumi telingaku hingga tengkuk leherku lalu memelukku dari samping. Tak berapa lama, tangan terus saja bergerak menelusuri bagian perutku sambil mengelusnya.
Tak hanya sampai di situ saja, dengan perlahan dia mengambil novel yang dari tadi kubaca itu, yang ada di tanganku lalu menutupnya meletakkan di atas meja dan kembali melakukan aksinya. Perlahan namun pasti, tangannya menyusuri setiap jengkal tubuhku. Hingga membuat aku terlena dan akhirnya terbaring. Menikmati setiap sentuhan yang dia berikan.
Jefri mengembuskan napasnya lembut disela telingaku. Sambil mencecap di sana. Membuat hawa tubuhku menjadi panas dan menjalar ke semua tubuhku. Namun segera kami akhiri agar kami beristirahat.
***
__ADS_1
Aku terbangun tepat pada jam dua lewat seperempat menit. Baru saja aku hendak duduk dan beranjak tiba-tiba suara ketukkan pintu yang diiringi dengan suara panggilan mama pun terdengar.
Aku segera berdiri dan membukakan pintu untuk mama. Tapi ternyata mama hanya berniat untuk membangunkan kami lalu beliau kembali lagi ke kamarnya, juga untuk bersiap mengantarkan kami. Sebab tadu malam papa sempat mengatakan ingin mengantarkan kami ke bandara.
Aku kembali ke dalam kamar, berbaring di samping Jefri mulai menjahilinya. Pertama, kuganggu ujung hidungnya, masih tidak mau bangun dan tidak bergeming. Kedua, kugelitiki telinganya, tidak mau juga bangun, tapi mulai berdeham. Ketiga, kukecup bibirnya pelan lalu kuselipkan ujung lidahku pada sela bibirnya, dia terbangun dan langsung merangkulku.
Seakan tidak mau berhenti untuk melakukan itu, dia semakin mengeratkan pelukkannya, bahkan kini kedua tangannya sudah merangkul sempurna. Melilit di pinggang belakang. Lalu perlahan dia menyelipkan salah satu tangannya untuk membelai punggungku.
Menyentuh dan membelai lembut titik pemacu gairah, dengan kecupan yang saling membalas sensual serta lidah yang bertaut. Tak hanya sampai di situ, secara tiba-tiba Jefri membalikkan tubuhku, membuatku terlentang dan semakin melahapku.
Menyingkap pakaian tidurku dan menikmati sebua bagian tubuhku. Aku yang menggodanya jadi aku tahu betul kemana arah semua gerakkan ini. Tapi aku menikmatinya.
Satu per satu dia menanggalkan pakaianku. Aku menurut saja sebab itu juga adalah keinginanku. Suatu kehamilan bukan menjadi halangan lagi bagiku saat mengetahui fakta-faktanya. Apa lagi jika semuanya dilakukan dengan kelembutan dan penuh rasa cinta.
Semua seakan sirna, aku melupakan masalahku sejenak saat tubuh kami bersatu, saling menikmati permainan dan saling melenguh puas, hingga akhirnya semua selesai. Jefri jatuh terkapar di sampingku. Napas kami saling menggebu seakan kekurangan oksigen, dengan dada bergerak naik dan turun.
Keringat bercucuran deras di dahi dan punggungku yang menempel di atas bed cover. Begitu pula dengannya, seluruh tubuhnya penuh dengan keringat. Membuat aroma cinta semerbak menyatu dengan wangi parfum ruangan.
Sama-sama mencoba menenangkan detak jantung kami, membuat kembali normal seperti sedia kala. Dengan menghela napas sesering mungkin.
Jefri berbalik memelukku, tangannya menarik ujung bed cover yang tidak kurebahi lalu menutupkannya pada tubuhku. Sedangkan dia kembali memejamkan matanya lagi. Melihat dirinya yang seperti itu, spontan membuatku berdecih. "Mmm ... sayang! Jangan bobok lagi. Ayo siap-siap."
"Mmh ... bentar deh, kan aku yang genjot, masih ngos-ngosan," ucapnya menyahuti sambil membenamkan wajahnya di ceruk leherku.
Tangannya masih saja bergerilya di kedua titik syaraf pemicu libidoku. Diam dan pasrah. Bukan, bukan pasrah tapi lebih menikmati yang benar.
Entahlah semenjak tahu bahwa hubungan suami-istri tidak mengancam keselamatan sang cabang bayi, aku seakan lebih rileks dan nyaman. Bahkan terkadang aku selalu memintanya.
Dan Jefri selalu melakukannya dengan perlahan dan hati-hati, tapi tetap dapat memuaskanku dan dirinya sendiri.
"Ayo kita mandi," ajaknya yang mengangkatku dengan kedua tangannya setelah mengecup pelan keningku.
***
Suasana pagi ini di bandara tidak terlihat begitu lenggang. Apa lagi saat ini masih pukul tiga lebih seperempat menit. Masih terlalu pagi untuk beranjak dari kasur, namun tidak bagi kami dan bagi penumpang lainnya serta bagi orang-orang yang bekerja di bandara. Apa lagi di kotaku ini, bandaranya merupakan salah satu bandara teraktif dalam dua puluh empat jam. Selalu saja ada pesawat yang datang dan pergi.
Jerry, mama dan papa mengantarkan kami ke bandara pagi ini. Papa mertuaku bersikeras ingin ikut ke bandara, katanya bosan selalu di rumah selama masa pemulihan ini. Kami menyetujuinya, lagi pula hanya sebentar.
Sesaat setelah berada di depan pintu check-in tiket, Jefri langsung masuk ke dalam untuk melakukan proses lapor tiket, sedangkan aku menunggu di luar bersama yang lainnya.
Kemudian tak berapa lama, mamahku datang dengan ditemani oleh Haikal. Sudah cukup lama aku tidak bertemu dengan mamah. Terakhir saat menjenguk Lisa di rumah sakit. Kemudian mamah juga memberitahukanku bahwa Haikal sudah memiliki seorang calon istri dan sudah siap untuk menikah.
Kami terkejut bahagia mendengar berita itu. Semua seakan tidak menyangka bahwa Haikal akan segera menikmati masa-masa menikah.
"I'm happy for you, Dude!" Aku memeluknya. Dia balas memelukku erat.
Aku tidak menyangka jika akhirnya dia akan segera dimiliki oleh orang lain, oleh wanita lain. Akan tetapi aku tidak boleh egois, dia berhak untuk bahagia dan berhak untuk mencintai dan merasakan dicintai oleh wanitanya.
"Siapa wanita beruntung itu?" bisikku saat berpelukan padanya, lalu sesaat sebelum dia melepaskan pelukkan dia langsung menjawabnya.
"Siapa lagi kalau bukan Clara," jawabnya tegas lalu mengedipkan sebelah matanya padaku.
Bersambung ...
__ADS_1