
Jefri POV.
Sesaat setelah Tika pergi mengantarkan Mamahnya dan Nita serta Jordy pulang, aku memutuskan untuk mengambil kotak rokokku. Menarik sebatang dari bungkusnya lalu menyulutnya.
Ya, seperti biasanya, diseluruh peraturan rumah sakit pasti dilarang untuk merokok di sekitar areanya. Oleh sebab itu aku memutuskan untuk merokok di area parkir outdoor rumah sakit.
Duduk di pinggiran trotoar pembatas barisan parkiran, menghisap rokokku kemudian menghembuskannya. Pikiranku sungguh kacau. Permintaan Mama saat kami makan bersama tadi, sungguh membuatku memikirkannya berulang kali.
FLASHBACK ON
"Mama tau sejak dulu kamu tidak ingin berdiri dibalik bayang-bayang Papa mu. Kamu selalu ingin mandiri. Bahkan saat kuliah pun, kamu selalu menolak kalau Papa mengirimi uang ke rekening kamu. Tapi sekarang kondisinya berbeda, Dul," tegas Mama angkat bicara saay makan malam kami telah usai.
"Ma, aku gak bisa ninggalin kerjaan aku begitu aja," sahutku dengan penuh penekanan namun masih dengan nada yang sopan.
"Tapi ini Papa kamu sendiri yang minta. Setidaknya sampai Papa kamu sembuh, Dul," Mama memelas.
"Trus begitu Papa sembuh, Mama pikir bakal mudah buat aku balik lagi ke kerjaan aku sekarang? Yang Mama minta itu, aku resign loh, bukan izin, Ma!"
FLASHBACK OFF
Aku kembali menghembuskan asap rokok yang semula ku hirup. Permintaan Mama kali ini sungguh membuatku berpikir berulang kali. Bahkan membuatku bimbang. Ku ambil batang rokokku yang kedua, ku sulut kembali.
------------------------------
Jerry POV.
Aku duduk berdua dengan Mama. Sebelumnya aku memang sulit untuk mencari waktu santai seperti ini, walaupun dalam kondisi seperti ini.
"Mama sudah ngomong sama Dul?" tanyaku pelan sambil menatap Mama.
Mama membalas tatapanku, "Sudah. Kakakmu itu orang yang keras kepala. Bukan hal baru buat Mama menghadapi pola pikirnya itu."
"Kasih dia waktu, Ma. Aku yakin dengan kondisi Papa yang begini, dia pasti mikir ulang."
"Ya, Mama pikir juga gitu. Mungkin Mama harus minta tolong sama Tika, dia pasti bisa bikin Dul berubah pikiran."
"Papa tadi siang ada ngomong apa sama Mama?" tanyaku lagi.
"Papa minta Dul gantiin sementara di perusahaan. Saingan Papa terlalu kuat," jelas Mama dengan pandangan lurus ke depan.
"Kenapa Mama gak minta tolong Pak Hardi? Kan dia asisten Papa."
"Waktu pertama kali Mama sampai disini. Pak Hardi sempat dikasih mandat sama Papa diperjalanan. Katanya Pak Hardi gak boleh membocorkan apapun tentang project ini, walau dengan Mama sekalipun," lirih Mama yang kemudian menoleh padaku, "Pak Hardi memilih diam. Entah apa yang disembunyikan Papamu."
Aku menghembuskan nafas kasar.
"Semoga aja Papa kamu cepet sehat, paling enggak cepet keluar dari sini. Biar Mama rawat di rumah." Mama menambahi.
Tak selang beberapa lama kemudian, Dul datang. Duduk di samping Mama. Menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Kepalanya pun ikut disandarkannya pada dinding tembok di belakang kursi panjang yang kami duduki.
Aku sangat mengenal Kakakku ini. Dia memang orang yang sangat keras kepala. Dari dulu dia memang paling anti untuk mengurusi perusahaan Papa. Walaupun sebenarnya dia tau, suatu saat perusahaan itu memang harus dia yang memegang. Namun dia selalu mengelak. Memaksa ku yang harus memegang perusahaan menggantikan posisinya.
Aku tahu itu akan sulit. Oleh karena itu aku memilih untuk menjauh dari masalah keluarga ini. Menikahi Nita, wanita yang kucintai. Bekerja di perusahaan lain yang akhirnya mengantarkanku dijabatan yang lumayan tinggi. Sehingga Dul atau pun Papa tidak akan lagi memaksaku untuk ikut dalam perusahaan itu.
"Mama mau masuk dulu, siapa tau Papa kalian lagi bangun," ucap Mama sambil berdiri bangkit dan masuk ke dalam ruangan ICCU.
Ku lihat Dul masih duduk dengan posisi sama seperti tadi. Matanya terpejam. Aku tahu ia sedang kalut. Bimbang dengan segala macam pilihan di depan matanya.
Aku tidak berani untuk mengajaknya berbicara. Ku senderkan pula punggungku pada sandaran kursi. Ku hirup nafasku dalam-dalam kemudian ku hembuskan.
------------------------------
Tika POV.
Sesampainya di rumah Nita,
"Aku langsung ya? Nganter Mamah lagi soalnya," ucapku saat Nita membuka pintu mobil.
Ku turunkan kaca jendela mobil agar dapat berinteraksi dengannya. Jordy sudah terlelap dalam dekapan Nita. Dengan perlahan ia keluar lalu menutup kembali pintu mobil.
__ADS_1
"Hati-hati ya? Kamu balik lagi ke rumah sakit?" lirihnya.
"Iya, habis nganter Mamah, aku pulang bentar buat ganti baju."
"Ya udah hati-hati, kalau ada apa-apa kabarin aja."
Aku mengangguk dan melambaikan tanganku.
"Kami pulang ya, Nita?" pamit Mamah.
"Iya, Tante, hati-hati." Nita langsung membawa Jordy masuk ke dalam rumah.
Lalu ku tutup kembali kaca jendela mobilku. Dan ku injak kembali pedal gas menuju ke rumah Mamah. Disepanjang perjalanan Mamah hanya diam. Sesekali aku menoleh, tetap sama. Pandangan Mamah menghambur keluar jendela depan mobil.
"Mah?" panggilku.
Mamah tak bergeming, pandangannya masih saja lurus, namun seakan kosong. Mamah pasti melamun, batinku.
Ku sentuh lengan Mamah perlahan, kemudian fokusku kembali pada setir mobil. Sekilas ku lihat Mamah terkejut akan sentuhan tanganku. Kemudian menoleh padaku.
"Kenapa?" tanya Mamah pelan.
"Mamah ngelamunin apa?" sahutku yang sesekali menatap Mamah kilas kemudian kembali fokus pada setir mobil.
"Mamah jadi inget Papah kamu dulu. Mama mertua kamu sekarang pasti pikirannya kalut banget. Mamah udah pernah rasain itu semua." jelas Mamah.
"Jadi itu yang bikin Mamah dari tadi diem aja?"
Mamah menatapku, sesekali ku balas tatapannya.
"Kamu habis antar Mamah pulang, langsung hubungin kakak kamu yaa, dari tadi dia ngechat Mamah mulu."
"Max?" tanyaku.
"Iya, Max. Dia nanyain kamu, nanyain Jefri sampe nanyain kondisi Papanya Jefri juga."
Kemudian kami sampai masuk ke dalam halaman rumah Mamah. Perlahan Mamah turun dari mobil. Ku buka kaca jedelaku, Mamah berjalan menuju sisi kaca jendela terbuka dimana aku duduk.
"Iya, Mamah mau aku kirimin makan?"
"Gak usah, tadi siang Mamah sempet masak kok."
"Ya udah, aku pulang ya?" pamitku.
"Iya, hati-hati dijalan. Kamu jangan sampe lupa perhatiin jam makan mereka semua ya?" pesan Mamah.
Aku mengangguk pasti, memantapkan jawabanku.
"Pulang ya, Mah. Bye."
Mamah mengangkat tangan kanannya, melamabai padaku. Segera ku injak kembali pedal gas mobil ini menuju rumahku. Memgambil beberapa lembar pakaian untuk aku dan Jefri. Sekalian aku ingin mandi, membersihkan tubuhku yang sejak siang belum mandi.
Sesampainya dirumahku, aku segera bergegas melakukan semua aktivitas yang ingin aku lakukan. Sampai akhirnya aku teringat pesan Mamah untuk menghubungi Max. Setelah selesai mandi dan menyiapkan beberapa lembar pakaian ku juga pakaian Jefri, aku mengambil ponselku. Kemudian menghubungi Max.
Tuuut..
Tuuut..
Klik..
"Hallo?" sapa Max di seberang sana.
"Dimana?" tanyaku tanpa basa basi.
"Datengin ke rumah Haikal, aku di sini sekarang. Kamu sendirian kan?"
"Iya, 10 menit aku sampe."
"Ok." Kemudian Max mematikan sambungan teleponnya.
__ADS_1
Aku semakin penasaran, apa sebenarnya yang ingin Max katakan?
Mengapa Max tidak mau mengatakannya jika aku berada di dekat Jefri?
Apa semua ini ada hubungannya dengan Jefri?
Aku semakin bergegas membereskan seleruh keperluanku dan Jefri di esok hari. Entah kami akan berangkat kerja besok atau tidak, yang jelas semuanya perlu aku bawa. Ku masukkan semua keperluan itu dalam sebuah tas kain tipis. Lalu segera aku raih ponsel dan tas ku kembali, berjalan tergesa menuruni tangga kamar lalu mengunci pintu rumah.
Ku letakkan tas kain tadi di jok belakang. Kemudian aku kembali fokus pada setir mobil lalu ku hidupkan mesinnya, ku injak laju pedal gas mobil, menancap gas menuju rumah Haikal.
Berkali-kali fokusku pada setir mobil teralihkan oleh pikiranku sendiri. Entahlah, aku seakan merasa ada yang tidak beres yang kemungkinan akan terjadi.
Sekilas aku teringat akan Jefri. Ya, aku harus menghubunginya, mengatakan jika aku sedikit terlambat kembali kesana, jika tidak dia pasti akan khawatir. Batinku.
Sebelah tanganku kembali mencoba meraih ponselku, yang ku letakkan di jok sebelahku tadi saat aku memasuki mobil tadi. Ku parkirkan mobil ini di halaman samping rumah Haikal. Ya, aku sudah sampai.
Ku lihat kedua mobil kakakku terparkir rapi didepanku. Aku kembali fokus pada ponselku, menghubungi Jefri.
Tuuutt..
Tuuutt..
Klik..
"Haloo, sayang?" sapaku.
"Iya?" sahutnya terdengar lesu.
"Aku agak telat ya? Soalnya aku mau mandi dulu."
"Iya, ga papa. Kamu sekalian beli makan gih, aku tadi lupa kalo kamu sama Mamah pasti belom makan."
"Iya, nanti aku beli makan. Kamu mau aku beliin sesuatu?"
"Enggak, nanti gampang aja kok. Didepan sini ada minimart duapuluhempat jam."
"Oh ya udah kalo gitu."
"Iya, kamu santai aja ya nyetirnya, jangan tergesa-gesa."
"Iya, sayang. Udah ya? Muuacch."
"Muaacch."
Ku putuskan sambungan telepon kami, ku raih tasku kemudian keluar dari mobil. Berjalan cepat menuju pintu depan rumah Haikal. Ku tekan bel berulang kali, sampai akhirnya Haikal muncul membukakan pintu dan menyuruhku masuk.
Ku lihat kosong, dalam rumah Haikal tak ada tanda bahwa keberadaan Max ada.
"Disamping," ucap Haikal yang kemudian membuka kulkasnya, mengambil beberapa minuman dingin lalu menggiringku untuk pergi ke teras samping.
Max menyambut kedatanganku dengan wajahnya yang serius dan sebelah jarinya sedang asik memegangi sebatang rokok yang masih menyala dan berasap mengepul.
Ku tarik sebuah kursi di hadapan Max. Sudah lama aku tidak melihat tingkah Max yang seperti ini. Tingkahnya dan sikapnya yang terlihat bossy dimataku sekarang. Entah apa yang akan di katakannya.
Haikal meletakkan beberapa botol minuman dingin di atas meja dihadapanku yang menjadi membatas jarak dudukku dengan Max. Kemudian ia meraih sebuah botol, membukanya, meminumnya sambil berjalan mengarah pinggiran pagar beranda, menyender.
"Jefri tau kalo kamu pergi kesini?" tanya Max memecah suasana.
Aku hanya menggelengkan kepala. Kondisi ini sangat membuatku bingung. Ada apa sebenarnya yang terjadi. Mengapa suasana ini sangat mencekam untukku?
-----------------------
Guys kalian bisa dong kasih poin kalian buat dukung cerita ini?
Jika poin di novel mencapai 10k setiap hari nya, maka akan ku suguhkan per bab kembali seperti sedia kala.
Jika sanggup untuk 50k poin setiap hari akan ku berikan double bab setiap hari.
Bagaimana? Deal?
__ADS_1
Jika tidak juga tidak apa, mungkin aku tidak akan bersemangat untuk update 😒