
Selamat membaca ...
——————————
Clara POV.
Dua minggu lagi acara perhelatan aku dan Haikal akan digelar. Semua persiapan telah rampung kami selesaikan kemarin. Undangan yang tercetak pun sudah selesai kami bagikan sendiri. Semua nama yang ada di dalam daftar sudah menerima langsung undangan itu.
Kami memang melakukan semuanya serba berdua, terkadang masih dibantu dengan masing-masing keluarga. Tapi untuk urusan undangan, kami memang sepakat akan mengantar sendiri. Karena kami ingin yang menerima undangan tersebut, benar-benar bisa berhadir dalam acara itu.
Acara sekali seumur hidup, semoga.
Memang semua yang berhubungan dengan acara itu sudah selesai kami persiapkan. Namun, kami masih saja sibuk dengan aktivitas di kantor masing-masing.
Haikal belum bisa mengajukan izin pada rumah sakit, walaupun dia sendiri yang memimpin rumah jalannya rumah sakit itu. Tetapi dia tidak ingin izin di saat masih banyak keluarga lain yang membutuhkan pertolongannya, hingga dia akhirnya harus kembali bekerja di ruang UGD.
Dari pertama kenal, aku memang sudah tahu jika dia orang yang begitu sensitif. Apalagi untuk urusan keselamatan. Dan Haikal memang memiliki rasa tanggung jawab yang begitu besar pada rumah sakit itu, bahkan pada rekan kerjanya.
Belum lagi saat aku mendengar cerita dari mamahnya sendiri. Tentang Haikal yang sering menginap di rumah sakit walaupun sudah memiliki rumah sendiri, yang jaraknya sangat dekat dengan tempatnya bekerja. Padahal niatnya memiliki rumah itu agar bisa pulang dan beristirahat dengan cepat.
Begitu pula saat sudah bersamaku, dia masih sama. Masih sering tidur di ruang kerjanya dan juga masih memiliki rasa tanggung jawabnya di sana. Hanya saja aku merasa dia selalu ada untukku. Bahkan di saat jam-jam sibuk, hingga aku terkadang merasa bersalah karena membuatnya sedikit berubah.
“Akhir-akhir ini aku jarang denger kamu punya jadwal operasi.” Aku membuka suara saat kami sama-sama sedang istirahat makan siang di ruangan kerja masing-masing.
Kali ini kami melakukan video call di saat jam istirahat. Sebab pekerjaanku sangat banyak di kantor dan aku lebih sering membawa bekal sendiri untuk makan siangku. Hasil belajar memasak melalui internet yang aku coba di rumah.
“Oh itu. Aku memang gak ambil jadwal operasi lagi. Soalnya udah ada yang gantiin aku untuk urusan operasi.” Haikal menjelaskan sambil matanya yang masih ke sana kemari pada layar komputernya.
Tok tok tok!
Aku mendengar suara pintunya diketuk. Kemudian dia meminta izinku untuk menerima tamu tanpa mematikan sambungan video call kami. Aku mengizinkannya.
“Masuk!”
“Permisi, Dok. Ini ada kiriman untuk Anda.”
Wajahnya terlihat bingung menerima sesuatu di seberang sana, aku dapat melihatnya dengan jelas.
“*Makasih ya.”
“Permisi, Dok*,” ucap seseorang di sana yang tidak dapat terlihat dalam kamera, mungkin salah satu karyawannya.
“Sayang, kamu ngirimin ini?” Haikal menunjukkan sebuah wadah makan berwarna merah hati yang ada sebuah kartu ucapan dengan namaju di sana, dan itu memang sengaja aku kirimkan kepadanya.
Aku tersenyum malu melihatnya yang kegirangan menunjukkan kotak makan itu. Ya, aku mengiriminya hasil masakan tanganku. Sama persis dengan makanan yang sekarang sedang aku nikmati ini.
“Kamu kok gak bilang, kalau mau kirimin aku makanan? Hm?” Dia terlihat senang sambil membuka kotak makan itu dan dengan sebuah sendok plastik yang sudah berada dalam genggamannya.
“Nanti kalo aku bilang, kamu malah ngatain masakan aku,” rengekku manja.
“Enggaklah, mana mungkin. Aku cobain ya?” Haikal menyuap sesendok nasi goreng itu ke dalam mulutnya, “wiih enak ini, bumbunya berasa. Jangan bilang kalo kamu pake bumbu instan serbaguna itu?”
__ADS_1
Aku tertawa terbahak-bahak hingga hampir tersedak. “Masa sampai seenak itu sih?” tanyaku setelah meminum seteguk air putih.
“Serius, ini enak!” serunya kegirangan lagi.
“Suka?”
“Lebih suka lagi kalo orang yang masak ini ada di sini sekarang.” Haikal mulai menggombal. Namun anehnya, aku tersipu mendengar gombalannya itu. Padahal hanya sebuah kalimat yang sangat receh. Sangat sederhana.
“Aku serius. Lebih suka lagi kalo makannya disuapin,” tambahnya lagi.
Aku semakin tersipu dibuatnya sampai aku menggelengkan kepalaku pelan. Dia sangat bersemangat jika sudah mulai menjahiliku. “Kalau sudah tinggal serumah, jangankan buat nyuapin kamu, buat ciumin kamu setiao saat dan kapan pun juga aku kasih,” jawabku asal.
“Bener ya? Kamu kalau jauh aja berani ngomong gitu, kalau deketan mana pernah kamu bahas yang begitu~” Lagi-lagi Haikal menggodaku.
Setelah makin hari rasanya aku semakin merindukannya, apalagi jika sedang terpisah jarak seperti ini. Lantas apa jadinya, jika nanti aku mulai dipingit oleh ayah?
Rencananya ayah memang ingin memingitku. Kata ayah untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Karena hari menuju pernikahan itu sangat rentan dengan masalah. Bahkan kekeliruan sebutir nasi saja bisa meledak dan menjadi masalah yang sangat besar.
Tradisi pingit sendiri biasanya dilakukan jika pernikahan menggunakan adat Jawa. Namun, seiring berkembang dan masuknya dunia modern hingga akhirnya tradisi ini sendiri mulai terkikis. Namun bagi ayah, tradisi ini sangatlah penting, sebab kegiatan pingitan ini akan membuat rasa rindu benar-benar terasa diuji dan meledak saat kembali bertemu di malam pengantin.
Entah aku akan bertahan atau tidak saat dipingit nanti. Hanya saja aku menawar kesepakatan dengan ayah, jika proses pingitan itu hanya akan dilaksanakan selama tiga hari saja, menjelang hari puncak. Dan untungnya ayah menyetujui semua itu.
***
Sehari lagi berhasil aku lewati. Pagi ini rencananya Haikal akan datang menjemputku untuk mengantarkan aku bekerja. Sebab ayah akan melakukan perjalanan dinasnya selama dua hari keluar kota. Hingga pagi ini ayah tidak bisa mengantarkanku ke kantor.
Dan FYI, sejak bunda meninggal, aku tidak pernah lagi menggunakan motor sekuterku untuk pergi ke kantor. Bahkan untuk jalan-jalan juga tidak lagi. Motor itu kini telah berselimut di dalam garasi mobil ayah. Dan aku juga tidak pernah lagi menyentuhnya.
🎶
Monday
Took her for a drink on Tuesday
We were making love by Wednesday
And on Thursday and Friday and Saturday
We chilled on Sunday
I met this girl on Monday
Took her for a drink on Tuesday
We were making love by Wednesday
And on Thursday and Friday and Saturday
We chilled on Sunday
🎶
__ADS_1
Suara ponselku dengan nyaring berdering melantunkan lagu khas dari Craig David di saat aku sedang mencuci piring, bekas sarapanku bersama dengan ayah.
“Claraa ... hape kamu bunyi itu!” seru ayah dari ruang televisi.
“Biarin dulu, Yah. Hape-nya di kamar. Cucianku belum selesai, tinggal dikit lagi,” sahutku dari dapur.
“Paling-paling juga Haikal yang telepon,” gumamku dengan tangan yang masih menggosok sebuah piring.
Setelah selesai melakukan tugas itu, aku mengambil gelas dan menekan tombol air pada dispenser untuk minum. Lalu terdengar suara langkah kaki ayah yang mengenakan sendal semakin mendekat padaku.
Begitu aku membalikkan tubuh, benar saja, ayah sudah berada di samping meja makan, lengkap dengan sebuah tas yang ada di atas meja makan dan beberapa dokumen yang ada dalam tangannya.
“Kamu beneran gak apa-apa ayah tinggal sendirian di rumah? Apa perlu panggilin Debby? Sepupu kamu yang lagi kuliah di sini?” tanya ayah memastikan. Beliau menandangiku dengan begitu khawatir.
“Gak apa-apa, Yah. Aku sudah gede. Lagian kasian Debby kalau besok mesti turun kuliah dari sini. 'Kan jauh dari kampusnya.”
Kaki ini mulai melangkah mendekati ayah. “Jangan khawatir ... Ayah selesaikan tugas ini dengan sempurna. Pokoknya begitu pulang nanti, aku bakalan masakin makanan yang spesial buat Ayah. Menu yang baru selain nasi goreng sama omelet.” Aku mengedipkan sebelah mataku padanya.
Ayah tersenyum lalu mengecup kepalaku. “Iya, ayah tunggu itu. Dan semoga aja gak keasinan sama gak gosong kayak yang sudah-sudah!”
“Idih, Ayah! Matahin semangat anaknya aja deh!”
Kemudian gelak tawa ayah kembali meledak begitu saja sembari aku yang ikut terkekeh mengingat kecerobohanku beberapa waktu lalu saat memasak. Menyebabkan daging yang gosong dan menimbulkan kepulan asap dari oven yang memenuhi langit-langit dapur.
Tiit tiit tiit!
Suara alarm sebuah mobil terdengar jelas di luar rumah. Aku dan ayah segera menghentikan gelak tawa kamu dan melangkah menuju pintu depan. Begitu membukanya, mataku melihat Haikal yang sedang melangkah menuju ke arahku.
“Pagi Ayah! Pagi Cantik!” serunya sambil memberikan setangkai bunga mawar merah padaku.
“Pagi, Nak! Kenapa mawarnya cuma setangkai? Wah, ini ... kamu harus belajar lebih giat lagi biar terlihat romantis,” celetuk ayah yang memiliki pemikiran sama denganku. Aku juga heran, mengapa mawarnya hanya setangkai? Bukan sebuket besar seperti lelaki gombal di luaran sana.
Haikal hanya tersenyum tipis lalu berkata, “Hari ini sengaja setangkai aja, Yah. Tapi bisa aku pastikan untuk menambah jumlah tangkainya di setiap hari kebersamaan kami. Agar aku bisa mengingat, sejak kapan aku mulai memiliki hatinya,” jelas Haikal dengan lantang dan tanpa malu mengatakannya pada ayahku.
Aku tersipu dan menutupi sebagian wajahku yang mungkin sudah memerah seketika. Dan dengan kekehan ayah di sampingku.
“Menantu idaman!” ucap ayah semakin membuatku malu.
Bersambung ...
——————————
Hayo jangan senyam-senyum bacanya 🙈
Auto meleleh kalo ada cowok begini mah, kalo Haikal punya aku, auto aku kurung dalam kamar, biar gombalnya sama aku aja, jangan sama yang lain 🤭
Jangan lupa juga buat vote 😂
#salambucin
Babay ...
__ADS_1
@bossytika 💋