Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
Eps 9


__ADS_3

Still Jefri POV.


Tika hanya berbaring di satu sisi ranjang, melamun. Aku merapatkan pintu kamar setelah kembali dari dapur untuk membawakannya segelas air putih.


Dari jauh matanya yang sembab sangat begitu jelas terlihat. Dia masih cecegukkan. Ku letakkan gelas air itu di meja samping ranjang tepat didepan nya. Dia masih asik dengan lamunannya.


Ku sentuh tangannya yang sedang memeluk guling. Dia terpekik kaget lalu menepis tanganku.


"Maaf aku nyakitin kamu."


Tika menutup matanya saat aku melontarkan kalimat itu. Aku yang duduk di pinggiran ranjang menjadi sangat bersalah padanya. Benar kata Papa, hanya karena aku berbelit-belit menjawab pertanyaannya, dia sampai sesedih ini, batinku.


Ku sentuh sisi keningnya, tiba-tiba ku lihat ujung matanya kembali meneteskan airmata. Aku tidak sanggup melihatnya kembali menangis. Dengan sigap aku naik ke ranjang dan memeluknya dari belakang.


"Aku sayangnya sama kamu. Kamu istri aku. Cuman kamu satu-satu nya hal terpenting buat aku." lirihku tepat diatas kepalanya.


Ku kecup puncak kepalanya, lama. Ku eratkan pelukanku.


"Kamu boleh ragu sama omongan aku, tapi aku mohon suatu saat jangan pernah kamu percaya sama omongan orang lain diluaran sana tentang aku." lirihku lagi.


Tika membalikkan badannya, pipi nya basah, matanya masih saja meluncurkan beberapa aliran airmata. Kami saling bertatapan. Dia menarik nafasnya.


"Kamu masih sayang sama Paula?" lirihnya.


"Enggak! Aku sayangnya sama kamu, aku cintanya sama kamu."


"Sama Paul?"


"Aku kasihan."


"Why?"


"Dari lahir dia ga pernah liat ayahnya, dia ga tau yang mana ayahnya." jelasku.


Tika memelukku erat, membenamkan wajahnya didadaku. Aku mencium keningnya.


"Aku belajar terbuka sama kamu. Dan aku harap kamu juga mau belajar terbuka sama aku. Aku ga tau apa isi hati dan pikiran kamu kalo kamu ga ngomong ke aku. Mau kan?" kembali ku kecuo keningnya.


Dia mengangguk pelan. Lalu kami larut dalam pelukan itu sampai tertidur berdua.


---------------------


Hari-hari berlalu aku dan Tika masih tinggal dirumah Mama Papa ku. Setiap hari Tika memasak membantu Mama untuk menyiapkan sarapan. Bahkan terkadang saat aku bangun dia hanya meninggalkan secarik kertas diatas bantalnya, mengatakan jika dia pergi ke pasar bersama Mama. Atau terkadang siang hari dia pergi jalan-jalan ke mall bersama Mama dan Jordy.


Seperti hari ini, aku kesiangan bangun karena tadi malam habis menonton film berdua dengannya dikamar.


"Aku pergi dengan Mama, membawa Jordy berenang trus nemenin Mama ke rumah Cleo. Makanan udah aku siapin di dalam lemari kaca, tinggal di masukkin oven bentar sebelum makan. Oke? ❤️"


Begitu kalimat yang ada disecarik kertas diatas bantal tidurnya ditindih dengan ponselku. Aku tersenyum membacanya. Kulihat sekarang sudah jam 11 siang. Aku segera bangun dan mandi.


Saat makan, aku menekan layar ponselku mencari nomer Alex di contact lalu menelponnya.


Tuutt..


Tuutt..


"Hallo?"


"Hallo Lex lu dimana?" tanyaku


"Gua lg di jalan ini, mau ke rumah Lisa. Lu apa kabar? Gimana honeymoon nya? Cieeee.. Pasti sukses nih. Lu bikin Tika sampe gak bisa jalan?"


"Apaan sih lu, gua udah seminggu balik dari pulau."


"Loh, mestinya kan lu baru balik kemaren? Kok udah seminggu balik? Kenapa?"


"Tika kemaren sempet sakit, jadi pulang lebih cepet buat bawa dia check-up." jelasku.


"Astaga, trus trus dia ga papa? Paling juga mual mual muntah kan ya? Tandanya isi tuh.."


Aku menghembuskan nafas kasar. Gimana mau mual-mual isi kalo sampe hari ini aja gua belum nanem benih gua, batinku.


"Ga papa kok, cuman infeksi saluran pencernaan ternyata. Lu mau ngapain ke rumah Lisa?" tanyaku lagi.


"Siang ini gua sama Lisa mau ke Garuda Airlines, mau beli tiket buat ke Inggris. Tantenya minggu depan ada di Inggris. Mau ngelamar ke Tantenya sekalian ketemu keluarganya."


"Oh, sukses deh! Oh iya, lu bisa bantuin gua sekalian gak? Ambilin hasil tes DNA Pablo, trus lu anterin ke Pablo nya, bisa gak?"


"Kenapa gak elu sendiri aja sih?" tolak Alex.


"Ya gak papa, gua cuman lagi males aja kesana. Mau gak?"


"Iya iya, ntar gua sama Lisa deh ya? Ga papa kan?"


"It's oke, no problem. Ntar lu kasihin ke dia yang fotocopy nya aja, yang asli lu simpen dulu. Trus nitip pesen ke dia, lu kasih nomer telepon gua. Suruh dia ngehubungin gua."


"Ok deh. Lu bikin calon anak aja sana yang banyak, biar kedua keluarga kalian bahagia. Hahahaha."


"Iya iya, bawel lu. Ya udah klo gitu, thanks."


Ku putuskan sambungan telepon itu. Sambil melanjutkan makan, aku menekan lagi nomer telepon istriku.


Tuutt..


Tuutt..


"Iya sayang..." sahutnya lembut.


Aku tersipu, "Kamu dimanaaaaa?" ucapku dengan suara manja.


"Dijalan ini, udah mau pulang. Barusan keluar dari kompleknya Cleo. Kamu baru bangun?"


"Enggak udah lumayan lama, ini lagi makan masakan kamu. Jordy mana? Kok sepi ga ada suara nya?" tanyaku heran.


Biasanya Jordy kalo di mobil itu pasti cerewet, tanya ini tanya itu, pokoknya apapun yang di lihatnya pasti ditanyakan.


"Ada, ketiduran itu di carseat nya." sahut Mama.


"Loh ini loudspeaker ya?" aku kaget.


Tika tertawa, "Iya lah di loudspeaker, aku nyetir gimana?"


"Bangun bangun udah manja. Kayak ga bisa gitu Mama pinjem istrinya bentar." sewot Mama.


Kini aku yang tertawa, malu. "Bukan gitu Ma, cuman semenjak disini, Mama main monopoli istri aku mulu. Bangun bangun aku jadi gak bisa ngeliat muka dia."


Mama dan Tika terdengar tertawa diseberang sana.


"Udah ya, ntar aku ga fokus nyetir ini gara-gara suara kamu." protes Tika.

__ADS_1


"Iya iya, langsung pulang ya, jangan mau kalo Mama nyuruh mampir kesana sini lagi. Aku udah kangen. Oke?"


"Iya ah bawel!"


"Hati-hati ga usah ngebut. Muuuuaaacchhh!" godaku tanpa malu.


"Iya daahh..."


"Eh eh, mana cium nya?"


"Malu kali disini ada Mama."


Ku dengar Mama cekikikan, "Bentar doang, kan cuman suara.." pintaku lagi.


"Aduh aduh anak Mama manja banget ternyata, untung Tika tahan yaa.." sahut Mama lagi.


"Mama udah deh.. Cepetan sayang, mana ciumnya buat aku?" protesku.


"Iya iya muach, udah kan? Daahhh."


"Yang lama dong.." protesku lagi.


"Ya ampun, aku jadi beneran ga fokus nyetir ini!" sewotnya.


"Makanya cepetaann.."


"Muaaaacch, done?" teriaknya.


"Iya done! See you."


Ku putuskan sambungan telepon sambil tertawa puas. Lalu aku kembali melanjutkan makan ku sampai selesai.


Tak sampai 30 menit mereka sampai di rumah. Aku sedang menonton televisi di ruangan tengah, menyambut mereka dengan senyuman lebar. Tika terlihat menggendong Jordy yang masih tertidur lelap.


"Rebahin di kamar Mama aja." titah Mama pada Tika.


Tika langsung membawa Jordy ke kamar Mama.


"Bulan depan Cleo lamaran loh." Mama duduk disampingku.


"Oh ya? Sama pacarnya yang sering dibawanya itu?" tanyaku.


"Iya, sama siapa lagi."


"Syukur deh kalo gitu." aku melanjutkan menonton tipi.


Mama menepuk pelan pahaku, "Tika sehat-sehat aja kan?"


Aku menatap Mama heran, "Iya sehat kok, kenapa sih?"


Aku yang tadinya setengah duduk selonjoran di sofa jadi benar-benar duduk, membetulkan tubuhku.


"Tika belum isi ya?" lirih Mama pelan.


"Mama apaan sih, ga secepet itu juga kali Mah." sewotku.


"Tapi kalian nyoba teruskan?"


"Ma!" seruku.


"Ada apaan sih? Kok teriak gitu ke Mama?" tanya Tika tiba-tiba yang langsung beringsut menyandarkan tubuhnya ke dadaku.


"Ga boleh loh.." tambahnya lagi sambil mencubit ujung hidungku, aku menepis pelan.


"Ma, habis ini aku mau jalan sama Tika, mau liatin rumah. Dari kemaren-kemaren mau kesana gak jadi terus." izinku.


"Iya iya jalan-jalan aja sana, kangen kangenan sana." sahut Mama terus melangkah ke kamarnya.


Sekarang kami tinghal berdua berpelukan diatas sofa ruang tengah sambil bersantai menonton film kesukaan ku.


"Tadi kenapa kamu bentak Mama?" tanyanya sambil mendongakkan wajahnya menatapku.


"Ga papa kok."


"Bohong. Ayo ngaku.."


"Iya iya, Mama ngebahas hal aneh aja."


"Apaaaaaa?" rengeknya manja.


Aku menatapnya, "Cium dulu dong.."


Tika langsung mencium bibirku, lalu dengan refleks tangan ku menekan tengkuknya, agar aku bisa ******* bibirnya sampai puas.


"Kamu yah!" protesnya memukul pelan dadaku saat aku melepaskan lumatanku.


"Aw!" rengekku pura-pura.


"Cepetan, tadi bahas apa sama Mama?" todongnya.


"Mama minta bikinin cucu." lirihku lalu tersenyum dan mengedipkan beberapa kali mataku.


"Kamu bercanda mulu ih!!" dia melepaskan pelukannya pada ku.


"Loh siapa yang bercanda? Beneran kok, aku kan ga pernah ngomongin masalah yang begitu sama Mama. Nah tadi Mama ngomongin itu, makanya aku bentak Mama. Lagian kamu kenapa sih tiap kali kita......"


Belum selesai aku ngomong tiba-tiba Tika berdiri dan pergi ke kamar, meninggalkan aku sendirian. Ku matikan televisi dan segera menyusulnya.


"Kamu kenapa sih?" tanyaku tegas saat memasuki kamar.


Tika duduk di pinggir ranjang. Ku dekati dia lalu duduk disebelah nya.


"Kita harus bahas ini dan aku ga mau kamu menghindar."


Tika hanya diam, lalu menoleh padaku dan segera memelukku, erat. Erat sekali. Lalu ku rasakan tubuhnya bergetar. Aku panik.


"Sayang kamu kenapa?"


Tika menangis, isak tangisnya yang pelan semakin membuatku panik dan bingung. Akhir-akhir ini dia memang seperti labil. Mudah menangis, mudah tersinggung dan sensitif sekali perasaan nya.


"Sssttt, sayang kamu ngomong dong, kenapa kamu kayak gini? Kamu bosen ya? Apa kita kelamaan cuti nikah nya? Hm?"


Tika masih terisak menangis. Aku mengelus pundaknya lembut, "Ayo udah, ngomong dong ngomong. Aku mau tau nih.."


Tika menarik nafasnya, "A-aku belum siap."


"Belum siap apa?" aku mendorong tubuhnya sedikit agar aku bisa menatap wajahnya.


"Hm? Apa yang belum siap?" tanyaku lagi kini sambil menatapnya.

__ADS_1


Dia menggelengkan kepalanya kuat lalu kembali memelukku, menangis. Ku elus lembut rambutnya. Ku biarkan dia menangis sepuasnya. Otak ku masih mencoba mencerna kalimatnya, tapi tetap saja tidak dapat ku mengerti. Ku abaikan dulu kalimatnya itu, hanya untuk menenangkannya.


"Sudah dong, ga papa kalo kamu ngerasa berat buat ngomong sekarang, nanti aja. Kita masih punya banyak waktu, sayang.." ku kecup puncak kepalanya.


Tak berapa lama Tika sudah mulai bisa mengendalikan dirinya kembali. Dia menatapku, aku tersenyum. Ku usap airmata yang membasahi pipinya.


"Udah? Jadi gak kita ngeliatin rumah kita? Hm?"


Tika mengangguk kepalanya.


"Ya udah, aku ganti baju bentar." ku kecup keningnya.


-------------------------


Alex POV.


Begitu aku sampai di rumah Lisa, dia sudah berdiri didepan rumahnya menungguku. Lalu dia berlari kecil masuk ke mobilku.


"Hallo sayang.." sapaku sambil mengecup keningnya.


Dia tersenyum manis padaku, lalu dengan segera ku tancapkan gas mobilku menuju Garuda Airlines.


Selama di perjalanan ku ceritakan tentang permintaan Jefri padanya.


"Berarti habis ini kita ke rumah sakit ngambil hasil tes itu trus ke rumahnya Pablo?" tanyanya.


"Iya, ga papa kan?"


"Ga papa kok, lagian aku penasaran gimana sih rupa nya tu cowo kok bisa sampe di acuhin sama mak lampir itu. Tega banget ngejauhin anak dari bapaknya." sewot Lisa.


Aku terkekeh geli, "Kok kamu yang emosi sih?"


"Ya emosi lah. Kok ada cewek model Paula gitu. Semua cewek tu tujuan hidupnya pingin bahagia, pingin punya keluarga yang utuh. Eh dia malah tega gitu sama anaknya."


"Ya ga tau juga sih gimana cara pikirnya Paula. Tapi ya menurut aku, mungkin dia kepinginnya hidup sama Jefri, tapi dia nya juga gegabah. Bikin anak malah sama mantan, coba klo sama Jefri, kan selesai."


"Kamu belain siapa sih sebenernya?" protesnya.


"Aku ga belain siapa-siapa. Menurut aku ya semua punya salah dan punya bener nya juga."


"Iya sih. Manusia emang kadang ga nyadar aja kalo lagi ****."


Aku tertawa mendengar sahutannya.


"Loh bener kan? Aku sebagai orang luar ya wajar dong bilang ****?"


Aku mengangguk.


"Paula nya **** hamil sama mantan trus balik sama Jefri. Jefri nya **** setelah tau tu anak bukan anak dia malah terus aja ngejalanin hubungan. Pablo nya juga **** ga berani ambil tindakkan. Trus sahabat aku Tika juga **** juga sih, udah tau Jefri track record nya begitu masih mau aja."


"Hust!! Itu sahabat kamu udah nikah sama Jefri. Malah dikatain begitu." sewotku.


"Ya habis, runyam sih urusan nya. Kenapa juga Jefri nya sadar begitu kenal Tika, coba kalo sebelum kenal. Iya kan?"


"Aku juga sadarnya setelah kenal kamu."


"Iya juga sih. Hahahaha."


Setelah selesai urusan tiket kami. Kami berdua langsung mengambil hasil DNA dan mengantarkannya ke rumah Pablo. Untungnya lagi Pablo sedang ada di rumahnya.


"Eh hai. Lu yang dulu itu kan? Temennya Jefri kan ya?" sapanya begitu melihat aku turun dari mobilku didepan halaman rumahnya.


"Iya, gua Alex." ku jabat tangannya, "Ini cewe gua."


"Lisa." saling menjabat tangan, "Pablo."


"Ini hasil tes DNA lu tiga bulan yang lalu." ku sodorkan amplop putih itu padanya, dia menyambutnya.


"Kita duduk di depan sana yuk." ajaknya.


Aku dan Lisa mengikuti langkahnya dari belakang. Dia terlihat gugup saat duduk sambil memandangi amplop putih itu. Lalu membukanya perlahan. Pablo membaca isi secarik kertas didalamnya dengan serius.


Aku dan Lisa saling berpandangan kilas, lalu kembali memeperhatikan raut wajah Pablo. Kami berdua sudah tau isinya, karena saat di perjalanan ke sini kami sempat membaca isi kertas itu.


Disana tertulis jelas hasilnya bahwa Pablo lah Ayah biologis dari Paul, anak Paula, yang selama ini diurus oleh Jefri secara tidak langsung.


"Serius ini hasilnya?" tanya Pablo menatapku.


Sambil menganggukkan kepalaku, "Iya, itu kenyataannya. Dan Jefri tadi juga sempet pesen ke gua, lu mesti nelpon dia. Ini nomernya." ku berikan lagi secarik kertas bertuliskan nomer telepon Jefri.


"Kalian tau dimana Paul?"


"Terakhir kami denger dia di rumah sakit. Tapi sebelum lu ke sana, mending lu telpon Jefri dulu."


"Iya nanti coba gua telpon Jefri deh. Thanks banget ya kalian udah bantuin. Gua ga tau lagi mesti gimana." ucap Pablo.


"Gimana klo gua yang telponin Jefri, lu yang ngomong, lebih cepet kan lebih baik. Ya?" tawar Lisa.


"Sayang!!" tegurku sambil menatap tajam.


"Ga papa kok, toh Pablo juga setuju, iya kan?" tanya Lisa pada Pablo.


Lisa segera mencari ponselnya dan menghubungi Jefri.


"Hallo Jef, lu dimana?" tanya Lisa.


"Oh ini nih, gua sama Alex lagi ketemu Pablo, dia pingin ngomong nih.." Lisa menyerahkan ponselnya pada Pablo.


Pablo menerimanya lalu berdiri membawa ponsel Lisa agak sedikit menjauh.


"Kamu kenapa sih?" bisikku pada Lisa.


"Ya ga papa dong, biar cepet selesai masalahnya." sahutnya santai.


"Biarin mereka yang nyelesein, kita ga usah ikutan." sewotku lagi.


"Tanpa sadar kita udah ikutan masalah ini. Lagian aku gak mau ya pernikahan sahabat aku dipertaruhkan." sewotnya tak mau kalah.


Aku menyerah. Pablo kembali dan memberikan lagi ponsel itu pada pemiliknya.


"Jefri bilang mau ketemu sekarang di daerah Kemiri." lirih Pablo.


"Ya udah sekalian aja, kami anterin gimana? Kami juga udah lama ga ketemu mereka." tawar Lisa lagi.


"Mereka?" Pablo heran, menatap kami bergantian.


"Jefri udah nikah. Sekitar dua minggu yang lalu." sahutku cepat.


"Iya dan Jefri tadi lagi sama istrinya." tambah Lisa.

__ADS_1


"Oh gitu. Ya udah kalo gitu gua mandi bentar ga papa kalian nungguin? Ato kita ketemu disana aja?" tawar Pablo.


"Ga papa kami tunggu." sahutku akhirnya setelah menatap Lisa kilas.


__ADS_2