
Jefri POV.
Aku merengkuh tubuh Tika di atas tempat tidur mamah mertuaku. Saat ini dia sudah lumayan lebih tenang. Dia semakin tenang setelah dipaksa menengak segelas air putih yang mamah ambilkan untuknya. Aku sudah dalam perjalanan menuju kemari saat mendengar suara Shilla yang berseru dari dalam ponsel.
Ya, aku menyelipkan ponselku pada tas Tika dengan keadaan terhubung pada ponsel papaku yang aku pinjam sebelumnya. Saat Tika memelukku di pusat perbelanjaan. Sebab aku sudah mengira pasti lelaki itu meminta Tika untuk menemuinya seorang diri.
Namun, aku tidak menyangka jika dia akan menggunakan ancaman palsu untuk menggoyahkan Tika. Dan aku tidak bisa melarang Tika untuk melakukan itu, dia teramat mencintai mamahnya dan itu wajar. Oleh karena itu, aku berani melepaskannya untuk bertemu dengan lelaki breng*ek itu. Lagi pula aku yakin dengan rasa cinta kami yang kuat.
Dan semua itu terbukti. Percakapannya dengan Dana yang aku dengar, tidak ada satu pun tanda jika Tika masih memiliki hati untuknya. Bahkan berulang kali Tika menyebutkan bahwa dirinya sudah berkeluarga. Memiliki aku dan juga buah hati kami.
Tetapi lelaki itu terus saja memaksanya hingga membuatnya tidak memiliki pilihan lain. Kesal? Ya, aku memang luar biasa kesalnya, hingga aku meminta seluruh orang sewaanku untuk mengejarnya, mencarinya sampai ketemu dan membawakan tubuhnya hidup-hidup. Karena aku akan menyiksanya sendiri dengan kedua tanganku sebelum akhirnya aku akan membunuhnya.
Persetan dengan semua biaya yang akan aku keluarkan untuk membayar mereka. Aku tidak peduli. Aku hanya ingin hidup tenang dengan Tika dan kedua buah hati kami. Aku ingin membesarkan mereka dengan kebahagiaan, bukan dengan tangisan. Seperti janjiku saat melamar Tika.
Aku benamkan wajaku pada puncak kepala Tika dan mengecupnya. Merengkuhnya dalam pelukanku selama mungkin. Membiarkan dia tenang dan tertidur untuk beristirahat.
Haikal sempat memeriksa denyut nadinya saat ia sudah tertidur dalam pelukanku. Aku benar-benar tidak ingin meninggalkannya walau hanya sedetik untuk saat ini. Kemudian perlahan mereka keluar satu per satu, menyisakan Max yang berjalan menghampiriku.
"Dia terlalu cerdas. Salah satu anak buahnya memang benar ngikutin mamah sama Hans tadi. Trus dia juga bisa masuk ke sistem pertahanan Igo. Mereka yang di kantor sempet di bikin pingsan melalui mesin AC." Max menjelaskan perlahan kejadian tadi pagi di rumah ini dan juga di kantor Igo.
Penjelasan Max itu membuatku sedikit terkejut. Hingga aku berpikiran, apa mungkin dia sudah mengetahui tentang saudaranya? Tapi saat aku mendengar obrolannya dengan Tika, sepertinya tersirat jika ia tidak mengetahui apa pun tentang saudaranya itu.
"Tenang." —Tika membuka matanya lalu berkata,— "dia belum tahu tentang Dave," lirihnya sambil menatap aku dan Max secara bergantian.
"Iya, aku denger dia mau minta bantu saudaranya itu kalau Tika mengambulkan permintaannya." Aku kembali memastikan.
Tika menarik lenganku dengan pandangan anehnya. "Kok, kamu tahu?" Tatapannya begitu tajam padaku.
"Maaf." Kemudian aku beranjak, melepaskan dekapanku padanya lalu berdiri, melangkah mengambil tasnya dari atas meja rias mamah. Membawa tas itu kepadanya.
Aku meliriknya sekilas yang sedang menatapku. Begitu juga dengan Max yang ikut memandangiku dengan kerutan pada keningnya. Perlahan, aku membuka tasnya lalu mengambil ponselku dari dalam sana lalu memperlihatkan pada mereka.
"Sejak kita berpelukan, aku sudah menyelipkan ponselku yang terhubung dengan ponsel ini." Aku merogoh saku celanaku dan mengeluarkan ponsel papa. Tika dan Max terlihat terkejut mendengar penjelasanku.
"Aku denger semua yang kalian bicarakan dan aku denger permintaan dia ke kamu. Sampai kamu bilang minta pulang, aku langsung ke sini. Karena rasanya gak mungkin kalau dia antar kamu ke rumah orang tua aku. Dia pasti gak tahu rumah itu." Aku menjelaskan apa yang aku dengar dan bagaimana tanggapanku pada permintaan lelaki itu.
Sebenarnya aku tidak sanggup untuk membahas semuanya, apalagi dengan tenggat waktu yang lelaki itu berikan pada Tika dengan nyawa mamah mertuaku sebagai jaminannya. Kemudian Haikal tiba-tiba mendatangi kami, dengan membawakan segelas sussu untuk Tika.
__ADS_1
"Kalau gitu kita harus lindungi mamah," saran Max.
"Sementara waktu, biar kita pikirkan jalan keluarnya. Sambil kita cari lagi orang itu." Haikal ikut memberikan suara.
"Aku ingat plat mobilnya," lirih Tika sambil menatapku. Dari matanya tersirat sebuah rasa takut yang begitu ia rasakan sebelumnya.
Aku tersenyum tipis lalu kembali mendekapnya. "Iya, kita bisa lacak dari nomer plat itu," sahutku dengan menatap Max dan Haikal secara bergantian.
Saat ini, kami semua hanya bisa mengira-ngira tanpa bisa menjawab dengan pasti, apakah Dana mengetahui kebenarannya atau tidak. Yang jelas, kami bisa memprediksi, jika dia mengetahui bahwa saudaranya sudah mati maka seseorang yang memiliki gangguan kejiwaan pasti akan bersikap lebih anarkis dari sebelumnya.
Bisa jadi dia berani membunuh Tika, walaupun hatinya benar-benar mencintai Tika. Sebab ada rasa ketidakadilan yang dia alami. Dan dia tidak ingin orang lain merasakan kebahagiaan bersama orang yang ia cintai. Hanya dirinya yang pantas untuk bahagia. Dan itulah yang aku takutkan untuk ke depannya.
—————
Max POV.
Dua hari berlalu setelah pertemuan Tika dengan Dana. Keseharian kami kembali seperti biasanya. Haikal mutuskan untuk pulang ke rumah mamah setiap kali jam bekerjanya habis. Begitu pun dengan aku dan Shilla yang masih tinggal di rumah mamah. Sedangkan Tika kembali ke tinggal di rumah mertuanya bersama dengan Jefri dan kedua buah hati mereka tentunya.
Penjagaan di rumah mamah maupun di rumah orang tua Jefri semakin diperketat. Aku semakin banyak lagi mempekerjakan orang lain untuk mengawasi keseharian kami. Begitu juga dengan Jefri yang semakin di dukung oleh keluarganya untuk menjaga Tika.
Sehari setelah itu, Igo berhasil mendapatkan sang supir dan membawanya ke gedung kami. Aku dan Jefri ikut serta dalam menginterogasi orang tersebut. Berulang kali dia menyangkal, mengelak bahkan menolak untuk memberikan informasi. Tapi sepertinya Jefri menjadi hilang kendali saat melihat semua cara Igo. Ya, Jefri mengambil alih tugas Igo saat itu.
Jefri mendekati lelaki yang sudah kami ikat sebelumnya. Dengan kedua tangannya yang terangkat ke atas. Persis sama dengan posisi Dave dahulu. Jefri mencengkeram dagu lelaki itu lalu berkata, "Di mana Dana? Sembunyi di mana anak itu?" Suara Jefri menggelegar dalam ruangan sempit itu.
Sedangkan aku, Reza, Igo dan beberapa orang lagi berada di luar, di balik dinding kaca ruangan itu. Memerhatikan cara Jefri menginterogasi orang yang bernama Rio itu. Saat ini yang ada dalam penglihatanku bukanlah Jefri aku kenal. Entah mengapa saat ini dia terlihat begitu beringas. Berbeda dari beberapa menit yang lalu.
BUUG!!
Sebuah bogem mentah mendarat sempurna pada pipi kiri Rio, membuatnya terhuyung-huyung tetapi tetap pada posisi itu. Sebab jeratan pada kedua tangannya begitu kuat dan juga terbatas. Sehingga tubuhnya tidak bisa terpental lebih jauh lagi.
"Kalo lu gak mau buka suara, kepalan tangan gua masih sanggup ratusam kali sampai mulut lu itu gak berbentuk." Jefri mulai mengancam.
"Ck!! Cih!! Gua gak peduli." Lelaki itu seakan acuh tak acuh pada Jefri.
Kami bertiga tetap bergeming. Membiarkan Jefri melakukan caranya di dalam sana. Sudah beberapa kali Jefri melayangkan tinjunya pada lelaki itu, tetapi lelaki itu tetap membungkam mulutnya sendiri.
"Maaf, Pak, ini info tentang lelaki itu." Robert memberikan selembar kertas pada Igo, dia dan Reza membaca isi kertas itu sebentar. Kemudian memberikannya padaku.
__ADS_1
Aku membacanya dengan perlahan. "Bisa kalian pakai, biar dia tahu fungsi pita suaranya itu buat apa." Igo menatap tajam pada mereka berdua di dalam sana.
Aku langsung meletakan kertas itu, lalu melangkah memasuki ruangan pengap tersebut. Jefri menoleh padaku, buku jemarinya sudah penuh dengan darah. Entah darah lelaki itu atau darah dari tangannya sendiri.
Napas mereka berdua begitu jelas terdengar sampai di telingaku. Tersengal dan putus-putus. Kusandarkan tubuhku pada daun pintu lalu menyilangkan kedua tanganku di depan dada. "Lu bisa tetap diam, tapi kami gak berani jamin kalau istri lu bakalan baik-baik aja. Bisa jadi saat ini Dana nyulik bini lu, trus nyiksa dia. Dan kalau itu terjadi, semuanya di luar tanggung jawab kami." Dengan lantang aku mengucapkan semua itu.
Ya, lelaki yang bekerja pada Dana sebagai supirnya ini sudah memiliki seorang istri dan seorang anak. Dan itu kami gunakan untuk membuka mulutnya.
"Lu denger? Kalau lu ngomong sekarang, gua bantu buat amanin keluarga lu dan gua gak main-main." Sekali lagi Jefri mencengkeram kerah kemeja lelaki itu.
Dan pada akhirnya, dia mulai membuka suara. Aku pikir memang sudah sepantasnya dia memberikan kami informasi yang kami minta. Sebab siapa pun pasti tidak ingin jika anggota keluarganya disentuh apalagi disakiti. Dan ini adalah salah satu cara yang paling baik.
Setelah lelaki itu memberikan informasi yang kami mau, aku dan Jefri segera keluar dari ruangan itu. Jefri membersihkan tangannya dengan langsung menyiramnya menggunakan air es yang sebelumnya disediakan Robert untuk minum kami.
Sedangkan Robert langsung melacak sebuah alamat yang tadi di katakan oleh Rio—supir Dana. Melalui satelit dan CCTV jalanan, kami menemukan sebuah rumah. Lumayan besar. Bertingkat dua dan memiliki halaman yang luas.
Kemudian Igo mulai menyusun rencana dan membeberkannya pada kami.
Bersambung ...
—————
Holla Lohha 😊
Bertemu kembali,
Aku mau ngucapin selamat lebaran buat kalian semua yang merayakan.
Mohon maaf lahir dan batin.
Semoga tahun ini, pandemi segera berlalu.
Aamiin.
Sekali lagi, Minal Aidin Wal Faizin.
🙏🙏
__ADS_1