Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
S2 - Eps 34


__ADS_3

Tika POV.


Sudah lima hari aku dan Jefri tinggal dirumah kami sendiri, berdua, hanya berdua.


Setiap pagi kami selalu melakukan kegiatan rutin seperti pasangan suami istri lainnya. Atau bahkan hanya kami yang melakukan kegiatan itu disetiap paginya. Entahlah~


Gelora asmaraku pada Jefri seakan tidak pernah ada habisnya. Begitu pula sebaliknya, Jefri selalu memanjakanku. Apalagi semenjak kami tinggal berdua saja di rumah kami ini.


Setiap pagi, setelah kami selesai mencurahkan 'Glory Morning' itu, kami selalu mandi bersama. Terkadang malah aku yang duluan mandi dan dia menontonku saat aku sedang berpakaian.


Aku selalu membuatkannya sarapan, walaupun terkadang itu hanya setangkup roti sandwich. Dan Jefri pun tidak pernah mengeluh dengan apa yang aku siapkan untuk menjadi makanannya.


Jefri juga selalu mengantarku ke kantor. Kadang makan siang bersama, kadang makan siang masing-masing. Yang jelas untuk pulang kantor, selalu Jefri yang menjemputku.


Disela-sela jam kantorpun Jefri masih suka mengangguku, entah itu menelponku atau sekedar mengirimkan chat nakalnya padaku. Ya jujur saja, beberapa hari tinggal di rumah sendiri ini membuat fantasi kami berdua meningkat drastis.


Tiing.


Suara notif chat WhatsApp dari ponselku.


Ku hentikan pekerjaanku sejenak dan ku raih ponselku. Dari Jefri.


MyHusband :


Sayang, mau nyoba pake ice cream gak?


Banyakkan punya kamu di freezer?


Aku langsung menggigit bibir bawahku serta menegakkan tulang punggung tubuhku. Pikiranku melayang, teringat saat tadi pagi dia mencoba menggodaku di dapur. Saat aku dan dia sudah berpakaian dengan rapi untuk kekantor.


Dengan kedua tangan yang masih memegang ponsel, aku memejamkan mataku sebentar. Mengingat kembali kejadian tadi pagi. Jefri memelukku dari belakang saat aku mengoleskan margarine ke roti.


Disaat aku ingin mengambil tissu, Jefri mencengkram tanganku kemudian menjilati satu persatu jemariku yang berlepotan margarine.


"Slurp.. Mmh.. Mhh.."


Dikeluarkannya kembali jemariku. Dia tersenyum menatapku lalu mengecup tengkuk leherku mesra.


"Ganti roknya ya? Terlalu pendek dan ketat." bisiknya.


Plaaakk!


Tangannya memukul bokongku pelan. Dia melepaskan dekapannya kemudian duduk di kursi meja dapur, menanti sarapan yang ku buatkan selesai.


Aku hanya tersenyum menanggapi kelakuannya tadi pagi. Aku senang jika dia mengomentari pakaian yang akan ku kenakan ke kantor. Begitu pula sebaliknya, aku senang jika setiap pagi aku bisa melayaninya. Bukan hanya melayaninya diranjang, tapi melayani untuk menyiapkan pakaiannya, mengancingkan kemejanya dan juga membuatkan sarapan untuknya.


"Lu kenapa, Tik?" suara Metta memecah fokusku mengingat kejadian tadi pagi.


"Lagi meditasi." jawabku asal sambil membuka mata kemudian kembali meletakkan ponselku di meja.


"Meditasi apaan? Lu lagi ngebayangin yang enggak-enggak kan?" ledek Metta.


"Enggak! Apaan sih? Gua meditasi biar otak gak terlalu gampang stress."


"Emang lu lagi ada masalah sama Jefri?"


"Eits! No personality information."


"Apaan sih lu! Jangan gila deh. Gua beneran nanya ini, lagi ada masalah kalian berdua?"


"Enggak! Baik-baik aja kok."


"Serius?" tanya Metta penuh penekanan.


🎢


You so fuckin' precious when you smile


Hit it from the back and drive you wild

__ADS_1


Girl, I lose myself up in those eyes....


🎢


Tiba-tiba ponselku berbunyi, ku lihat layarnya tanpa menyentuh body ponselku.


"Tuh, Jefri yang nelpon. Gua bilang juga apa, kami baik-baik aja. Weeek." ejekku pada Metta.


Ku raih ponselku, "Hallo, sayang?"


Suara gemuruh nafas menyambut sapaanku. Kemudian hening.


"Sayang, hallo?" sapaku lagi, bingung.


"Kamu bisa minta izin keluar sekarang?" tanya Jefri dengan suara beratnya, parau.


Aku bingung mendengar suaranya yang seperti ini, "Iya bisa aja kok. Ada apa sih?"


"Ya udah aku jemput, aku udah deket. Aku tunggu di depan ya?"


"Iya, ini aku langsung ke depan."


Sambungan telepon dimatikan. Aku bingung, tidak biasanya Jefri seperti ini. Bergegas aku membereskan beberapa barangku. Menyimpan beberapa file yang telah aku kerjakan di komputerku, lalu mematikannya.


"Lu mau kemana? Belum juga jam makan siang." Metta kembali muncul dan bertanya.


"Ga tau ni Jefri tiba-tiba ngajak keluar. Eh, Met, kalo si Bos nyari tolong bilangin gua meeting sama vendor ya?"


"Iya. Hati-hati dijalan ya kalian?"


"Thanks, bye."


Aku segera melangkahkan kakiku menuruni tangga dengan terburu-buru. Selama menjadi istrinya, belum pernah aku mendengar suara nya di telepon seperti tadi. Terdengar berat, sedih, bahkan tertekan.


Didepan pintu lobby, ku lihat sudah ada mobil Jefri menantiku. Tidak seperti biasanya..


Biasanya dia menantiku dengan kaca jendela yang terbuka dan senyuman indah yang terukir di kedua sudut bibirnya. Tapi kali ini?


Ku lihat wajah sendu Jefri saat itu, ku tutup pintu mobil.


Bruuk..


"Eh hai sayang.." sapanya lesu sambil berusaha tersenyum menatapku.


Aku menatapnya empati. Ku tangkupkan kedua tanganku di kedua sisi wajahnya.


"Ada apa?" tanyaku spontan.


Dia menatapku lekat. Perlahan dikedua sudut pelupuk matanya muncul butiran-butiran air yang menggenang, kemudian terjatuh bebas di kedua sisi pipinya, membasahi sebagian jemariku.


Jefri menangis.


Dia memelukku. Tangisan itu tanpa suara. Yang ku rasakan hanya getaran-getaran emosi yang berusaha ditahannya. Aku hanya bisa terdiam, membiarkannya memelukku dan menangis.


"Papa masuk rumah sakit. Tadi kata asistennya, dia tiba-tiba pingsan waktu meeting."


Aku mengelus pundak Jefri dari belakang. Aku berusaha tenang agar aku dapat menenangkan suamiku ini. Ku tarik nafas dalam-dalam kemudian ku hembuskan perlahan di hidungku.


"Rumah sakit mana?"


"Harapan Bangsa."


Ku cium tengkuk leher Jefri, lalu ku dorong lembut tubuhnya agar melepaskan dekapannya padaku. Ku usap airmata yang berlinang dipipinya.


"Aku yang nyetir ya?" pintaku, dia mengangguk.


Kemudian kami turun dari mobil, bertukar posisi. Ku injak pedal gas mobil, meluncur menuju rumah sakit dimana Papa di rawat.


Sesampainya di rumah sakit, Mama Alena sudah ada di depan ruangan ICCU. Terduduk lemah sambil menangis tersedu.

__ADS_1


"Maaa!" seru Jefri menghampiri, memeluk Mama.


"Papa kamu.. Papa.." sambik terisak.


"Iya, Ma, iyaa.."


Tak lama berselang, Jerry dan Nita datang.


"Papa gimana, Ma?" tanya Jerry sambil memeluk Mama Alena, bergantian dengan Jefri.


"Kamu dikabarin Pak Joko?" tanya Jefri pada Jerry, disela isakkan tangis Mama.


"Iya."


Jerry dan Nita mencoba menenangkan Mama. Lalu Jefri tersungkur duduk dilantai, bersandar pada dinding disamping pintu ICCU. Aku menghampirinya. Dia menyandarkan kepalanya pada dadaku menyamping, sambil memeluk lengan kiriku. Aku mengusap puncak kepalanya.


"Kamu harus kuat buat Mama kamu." lirihku.


Kemudian ku kecup puncak kepalanya.


Sudah hampir 2 jam kami menunggu disini. Belum ada satu pun dokter atau perawat yang keluar dari ruangan itu.


Ku lihat, Mama Alena sudah bisa lebih tenang dari sebelumnya. Bahkan Nita menemani Mama dengan telaten. Hingga akhirnya pintu ruangan itu terbuka. Seorang Dokter muncul dibalik pintu itu dan menghampiri kami.


Jefri dengan sigap langsung berdiri lalu membantuku pula untuk berdiri.


"Maaf kalian keluarga Pasien?" ucap dokter itu bertanya menggebu.


"Betul, Dok. Gimana kondisi Papa saya?" sahut Jerry menggebu-gebu.


"Untuk sementara kondisi beliau sudah stabil. Beliau mengalami gejala stroke ringan. Kita doakan saja semoga beliau bisa melewati masa ini, ya? Sebentar lagi beliau akan menjalani beberapa proses pemeriksaan, sementara itu, jika ada yang ingin melihat kondisi beliau boleh masuk secara bergantian," jelas Dokter itu.


"Tapi Papa saya sudah sadar, Dok?"


"Beliau sadar, namun kondisinya masih lemah. Jadi saya harap bergantian satu orang satu orang saja yang masuk menjenguk, ya? Saya permisi dulu.."


Dokter itu segera berlalu. Kemudian muncul sorang perawat dari balik pintu ICCU.


"Mari silahkan, ada yang mau menjenguk? Biar saya bantu," ucap perawat itu ramah.


"Mama aja duluan masuk, ya?" ucap Jerry.


Mama mengangguk.


"Tapi Mama jangan nangis. Didalam juga jangan nangis, kasian Papa, Ma.." sanggah Jefri menyentuh pundak Mama.


"Iya, Mama usahakan."


Hanya itu jawaban Mama sambil mencoba tersenyum paksa pada kedua anaknya. Sedangkan aku dan Nita hanya bisa berdiam diri melihat semua kejadian.


------------------------------------------------------------


Hallo hallo para reader setia cerita ini 😘


Sebelumnya makasih yaa sudah nungguin cerita ini up, bolak-balik kalian intip setiap jam nya disetiap harinya 😁


Aku mau kasih pemgumuman.


Trus jangan lupa juga buat vote poin buat karya ini ya!


Caranya gampang, kalian tinggal download aplikasi NovelToon di playstore trus langsung searching judul novelnya, klik, lihat bagian detail novel, ada kolom kecil bertulisan VOTE, klik deh.


Trus kalian bisa vote sesuai poin yang ingin kalian sumbangkan ke novel ku itu, biar aku bisa menang Lomba Vote Writer sampai tanggal 15 February 2020.


Buat yang sudah vote, aku ucapkan terimakasih banyak πŸ˜˜πŸ˜πŸ’‹


Jika ada yang ingin ditanyakan padaku tentang karya dan bagaimana cara mendapatkan poin, bisa langsung menghubungiku via akun Instagram.


Klik search di Instagram dengan nama akun :

__ADS_1


@bossytika


Sekali lagi terimakasih untuk kalian semua πŸ’‹πŸ’‹


__ADS_2