Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
S2 - Eps 89


__ADS_3

Clara POV.


Aku menunggu Haikal di depan lobby gedung kantorku sambil memainkan ponselku. Tak berapa lama ia datang dengan mobil Fortuner berwarna putihnya lalu berhenti di depanku berdiri. Senyum mengembang dari kedua sudut pipinya terlihat saat kaca mobilnya, ia turunkan.


"Udah lama?"


"Lumayan, sampe kering kerontang ini nungguin di sini, keringet udah leleh." Aku menjawab sambil mencibir, ia tertawa.


Ia menyuruhku masuk ke dalam mobilnya, lalu kembali menginjak pedal gas dan keluar dari kawasan gedung kantorku. Kami menyusuri jalanan tengah kota yang masih terlihat sangat lenggang. Aku edarkan pandanganku ke arah luar jendela. Menatap langit yang kini berubah menjadi mendung. 'Mungkin akan hujan,' pikirku.


"Jadi kita makan di mana?" Suara Haikal memecah kesunyian di antara kami.


Spontan aku menoleh padanya lalu mengedikkan kedua bahuku secara bersamaan, menandakan bahwa aku tidak tahu. Sedangkan ia hanya menatapku sekilas lalu pandangannya kembali fokus pada jalanan di luar sana.


Perlahan aku memutar posisi dudukku sedikit lalu mengarah padanya. Pandangan mataku seakan tak berhenti berkedip untuk manatapnya. Aku dapat melihat dengan jelas jika ia menyadari akan tatapanku ini, ia menjadi salah tingkah. Aku terkekeh geli.


Akhirnya ia mengajakku makan siang di sebuah tempat yang sederhana. Berbanding terbalik dengan gaya selangitnya saat pertama kali ia membawaku ke mall. Katanya di sini adalah rumah makan yang menyajikan menu makanan ala masakkan rumahan. Nomer dua terenak setelah masakkan mamahnya.


Begitu masuk, nuansa yang terkesan homie sangat melekat pada semua meja lesehan yang tersedia. Rumah makan ini juga memiliki beberapa gazebo di belakang bangunan. Sangat terlihat jelas akibat pintu depan dan pintu belakang yang sangat luas. Beberapa perabotan juga terbuat dari kayu sehingga menambah kesan nyaman saat melihatnya.


Berbagai aroma masakkan juga tercium jelas dengan harumnya. Bahkan aroma itu mampu membuat cacing dalam perutku kembali berteriak. Meronta untuk cepat diberi makan.


"Kita duduk di gazebo luar aja ya?"


Aku segera mengangguk menyetujui usulannya.


Namun tiba-tiba di tengah perjalanan menuju gazebo, ia meraih jemariku dan menggenggamnya. Menggiring langkah kami bersama saat itu. Aku hanya bisa terperangah dengan sikapnya yang seperti ini, lalu sesekali melihat genggaman tangannya pada tanganku.


***


Menu hidangan makan siang kami telah datang. Dengan sigap aku mengambil piring dan menuangkan beberapa sendok nasi ke piring itu, lalu memberikannya pada lelaki yang sedang duduk di hadapanku.


Raut wajahnya tiba-tiba berubah, melongo menatapku dengan tangannya yang meraih piring, yang sudah aku isikan dengan nasi tadi.


"Kenapa?"

__ADS_1


Ia menggelengkan kepalanya. "Enggak, gak papa." Langsung ditariknya piring itu kemudian melanjutkan mengambil lauknya.


Kali ini makanan yang disajikan lumayan banyak dan memang benar, sesuai dugaanku, ia begitu lahap. Seperti orang yang belum makan. Berbeda dengan tadi malam, ia makan dengan santai dan terlihat biasa saja, tidak seperti ini.


Aku kembali bergelut dengan piring nasi dan laukku, memakannya dengan santai. Sesekali aku meliriknya yang masih terfokus melahap makanan itu tanpa menghiraukanku. Ia sama sekali tidak ada malu-malunya, tapi aku menyukainya. Suka melihatnya yang bersikap biasa saja dan apa adanya.


Kami melewati makan siang ini dengan khitmat, tanpa mengobrol. Benar-benar hanya makan siang saja. Sampai akhirnya kami selesai.


"Itu udangnya gak dihabisin?"


Aku melirik sebuah piring di depanku yang berusi udang goreng tepung lalu kuraih piring itu, kemudian kusodorkan padanya. "Nih, habisin aja."


Ia langsung menyambarnya lalu menghabiskannya.


"Sorry ya, aku laper banget."


Mungkin ia menyadari jika sedari tadi aku sibuk memerhatikan saja. Sejak awal makan hingga sekarang, lalu aku terkekeh geli sambil menghirup segelas es tehku.


"Kayak udah lama gak makan gitu," ledekku.


Aku terkejut mendengar ucapannya, tadi malam?


"Loh tadi pagi gak sarapan?" tanyaku penuh penekanan.


Ia mengangkat kepalanya menatapku, lalu menggelengkan kepalanya. Dengan wajahnya yang terlalu innocent itu. Alasannya sangat simpel, karena aku tidak mau diajak sarapan tadi pagi saat ia mengantarku ke kantor.


Aku terdiam sejenak, lalu tertawa terbahak-bahak. Seperti anak kecil saja.


———————————————


Haikal POV.


Aku menghiraukan Clara sejak tadi, aku sibuk melahap makanan ini karena jujur saja, aku sangat lapar. Aku sengaja tidak sarapan setelah ia menolak untuk sarapan bersamaku, lalu di rumah sakit tadi aku hanya memakan sepotong kue yang memang disediakan untuk para karyawan. Sisanya, aku minum banyak air putih.


Tidak kusangka di awal tadi ia mengambilkan nasi untukku, sudah seperti pasangan suami-istri saja. Aku mengulum senyumku.

__ADS_1


"Santai bentar ya? Gak papa 'kan? Kita baru ngabisin waktu dua puluh lima menit, artinya masih ada sisa waktu sekitar tiga puluh lima menit lagi sebelum jam istirahat kamu selesai."


Ia kembali tertawa terbahak-bahak.


Aku senang melihatnya yang tertawa lepas. Tapi aku juga menyukai sikapnya yang dingin sedingin es batu jika sedang badmood. Lucu.


Setelah selesai makan siang, aku kembali mengantarkannya ke kantornya. Sebelum itu aku sempat menawarkan membeli makanan untuk ayahnya, ia menyetujuinya.


"Nanti kamu yang ngasihin ke ayah?"


Aku mengangguk. "Kenapa?"


"Ya gak papa."


Sesampainya di depan kantornya, ia berpamitan sebelum turun dari mobilku lalu kutanyakan jam berapa ia pulang agar aku dapat menjemputnya saat pulang kantor nanti. Tapi tetap saja ia menolak. Setelah lumayan lama berdebat akhirnya ia terpaksa mengalah.


"Oke, jadi aku jemput jam empat kurang 'kan?"


Ia menjawab dengan anggukkan kepala secara terpaksa, dalam hati aku tertawa melihat raut wajahnya yang seolah tertekan. Seperti tidak rela jika aku yang menjemputnya pulang.


***


Aku meraih knop pintu kamar bundanya Clara, kemudian perlahan melangkahkan kakiku memasuki ruangan itu. Terlihat bundanya sedang tertidur lelap, sedangkan ayahnya seperti habis membasuh wajahnya. Aku menyapa beliau.


Aku melangkahkan kakiku mendekati ayahnya lalu memberikan bungkusan makanan tadi pada beliau, mengatakan bahwa itu titipan dari anaknya. Dari raut wajahnya sudah terlihat sangat jelas bahwa beliau terkejut, tidak percaya.


"Kalian makan siang sama-sama?" pekik beliau sambil membelalakkan mata dengan tangan yang sudah meraih bungkusan makanan itu dari tanganku.


"Iya Om. Kami istirahat bareng. Nanti pulang kerja juga saya yang jemputin, biar dia gak kelayapan ke mana-mana."


Spontan beliau tertawa mendengar ucapanku, lalu akupun juga ikut tertawa setelah menyadari perkataanku yang terlalu absurd. Dalam hati, aku merutuki ucapanku. Terlalu berani aku mengucapkan kalimat itu dengan ayahnya.


Kuharap ayahnya tidak tersinggung jika aku seperti ini pada anak gadisnya.


'Namun melihat respon dari ayahnya saat ini, sepertinya beliau setuju saja jika aku mendekati anaknya,' batinku.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2