
Max POV.
Sebelum mendapatkan informasi dari Jefri, anak buah Igo sudah terlebih dahulu mengejar Dana. Mereka sempat kehilangan jejak Dana begitu Jefri keluar dari kawasan toko pakaian pernikahan Alex dan Lisa. Lalu saat mendapatkan informasi dari Jefri, mereka langsung bergerak menuju tempat yang diberitahukan olehnya.
Sedangkan Reza saat ini sedang meneliti perusahaan saudara Dana, Dave, yang tiba-tiba saja mengalami penurunan. Bahkan ada beberapa sahamnya yang dijual dengan melalui pasar lelang secara mendadak.
"Usahanya di kota Bali juga dilelang ini. Villa dengan luas tanah sepuluh hektar." Reza membacakan info pelelangan Internasional dari salah satu aplikasi web yang dia ikuti.
Sebelumnya, Reza berhasil membeli 14% saham yang mereka jual melalui aplikasi web yang sama. Yang mana saham itu terdapat pada perusahaan furniture yang Dave miliki di London. Dan menurut kabar, saham itu dijual karena perusahaannya yang mengalami kerugian selama ketidakhadiran pimpinan mereka.
Lalu beberapa hari yang lalu, Reza juga membeli sebuah saham pialang dan juga dari aplikasi web yang sama dengan atas nama saudaranya itu.
"Jangan! Berhenti buat beli assetnya. Sepertinya dia sudah tahu kalau saudaranya meninggal. Dan besar kemungkinan dia mencurigai kita, karena saudaranya terakhir kali ada bersama kita. Lalu dengan gerakan kalian yang membeli assetnya, membuat semuanya terlihat dengan begitu jelas." Igo menyampaikan analisanya secara tegas dengan kedua matanya yang masih terfokus mengawasi layar kaca komputer di depannya.
Aku menatap Reza sekilas, lalu kembali menoleh pada Igo. "Lalu?"
"Dan sepertinya dia sedang merencanakan sesuatu karena mengetahui Reza yang membeli assetnya, hingga dia berani memunculkan batang hidungnya di depan Jefri. Dan kali ini, lagi-lagi kita gagal menangkapnya. Dia menghilang begitu cepat setelah berhasil menemui Jefri. Padahal kawasan itu sudah dijaga oleh orang suruhan Jefri yang berkoordinasi dengan kita. Sebab Tika akan ke restoran itu 'kan, nemuin Jefri?" tambah Igo lagi.
"Maksudnya?"
"Ya, Dana pasti sudah tahu saudaranya meninggal. Kalau gak, mana mungkin dia berani jual beberapa asset yang dia miliki. Pasti semuanya buat mancing gerakan kita, gitu, 'kan?" tanya Reza pada Igo yang kemudian dijawab dengan anggukan kepala.
Aku menjadi lebih mengerti sekarang, Dana menjual beberapa saham itu hanya untuk memancing pergerakan kami. Karena ada kemungkinan dia juga menyelidiki perusahaanku dan perusahaan Reza.
Tadinya rencana kami membeli saham itu dengan tujuan agar dia menjadi lebih terpuruk. Tetapi ternyata kami salah. Kami malah membuatnya semakin berani untuk muncul secara terang-terangan. Tapi apa motifnya?
Aku berpikir sejenak. "Aku masih gak ngerti semua ini."
Kemudian Reza mulai menjelaskan, "Mungkin maksud Igo, ini adalah trik dari dia, biar kita juga keluar dari persembunyian dan dia semua itu dilakukannya dengan sengaja. Sambil memantau pergerakan kita juga? Gitu 'kan, Go?"
"Sebagian bener dan belum pasti," jawab Igo.
"Trus kenapa kita gak tangkap dia langsung aja? Kita kepung rumahnya lalu bergerak." Aku memberikan usulan.
Lalu tiba-tiba Igo menatapku dan Reza bergantian. Kemudian Igo kembali memandang layar kacanya, lalu menekan sebuah tombol yang menyebabkan layarnya menjadi hitam kemudian muncul sebuah rekaman yang isinya menampilkan sebuah mobil SUV hitam.
"Itu 'kan mamah dan itu ... Hans?" Aku terperangah melihat Hans yang keluar dari mobil dan sedang ditodong menggunakan sebuah senjata api. Disusul dengan mamah yang juga diperlakukan sama.
Sontak aku berdiri dari dudukku lalu menatap Igo juga Reza di kedua sisiku secara bergantian. "Ini apa? Kok mamah ada di sana?" tanyaku dengan napas yang mulai tersengal karena terkejut melihat semua yang bergerak dalam video itu.
Kemudian Igo mengatakan bahwa mamahku dan Hans kemungkinan dihadang saat di perjalanan sekitar setengah jam yang lalu. Dan Igo mendapatkan kiriman video itu setengah jam yg lalu pula. Yang mana saat itu, tepat sebelum kami mendapatkan kabar dari Jefri jika dia baru saja bertemu dengan lelaki kepa*at itu.
Reza pun juga demikian, dia terkejut. "Ini maksudnya apa, Go?"
Igo membuang napasnya, lalu dengan perlahan berkata, "Kita terlalu sibuk memerhatikan mereka sampai kita lupa menjaga beliau. Semua ini pengalihan." Suara Igo melemah.
Seketika aku menjadi kesal, apalagi saat melihat mamah dari layar kaca komputer itu. Tanpa berkata apa-apa lagi. Aku langsung mengambil kunci mobilku dan memutuskan untuk segera pulang ke rumah mamah.
Sesampainya di rumah, aku langsung mencari istri dan anakku. Lalu memeluk Shilla dengan erat. "Kamu kenapa?" tanya Shilla yang terkejut mendapatkan sebuah pelukan mendadak dariku.
Aku terus memeluknya sambil memandangi kedua gadis buah hatiku yang sedang tertidur pulas di atas tempat tidur kami.
Kemudian tak lama berselang, ponselku berbunyi.
🎶
My location unknown tryna find a way back home to you again
I gotta get back to you gotta gotta get back to you
My location unknown tryna find a way back home to you again
I gotta get back to you gotta gotta get back to you
🎶
__ADS_1
Sebuah nomer tak dikenal muncul di layar kaca ponselku, membuatku merasa sedikit aneh. Sebab aku sangat jarang mendapatkan sebuah panggilan dari nomer yang tidak aku simpan sebelumnya. Aku memutuskan untuk menerima panggilan itu setelah melepaskan dekapanku pada istriku.
"Hallo?" sahutku sambil memandangi wajah Shilla dan menjatuhkan bokongku pada tepi tempat tidur untuk duduk.
Hening. Awalnya semua terdengar hening di seberang telepon sana, tidak ada suara sama sekali hingga aku harus menyapa sekali lagi kemudian barulah ada suara yang menyahut.
"Gua gak mau basa-basi, pastikan Tika meninggalkan kalian seminggu lagi. Kalau gak, nyawa nyokab kalian taruhannya. Understood?" ucapnya di seberang sana yang aku duga sebagai suara Dana.
"Lu sakiti nyokab gua sehelai rambut aja, gua bisa pastiin hidup lu lebih menderita!!" ancamku padanya.
Tiba-tiba suara gelak tawa yang meledak terdengar begitu jelas melalui sambungan telepon ini. Membuatku semakin kesal saat mendengar tawa itu. Dia seolah menganggap sebuah nyawa sebagai permainan yang menyenangkan.
"Menderita? Ck!! Gua sudah cukup hidup menderita semenjak Tika nikah sama lelaki yang sekarang jadi ipar lu! Ditambah lagi saat lu berani menarik pelatuk, melemparkan sebuah peluru ke tubuh abang gua!!" serunya di seberang sana membuatku terkejut.
Deg deg deg!!
Detak jantungku tiba-tiba saja berdegup dengan begitu kencang, membuatku melangkahkan kaki menjauhi Shilla dan memutuskan untuk keluar dari kamarku. Agar Shilla tidak mendengar semua ini.
"Abang lu yang cari gara-gara sama gua! Dan dia pantas dapetin semua itu." Aku menyangkal setelah berhasil menutup pintu kamarku.
"Kalo gitu, sekarang elu yang cari gara-gara sama gua karena bunuh abang gua. Satu-satunya orang di dunia ini yang gua punya. Jadi gua mau nyawa abang gua dibarter sama nyawa nyokab lu!!" Kemudian Dana tertawa menggelegar di seberang sana.
"Lu jangan macem-macem! Sedikit aja lu sentuh nyokab gua ... gua bakalan—"
"Kalo gitu barter sama adik lu!! Gua mau Tika, setelah itu kita impas!" tambahnya lagi memotong ucapanku.
Aku terdiam, lalu tiba-tiba sesuatu menyentuh pundakku yang langsung dengan refleks membuatku membalikkan badan dan ternyata itu Tika. Wajahnya terlihat kesal lalu dia merebut ponselku menatap layarnya, mungkin dia mengenali nomer yang tertera di sana. Dan mungkin juga, Tika sudah mendengar beberapa kalimat yang aku ucapkan sebelumnya tadi. Lalu dia menatapku dengan nanar sambil menempelkan ponselku pada telinganya.
"Seujung kuku kamu sentuh dia, jangan harap aku bakal maafin kamu!!" ucap Tika geram lalu langsung memutuskan sambungan telepon itu.
Tika melemparkan ponselku pada sebuah sofa tunggal yang ada di dekat kami. Dengan kedua matanya yang terus saja menatapku dengan tajam.
"Kamu janji sama aku kalau kamu bakalan jagain mamah. Kenapa dia bisa dapetin mamah dengan mudah? Hah?!" Seketika dia emosi lalu memukuli dadaku diiringi dengan derai tangisannya.
Aku sadar, aku salah saat ini. Aku teledor dalam menjaga keluargaku. Benar apa kata Igo sebelumnya, aku terlalu sibuk untuk memantau lelaki itu sehingga aku melakukan kecerobohan dalam menjaga keluargaku sendiri.
"Gak ada yang salah di sini. Dia bisa dapetin mamah juga pasti pakai trik. Dan dia nemuin kelemahan mamah." Jefri berusaha menenangkan adikku.
Lalu tiba-tiba Shilla muncul dan menanyakan pada kami, tentang apa yang sedang terjadi saat ini pada Tika yang menangis dengan brutal di dalam dekapan Jefri. Aku menjelaskan semuanya.
"Tapi mamah tadi keluar bilangnya mau ke rumah sakit, mau ketemu sama Haikal buat ngebahas barang seserahan Clara nanti," tutur Shilla dengan bingung.
"Dan aku lihat dari video yang dikirimkan Dana pada Igo tadi. Di sana mamah dihadang dalam perjalanan lalu diculik." sangkalku lagi.
Kini aku sungguh membenci diriku sendiri. Tika masih terisak menangis dalam dekapan suaminya. Lalu perlahan lututku terasa lemah, tubuhku merosot turun hingga terjatuh ke lantai. Shilla mendekapku erat.
Untuk beberapa saat, aku masih mencoba memahami semua kejadian ini. Begitu kacau dan tidak terkendali. Sampai akhirnya ponselku kembali berbunyi. Namun kali ini bunyi pendek yang menandakan sebuah pesan singkat telah berhasil masuk ke dalam ponselku.
Segera aku melirik benda tipis itu lalu melihat layarnya. Sebuah pesan dari nomer yang tadi digunakan oleh Dana. Isinya, dia memberikan sebuah alamat lengkap dengan waktu barter yang dia inginkan. Selesai membaca pesan itu, aku langsung mengangkat wajahku untuk memandang Tika. Dia juga menatapku lalu perlahan berjalan mendekatiku, kembali merebut ponselku dan membaca isi pesan itu.
Tika mengembuskan napasnya dengan berat lalu mengusap kasar wajahnya. "Apa waktu sebulan untukku sudah habis?" lirihnya dengan matanya yang sendu, sembari mengembalikan ponsel itu padaku.
Jefri langsung menghampirinya lalu memeluk Tika dengan begitu erat. Aku merasa tidak sanggup melihat semua ini dan rasanya aku tidak ingin menukar siapa pun. Mereka berdua sama pentingnya dalam hidupku. Lagi pula, untuk apa aku memukar mereka berdua? Mereka berdua adalah milikku, milik kami di sini, bukan milik lelaki sialan itu.
Aku memejamkan mataku, menarik napasku lalu mengembuskannya dengan perlahan. Tanganku menyelip pada sela-sela rambut lalu mencengkeram kuat. Sedangkan Shilla masih tetap duduk di sampingku, menemani sambil mengusap pundakku untuk menenangkanku.
***
Langit terang perlahan berubah menjadi gelap. Desau angin beralih menjadi sebuah kesejukan yang mampu sedikit menenangkan batinku. Walaupun sebenarnya, ada bagian yang terasa teriris perih dan pedih, mengingat mamah berada di tangan lelaki itu.
Kini aku berdiri di halaman belakang rumah mamah, di pinggiran kolam sambil menyesap sebatang rokok lalu mengembuskan asapnya ke udara. Memikirkan rencana apa yang harusnya aku lakukan nanti, mengingat tidak ada pilihan bagus yang dapat aku pikirkan saat ini.
Saat ini Tika dan juga Jefri mungkin masih berada di ruang tengah. Entah bagaimana dengan kondisi mereka. Yang aku tahu, sebelum aku akhirnya memutuskan untuk menikmati rokokku di sini, mereka berdua saling mendekap dan Jefri sedang mencoba meredakan tangisannya.
Kini aku merasa mati akal. Namun tiba-tiba suara seruan seseorang seolah menjadi napas baru untukku.
__ADS_1
"Max ...," seru suara seorang lelaki. Membuatku mau tidak mau harus membalikkan badan dan menemukan sosok Reza yang berdiri tepat di belakangku.
"Kami sudah mengepung rumah itu. Lalu beberapa saat yang lalu, aku sudah memutuskan untuk membeli semua asset miliknya yang dia jual di pasar saham menggunakan uang milik perusahaanku di London. Aku ingin membuatnya terpuruk. Lalu untuk usaha kecil yang mereka miliki, juga sedang dalam proses akuisisi menggunakan nama sekretarisku. Kita harus melumpuhkannya dengan cara bawah, agar perlahan dia tidak bisa membeli apa pun." Reza melangkah ke sisiku.
"Aku akan ke sana. Tukar aku dengan mamah." Tiba-tiba suara Tika terdengar jelas di telingaku. Membuat aku dan Reza serempak berbalik.
Aku melihat Tika yang berdiri lumayan jauh dariku, didampingi dengan suaminya—Jefri. Di ambang pintu juga ada Shilla dan Haikal yang memperlihatkan ekspresi nyaris sama denganku, terkejut. Aku tidak percaya dengan apa yang aku dengar, lalu aku memutuskan untuk segera menghampiri Tika.
Kedua tanganku menggenggam erat lengannya dengan sepasang mataku yang menatapnya. "Kamu jangan macam-macam, aku gak akan biarin kamu ke sana!" bentakku.
"Lantas, kalau kita di sini aja, kamu mau nunggu jasad mamah dikirim ke rumah?" hardik Tika padaku.
Nyaliku langsung menciut begitu Tika berkata seperti itu. Aku menundukkan kepalaku menatap ujung kakiku sendiri. Bukan tidak berani menghadapi lelaki itu, akan tetapi aku tidak siap untuk kehilangan salah satu di antara mereka. Namun Tika terus saja mendesakku untuk menyetujui permohonannya.
Aku berjalan ke arah sofa lalu duduk di sana. Sambil memikirkan semua kemungkinan yang terjadi lalu kembali menatap Tika yang masih berdiri di tempat semula. Lalu dia melangkah mendekatiku.
"Gak ada pilihan lain lagi, 'kan? Selain aku yang ke sana buat gantiin posisi mamah?" lirihnya sembari duduk di sampingku.
Tika meraih tangan kananku lalu menggenggam erat, sekilas aku menatap genggaman tangannya itu, lalu kembali menatapnya.
"Jangan buat aku menyesali keputusanku ini, kalau sampai terjadi sesuatu sama mamah. Kali ini aku meminta izin kalian untuk pergi ke sana. Bukan pergi tanpa izin, tapi andaipun kalian gak izinin, aku akan tetap pergi. Aku punya rencanaku sendiri." Tika melirik pada Jefri.
"Jangan ceroboh, Tik!" seru Haikal lalu mendekati aku dan Tika.
"Kita bisa kepung rumahnya lalu selamatin mamah!" tambah Haikal lagi.
"Dengan nyawa mamah sebagai taruhannya? Gitu maksudnya?" bentak Tika lagi. Semua terdiam, tidak ada yang berucap sepatah kata pun.
🎶
Can't we just talk?
Can't we just talk?
Talk about where we're goin'
Before we get lost
Let me out first
Can't get what we want without knowin'
I've never felt like this before
I apologize if I'm movin' too far
Can't we just talk?
Can't we just talk?
Figure out where we're growin'
🎶
Tiba-tiba ponsel Jefri berbunyi, kami semua serempak menatap padanya yang sedang merogoh saku celananya lalu menatap layar ponselnya.
"Hallo?" sahutnya setelah menempelkan ponselnya pada telinga kanannya, sambil menatap ke arahku dan Tika. "Hallo?" ucapnya lagi.
Jefri terdiam dan masih mendengarkan suara dalam ponsel itu lalu menunduk lemah. "Gua sendiri yang bakalan antar dia." Kemudian dia melepaskan ponsel itu pada telinganya.
Aku tidak mengira akan mendengar kalimat itu terlontar dari mulut Jefri. "Kamu bilang apa barusan? Kamu mau serahin Tika sama dia? Kamu gak cinta sama Tika? Sama anak-anak kalian?" teriakku sambil berdiri.
Tika menarik tanganku, membuatku menoleh padanya. "Biarkan aku pergi, aku punya rencanaku sendiri." Tika memohon padaku.
Lalu Jefri mendekati kami dan berkata, "Biar aku jelasin rencana Tika."
__ADS_1
Bersambung ...