Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
Eps 199


__ADS_3

Selamat membaca ...


——————————


Tika POV.


Selesai sarapan, aku langsung membersihkan dapur. Sedangkan Nathan dan Naila diambil alih oleh ayahnya untuk bermain bersama di depan televisi. Semenjak kami kembali ke rumah ini, beberapa ruangan telah berubah dan sengaja kami sulap sebagai tempat bermain kedua buah hati ini. Agar mereka tidak selalu berada dalam kamar ataupun dalam sebuah ruangan tertutup.


Dan untungnya rumah ini bukanlah rumah yang memiliki banyak sekat atau lemari pembatas. Karena aku dan Jefri senang dengan suasana rumah yang terasa luas dan juga tanpa batas. Seperti kamar tidur kami contohnya, yang tidak memiliki pintu begitu menaiki anak tangga.


Hanya butuh waktu 15 menit untuk aku membersihkan semua peralatan di dapur, yang habis aku gunakan tadi. Kemudian aku bergabung dengan Jefri dan juga kedua anak kami. Mereka terlihat senang dan penuh canda tawa bermain bersama ayahnya. Apalagi Naila, dia selalu tertawa cekikikan.


“Kita jadi hari ini mau ke rumah mamah?” tanyaku.


“Jadi dong, kasian Naila sama Nathan kangen sama omanya yang satu lagi, iya 'kan Sayang?” sahutnya sembari masih berfokus pada Naila, mengajak anaknya berbicara.


Kemudian aku berdiri dari sana sambil membawa Nathan ke kamar untuk bersiap dan membiarkan Naila bersama ayahnya terlebih dahulu. “Aku akan memandikan Nathan lebih dulu.”


“Baiklah.”


Nathan mulai aku mandikan dengan perlahan. Dia sangat senang dengan air, pasalnya sedari tadi dia terus saja menepuk-mepuk permukaan air dalam wadah mandinya. Aku hanya memerlukan waktu sekitar lima menit, untuk memandikan serta mengenakan pakaiannya.


Begitu aku hendak membawa Nathan ke bawah, Jefri malah sudah berada di belakangku dengan membawa Naila dalam gendongannya. Hingga akhirnya aku memasukkan Nathan kembali ke dalam box tidurnya.


“Jagain Nathan, biar aku mandiin Naila sebentar.” Aku memberi perintah pada Jefri lalu mengambil Naila dari dekapannya.


Begitulah keseharianku. Namun, jika Jefri tidak ada, biasanya aku akan meletakkan salah satu di antara mereka di dalam stroller lalu mengunci geraknya. Kemudian membiarkannya di posisi yang dapat terlihat oleh kedua mataku. Tetapi karena kali ini dia sedang libur, aku bisa memintanya untuk menjaga Nathan.


Setelah selesai dengan Naila. Aku melihat Jefri yang kembali tertidur, tentu dengan Nathan di dalam dekapannya dan itu terjadi di atas tempat tidur kami. Segera aku menyelesaikan memasangkan pakaian untuk Naila dan mendandaninya, lalu meletakkannya di dalam box bermain yang ada di dekat tempat tidur kami.


Nathan yang masih bangun pun, perlahan aku bebaskan dari belenggu ayahnya lalu memasukkannya ke dalam box, bermain dengan adiknya.


“Udah sampai giliran aku nih?” celetuk Jefri tiba-tiba membuatku menoleh heran.

__ADS_1


“Giliran??”


“Iya, sekarang giliran aku 'kan buat dimandiin?”


Gelak tawaku pecah begitu saja saat mendengar kalimat itu keluar dari mulutnya. “Kamu ih, kayak balita aja!”


“Biarin!” Jefri berbalik bertelentang, “sini, aku masih butuh dimanja sama istri sendiri.”


Aku terkekeh lalu kembali menaiki ranjang dan mendekatinya. Menyambut uluran tangannya. Sejak tadi malam, Jefri memang sudah terlihat manja. Bahkan berkali-kali kami bangkit hanya untuk meluapkan perasaan yang menggebu. Dan itu ... aneh menurutku.


“Duduk sini,” pintanya lagi.


Kali ini dia memintaku untuk duduk di atas tubuhnya. Aku tidak membantah, hanya tersenyum tipis padanya. Jefri pun begitu, seringaian muncul tipis di wajahnya begitu menyambut tanganku satunya lagi.


“Mau dimanja apa mau dikelon?” pancingku dengan sebuah senyuman.


“Gak usah digodain, aku pasti bakalan tergoda kalo sama kamu.” Kemudian dia menarik kedua tanganku yang sontak membuatku mendarat sempurna di atasnya karena hilang keseimbangan.


Jefri mulai membuka pakaianku satu per satu, membuangnya ke sembarang arah. Namun saat dia hendak membuka pakaian dalam, aku mencegahnya lalu memberikan sebuah lirikan padanya ke arah box anak kami.


“Kenapa?” tanya bingung.


“Kamu mau kasih tontonan adegan panas sama anak sejak dini ya?” lirihku yang dibalasnya dengan senyuman tipis.


Dia segera bangkit dari ranjang, lalu menarik selimut kami dan meletakkannya ke sekeliling box untuk menutupi bagian sampingnya itu hingga akhirnya semua celah pagar box benar-benar tertutup sempurna.


“Kalian diem-diem dulu di sana ya? Jangan nakal. Ayah mau 'menyemai' dulu sama bunda. Berkebun biar keringetan, jadi badan sehat,” ucapnya pada kedua anaknya yang membuatku kembali tertawa.


Kemudian dia segera melepaskan kaosnya dan kembali menariki ranjang, mengungkungku di bawahnya. Tangannya juga tidak mau tinggal diam. Perlahan tapi pasti, satu per satu dengan piawai ia melepaskan seluruh yang menempel pada tubuhku. Lalu menurunkan cecapan bibirnya.


Kedua mataku mulai tertutup saat lidahnya bermain pada bagian dadaku secara bergantian. Hingga Jefri akhirnya kembali menurunkan bibirnya hingga mencapai titik puncak kenikmatanku.


Dengan sekuat tenaga aku menahan leguhan yang hampir lolos pada mulutku lalu aku lepaskan salah satu genggaman tanganku pada jemarinya. Aku mulai menggigit punggung tanganku sendiri dengan menggunakan kedua bibirku. Benar-benar berusaha menahan suara nikmat itu agar tidak terdengar oleh kedua anak kami. Karena bagiku, ingatan anak-anak di usia mereka hingga sepuluh tahun itu sangat berarti.

__ADS_1


Mereka dapat merekam dengan jelas apa saja yang dilihat oleh kedua matanya dan apa saja yang telah didengar oleh kedua telinganya. Namun sialnya, Jefri melakukannga dengan begitu nikmat hingga aku meloloskan suara itu dengan lumayan nyaring.


Dengan refleks aku menarik bantal yang ada di bawah kepalaku lalu aku gunakan sebagai penutup mulut. Bukan, bukan sebagai penutup mulut, lebih tepatnya penutup wajah. Hingga membuat Jefri terkekeh tetapi dia terus saja melakukan itu hingga tubuhku kembali lemas.


Jefri menarik bantal itu dari atas wajahku, membuat mata ini kembali terbuka dan berbalas menatapnya. “Masih malu sama suami sendiri?”


“Bu-bukan malu ... ka-mu ma-u mulut i-ni liar ap-ah,” sahutku terputus karena ulah jemarinya.


Dalam hati ini merutuki tingkah lakunya yang begitu nakal jika di atas ranjang, tetapi juga sekaligus menikmati segalanya, seluruh sensasi yang muncul begitu saja. Hingga tidak terasa waktu semakin lama kami lewati bersama.


Tidak ada kata letih bagi seorang Jefri untuk urusan menyemai benih sejenis ini. Bahkan jika keringatnya mengucur deras pun, bisa dengan cepat dia hapus keringat itu. Seperti saat ini, belum puas di sini saja, dia kembali mengangkatku dan membawaku ke kamar mandi.


Aku tentu tidak menolaknya, sebab aku merasa masih memiliki tenaga, walaupun hanya sisa-sisanya saja. Namun, dia sebagai suami sepertinya sangat mengerti, jika istrinya hampir letih tetapi masih menginginkan. Hingga akhirnya, dia kembali memanjakanku.


Rasa-rasanya, setiap kali dia meminta untuk dimanja, pasti akan berakhir dengan sebaliknya. Begitu juga saat tadi malam dia meminta untuk dipijat, yang terjadi malah dia yang memijatiku.


Benar-benar konyol!


Bersambung ...


——————————


Hayo ngaku siapa yang merasa semeriwing??? 🤭


Wah, kalau gitu hati-hati ya, imajinasi kalian sudah terlalu liar 🤣 kan aku sudah nulis dengan sangat-sangat lembut bahasanya 🤭


Jangan lupa, tekan thumbs up dan love biar bisa dapetin notif dari kisah ini. Trus buat yang belum kasih penilaian, bisa intip ke beranda ya, bagian detail. Di sana ada gambar bintang, nah tekan itu lalu berikan bintang lima untuk TikaJefri. Okay?


Sekian dulu, #salambucin


Babay ...


@bossytika 💋

__ADS_1


__ADS_2