
Still Jefri POV.
Setelah Mama agak sedikit tenang, baru kami melangkahkan kaki keluar dari ruang ICCU, melewati pintu utama itu.
Tak terasa hari sudah gelap. Taman luar yang terlihat dari jendela ruang tunggu pun mulai tak terlihat. Hanya lampu-lampu sorot khas kebun yang menerangi diluar sana.
Sedangkan anggota keluargaku yang lainnya sudah mulai berdatangan, berkumpul sambil asik berbincang dengan Jerry.
Aku menggiring Mama untuk berjalan, mendekat ke arah mereka. Mama duduk di samping Jerry sambil berusaha tersenyum paksa menyapa yang lainnya.
"Mama belum makan dari tadi siang," ucap Nita pelan mendekatiku yang masih berdiri agak jauh dari mereka semua.
"Kalian udah makan?" aku balik bertanya.
"Udah tadi, sekalian sama Jordy. Soalnya dari siang Mama didalem nemenin Papa."
"Oh, ya udah, nanti aku ajak Mama makan."
Nita kembali duduk, bermain dengan Jordy, anaknya. Sedangkan aku kembali mengedarkan pandanganku ke segala sudut ruangan ini, istri dan mertuaku kemana? Batinku.
Ku putuskan untuk duduk di kursi seberang, tidak bekumpul dengan keluarga Mama dan Papa yang datang menjenguk. Satu persatu dari mereka secara bergantian masuk keruangan untuk membesuk Papa.
Ku rogoh saku celanaku, mencari ponselku untuk menghubungi Tika. Baru saja ku akan menekan tombol hijau, tiba-tiba Tika datang dengan mertuaku membawa kantong kresek ditangannya.
"Sayang!" tegurku.
Tika menoleh, "Hei.." ia mendekatiku.
"Apa itu?" sambil menunjuk dengan mulutku.
"Oh, ini minuman kotak. Aku taruh kesana dulu ya? Kamu mau?"
Aku menggeleng. Ku lihat mertua ku memeluk Mama kemudian berbincang-bincang. Tika kembali mendekatiku setelah memberikan minuman itu pada Nita.
"Gimana kondisi Papa?" tanya Tika sambil menggenggam tanganku.
"Udah ga papa. Nanti begitu jam besuk habis, Papa bakalan dipasangin selang buat makan."
"Kamu kenapa?"
"Apanya?" tanyaku bingung.
Sebelah tangan Tika menyentuh pipiku. Menangkup dengan telapak tangannya. Hangat dan lembut.
"Dari wajah kamu keliatan, kalo ada yang kamu pikirin. Apa?"
Ku tatap wajah Tika, matanya sangat indah bagiku.
"Hm?" dehamnya lagi sambil menegaskan tatapannya padaku.
Ku sentuh punggung tangannya yang menangkup pipiku, ku genggam kemudian ku lepaskan dari pipiku. Aku ragu untuk mengatakan padanya tentang kondisi Papa, sesuai ujar Dokter tadi.
"Kenapa sih? Ada hubungannya sama Papa?" tanyanya lagi.
Aku menghembuskan nafas kasar, "Aku cuman pingin Papa sembuh."
"Pasti, sayang! Kamu harus yakin dong. Papa pasti kuat, pasti sembuh."
"Makasih ya, sayang?"
Tika menganggukkan kepalanya pelan dan tersenyum. Aku mengecup keningnya kilas. Kemudian pandanganku beralih ke sosok Mama yang masih asik mengobrol dengan Mamah mertuaku.
"Mama belum makan, aku mau ngajak Mama makan di depot deket sini," ucapku.
"Dari tadi siang?" tanya Tika heran.
"Iya, Nita juga baru aja ngasih tau."
"Ya udah, jangan ditunda-tunda dong."
__ADS_1
Aku menoleh kilas pada Tika lalu berdiri mendekati Mama dan mertuaku yang terlihat semakin asik saja mengobrolnya.
"Maaf Mah, Ma, aku ganggu," sela ku yang kemudian terfokus menatap Mama.
"Kita makan yuk, Ma, aku laper," ajakku.
"Mama belum lapar, kamu makan sendiri ya? Atau sana istri kamu tuh..."
"Maa, kata Nita, Mama belum makan dari tadi siang. Kalo sekarang Mama gak makan, nanti badan Mama lemes, kalo udah gitu, trus yang nemenin Papa siapa?" Tika membantuku untuk membujuk Mama.
Akhirnya Mama pun mau untuk diajak makan. Ku tinggalkan Tika dan mertuaku, serta keluargaku yang lainnya. Aku hanya berdua dengan Mama, pergi untuk makan.
----------------------
Tika POV.
Ku biarkan Jefri membawa Mamanya untuk makan malam berdua. Karena aku yakin, Mamanya saat ini sangat membutuhkan Jefri.
"Tika," panggil Mamah sambil menyentuh tanganku.
Aku terfokus pada pikiranku sendiri, "Eh, iya, kenapa, Mah?"
Mamah menggelengkan kepalanya pelan, "Kamu ini, mertua belum makan dibiarin. Mamah gak pernah loh nga...."
"Mah, aku baru aja tau. Kirain tadi siang Mama Alena udah makan," sanggahku.
"Udah-udah, lain kali kamu perhatiin lagi kedua mertua kamu."
"Iya, Mah, iya."
Kemudian Jordy mendatangiku, mengajakku untuk menemaninya bermain game puzzle di ponsel.
Sekitar dua jam telah berlalu. Keluarga Jefri sebagian sudah ada yang pulang. Hanya tersisa saudara laki-laki dari Papanya dan tentu saja Jerry, Nita dan Jordy yang masih asik bermain game.
"Onty, kenapa sih Kakek harus tidur sendirian didalam sana?" celetuk Jordy tiba-tiba menghentikan permainan gamenya.
Aku terkejut mendengar anak ini berkata seperti itu. Aku menoleh pada Mamah yang juga mendengar pertanyaan Jordy.
"Tapi kenapa Jordy ga boleh liat Kakek didalam?"
"Jordy.. Jordy kan masih kecil. Nanti kalo Jordy sudah besar, sudah sekolah, Jordy boleh masuk ke sana," jelasku menjawab pertanyaan.
Jordy menggeser bokongnya yang sedang duduk di pangkuanku. Menyamping sambil menatapku.
"Memang Kakek sakit apa sih, Onty?" lirihnya pelan, "soalnya tadi, Jordy tanya Papa sama Mama gak dijawab."
Aku tersenyum menatapnya, kemudian menatap kedua orangtua Jordy kilas, "Kakek cuman sesak nafas. Jadi di dalam sana, Dokter sama Suster lagi tolongin Kakek."
"Oh, gitu. Tapi Kakek nanti pulang ke rumah kan, Onty?"
"Iya dong, pasti pulang. Jordy udah kangen ya sama Kakek?"
"Iya, Onty. Kemaren Jordy gak ada ketemu Kakek," ucapnya sambil memonyongkan kedua bibirnya. Lucu.
Ku belai lembut puncak kepalanya, kemudian ku dekap Jordy dalam pelukkanku. Aku menyayangi anak ini selayaknya aku menyayangi Icel, anak kakakku, Max.
Tak selang beberapa lama, Jefri dan Mama Mertuaku datang. Mereka sudah bisa tersenyum dengan lebar. Raut wajah Mama Alena juga sudah terlihat kembali segar.
"Loh, yang lain sudah pulang?" tanya Mama Alena pada Om Rudi, saudara Papa Mertuaku.
"Iya, tadi mereka titip salam saja dan semoga Ka Atta cepat sembuh katanya," sahut Om Rudi.
Jefri mendekatiku, duduk di sampingku sambil mengacak rambut Jordy. Lalu tersenyum kilas padaku.
"Yuk, aku antar kamu sama Mamah pulang. Kamu tidur di rumah Mamah aja ya?" ucap Jefri.
"Enggak-enggak. Biar aku sendiri yang antar Mamah. Nanti aku balik lagi. Sini kunci mobilnya," pintaku.
"Kamu istirahat, tidur di rumah Mamah. Kan besok harus kerja."
__ADS_1
"Sekali ini aja, jangan suruh aku buat ngelawan kamu. Aku antar Mamah pulang, trus aku ke rumah ngambil baju ganti. Trus kita sama-sama disini," tegasku.
Jefri menghembuskan nafasnya sambil memejamkan mata sebentar. Kemudian menatapku kembali. Lalu ia mengalah, merogoh saku celananya untuk mengambil kunci mobil dan memberikan kunci itu padaku.
Ku berikan ia senyuman paling manis yang ku miliki. Lalu dengan senyum tipisnya, salah satu tangannya membelai lembut puncak kepalaku, mengacak sedikit bagian atas rambutku. Sama seperti yang ia lakukan sebelumnya dengan pundak kepala Jordy.
"Jordy sama Om Dul dulu ya? Onty mau nganterin Nenek Ida pulang," jelasku pada Jordy yang sedari tadi kembali sibuk dengan game gadget ditangannya.
"Gak mau! Jordy mau sama Onty Tika aja," seru Jordy yang masih fokus dengan gamenya.
Nita, Mamanya yang melihat itu langsung mendekati kami. Lalu membujuk Jordy untuk turun dari pangkuanku. Aku hanya visa tersenyum melihat tingkah manja Jordy padaku.
"Jordy, Onty nya mau pulang, ayo sini sama Mama," bujuk Nita.
Tapi tetap saja Jordt tidak bergeming. Saat Jefri hendak mengangkatnya, tiba-tiba saja Jordy melemparkan gadgetnya sembarangan lalu memelukku kuat. Aku terkejut.
"Gak mau! Maunya sama Onty! Gak mau!" teriak Jordy histeris.
"Ssstt! Jordy gak boleh gitu," ucapku berusaha menenangkannya sambil mengelus punggungnya, "udah ya? Jangan gitu dong, Onty ga suka loh kalo Jordy bentak-bentak Mama," tambahku.
"Udah, biar aku antar kamu sama Jordy pulang. Ayo Jordy, kita pulang," ucap Jerry pada Nita lalu mencoba melepaskan pelukkan Jordy padaku.
Jordy semakin mengeratkan pelukkannya. Aku tak tega.
"Biar aku aja yang antar. Sekalian antar Mamah, gimana?" tanyaku pada Jerry.
"Iya, biar Tika aja yang antar," tambah Jefri, "Jordy pulang yaa? Dianterin tuh sama Onty Tika, kan udah waktunya tidur?"
Jordy mengangkat wajahnya menatapku. Aku balas menatapnya.
"Pulang ya? Onty anterin, mau?" ucapku sambil tersenyum lebar, "udah jangan nangis lagi. Masa cowok nangis sih?"
"Memang kalau cowok gak boleh nangis?" tanya Jordy sambil terisak tertahan.
Kedua matanya berkaca-kaca kemerahan menatapku, mengkilat akibat airmata yang sempat menggenangi kedua pelupuk matanya. Ujung hidunya pun sama, memerah. Kedua bibirnya terlihat manyun dengan ritme isak tangis yang masih sesekali muncul.
"Ya gak boleh dong! Cowok itu harus kuat. Harus tegas," sahutku sambil mengusap pipi Jordy yang masih dibasahi dengan airmatanya tadi.
Jordy melepaskan pelukannya padaku. Kemudian dia menghapus airmatanya sendiri. Turun dari pangkuanku kemudian kembali berbalik menatapku.
"Ayo kita pulang, Onty. Kasian Mama sudah menunggu," ucap Jordy tegas yang sontak membuat kami yang melihatnya tertawa pelan cekikikan.
Aku menggelengkan kepalaku pelan, kemudian berdiri meraih tangan Jordy yang disodorkannya padaku. Mamah, Nita, Jordy dan aku segera pamit. Kemudian kami berjalan bersama beriringan menuju ke parkiran mobil ditemani dengan suamiku, Jefri.
"Hati-hati dijalan ya? Nanti balik ke sininya jangan ngebut!" tegas Jefri sambil membukakan pintu mobil.
"Iya, tenang aja deh. Kamu mau nitip sesuatu?" tawarku saat aku sudah duduk sempurna di balik kemudi.
"Ga ada."
Buukk..
Suara pintu mobil ditutup oleh Jefri.
Ku turunkan kaca jendela mobil.
"Beneran gak ada yang mau dibeli atau aku ambilin dari rumah?" tanyaku sekali lagi, memastikan.
"Iya. Kamu balik sampe sini dengan selamat aja, aku udah lebih dari bahagia," sahutnya tersenyum kembali.
Aku hanya tertawa kecil mendengar ucapannya. Aku nyalakan mesin mobil, Jordy berseru sambil 'berdadah' pada Jefri di kursi belakang dengan Mamanya.
Sedangkan Mamahku duduk didepan, disamping kursi kemudiku, menemaniku.
"Mamah pulang ya, Jeff?" pamit Mamah.
"Iya, Mah, makasih sudah mau jengukin Papa aku."
"Sudah seharusnya," jawab Mamah.
__ADS_1
Aku yang mendengar jawaban Mamah, tersenyum. Seperti dejavu. Entahlah. Seperti pernah mendengar kalimat ini sebelumnya dari mulut yang sama. Tapi aku lupa itu kapan dan membahas tentang apa.