
Selamat membaca ...
——————————
Still Haikal POV.
Baru saja aku selesai mengganti pakaianku, pintu ruangan sudah digedor oleh salah seorang perawat.
“Maaf, Dok, ada kericuhan di lobby depan,” lapornya.
“Kericuhan apa?” Aku sedikit terkejut mendengar berita itu. Sebab selama ini tidak pernah ada kericuhan besar yang mana aku sampai harus turun tangan. Dan biasanya, dokter lain bisa mengatasi itu sebelum beritanya sampai kepadaku.
“Keluarga pasien membuat onar dengan perawat baru,” ucapnya lagi.
Aku segera memasukkan ponselku ke dalam laci dan menguncinya. Mengambil jas putihku lalu keluar dari ruangan, berlari kecil bersama perawat itu menuju ke tempat yang dia maksud.
Sesampainya di sana, benar saja, kedua mataku sudah dapat melihat kerumunan orang yang lumayan menyita perhatian.
“Maaf, permisi,” ucapku mencoba menyelip dalam kerumunan itu.
Bagiku, kejadian seperti ini bukanlah hal yang pertama kalinya terjadi. Hanya saja aku dikejutkan oleh perawat baru yang dilawan oleh keluarga pasien itu. Dia sudah terjatuh di lantai dan tidak ada satu pun karyawan di gedung ini yang membantunya untuk berdiri. Mempertahankan martabatnya sebagai seorang perawat dan sebagai seorang wanita.
Aku menatap dingin kepada beberapa perawat tang berdiri di barisan paling depan lalu segera membantu Jovanka untuk berdiri. Ya, dia yang telah tersungkur ke lantai saat ini dan dia juga yang menjadi sasaran amukan sebuah keluarga yang terdiri dari 3 orang di arah yang sebaliknya.
“Maaf Bapak dan Ibu, saya pimpinan di sini—”
“Oh, jadi Anda pimpinan di rumah sakit ini? Gimana ini kinerja karyawannya? Enggak becus sama sekali! Saya di sini bayar ya, untuk penanganan adik saya lebih dulu dari yang lain tapi malah enggak di layani duluan. Gimana sih?! Mau adik saya sekarat dulu apa baru dilayani dengan cepat?!” hardik seorang lelaki tanggung yang berdiri paling depan, begitu dekat denganku.
“Masa pelayanan rumah sakit Internasional begini?! Memalukan!” sahut sang wanita yang berdiri di sampingnya.
“Kalau gak bisa cepat gak usah sok pake prosedur-prosedur lebih dulu dong!!” ucap lelaki yang satunya lagi.
Jovanka sudah berdiri di sampingku dan saat aku menarik tangannya tadi, terasa gemetar di sana. Wajahnya juga terus menunduk dan terlihat pucat pasi, mungkin dia ketakutan saat ini. Entahlah ... yang jelas saat ini aku harus cepat membubarkan kerumunan ini dan menyelesaikan masalahnya.
“Maaf, saya selaku pimpinan di rumah sakit ini meminta maaf jika pelayanan karyawan di sini kurang memuaskan—”
“Jelas! Sangat sangat tidak memuaskan ini!” ucap sang wanita menyela kalimatku. Aku hanya berusaha tersenyum tipis. Ya, berusaha, sebab aku memang paling tidak suka jika aku sedang berbicara, disela begitu saja.
“Oleh karena itu, mungkin Bapak dan Ibu bisa ikut ke ruangan saya. Anggap saja sebagai permintaan maaf dari saya atas nama rumah sakit ini.” Bertepatan di saat itu, untung saja dokter Ranti muncul di antara kerumunan tersebut. Dan sebelum sang wanita itu kembali berbicara, cepat-cepat aku kembali melanjutkan rencanaku.
__ADS_1
“Untuk perihal adiknya, bisa Bapak sampaikan namanya agar segera diperhatikan.” Aku tetap berusaha sangat sopan melayani mereka.
“Dan untuk yang lainnya, saya mohon maaf atas ketidaknyamanan ini. Mari Pak, Bu, biarkan Dokter Ranti yang menunjukkan jalan menuju ruangan saya.” Aku langsung memberikan kode pada dokter Ranti dan dia dengan sigap melayani ketiga orang itu dengan keramahannya.
Perlahan kerumunan tersebut berangsur-angsur membubarkan diri hingga tersisa beberapa perawat dan tentu saja Jovanka, yang masih berdiri mematung di belakangku.
“Kalian semua keterlaluan. Membiarkan rekan sendiri terjatuh dan tidak melindungi martabatnya sebagai sesama. Sejak kapan saya pernah mengajarkan itu pada kalian? Dengan saya, kalian bisa sopan tapi dengan sesama kenapa tidak bisa? Bubar semuanya!!” tegasku sesaat setelah keluarga pasien itu menjauh. Para perawat yang masih berdiri, entah lelaki ataupun wanita mulai menjauh satu per satu.
Aku berbalik dan menangkap lengan Jovanka. Namun, dia menepisnya begitu saja kemudian berlari ke arah dalam rumah sakit. Entah ke mana tujuannya. Aku hanya menatapi punggungnya yang semakin menjauh dan menghilang di balik tembok. Lalu aku segera menuju ruanganku untuk menyusul dokter Ranti.
Sesampainya di ruangan, aku sudah melihat raut ketiga wajah keluarga pasien itu yang duduk berderet di sebuah sofa panjang di sana. Terlihat lebih tenang dari sebelumnya tetapi tidak menjamin mereka memang sudah benar-benar sangat tenang. Aku menarik telepon di atas meja lalu menyalakan speakernya, menghubungi bagian UGD yang aku ketahui dokter yang sedang berjaga adalah dokter David, dokter Jason, dokter Nanda, dokter Podang dan juga dokter Aya.
“Maaf, nama pasiennya siapa?” tanyaku.
“Nona Fina Firo, Dok,” sahut dokter Ranti dengan cepat.
Nada sambung telepon ke bagian UGD sudah terhubung sejak tadi kemudian seorang perawat menerimanya. Dan sesuai prosedur, perawat di seberang sana menerimanya dengan sapaan dan penuh sopan santun.
“Saya dokter Haikal, maaf dengan perawat siapa yang menerima panggilan ini?”
“Saya Ryanab, Dok. Ada yang bisa saya bantu?”
“Beliau baru saja masuk ruangan sekitar satu jam yang lalu dengan keluhan luka di bagian kaki sebelah kiri, akibat terinjak pecahan kaca, Dok.”
“Sudah di tangani?”
“Sudah selesai, Dok. Hanya saja beliau juga mengeluhkan pusing yang diduga oleh Dokter Nanda penyebabnya karena banyaknya darah yang keluar dari luka yang beliau derita.”
“Lalu saya dengar, beliau lambat menerima penanganan, ada alasannya?”
“Setelah beliau masuk ke ruangan, beberapa detik kemudian ada seorang pasien wanita lainnya yang berumur lansia dan menderita stroke. Hanya selisih waktu kurang dari semenit untuk di tangani, Dok.”
“Lalu kondisi pasien stroke itu?”
“Sekarang masih salam penanganan dokter Aya dan juga dokter Jason.”
“Baik. Terima kasih. Silahkan lanjutkan kembali.” Aku langsung menutup sambungan telepon itu. Mengakhirinya dengan sebuah kejelasan bagiku.
Kemudian aku menarik sebuah kursi di depan meja kerjaku dengan dokter Ranti yang masih berdiri di sekitarku. Lalu seorang office boy menyodorkan suguhan segelas teh hangat untuk ketiga orang tersebut. Aku mempersilakan mereka untuk minum terlebih dahulu. Setelah itu baru aku jelaskan kembali dengan mereka.
__ADS_1
“Mohon maaf sekali lagi saya sampaikan dan mungkin Anda semua sudah mendengar tadi hasil pantauan dari ruangan UGD. Keluarga kalian baik-baik saja bahkan sudah selesai di tangani. Dan mungkin saya perlu menjelaskan sedikit, jika rumah sakit ini memiliki prosedur berbeda dengan rumah sakit pada umumnya.”
Terlihat mulut seorang lelaki salah satu dari mereka hendak menyela ucapanku, dengan gesit aku kembali mencoba menjelaskan. “Kami tidak meminta keluarga pasien untuk mendaftar terlebih dahulu, bagaimanapun kondisinya pasti akan kami tangani. Namun, dalam ruangan UGD ada beberapa jenis pasien yang harus mendapatkan perhatian utama untuk segera ditangani melihat dari seberapa parah keluhan pasien. Sebab jika kami menangani sesuai dengan urutan memasuki ruang tindakan bisa-bisa satu nyawa manusia menghilang dan kami mempertaruhkan sebuah keluarga yang kehilangan anggota keluarganya. Seperti yang tadi Bapak dan Ibu dengar, pasien dengan riwayat stroke. Jika kami terlambat, mungkin saat ini akan ada duka dalam ruangan UGD hanya karena kami harus membersihkan luka di bagian kaki Nona Fina,” jelasku panjang lebar.
Wajah mereka bertiga seketika berubah, seakan merasa bersalah sekarang.
“Kami tidak akan membiarkan seorang pasien pun terlantar begitu saja tanpa tindakan apa pun. Dan kami juga memiliki standar waktu tunggu maksimal dalam penanganan. Jadi saya harapkan kesalahpahaman ini segera berakhir. Sekali lagi saya atas nama rumah sakit ini memohon maaf yang sebesar-besarnya, jika karyawan di sini ada menyinggung perasaan Bapak-bapak dan Ibu.”
“Sudahlah. Kami hanya kecewa karena melihat saudara kami diabaikan sebelumnya. Ayo cepat kita keluar dari sini. Tidak ada gunanya kita berlama-lama.” Salah satu lelaki itu langsung berdiri kemudian pergi begitu saja, diiringi dengan kedua orang yang lainnya. Sepertinya beliau tidak mau menerima kondisi apa pun hingga tetap menyangkal seperti itu. Biarlah ...
Aku segera berdiri dan membungkukkan tubuhku, begitu pula dengan dokter Ranti yang melakukan hal serupa. Kami tetap menghormati mereka hingga ketiga orang itu menjauh keluar dari ruang kerjaku.
Embusan napasku yang begitu terasa berat seketika menjadi ringan. Satu masalah lagi teratasi. Aku mengelengkan kepalaku.
“Apa anak baru itu gak bisa atasin sendiri atau dengan rekan-rekannya?” tuduh dokter Ranti, begitu aku kembali duduk di kursi kerjaku.
“Mungkin dia belum pernah ngalamin yang beginian. Dan bukankah seharusnya itu jadi tanggung jawab kamu tadi?” Aku menyindirnya. Dokter Ranti terlihat tidak nyaman dengan kalimatku. Sebab bagaimanapun juga, aku adalah atasannya walaupun kami berteman dan akrab.
“Aku sedang di belakang tadi, makanya telat dapat kabar begitu,” sanggahnya.
Aku tertawa kecil lalu kembali berkata, “Lain kali jangan sampai berita itu masuk ke dalam ruanganku. Kamu juga sudah aku bebas-tugaskan dari bagiab UGD. Harusnya bisa lebih teliti lagi.” Ranti mengangguka cepat mendengar teguranku itu. Kemudian aku menyuruhnya untuk segera keluar dari ruanganku.
Sedangkan aku memutuskan untuk pergi menuju tangga darurat di belakang gedung ini. Untuk mengambil udara segar di sana.
Bersambung ...
——————————
Jangan protes ya yang namanya aku gunakan 😂 Itu sebagai bentuk rasa terima kasihku untuk kalian yang selalu setia membaca KTS dan juga MWL serta karyaku yang lainnya seperti Thee Mba Getir dan The Hand of Death.
Ke depannya akan lebih banyak lagi nama kalian yang akan aku gunakan. Terima kasih 😘
Jangan lupa juga buat vote 😂
Sekian dulu, #salambucin
Babay ...
@bossytika 💋
__ADS_1