Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
Eps 213


__ADS_3

Selamat membaca ...


——————————


Haikal POV.


Kami berempat melangkahkan kaki bersama, menyusuri pemakaman menuju ke parkiran mobil. Dari kejauhan aku sudah melihat Jefri yang berdiri di samping mobilnya sambil menyesap sebatang rokoknya.


“Aku pikir tadi kalian berdua aja ke sini,” ucapku sambil melangkah lalu menoleh pada Tika.


“Tadi malam dia cerita. Trus tadi ngajakin ke sini bareng Lisa. Tahunya dia sendiri gak mau ikut ke sana.”


“Dia masih cemburu?” tanyaku lagi.


“Entahlah, aku masih belajar memahaminya. Yang jelas, dia yang mengajariku untuk berdamai dengan masa lalu dan diri sendiri. Kalau tidak, bagaimana mungkin aku bisa setenang ini?” Tika melirikku lalu kami tersenyum.


Aku langsung menyapa Jefri, “Hei, kenapa gak ikut ke sana?” Lalu memeluknya sekilas.


“Lain kali aku akan ke sana tapi enggak buat hari ini,” sahut Jefri yang kemudian menepuk pundakku. Aku tertawa kecil.


“Kalian habis ini pada mau ke mana lagi? Udah sarapan belum?” tanyakuku.


“Mau ngajakin sarapan?” sahut Tika.


“Kalau kalian mau.” Aku memberii usul.


Mereka menyetujui usulku untuk sarapan bersama. Kemudian aku meminta Jefri untuk mengikuti arah tujuanku di belakang.


Setelah menempuh waktu beberapa menit, akhirnya aku langsung membelokkan kemudi setir ini memasuki semuah kawasan rumah makan. Mungkin lebih pantas jika disebut seperti food court. Aku melirik ke kaca spion dan melihat mobil Jefri yang masih ada di belakang mengikuti.


Setelah memarkirkan mobil, kami segera turun dari mobil masing-masing lalu memutuskan untuk mencari meja makan dan tempat duduknya terlebih dahulu. Begitu dapat, aku langsung meminta mereka untuk melihat sekeliling, secara jauh memilih menu sarapan yang ingin mereka pesan.


Kemudian aku dan Jefri berdiri, memesankan makanan untuk para wanita itu. Sedangkan mereka, kami untuk tetap duduk di sana menunggu hidangan sarapannya.


“Jeff, aku mau tanya sesuatu.” Ragu-ragu aku berucap.


“Silakan. Tanya aja, kalau bisa pasti aku jawab.”


“Kenapa kamu biarin Tika sama Lisa tahu di mana letak makam Dave dan Dana? Padahal kamu bisa aja untuk merahasiakannya.”


“Kamu bilang tadi malam, kalau kamu merasa memiliki kewajiban 'kan buat ngasih tahu Clara?”


“Mungkin kalau alasan aku itu lumayam tepat. Karena mereka hanya sekedar teman di saat kecil, saat masih anak-anak. Tapi Tika ....” Aku sengaja memutuskan kalimatku sendiri.


“Aku hanya mencoba berdamai dengan masa lalu Tika. Karena bagiku, menerima Tika dengan segela kekurangannya, itu adalah yang terpenting. Sebab, secara tidak langsung aku juga ingin dia menerima kekuranganku dan berdamai dengan masa laluku,” tutur Jefri.


“Sesimpel itu?”

__ADS_1


“Iya. Lagi pula kedua bersaudara itu sudah gak ada. Dan aku juga belajar banyak hal dari mereka berdua tentang arti kehidupan, tentang arti dari perasaan.”


Rasanya begitu ringan mendengarkan nasihat dari Jefri itu. Begitu sederhana tetapi mengena. Dan apa katanya itu memang benar jika dipikirkan secara rasional. Coba saja untuk memperlakukan pasangan, seperti apa yang hendak diri sendiri dapat. Hukum timbal balik.


“Aku menganggap masalah yang datang kepada kami berdua kemarin adalah sebagai ujian. Penghapus dosa dan juga kebodohan kami di masa lalu,” timpal Jefri lagi lalu dia terkekeh kecil.


Lagi-lagi dia mengatakan kebenaran. Akan selalu ada masalah dalam setiap hubungan, maka akan selalu ada ujian untuk melewatinya. Begitu pula dengan setiap manusia, sesuci apa pun, sebersih apa pun, pasti tetap memiliki kesalahan yang memang harus mereka pertanggungjawaban kelak. Suatu saat nanti yang entah kapan hari itu akan muncul.


Aku semakin mengerti dengan cara Tika dan Jefri memandang sebuah pernikahan. Mereka sama-sama memiliki kesalahan di masa lalu yang saat ini mereka tebus berdua. Bersama melewati terpaan masalah yang selalu datang menghampiri.


Entah sudah berapa kali mereka pernah menyerah. Dan mungkin sudah sering mereka mengeluh, hanya saja aku tidak tahu itu dan mereka tidak menampakkan itu kepada kami. Aku harus belajar banyak pada mereka.


Perlahan aku ikut terkekeh. Bukan karena ada sesuatu hal yang lucu. Tetapi karena kebodohanku yang memandang hidup hanya sebatas lingkungan rumah sakit. Sekuat tenaga menyelamatkan sebuah keluarga lain tanpa memikirkan keluarga sendiri.


Dan bertahun-tahun aku terjebak dengan situasi itu. Aku membalikkan arah tubuhku lalu bersandar pada dinding tembok. Pandangan kedua bola mataku mengarah jaug menatap Clara yang sedang tertawa dengan Tika dan juga Lisa.


“Jaga senyuman itu untuk tetap ada di setiap harinya. Di setiap kalian membuka mata, maka alam bawah sadar kamu akan bekerja untuk terus membuatnya seperti itu.” Jefri menepuk pundakku.


Ya, aku ingin terus melihat senyuman itu dari wajah Clara. Aku ingin tawanya selalu hadir dalam keseharian kami. Aku ingin dia menjadi seseorang yang kuat untuk menjalani hidupnya. Hingga kami duduk bersama, melihat anak dan cucu kami bertawa bahagia.


Selesai sarapan bersama, kami kembali berpisah. Aku langsung mengantarkan Clara untuk kembali ke rumahnya untuk menikmati masa cutinya dan mempersiapkan diri menjelang acara pernikahan kami. Sedangkan aku harus segera kembali ke rumah sakit, karena masih banyak tugas kewajiban yang harus aku laksanakan di tempatku bekerja.


**


Tok tok tok!


“Iya, masuk!” sahutku dari dalam ruangan.


“Saya akan segera ke sana, terima kasih.”


Kemudian perawat itu kembali menutup pintu ruangan dan aku segera berdiri. Menghentikan pekerjaan dan menyimpan ponselku di dalam laci meja serta menguncinya. Lalu aku mengganti pakaian kerja dengan seragam praktek lalu melangkah meninggalkan ruang kerjaku.


Lagi-lagi aku menghampiri meja perawat, tetapi kali ini khusus untuk menanyakan perihal undangan yang aku titipkan pada perawat Zahira.


“Undangannya sudah sampai?”


“Sudah, Dok. Sisanya kemarin sudah diterima langsung oleh beliau-beliau itu,” jawab perawat Zahira dengan tegas.


“Kalian jam berapa switch-nya?” Aku baru menyadari jika Zahira masih berada di postnya yang mana seharusnya dia sudah bertukar jam dengan perawat Fishel.


“Oh, Fishel sedang dalam perjalanan, Dok.”


Seluruh station keperawatan mungkin tahu, jika aku memang selalu mengandalkan kedua perawat ini. Sehingga mereka berdualah yang memiliki jam kerja hampir sama denganku. Jam kerja yang lebih banyak dan berbeda dari pada yang lainnya. Dan aku baru menyadari hal itu.


“Mungkin sudah saatnya, kalian berdua mencari pendamping dan ajari semuanya tentang meja post utama ini. Kamu rundingkan dengan Fishel lalu ajukan dua nama pada saya,” tawarku.


“Tapi, Dok, itu bukan berati kami diberhentikan 'kan?” Perawat Zahira terdengar panik, ditambah lagi dengan wajahnya yang sedikit kebingungan.

__ADS_1


Aku tersenyum. “Tentu aja enggak. Saya cuma mau kalian memiliki jam istirahat yang sama seperti yang lainnya. Memang kemungkinan gaji kalian akan berkurang lagi, tapi kesehatan kalian jauh lebih penting.


Drap! Drap! Drap! Drap!


Suara derap langkah kaki yang begitu berat dan juga cepat, terdengar hingga di telingaku. Membuat aku menoleh dan melihat seorang perawat senior lainnya. Kali ini dia adalah perawat senior dari ruangan UGD, di mana dulu aku sering menghabiskan waktu di sana, untuk menangani pasien dengan kondisi darurat maupun kritis. Perawat itu bernama Windha Sary, aku biasanya memanggilnya dengan sebutan Winwin.


Dia berhenti tepat di depanku, dengan napas yang tersengal tidak beraturan dan juga keringat yang timbus di bagian kening dan sekitarannya, membuat aku bingung dengan apa yang sudah terjadi. “Ada apa, Win? Kenapa post kamu tinggalin begitu aja?”


“Gawat, Dok! Darurat! Hah ... hah ... hah!” lontar perawat Winwin dengan napas yang terputus.


Aku bingung melihatnya dan hanya bisa membiarkannya untuk menormalkan kembali detak jantungnya sendiri. Lalu menenangkan saluran pernapasannya sendiri. “Dokter Ranti, Dok! Beliau ... beliau kecelakaan!” sambungnya.


“Kapan?”


“Barusan masuk ruang operasi empat. Beliau kehilangan banyak darah saat dibawa kemari oleh warga sekitar,” terang perawat Winwin lagi.


Tanpa berpikir berulang kali lagi, aku langsung melangkahkan kaki dengan cepat menuju ke sana. Tapi sayangnya aku tidak bisa masuk ke dalam ruang praktik operasi, aku hanya bisa melihatnya melalui ruang showing operasi dan mungkin bersama dokter lainnya.


Benar saja. Ternyata di dalam ruang showing sudah ada beberapa dokter di sana yang begitu melihatku langsung serempak menyapa. Aku hanya menundukkan kepala sebagai tanda balasan untuk cara mereka menghormatiku.


Kemudian aku beralih memantau dokter Ranti dari atas. “Gimana kondisinya?” tanyaku pada mereka. Entah dokter mana yang memiliki tanggung jawab pelaksanaan operasinya.


“Dokter Ranti kehilangan banyak darah dan bagian kakinya ....”


“Kenapa bagian kakinya?” Aku menoleh karena terkejut mendengar bagian kaki dokter Ranti yang dipermasalahkan.


Di sampingku saat ini berdiri seorang dokter yang aku kenal sejak lama. Dia juga sering membantuku saat bertugas di ruangan UGD. Bahkan hanya dia dan dokter Ranti yang selalu berani melanggar aturan yang aku berikan. Dia adalah dokter Adam.


“Kakinya terjepit membengkok pada saat dikeluarkan dari mobilnya. Kita membutuhkan Dokter Spesialis Bedah Ortopedi sekarang, sebab dokter Hanna yang kita punya sedang study bersama dengan dokter Sam di London.” Dokter Adam mengingatkanku.


Mendengar semua itu, jujur aku terkejut. Kembali kepalaku menoleh, menatap dokter Ranti yang sedang berjuang di bawah sana. Dalam otakku berpikir, ke mana aku harus mencari dokter ortopedi itu?


Bersambung ...


——————————


Hai kalian!


Masih kurang banyak komennya yang mau dapat undangan di bab sebelumnya, jadi undangannya masih aku pending 🤭


Pokoknya sampai jumlah yang aku targetin sendiri tercapai, baru undangan itu aku terbitkan 😝 jadi selama itu juga pernikahannya belum terjadi.


So, tulis komen terus yaa, kasih nama + kota tinggal kamu sekarang! Buruan 😝


Jangan lupa juga buat vote 🧐


Sekian dulu, #salambucin

__ADS_1


Babay ...


@bossytika 💋


__ADS_2