Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
S2 - Eps 16


__ADS_3

Haikal POV.


Ku habiskan waktu istirahat ku di dalam ruang kerja ku. Mengecek beberapa berkas pasien yang telah dirawat di ruang inap yang sebelumnya dari UGD. Aku tergolong dokter senior di rumah sakit ini, rumah sakit swasta pertama dengan sistem pelayanan internasional.


Aku bukan pemiliknya, aku hanya orang kepercayaan beliau. Dulu saat aku sedang mengambil spesialis diluar negeri, aku bertemu dengan pemilik rumah sakit ini. Beliau memintaku untuk menjalankannya, memberikan aku kepercayaan penuh untuk mengurusi rumah sakit yang tadi nya hampir bangkrut.


Bukan bangkrut karena tidak ada pasien, tapi hampir bangkrut karena beliau tidak bisa mengelolanya. Beliau tidak bisa menjalin kerjasama dengan department-department yang sebenarnya bisa membantu untuk biaya pasien. Seperti BPJS atau department kesehan, department kemiskinan dan masih banyak yang lainnya.


Beliau orang yang terlalu peduli, sehingga beliau tidak memikirkan keluarga pasien bisa membayar biaya nya atau tidak. Yang penting pasien bisa selamat dan sehat begitu keluar dari rumah sakit ini. Aku setuju dengan pemikiran beliau, namun banyak cara yang bisa di lakukan agar pihak rumah sakit atau pun pihak pasien bisa sama-sama melewati proses kritisnya.


8 tahun sudah aku mengelola rumah sakit ini. Dibantu dengan ratusan staff yang berkompeten dibidangnya, hingga 3 tahun yang lalu rumah sakit ini mendapatkan predikat internasionalnya dalam bidang pelayanan.


Oleh sebab itu, segala waktu ku lebih banyak habis di sini. Aku juga masih aktif menangani kondisi di UGD. Bahkan bisa di bilang, aku hanya memiliki waktu 2 jam untuk tidur dan 2 jam untuk bersantai sambil makan, dan itu terjadi sehari-hari dalam waktu 24 jam.


Siang ini aku memutuskan untuk ke rumah Mamah, sudah lama aku tidak bertemu dengan Mamah. Terakhir yang aku tau, Tika menginap di rumah mertuanya. Kasian juga Mamah sendirian, batinku.


"Ran, gua hari izin yak? Tolong lu handle UGD bareng yang lain. Paling malem gua balik." ucapku saat melihat Ranti keluar dari ruangannya.


"Loh kok gua sih?" protesnya.


"Yang gua liat pertama kali elu sih, siapa suruh lu keluar ruangan lu." aku ngeless.


"Ya udah ntar besok-besok gua di ruangan aja gak keluar lagi." rengeknya.


"Ahahaha. Ya udah ya, byee.."


Aku pergi meninggalkan rumah sakit dan segera menginjakkan pedal gas mobilku menuju rumah Mamah. Sesampainya disana...


"Pagi Mah, ngapain?" sapaku saat menemui Mamah didepan televisi ruang tengah.


"Nyari infotainment, nonton gosip dulu. Kamu kok tumben kesini?" ucap Mamah saat ku kecup pipinya.


"Ya emang gak boleh pulang ke rumah sendiri? Kan kangen Mamah, kasian juga Mamah sendirian."


"Kata siapa Mamah sendiri, Tika sama Jefri ada kok diatas."


"Oh ya? Udah lama mereka nginap disini?"


"Lumayan."


"Ya udah aku ke atas dulu. Ada yang mau aku omongin sama mereka." aku segera ke atas menuju kamar Tika.


"Tiiiikkk. Astaga naga!!!" teriakku saat di ambang pintu kamarnya, "Kalian kalo mau gituan di tutup dong pintu nya, di kunci kek, malah dibiarin kebuka gitu. Inget ini masih rumah Mamah, ada Mamah ada Bibi, ini lagi aku ngeliat yang begituan bisa sial nih!! Shit!!" sambil meraih pintu kamar dan menutupnya.


Lalu ku lanjutkan mengomelku sambil menuruni tangga.


"Kenapa sih Kal?" seru Mamah dari lantai bawah.


"Itu tuh Tika sama Jefri begituan Mah, pintu ke buka lagi, kan aku jadi liat adegan dewasa! Bisa sial mataku ini!" omelku lalu menghempaskan bokongku di sofa samping Mamah.


"Kamu ini, kan tiap hari juga kamu liat organ tubuh pasien kamu, masa liat mereka langsung bilang sial." sahut Mamah sewot.


"Bukan gitu Mah... Tapi aku kan......"


"Makanya cepetan nikah. Kelamaan ntar jamuran, karatan!" seru Tika dari atas tangga.


"Eh jangan kurang ajar ya sama kakak sendiri!" sewotku.


"Siapa yang kurang ajar, kan aku cuman ngasih tau." sahut Tika santai lalu menjulurkan lidahnya meledekku.


"Eh kamu mau kemana?"


"Renang! Mau ikut?"


"Ogah!" kesalku.


Tika langsung berlalu menuju kolam renang.


"Kamu udah sarapan?" tanya Mamah.


"Udah Mah. Mamah hari ini ada jadwal kemana?" aku beringsut manja di bahu Mamah.


"Kenapa memang?"


"Ya ga papa, kalo Mamah di rumah aja berarti aku bisa manja-manja sama Mamah seharian."


"Loh memang ga papa rumah sakit kamu tinggalin?" tanya Mamah heran.


"Aku pingin istirahat Mah hari ini, ntar malam baru balik ke sana."


"Ntar Mamah mau ikut Tika sama Jefri ngeliatin rumah mereka. Kamu ikut aja kalo gitu. Gimana?" tawar Mamah.


"Emang boleh aku ikut?" tanyaku sambil menatap Mamah.


"Ikut aja ga papa kok, santai aja, lagian rumahnya tinggal finishing dalam." sahut Jefri dari atas tangga.


"Oh, ya udah ikut gua kalo gitu." jawabku berusaha santai.


"Sorry ya mesti liat adegan tadi." tambahnya lagi sambil tertawa.


Mamah pun ikut tertawa.


"Gua ke belakang dulu." ucapnya lagi.


Jefri pun segera berlalu menghampiri Tika di kolam renang. Aku pun akhirnya ikut menyusul mereka.

__ADS_1


Ku keluarkan rokok ku dan menyulutnya. Duduk di kursi jemur dekat Jefri duduk.


"Paula siang ini udah boleh keluar dari rumah sakit." ucapku membuka obrolan.


Dia hanya menganggukan kepalanya sambil menikmati sebatang rokoknya. Aku pun begitu, sudah lama aku tidak merokok. Menikmati hariku.


"Udah bereskan masalah lu sama dia?" tanyaku.


"Buat gua udah clear. Dan gua udah gak mau ada urusan apa-apa lagi sama dia dan semua yang berhubungan sama dia. Gua gak mau nyakitin Tika." jawabnya santai sambil memandangi Tika yang berenang.


"Bagus deh."


"Oh iya, makasih lu udah bantuin pangkas biaya rawat mereka." ucapnya lagi.


Aku menganggukan kepalaku, "Tapi sebagian dari biaya nya, bokap lu yang bayarin. Gua ga bisa pangkas banyak."


"Apa? Bokap gua?" Jefri terkejut.


"Iya, bokap lu datengin gua. Trus ngomong empat mata sama Paula."


"Ngomong apaan?"


"Wah gua gak tau, waktu itu bokap lu emang berduaan aja sama Paula di ruangannya. Bokap lu gak bilang?"


"Ga ada tuh." jawabnya cepat.


Aku hanya mengerdikkan kedua bahuku. Jefri terlihat berpikir. Aku lumayan kaget juga, ternyata dia tidak mengetahui masalah ini. Aku merasa menyesal mengatakan itu.


"Sorry gua pikir lu tau kalo bokap lu...."


"It's ok. Gua gak nyangka aja bokap gua bakalan sejauh itu ngambil langkah buat masuk ke masalah gua."


Aku hanya diam, aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Tika keluar dari kolam renang dan menghampiri kami, mengenakan bathrobe nya.


"Jam berapa nih?" tanya Tika, aku melirik jam tangan ku.


"Jam 10 kurang 13 menit." sahutku.


"Jadi kan kita ngeliatin rumah?" tanya Tika pada Jefri sambil mengangkat dagu Jefri agar ia bisa menatap matanya.


"Jadi dong." sahut Jefri santai lalu menyulut rokoknya lagi.


"Kamu ikut Kal?" tanya Tika padaku.


"Iya aku ikut, hari ini aku free, ga papa kan?"


"Ga papa lah. Ya udah aku mandi dulu ya?" izin Tika.


Aku dan Jefri mengangguk. Tika segera pergi menuju kamarnya.


-----------------------------


Tapi yang aku lebih takjubnya lagi dengan sosok Jefri, awalnya aku mengira ia hanya dari keluarga yang standard, setara lah dengan keluarga ku. Tapi ternyata aku salah. Dia memang tidak mau bekerja sebagai karyawan bokapnya, dan dia juga tidak mau menjadi atasan di salah satu usaha bokapnya. Dia tetap dengan passion nya, menjadi bawahan di perusahaan orang lain.


"Jef, lu pake jasa design interior nih?" tanyaku saat memasuki rumah ini.


"Iya, soalnya gua sama Tika punya ide sendiri." jawabnya singkat.


Jefri langsung menemui salah satu orang yang sudah ada di dalam rumah dan berbincang serius. Sedangkan Tika ikut menemani Jefri. Aku dan Mamah berkeliling melihat rumah nya.


"Mah, beruntung banget Tika dapetin Jefri. Dikasih rumah begini." bisikku pada Mamah.


"Hust! Kamu ini apa-apaan sih." tegur Mamah.


"Untung aku juga udah punya rumah, walaupun biasa-biasa aja."


"Iya, tapi apa artinya punya rumah kalo kamu nempatin nya sendiri? Beresin sendiri. Semua serba sendiri. Maka nya kamu lebih betah di rumah sakit dari pada pulang tidur diranjang." sewot Mamah.


"Emh. Pasti lari nya kesitu. Ga ada pembahasan lain apa?" protesku.


"Loh kan kamu sendiri yang ngarahin pembicaraan nya ke sana, bukan Mamah."


"Kenapa sih Ma?" tanya Tika tiba-tiba muncul di belakang kami.


"Enggak, ga papa." jawabku cepat.


"Kenapa sih kamu sensian amat hari ini? Habis dicuekin cewek ya?"


Ku pukul lengannya dengan gantungan kunci mobil ku.


"Aww!" serunya.


"Udah udah. Trus kamar kalian nanti dimana?" tanya Mamah pada Tika.


"Diatas Ma, tapi tanpa ruangan."


"Maksudnya?" Mamah heran.


Tika dengan sigap menarik tangan Mamah, membawa Mamah berjalan melewati Jefri dan naik ke tangga samping.


"Jadi gini Mah, kamar nya tanpa pintu begitu naik tangga ya langsung ranjang."


"Yakin kamu tanpa pintu?" tegas Mamah.


"Iya yakin kok Mah, lagian kalo ada barang yang penting bisa di simpen di ruang wardrobe kan?"

__ADS_1


"Oh ya udah kalo gitu. Mamah sih suka aja liatnya. Jadi semuanya keliatan lebih luas aja. Cuman sayang AC ntar, kalo pintu dibawah sana di geser ke buka ya kurang berasa kan?"


"Iya sih Mah." Tika cengengesan.


Aku hanya ikut membontel dibelakang mereka. Ikut mendengarkan percakapan kedua wanita ku ini sambil selalu menganggukan kepala. Pura-pura mengerti akan persoalan yang mereka bahas. Tak lama ku lihat Jefri berjalan keluar menuju kolam dan menyulut rokoknya.


Aku berjalan mendekatinya, meninggalkan kedua wanita ini yang masih sibuk berbincang tentang letak ranjang tidurnya.


"Berapa lama lu bangun ni rumah Jeff?" tanyaku sambil ikut menyulut rokokku berdiri disampingnya.


"Renov sedikit sih, 4 bulanan lebih."


"Berarti sebelum ngelamar Tika dong?" tanyaku lagi.


"Iya, sebelum, tapi rencana nya emang ni rumah buat dia." jawab Jefri santai.


"Maksud lu?"


Jefri terkekeh geli, "Waktu bangunan ini masih belum diapa-apain, dia udah pernah gua ajak ke sini buat liat sunset."


"Trus kok bisa lu seyakin itu bilang ni rumah emang buat dia?" tanyaku lagi penasaran.


"Ga tau. Habis ngebawa dia ke sini ngeliat sunset. Tiba-tiba langsung kepikiran aja buat renov ni rumah. Kebetulan ada rezeki nya juga, jadi ya udah deh." jawabnya simpel.


"Tapi waktu itu lu udah ada niat buat seriusin Tika?" cercaku lagi.


"Belum sih, belum seyakin waktu ngelamar dia. Kenapa emang?"


"Enggak, nanya aja. Bingung kadang liat orang-orang dengan mudahnya yakin menikah dengan pilihannya. Padahal menikah itu kan, nentuin satu orang buat seumur hidup kan?"


Jefri tertawa terbahak-bahak setelah mendengar penuturanku.


"Trus letak bingung nya dimana? Kan udah yakin."


"Ya bingung lah, apa gak bosen tiap hari ngeliatin orang yang sama begitu buka mata. Trus mau tidur juga dengan orang yang sama. Belum lagi kalo apa-apa mesti izin, mesti laporan. Ribet!" sewotku lagi.


"Ntar lu juga ngerasain kok. Makanya kalo lu udah yakin sama satu cewe, mending nikahin langsung. Jadi pacarannya setelah nikah, biar awet. Yang penting awalnya udah tau bibit bebet bobot nya, jadi kayaknya ga perlu ada yang disesali dikemudian hari." jelas Jefri santai padaku sambil menikmati rokoknya.


Aku hanya menganggukan kepalaku dan sambil menikmati rokok ku juga.


"Gimana, udah?" tanya Tika saat menghampiri kami.


"Udah, tapi nunggu bentar Pak Andre benerin revisi buat kolam yang kamu mau itu." ucap Jefri.


"Oohh."


-----------------------------------


Setelah urusan rumah Tika dan Jefri selesai. Kami segera meluncur ke salah satu mall untuk makan siang. Ya, ini permintaan Mamah, karena Mamah yang sering sekali jalan-jalan di mall dan makan bersama teman-temannya. Jadi Mamah memutuskan untuk makan siang bersama, Mamah juga tak lupa untuk menghubungi Max dan istrinya.


"Kalian mau makan apa? Jadi Mamah bisa pilih tempatnya dimana." tawar Mamah setelah kami memasuki lantai dasar mall.


"Sembarang aja Mah, yang penting makan pakai nasi putih." sahut ku asal.


Kami memasuki salah satu restaurant ternama, khas dengan masakan nusantaranya. Aku memilih meja makan di pojokan agar lebih leluasa dan lebih nyaman mata memandang.


"Hallo, kamu udah dimana?" ucap Mamah pada ponselnya.


"Oh ya udah, mau pesen makan apa? Biar Mamah pesenin, jadi makan sama-sama. Oh ya udah, Mamah tunggu.." Mamah mematikan sambungan telepon nya.


"Siapa Mah?" tanya Tika.


"Max, katanya pesenan nya di chat bentar lagi."


"Oohh.."


Setelah itu Mamah melanjutkan menulis pesanan nya di kertas order, kami pun melakukan hal yang sama setelahnya. Tak berapa lama saat kami asik berbincang, Max dan Shilla datang, tanpa kedua anaknya.


"Loh anak-anak mana?" tanyaku.


"Masih di penitipan. Ntar sore baru di jemputin." sahut Max sambil duduk disalah satu kursi kosong yang tersedia.


"Kenapa ga dibawa aja? Biar makan siang bareng sekalian." ucap Jefri.


"Ya ga bisa lah, masa habis itu di anter lagi kesana." sahut Max lagi.


"Ya ga usah dianter kesana lagi, biar ikut aku aja pulang. Ntar jemputin di rumah Mamah aja malem-malem." pinta Tika.


"Ya udah habis ini jemputin aja mereka, ga papa kok, ntar aku telponin ke penitipan nya."


"Ga repot emang Tik?" tanya Shilla.


"Ga papa kok, habis ini aku sama Jefri juga langsung pulang."


"Loh, trus Mamah katanya mau belanja?" tanya Max lagi.


"Iya, Mamah sama gua belanjanya, kita beda mobil tadi." sahutku.


"Kamu gak kerja Kal?" tanya Max.


"Gak, off hari ini, ntar malam baru balik lagi. Kenapa?"


"Tumben bisa ninggalin rumah sakit?"


"Ya istirahat bentar boleh lah, tadi nya aku pikir Tika sama Jefri ga ada di rumah, jadi emang kepingin nemenin Mamah."

__ADS_1


Max menganggukkan kepalanya. Tak lama makanan kami pun di sajikan. Kami menikmati makan siang kami dengan penuh bahagia. Aku merindukan suasana seperti ini, batinku.


__ADS_2