
Jefri POV.
Kami menunggu Mama di luar ruangan. Sudah hampir 30 menit lebih Mama di dalam bersama Papa. Aku terlalu takut jika Mama sampai menangis didepan Papa. Tapi saat kulihat raut wajah istriku di sampingku, aku jadi berpikir..
'Mungkin Tika juga akan meneteskan airmatanya untukku saat aku terbaring lemah seperti Papa saat ini,' pikirku.
Jadi wajar jika didalam sana Mama menangisi Papa. Aku menghembuskan nafasku kasar, sambil kembali duduk bersandar pada tembok yang berada menempel di kursi. Sambil memejamkan mataku sebentar.
"Uweekk..." suara Tika disebelahku tiba-tiba.
Aku kaget dan langsung menoleh padanya, "Kamu kenapa?"
"Enggak, aku ga papa kok," sahutnya.
"Mual?" tanya Nita yang tiba-tiba mendekati kami.
"Enggak, cuman perut rasanya melilit gitu. Aku ke toilet dulu ya?" izinnya menengok ke arahku.
"Aku temenin," tegasku sambil berdiri.
"Ga usah! Kamu disini aja. Nanti kalo Mama keluar ga ada kamu, Mama pasti bingung. Aku bisa sendiri kok."
Tika mengusap lembut dadaku sambil tersenyum seperti biasanya. Aku hanya menatap tajam pada matanya. Tiba-tiba dia mengecup pipi kiriku.
"Tungguin Mama sama Papa disini. Aku cuman ke toilet bentar. Ya?" cegahnya lagi.
Aku hanya menganggukan kepalaku seakan patuh pada semua perkataannya. Di usapnya pipi kiriku lembut kemudian dia berlalu meninggalkanku menuju toilet.
Tak lama berselang setelah tidak lagi ku dapati punggung tubuh istriku di lorong jalan rumah sakit ini, Mama keluar dari ruang ICCU, tersenyum di balik pintu yang terbuka.
"Papa ga papa," seru Mama bahagia.
Aku dan Jerry segera menghampiri Mama dan kami bepelukan saling menguatkan dan bahagka bersama.
'Benar ujar istriku. Andai aku menemaninya ke toilet, mungkin aku tidak akan mendengar kabar ini dari Mama dan aku tidak akan mungkin melihat senyim bahagia Mama saat keluar dari ruangan itu.' pikirku.
Ku peluk Mama erat, Jerry juga menepukkan telapak tangannya dipundakku sambil tersenyum padaku.
"Tika mana?" tanya Mama setelah kami melepaskan pelukkan kami masing-masing.
"Dia ke toilet, Ma. Kenapa?" sahutku.
__ADS_1
"Papa kamu nyari Tika."
Aku mengernyitkan dahi dan sebelah alisku, "Kok malah nyari Tika?"
"Mama juga gak tau. Ya udah kamu dulu aja yang masuk sana. Biar nanti gantian."
Aku melangkahkan kaki ku segera masuk ke ruangan ICCU, di bantu dengan seorang perawat, aku dapat bertemu dengan Papa.
Ku kecup lengan Papa yang masih lemah tergeletak di samping tubuhnya. Papa membuka matanya perlahan.
"Pa, Papa masih ngerasa sakit?" tanyaku pelan.
Papa menggelengkan kepalanya pelan. Matanya hanya memandangiku sendu.
"Ti-ka man-na?"
"Tika tadi ke toilet, Pa."
"Keluarin Papa dari sini, Papa mau istirahat dirumah aja," pinta Papa.
"Pa ... disini dulu ya, kita check dulu semuanya. Dul janji, Papa pasti istirahat dirumah nanti."
Papa menganggukan kepalanya sekali lg dengan pelan. Tetiba ku temukan butiran airmata yang mengalir jatuh bebas disalah satu sudut matanya. Ku usap airmata itu, lalu tersenyum menatap Papa.
Papa mengangguk kembali. Kini dengan penuh ketegasan, ciri khasnya. Aku tersenyum.
"Dul, tinggal dulu ya? Gantian, Jerry juga mau ketemu Papa."
Papa mengedipkan kedua matanya tanda setuju. Aku pergi keluar ruangan meninggalkan Papa, bergantian dengan Jerry.
"Tika belum balik, Ma?" tanyaku pada Mama saat Jerry sudah menghilang dibalik pintu ICCU.
"Belum."
"Aku nyusul dia dulu ya? Ga papa kan Mama aku tinggal?"
"Ga papa, kan ada Nita."
Aku mengangguk pelan, lalu segera pergi menyusul Tika. Beberapa saat aku sampai didepan pintu toilet wanita. Aku bingung. Ku keluarkan ponselku dari dalam saku celanaku. Ku tekan nomer teleponnya.
Tuutt..
__ADS_1
Tuutt..
Tuutt..
"Hallo, ini hapenya Tika disini sama tas nya, tadi di titipin aku." sahut Nita diseberang sana.
Aku berpikir sejenak, "Oh ya udah. Aku nitip Mama bentar ya?"
"Nemu Tika nya gak?"
"Masih aku cari."
Ku tutup teleponnya. Aku bingung. Antara ingin memasuki toilet wanita ino atau tidak. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri. Sejak aku berdiri disini dan menelpon, belum ada satu orangpun yang keluar dari toilet bahkan todak ada pula yang masuk ke sana melewatiku.
Ku hembuskan nafasku kasar. Aku mulai khawatir. Baru selangkah kaki ku maju, tiba-tiba ada seorang wanita yang keluar toilet dengan panik.
"Tolong! Tolong! Mas tolong, Mas! Ada cewek pingsan didalam!" seru wanita itu panik.
Tanpa berkata apa pun aku segera memasuki toilet wanita itu dan mencari sesosok wanita pingsan yang dikabarkan olah wanita dideoan pintu tadi.
Ku lihat ada sepasang kaki di ujung koridor, dengan agak tergesa aku menghampiri. Ku menghembuskan nafas lega, wanita yang tergeletak itu ternyata bukan istriku.
Tak berapa lama para perawat datang menghampiri dan meminta bantuan ku untuk mengangkat wanita itu ke dipan yang disediakan didepan pintu toilet luar.
"Loh!" seru Tika didepan toilet saat melihatku menggendong wanita itu, "Dia kenapa?"
Ku letakkan wanita itu di dipan dan kedua perawat tadi langsung mendorong dipan tersebut untuk menuju UGD, memberikan pertolongan.
"Kamu habis dari mana?" tanyaku pada Tika panik sambil mencengkram lengan kanannya, "Aku nyari kamu, aku takut kamu tadi yang pingsan! Aku telepon hape kamu malah kamu titipin Nita, gimana sih ...."
"Sorry, aku tadi ke apotek depan, beli ini. Perut aku melilit banget," sahutnya santai.
Aku menghembuskan nafasku kasar sekali lagi. Disatu sisi aku bersyukur tidak terjadi apa-apa pafanya. Namun disini lain aku benci mengkhawatirkannya seperti ini.
Tiba-tiba Tika menangkupkan salah satu telapak tangannya pada pipiku. Dia tersenyum seperti biasanya, senyuman yang selalu mampu mendamaikan hati ini.
"Makasih ya, kamu udah khawatirin aku," ucapnya lembut.
Ku sentuh lembut lekuk pinggangnya yang terbalut dengan kemeja satin cream mengkilat, yang membuat lekuk tubuhnya terlihat sempurna. Lalu ku bawa tubuhnya ke dalam dekapanku. Ku eratkan dekapanku padanya sambil ku elus punggungnya.
"Kamu jangan jauh-jauh lagi dari aku!" tegasku.
__ADS_1
Tika membalas dekapanku. Aku merasa tenang seperti ini dan dalam keadaan ini saat ia membalas dekapanku.