Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
S2 - Eps 108


__ADS_3

Tika POV.


Tak berapa lama setelah sampai di kantor, aku langsung mengerjakan beberapa tugas yang masih tersisa di atas meja kerjaku. Yang aku tinggalkan saat cuti. Bukan, bukan cuti, tapi liburan yang dihitung bekerja. Mungkin seperti itu, entahlah, semuanya menjadi urusan Jefri dengan bos-ku.


"Tik, dipanggil bos ke ruangan," kabar Metta saat selesai rapat dengan beberapa tim.


Aku langsung melirik ke arahnya yang berdiri di samping meja kerjaku. Menutupi pandanganku ke arah ruangan bos. "Oke." Hanya itu yang menjadi jawabanku.


Segera aku berdiri dan menuju ke ruang pimpinan kantor ini. Dalam pikiranku, mungkin bos akan membahas tentang kerja sama yang terjalin dengan perusahaan Jefri.


Kuketuk pintu ruangannya yang terbuka. Kemudian beliau menyuruhku untuk masuk dan menutup pintunya. Dalam batinku, rasanya tidak mungkin jika hanya membahas tentang bisnisnya dengan Jefri, tapi meminta pintu ruangan ini ditutup.


"Gimana liburannya?" Itu hanya kalimat awal beliau untuk mencairkan suasana. Sebab memang aku akui, aku terlalu tegang saat ini. Gugup menantikan permasalahan apa sebenarnya yang akan beliau bicarakan.


Aku hanya menjawab seadanya. Kemudian menanyakan kembali apa maksud beliau memanggilku ke ruangannya.


"Jadi gini, saya barusan dapat telepon dari suami kamu, Pak Jefri. Kami sudah sepakat, mungkin sebaiknya kamu resign dari pada saya yang harus membebastugaskan kamu." Terlihat dengan sangat jelas raut wajah beliau yang sedikit berbeda.


Bahkan aku yang mendengar beliau mengucapkan kalimat itu, seakan tertusuk sembilu. Tidak percaya mengapa semua ini harus terjadi dengan cepat. Bukankah aku setelah proyek ini, aku juga tetap akan resign?


"Tapi Pak, bukannya setelah proyek ini saya akan tetap mengajukan resign?" Aku semakin tidak mengerti.


Beliau mengembuskan napas panjang. "Semua demi keselamatan kamu. Karena jujur saja, saya berada di posisi tengah, di mana letak posisi tersulit."


"Maksudnya Pak?" Kukernyitkan alisku. Sekali lagi beliau mengembuskan napasnya, menatapku lekat.


"Disatu sisi, Dana adalah client perusahaan ini yang telah selesai proyeknya. Di sisi lain, suami kamu adalah client selanjutnya untuk perusahaan ini. Sebenarnya saya tidak mau melepaskan kamu dari pekerjaan ini. Hanya saja, keselamatan kamu lebih penting dan saya sudah tahu jika kamu sering menerima teror." Beliau menjelaskan dengan sangat rinci.


Sampai di mana akhirnya, beliau memintaku untuk segera resign. Di mana masa kerjanya berakhir dari hari ini. Dan juga mengungkapkan rasa penyesalan beliau, sebab banyak proyek yang berjalan berkat aku dan kelincahan Metta dalam membicarakan semuanya kepada client. Bahkan beliau juga memintaku untuk tetap membantu Metta via telepon ataupun pesan singkat.


Aku tidak dapat berkata apapun lagi. Karena semua yang beliau ucapkan ada benarnya. Kondisiku sekarang yang sedang hamil muda sangat berpengaruh. Jika aku selalu stress atau sampai depresi, maka semua itu akan membahayakan calon anakku. Aku hanya bisa tersenyum hambar begitu keluar dari ruangan beliau.


Dengan langkah gontai, aku kembali menuju meja kerjaku. Membereskan beberapa barangku dan menyelesaikan sisa pekerjaanku yang tadi sempat tertunda. Sedangkan Metta tiba-tiba muncul di samping meja kerjaku.


"Kenapa Met?" Aku bingung melihatnya yang berwajah asam, tidak bersemangat.


Seketika ia memelukku erat, menyandarkan dagunya pada pundakku. Aku yakin, Metta pasti sudah tahu jika hari ini adalah hari terakhirku bekerja.


"Bukannya elu keluar setelah proyek terakhir ini selesai? Kenapa malah sekarang?" lirihnya dengan suara yang bergetar. Aku merengangkan pelukkan itu, ia kembali berdiri tegap.


Di kedua sudut matanya telah siap jatuh aliran airmata jika ia mengedipkan kelopak matanya. Aku ikut berdiri, merengkuhnya dan akhirnya Metta pun menangis, terisak.


Metta sudah kuanggap sebagai saudaraku sendiri, sebab ia juga mengajariku banyak hal. Tentang menjalani hidup saat aku masih sendiri, hingga tentang kehidupan setelah berumah tangga. Semua dengan tulus ia kisahkan berdasarkan pengalaman hidupnya. Dan dari dirinya yang sekarang seorang 'single parents' aku belajar untuk menjadi wanita yang kuat.


"Udah Met ... kan kita masih bisa ketemu di luar. Lagian lu juga tahu, gak baik buat calon anak gua, kalo gua terus-terusan nerima teror. Gua gak bisa sekuat elu, padahal gua udah berusaha." Semua kalimat itu berhasil lolos dari mulutku, membuat Metta melepaskan dekapan itu.


Dia menyeka airmatanya yang membasahi kedua pipinya. Sedangkan aku hanya bisa tersenyum menatapnya.


Belum sempat Metta berhenti dari isak tangisnya, tiba-tiba saja ponselku berdering dari dalam tas.

__ADS_1


๐ŸŽถ


You so fuckin' precious when you smile


Hit it from the back and drive you wild


Girl, I lose myself up in those eyes


I just had to let you know you're mine


๐ŸŽถ


Aku segera meraih tasku yang tadi kuletakkan di atas kursiku. Lalu melihat siapa yang menelponku, ternyata suamiku sendiri, Jefri.


Aku mengacungkan jari telunjukku dengan jemari lain yang dikepal, sebuah tanda meminta waktu permisi untuk menerima panggilan telepon itu. Metta mengangguk. Baru kugeser tombol hijau pada layar ponselku.


"Hallo? Oh iya, tunggu bentar ya. Iya iya." Panggilan telepob selesai lalu aku segera berpamitan pada Metta. Berpamitan untuk istirahat dan akan kembali lagi setelahnya.


"Tenang, habis ini gua masih balik kok. Udah jangan mewek, kayak anak kecil ah. Dah!" Aku mengejeknya kemudian langsung berlalu meninggalkannya yang sedang mencibirku.


***


Aku dan Jefri sudah sampai di rumah sakit. Kami langsung menuju ke ruangan dokter kandungan, sesuai saran dari Haikal.


Sang dokter memeriksaku dengan sangat berhati-hati. Bahkan ia juga menawarkan pada kami untuk melakukan Ultrasonography atau yang sering disebut dengan USG. Pemeriksaan itu adalah prosedur pencitraan menggunakan teknologi gelombang suara berfrekuensi tinggi untuk memproduksi gambar tubuh bagian dalam, seperti organ tubuh atau jaringan lunak.


Jefri menyetujui untuk melakukan pemeriksaan itu, sebab kami ingin melihat perkembangan calon bayi kami dari selagi kecil.


Jefri mengecup keningku. Terasa tenang hati ini saat ia mengecupku. Dalam hati, aku mengucapkan ribuan syukur karena telah memilikinya. Dan dapat memenuhi kewajibanku sebagai seorang istri yang memberikannya keturunan.


Disela-sela tangis kebahagiaanku, tiba-tiba sang dokter kembali membuatku semakin bersyukur. "Tunggu dulu, kalian bukan memiliki satu, tapi dua calon bayi. Lihat!!" serunya sambil menunjukkan ke layar dengan tangannya yang masih memegang alatnya dan menggerak-gerakkannya di atas perutku dengan bantuan gel khusus.



Aku menangis sejadi-jadinya. Tuhan bahkan sangat menyayangi kami. Tidak hanya satu, bahkan kami akan memiliki dua anak sekaligus. Dan entah mengapa, aku merasa keputusan Jefri untuk memintaku resign dari kantor adalah pilihan yang paling tepat.


Tugasku semakin penting untuk menjaga calon buah hati kami. Jefri menghujaniku dengan ciumannya. Berkali-kali ia menatapku hingga aku melihat matanya yang berkaca-kaca. Dia merengkuh diriku. Aku bahagia melihat keajaiban dalam rahimku ini. Tidak ada hentinya dalam hati aku mengucapkan rasa syukurku.


Setelah semuanya selesai. Dokter itu memberikanku beberapa resep vitamin dan susu yang wajib aku minum disetiap harinya. Lalu kami pun pamit undur diri.


Dalam perjalanan kembali ke kantorku, Jefri selalu mengelus perutku. Padahal perut ini belum terlalu besar, masih standard dan aku masih bisa menggunakan pakaian kerjaku yang biasanya.


Kami juga sudah makan siang, jadi wajar rasanya jika kedua mataku terasa mengantuk. Apalagi saat dia menyelipkan tangannya masuk ke dalam bajuku. Hanya untuk mengelus perut ini.


"Kenapa kamu gak ngomong ke aku aja kalo mau cepet aku resign?" tanyaku memecah kesunyian. Jefri menoleh padaku kilas. Dia menarik napasnya.


"Bos kamu yang ngasih tahu?" Jefri menebak, aku langsung menganggukkan kepalaku sambil menatapnya.


"Aku pikir itu yang terbaik. Lagian Dana juga dulunya client kamu. Aku gak mau dia memanfaatkan posisi kamu itu," tegasnya.

__ADS_1


"Trus yang udah kamu lakukan sekarang apa bukan memanfaatkan posisi juga?" Aku balik bertanya padanya. Pasalnya apa yang telah ia lakukan tidak ada bedanya dengan apa yang sudah ia katakan. Dan aku hanya ingin mendengar jawabannya.


Jefri menghentikan mobilnya. Karena kami memang sedang berada di persimpangan jalan, dan lampu lalulintas sedang berwarna merah. Dia menatapku. Sorot matanya yang tajam, selalu membuat aku merasa aman jika di dekatnya.


"Aku melakukan sesuai dengan apa yang aku bilang tadi. Dan, selagi aku masih bisa melindungi kamu dari dia, kenapa enggak? Lagi pula, bukan hanya dua orang yang wajib aku jaga, melainkan tiga orang." Akhir kalimatnya membuatku tersenyum lagi, mengingatkanku dengan calon bayi kembar yang akan kami dapatkan. Aku mengelus perutku saat dia melepaskan tangannya untuk mengganti perseneling mobil.


Sesampainya di depan lobby kantor, Jefri langsung menarik lenganku. Dia meminta jatah ciumannya. Beberapa saat kami saling menikmati, hingga akhirnya sebuah dering pesan singkat dari ponsel miliknya berbunyi. Kami melepaskan pagutan. Dia melirik sebentar ke layar ponselnya di dashboard mobil. Lalu kembali tersenyum padaku.


"Aku jemput nanti sore. Jangan nakal," ucapnya sambil menarik daguku. Kembali mencecap bibir dan lidahku. Aku terbuai dengan semua itu.


***


Baru saja aku menginjakkan kakiku pada anak tangga terakhir di lantai dua, tempat di mana meja kerjaku berada. Suasana hening menyambutku. Tidak biasanya di jam seperti ini, suasana kantor menjadi senyap.


Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh sudut penjuru ruangan ini. Bahkan ruangan pak bos pun kosong.


Perlahan aku berjalan menuju ke meja kerjaku dan menghempaskan bokongku pada kursiku yang sangat empuk.


Sambil menatapi sebuah kotak yang baru aku sadari ada di atas tumpukkan dokumen di mejaku. Kotak berwarna putih polos itu lumayan besar ukurannya. Hampir sama dengan besarnya bola basket.


Pikiranku tiba-tiba melayang, menebak dengan pasti siapa pemilik kotak itu. "Pasti Dana lagi." Seketika hatiku menjadi kesal. Bagaimana tidak? Aku rasa semua wanita akan merasakan hal yang sama jika mahligai pernikahannya diganggu.


Aku menarik napas panjang lalu mengembuskannya dengan perlahan. Menyandarkan punggungku pada sandaran kursi agar lebih rileks.


Tiba-tiba saja bunyi letusan terdengar berurutan. Lalu beberapa potongan kertas kecil berjatuhan dari atasku. Aku memutar kursiku dan terperangah. Kudapati semua rekan kerjaku yang berkumpul dengan masing-masing sebuah confetti di tangan mereka. Lalu sekali lagi mereka menekan benda kecil dengan suara letusan yang mengeluarkan potongan kertas itu.


Beberapa orang memegang kue, yang bertuliskan 'farewell party for Tika'. Lagi-lagi aku dibuat menangis oleh mereka semua. Dan di antara kerumunan itu, muncul bosku bersama Metta yang membawa sebuah kue yang berukuran lumayan besar.


Tanpa terasa aku kembali meneteskan airmata. Melihat mereka semua yang berkumpul dan memberikanku banyak kue dan bingkisan. Lalu Metta mengambil kotak putih yang tadi ada di atas meja kerjaku.


"Ini dari gua buat lu. Walaupun gak kerja di sini lagi. Sering-sering main ke sini. Jangan lupain gua." Metta menyodorkan kotak itu. Aku bernapas lega. Untunglah kotak itu bukan dari lelaki breng*sek yang aku kenal dulu.


Semua menikmati farewell party itu, bahkan beberapa kali bosku mendatangiku untuk sekedar menyapaku dan Metta.


Bersambung ...


โ€”โ€”โ€”โ€”โ€”


Maaf aku jarang update.


Mohon dimaklumi kesibukkanku saat ini.


Jika kalian banyak memberikan Vote poin selama 2 minggu ke depan ini, maka aku akan kembali mengusahakan update harian lagi ๐Ÿ˜‚


Buat kalian yang gak punya poib buat vote, silakan bergabung dengan GRUP CHAT-ku yang ada di beranda depan.


Terima kasih.


With love,

__ADS_1


#salambucin ๐Ÿ’‹


Tika.


__ADS_2