Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
S2 - Eps 146


__ADS_3

Jangan lupa vote!!


—————


Jefri POV.


Tak lama setelah aku mematikan mesin mobil. Tiba-tiba mobil Max memasuki pagar, kemudian berhenti tepat di sebelah mobilku. Begitu aku turun dari mobil, Max memanggilku. Membuatku menghentikan langkah tepat di tengah teras pintu depan rumah. Menunggunya berjalan menghampiriku.


Max mendelik, mengintip ke dalam rumah karena pintu depan memang sudah terbuka lebar sejak sebelum aku datang.


"Udah kamu tanyain ke Tika?" Max membuka suara dengan pelan.


"Beberapa kali sempet nanya, tapi dia diem aja."


"Apa dia begitu karena aku marahin Lisa?" tanya Max lagi.


Aku mengembuskan napas. "Max, coba buat bicara berdua sama Tika deh. Menurut aku ini cuman salah paham aja." Aku memberikan saranku padanya. Dan Max mengangguk-anggukan kepalanya sembari kami melangkah memasuki rumah.


Suara Icel yang bermain motor-motoran terdengar jelas begitu kami memasuki rumah. Lalu saat ia melihat Max datang, dengan penuh semangat anak itu melepaskan segala mainannya hanya untuk berlari dan mendapatkan sebuah pelukan dari sang daddy. Kemudian Max langsung bergabung dengan istri dan anaknya di sana.


"Kalo kamu cari Tika, dia di belakang, sama mamah juga." Shila memberitahukan. Kubalas dengan ucapan terima kasih.


Melihat kebersamaan Max dengan keluarga kecilnya yang begitu harmonis, terkadang membuatku iri. Ya, keluarganya seakan jauh dari masalah pelik. Mereka terlihat hidup bahagia dengan sempurna.


Lalu aku kembali melanjutkan langkah kakiku menuju ke halaman belakang. Mencari tahu, apa yang sedang dilakukan oleh istri dan mamah mertuaku di sana. Perlahan aku menghampiri mereka, lalu aku mengecup puncak kepala istriku.


"Nah, ayah sudah pulang, Nak! Ayo bangun, biar bisa main sama ayah," ucap Tika lembut sambil mencoel-coel hidung mungil bayi perempuan kami. Sedangkan yang laki-laki sedang berada dalam dekapan mamah mertuaku.


Sudah beberapa hari ini aku dan Tika belum juga mendapatkan nama yang cocok untuk kedua bayi kembar yang kami miliki ini. Sehingga kami masih kesulitan untuk memanggil mereka.


Kemudian aku melangkah berputar lalu duduk di samping Tika. Memandangi putri kami. "Nih, mamah mau ke dapur dulu. Udah lama gak ke dapur," ucap mamah seraya memberikan putra kami dengan pelan ke dalam gendonganku. Lalu aku kembali membawanya duduk di samping Tika.

__ADS_1


Tak ada yang kami bicarakan dengan serius sesaat setelah kepergian mamah. Tika hanya menjatuhkan kepalanya pada bahuku yang kemudian aku membukakan lebar tanganku untuk membawanya masuk ke dalam dekapanku.


***


Beberapa hari setelahnya, Nadine sudah siap menjalankan aksinya untuk menggoda pak Hardi. Ya, aku memang menggunakan cara gila yang satu ini. Sebab dulu aku pernah mendengar desas-desus jika pak Hardi gemar bermain gila di luar sana. Jadi aku pikir, mungkin dengan cara ini bisa memancing pak Hardi untuk cepat melakukan kesalahannya.


Ya, pelakunya sudah pasti pak Hardi. Pasti dialah yang melakukan korupsi dan mengatasnamakan papa untuk penarikan uang perusahaan. Sebab aku sudah beberapa kali mengkonfirmasi pada divisi keuangan. Jika memang benar pak Hardi selalu membawa memo kosong dengan dalih dari papa.


Aku pikir, mungkin pak Hardi menggunakan uang itu untuk bersenang-senang di luar sana. Membiayai hidup para sugar baby-nya. Mungkin. Yang jelas kita tunggu saja ujung dari permainan ini.


Selain itu, kini sistem penarikan juga sudah aku perbaharui. Tidak hanya harus mengetahui papa, tetapi tanda tanganku juga harus tercantum dalam kertas penarikan itu sendiri. Selama proses transisi kepemilikan dilakukan.


Tadinya aku pikir papa dan mama bercanda untuk mengalihkan kepemilikan perusahaan ini kepadaku, sampai akhirnya kemarin pagi, aku dipanggil ke rumah. Pikirku untuk urusan yang berbeda, tapi sebaliknya, ternyata untuk menandatangani surat transisi tersebut.


Betapa terkejutnya aku mendapatkan hadiah sebesar ini. Bahkan di dalam surat itu juga tercantum bahwa ada sebagian saham yang dimiliki oleh mama, kini di namai dengan nama istriku. Kata mama itu sebagai hadiah kelahiran dari mereka untuk melindungi hak istriku dan kedua anakku.


Aku tidak mengira, jika kedua orangtuaku ternyata bisa berpikir sejauh itu.


Beberapa proses aku jalani pagi itu. Hingga akhirnya terlintas di benakku tentang kerjasama yang aku lakukan dengan Max di belakang papa. Proses akuisisi sebuah proyek yang sudah aku lakukan kini bisa aku pikirkan kembali, bagaimana cara terbaiknya. Aku bisa merundingkan ini dengan Max nanti.


Sepulang dari rumah orangtuaku, tiba-tiba saja ponselku mengeluarkan nada pesan singkatnya. Aku segera merogoh benda itu dari saku celanaku dan aku mendapati sebuah kabar yang sangat begitu cepat. Yaitu tentang pak Hardi yang sudah masuk ke dalam jebakan Nadine. Perangkapku. Dan sekarang tinggal tugas Nadine untuk mencaritahu semua hal yang sudah aku curigai.


Aku tidak menyangka, jika saat ini semua rencanaku dapat berjalan lancar hingga sampai detik ini. Semua seakan mulus, tanpa hambatan dan semoga saja tetap seperti itu hingga diakhir nanti.


—————


Max POV.


Setelah sarapan selesai, tadinya aku ingin bersiap untuk langsung pergi ke kantor. Tetapi niat itu aku urungkan saat melihat Tika yang sedang berjemur membawa kedua anaknya dan juga Feli di halaman belakang. Di saat Shilla, Icel dan juga mamah sedang pergi berbelanja ke pasar.


Aku langkahkan kakiku untuk menghampirinya. Ia sempat terpekik kaget saat melihatku yang tiba-tiba duduk di sampingnya.

__ADS_1


"Apa aku punya salah?" tanyaku langsung to the point. Tetapi tidak memandanginya, aku justru menatap melihat lurus ke depan. Aku dapat mendengar dia yang mengembuskan napasnya dengan perlahan, tapi pasti. Namun tetap tidak ada jawaban.


"Dulu aku memang menyukai Li—"


"Aku gak mau dengar itu." Singkat, padat, jelas dan berisi.


Untuk beberapa saat aku terdiam. Tidak tahu lagi harus berkata apa. Sampai akhirnya Tika yang kembali berbicara lagi. Mengutarakan isi hatinya.


"Andai aja waktu itu kamu jujur sama aku, mungkin gak bakalan gini ceritanya."


"Aku minta maaf kalau memang aku lah pemicu semua ini. Mungkin kalau dia gak sakit hati sama aku, dia gak bakalan begini."


"Terlanjur, Max. Tapi aku mau berterima kasih," ucapnya lalu menoleh padaku.


"Terima kasih kamu memilih Shilla dan terima kasih juga kamu mau menjaganya hingga saat itu. Atau bahkan hingga saat ini. Dan mungkin aku butuh waktu buat mencerna semuanya." Tika menatapi Feli di dalam keretanya.


"Banyak yang belum bisa aku mengerti, Max. Dan sampai saat ini aku gak tahu, bagian tubuhku yang mana yang sudah membuat Dana jadi bisa sebegitu terobsesinya sama aku. Bahkan sampai aku punya anak begini, dia masih aja ganggu hidup aku." Tika menambahi.


"Dia udah mulai gangguin kamu lagi?" Aku tersentak mendengar penuturan Tika.


"Dia ngirimin mainan bayi. Udah lumayan lama. Cuman dia ngiriminnya ke rumah kami. Aku takut balik ke sana. Aku mau di sini aja."


Aku langsung merengkuhnya, tatapan matanya yang tadi terlihat kosong sudah menggambarkan dengan begitu jelas akan ketakutannya. Aku harus segera menangkap lelaki sialan itu. Aku harus dapat mencarinya.


Selesai bicara dengan Tika, dengan segera aku berpamitan untuk pergi ke kantor. Namun, pucuk dicinta ulam pun tiba. Baru saja aku masuk ke dalam mobil, aku mendapatkan pesan singkat yang mengatakan bahwa ada seseorang yang melihat sosok lelaki itu sedang berada di pasar besar.


Tunggu dulu, pasar?


Bukankah Shilla, Icel dan mamah sedang ke pasar besar?


DEG!!

__ADS_1


Dengan sigap aku langsung menekan nomer telepon Shilla dan menghubingi nomer yangnya uang ternyata sedang tidak aktif.


__ADS_2