
Still Tika POV.
"Pah, maaf baru sekarang Tika bisa kesini lagi," sapaku didepan makam Papah sambil duduk berlutut.
"Tika rindu Papah.. Tika kangen pelukkan Papah.. Tika pingin banget bisa ketemu Papah, sebentar aja. Tika cuman mau meluk Papah, sebentar aja gak lama...." tak terasa airmataku menetes.
Aku menatapi batu nisan Papah dengan derai airmata. Jefri memelukku dari samping.
"Sssttt, aku kan udah pernah bilang. Aku ga mau liat kamu nangis. Hati aku sakit kalo liat kamu nangis. Udah ya?" bujuk Jefri sambil mengeratkan pelukkannya.
Perlahan aku mencoba menghentikan tangisanku ini. Jefri masih memelukku, membelai rambutku. Sesekali di kecupnya puncak kepalaku.
Lumayan lama kami didepan makam Papahku. Larut dalam keheningan sore itu.
"Yuk kita ke rumah Mamah. Aku tadi udah bilang sama Mamah kalo mau ke sana," ajakku pada Jefri.
Dia melepaskan pelukkannya, mengangkat daguku dengan jemarinya agar mata kami dapat beradu.
"Janji jangan nangis lagi ya? Kalo kamu kangen dan pengen kesini, kamu tinggal bilang aku. Kalo aku bisa aku yang temenin kesini, kalo aku gak bisa, aku izinin kamu kesini."
"Iya," lirihku menatapnya.
Jefri mengecup keningku, lama. Kemudian sekilas dia mengecup bibirku.
"Pah, kami pulang dulu. Aku janji akan lebih sering bawa Tika kesini," pamitnya tiba-tiba dengan suara lantang, kemudian dia mengecup keningku lagi lalu berdiri.
Dia mengulurkan tangannya, membantuku untuk berdiri. Sebelum berdiri, ku letakkan sebucket bunga lili putih bercampur merah muda kesukaan Papah. Aku mengelus batu nisan nya kilas.
"Tika pulang, Pah ya?" ucapku berbicara sendiri.
Kemudian aku berdiri sambil meraih tangan Jefri, ia tersenyum menatapku. Kemudian kami berjalan bersama menyusuri pemakaman untuk keluar menuju mobil.
Makam Papah letaknya memang sangat jauh dari pusat kota, bahkan bisa dibilang menuju arah pedesaan terpencil. Namun kompleks pemakaman itu memang di design dengan nuansa pemakaman ala modern dengan badan rumput yang mengiasi setiap makam.
"Udah tenang?" tanyanya saat diperjalanan keluar kompleks pemakaman.
"Iya, makasih kamu izinin aku kesini," sahutku sambil tersenyum menatapnya.
Jefri membalas senyuman ku kilas kemudian ia kembali fokus pada setir mobilnya. Aku kembali mengedarkan pandangan pada pemandangan diluar jendelaku.
Pikiranku melayang, mengingat kembali masa-masa terakhirku dengan Papah saat di rumah sakit dulu. Entah hanya perasaanku atau memang semuanya menyadari bahwa akulah anak kesayangan Papah. Dulu Aku sering berkelahi dengan kedua Kakakku, bahkan sampai hampir adu jotos saat Kami masih usia belasan tahun.
Papah sampai harus rela menerima bogem mentah dari Max saat ingin melindungi ku secara tiba-tiba. Aku juga pernah berebut kursi di meja makan dengan Haikal. Hanya karena sebuah letak kursi yang menurutku strategis itu, Papah sampai membentak Haikal dan menyingkirkan piring makannya untuk diganti dengan piring makanku.
Aku tertawa kecil saat mengingat itu. Semua begitu lucu, begitu polos. Tapi semakin dewasanya Kami bertiga tumbuh, dengan Papah yang selalu membelaku, hal itu tidak membuat kedua Kakakku menjadi arrogant setelah kepergian Papah. Mereka jadi lebih menjagaku dan Mamah dengan ketat.
"Kenapa senyum-senyum?" tegur Jefri membuyarkan lamunanku.
Aku menoleh padanya, "Keingetan zaman dulu, waktu berantem sama Max, sama Haikal. Lucu aja, kalo dipikir-pikir, masalahnya itu sepele banget."
"Kamu pasti dulu waktu kecil anaknya egois. Pemarah. Ngambekkan. Bener gak?"
"Yahhh mirip-mirip dikitlah."
"Bohong! Pasti emang kayak gitu. Ngaku ayo?"
__ADS_1
"Ya-ya gitu deh." jawabku sambil menyeringai malu.
Jefri tertawa kecil sambil sesekali menoleh padaku.
Tak terasa sudah setengah perjalanan berlalu menuju rumah Mamah. Jefri melajukan mobilnya denga kecepatan lumayan pesat. Hanya perlu waktu 30 menit lebih sedikit untuj jarak antara pemakaman Papah dengan rumah Mamah.
Jefri memarkirkan mobil tepat di depan halaman garasi. Kemudian kami turun dan segera memasuki rumah. Mencari keberadaan Mamah.
Belum sempat aku berteriak. Mamah yang melihatku muncul saat dia diruangan televisi langsung menyapaku.
"Hai sayang? Tumben kamu sore-sore kesini?"
Aku mengecup pipi Mamah, "Iya, Mah, kangen."
Kemudian di iringi dengan salaman tangan Jefri pada Mamah. Aku langsung duduk disebelah Mamah.
"Papanya Jeff masuk rumah sakit, Mah," ucapku mengabari.
Mamah terkejut dan menatapku, "Kapan?"
"Baru tadi siang, Mah. Sekarang udah gak papa, udah stabil dan sadar juga," jawab Jefri sambil duduk di sofa terpisah.
"Kalian habis dari sana?" Mamah memandangi kami bergantian.
Spontan Jefri menjawab, "Iya, Mah."
"Ini mau kesana lagi, Mamah ikut?" tanyaku sambil menyentuh lengan Mamah agar pandangan Mamah beralih padaku.
"Ya udah, Mamah ganti baju dulu. Kalian tungguin ya?"
Aku mengangguk. Mamah segera beranjak menuju kamarnya untuk bersiap-siap.
🎶
Hit it from the back and drive you wild
Girl, I lose myself up in those eyes
I just had to let you know you're mine
🎶
Ponselku berbunyi.
Aku segera membuka tasku dan mengambilnya.
Max calling.
Aku mengerutkan dahiku, "Hallo, kenapa Max?"
"Dimana?" sahut Max diseberang sana.
"Dirumah Mamah. Kenapa?"
"Kamu gak papa kan?"
__ADS_1
"Gak papa kok. Kenapa sih?" aku heran.
"Jefri ada dideket kamu?"
"Iya ada. Kenapaa?" rengekku mulai kesal.
"Ntar aja deh! Telepon balik klo Jefri gak ada deket kamu, ya?" pintanya.
Mataku melirik ke arah Jefri yang memandangiku, "Iya."
"Ya udah bye!" ucap Max lalu menutup sambungan teleponnya.
Tak berapa lama berselang, Mamah sudah berada di sebelahku, berdiri dengan pakaian yang sudah rapi dan membawa handbag Hérmes-nya.
"Hayok. Mamah udah siap."
Aku segera berdiri, begitupun Jefri.
"Biiii ... Bibiii ...," seru Mamah.
"Iya, Bu?" sahut Bibi yang muncul dari arah dapur.
"Saya jalan dulu sama anak-anak, kalo ada yang cari saya kesini, bilang aja suruh hubungin ke hp saya," pesan Mamah.
"Inggeh, Bu."
"Saya tinggal dulu ya?"
"Inggeh."
Kami segera menuju mobil Jefri dan meluncur menuju rumah sakit dimana Papa Jefri dirawat.
Disepanjang perjalanan kami bertiga hanya diam. Suasana tidak begitu hening akibat alunan musik dari music player di dashboard mobil. Jefri fokus mengemudi, sedangkan aku sibuk memandangi pemandangan diluar jendela kaca mobil. Lalu Mamah? Entah apa yang dilakukan Mamah di belakang.
"Mamah sudah makan?" tanya Jefri memecah keheningan.
"Udah, tadi siang Mamah udah makan sama Bibi di rumah," sahut Mamah santai.
Jefri hanya menganggukan kepalanya.
"Max tadi ada telpon kamu, Tik?" tanya Mamah padaku.
"Ada. Kenapa sih dia, Mah? Mau ngomong apaan?" tanyaku penasaran.
"Mamah juga gak tau. Nanti coba kamu telepon dia lagi aja."
"Hm." jawabku tak sopan.
Selang beberapa menit akhirnya kami tiba di rumah sakit. Jefri memarkirkan mobilnya lalu kami segera turun menuju ruang ICCU.
Dalam otakku masih berpikir, penasaran dengan Max. Tidak biasanya Max seperti itu, bahkan Max tidak mau bicara di telepon hanya karena Jefri ada didekatku.
Ada apa lagi dengan Jefri?
Apa yang Max ingin beritahukan sampai segitu susahnya bicara, padahal hanya melalui telepon?
__ADS_1
Otakku mulai menjadi sarang semut.
Mumet!!