
Tika POV.
Kami kembali menuju ruang ICCU bergabung dengan Mama, Jerry dan Nita.
"Papa nyariin Tika," ucap Jerry.
Semua menatapku, "Loh, kok aku?"
"Iya, tadi Papa cari kamu, mending kamu masuk sekarang, Nak?" saran Mama.
Tanpa berpikir panjang lagi. Aku menghembuskan nafasku pelan kemudian melangkahkan kaki ku menuju ke dalam ruangan ICCU.
Dari kejauhan ku lihat Papa yang terbaring lemah dengan alat bantu oksigen dihidungnya. Suara mesin pacu jantung pun ikut menghiasi suasana di ruangan ini. Sempat terhenti langkahku saat itu, sekilas aku seperti merasakan dejavu.
Aku seperti melihat sosok Papah ku yang dulu. Kaki ku terasa lemas, aku ambruk, otakku kacau seakan sebuah software yang perlu di instal ulang.
"Maaf mbak, Mbak ga papa?" tanya seorang perawat yang menghampiriku.
Aku menarik nafas sebanyak-banyaknya dan menghembuskannya berkali-kali, "Iya ga papa."
Perawat itu membantuku untuk berdiri. Aku kembali menatap kondisi mertuaku. Selama aku menikah dengan Jefri, aku bersyukur, aku dapat merasakan kembali kasih sayang seorang Ayah.
Ku kuatkan langkah kaki ku untuk menghampiri Papa. Dengan dipapah dibantu oleh perawat tadi, akhirnya aku sampai di samping dipannya.
Ku sentuh jemari Papa perlahan, agar dia tidak terkejut. Papa membuka matanya, tersenyum melihatku.
"Pa, Papa .... " sapaku sambil tersenyum padanya.
Papa menggenggam erat jamariku. Beliau menepuk dipan pelan, mengisyaratkan agar aku duduk ditempat itu, aku mengerti.
"Ga papa, Mbak. Duduk aja ... Sementara itu saya tinggal, Mbak ya? Kalau ada apa-apa cukup tekan tombol ini. Permisi." ucap perawat itu ramah menjelaskan.
Aku tersenyum pada perawat itu. Lalu kembali menoleh pada Papa. Aku duduk bersender pada dipannya. Perlahan Papa membuka masker oksigennya.
"Pa-papa ingin Dul, ga-gantikan po-sisi Papa." ucap Papa terbata.
Aku tidak tega melihat nafasnya yang tersengal, sambil tersenyum aku memasangkan kembali masker oksigen itu.
"Pa ... Papa ga usah mikirin itu dulu. Yang penting sekarang sehat. Papa fokus sama kesehatan Papa dulu, ya?" lirihku.
Papa mengangguk pelan, "Pa-pa mau pu-lang."
"Iya, Papa pasti cepet pulang kalau kondisi Papa sudah agak baikan. Makanya Papa juga harus kuat ya?"
Tak terasa butiran airmata muncul disudut mataku dengan cepatnya, terjatuh bebas membasahi pipiku. Dengan spontan aku memeluk Papa mertua ku ini. Beliau terlalu baik padaku. Bahkan saat rumah kami belum selesai, beliau dengan semangatnya membantu kami untuk mengurus segala sesuatunga agar rumah impian kami dapat selesai dengan tepat waktu.
Belum lagi beliau yang selalu menghubungiku via pesan Whatsapp, hanya sekedar untuk menanyakan bagaimana kehidupan ku setelah dinikahi anaknya.
Tangisan ku berubah menjadi isakkan. Perlahan Papa mertuaku ini mengusapkan tangannya lembut diatas kepalaku. Aku seakan bernostalgia, merasakan kembali belaian kasih seorang Ayah.
'Aku merindukan Papah,' batinku.
Tak lama setelah itu, aku mencoba menahan kesedihanku. Aku bangkit kembali duduk, ku hapuskan airmataku. Papa Atta tersenyum padaku dalam masker oksigen transparannya.
'Aku benar-benar merindukan, Papah,' batinku sekali lagi.
Perawat kembali datang, memberitahukan jika jam besuk ku telah habis. Dia memintaku untuk segera berpamitan dengan Papa.
__ADS_1
"Pa, Tika keluar dulu ya? Kami semua ada diluar kok nungguin Papa. Jadi Papa gak usah khawatir." pamitku.
Papa menganggukan kepalanya pelan. Aku tersenyum kemudian pergi, berlalu meninggalkan Papa yang kembali beristirahat sendiri. Perawat tadi segera mengantarkanku kembali keluar ruangan ICCU.
" Loh kamu kenapa? Papa ngomong apa? Kok mata kamu merah gitu? Papa marahin kamu? Papa ngatain kamu ya? Biar aku bilangin ke Papa!" tegas Jefri sambil mengguncang tubuhku saat aku berhasil keluar dari ruangan itu.
Aku menyeringai menatap Jefri, "Aku ga papa kok," sahutku sambil menepis lengannya lalu duduk di samping Mama, "Aku cuman tiba-tiba kangen Mamah dirumah."
Mama mertua ku langsung menatapku heran.
"Sudah berapa lama kamu ga ketemu Mamah kamu?" tanya beliau tiba-tiba.
"Em ... terakhir ketemu ya weekend kemaren, waktu kita makan siang bareng itu, Ma."
"Astaga, tapi tiap hari kamu telponan kan?"
"Telponan tapi cuman bentar aja," jelasku lagi.
Plakk!!
Tiba-tiba Mama Alena memukul lengan anaknya, Jefri, yang sedang berdiri dihadapanku.
"Aw, Maa! Sakit," seru Jefri.
"Kamu ini gimana sih, sudah kalian pulang sekarang. Temuin Mamah Ida, kasih kabar kalo Papa kamu masuk rumah sakit," tegas Mama.
"Trus?" tanya Jefri.
"Sudah, sudah, pulang sana. Cepet! Nanti malam balik lagi kesini. Mama sama Nita bisa handle kok,"
"Dia jemputin Jordy, sekalian ganti baju." jelas Nita.
"Oh."
"Udah pulang sana kalian," usir Mama.
"Ya udah kami pulang dulu. Nit, nitip Mama sama Papa ya? Kalo perlu apa-apa telpon aja," ucap Jefri pada Nita sambil bersalaman pada Mama.
Aku pun melakukan hal yang sama, berpamitan dan bersalaman.
---------------------------
"Kamu bukan nangis gegara kangen Mamah kan?" tebak Jefri saat dalam mobil sambil menyalakan mesin mobilnya.
Aku menoleh padanya, "Kok tau?"
Dia menghembuskan nafasnya, "Aku ini suami kamu, kita bukan baru kenal beberapa hari trus langsung nikah."
Kini aku yang menghembuskan nafasku kasar, ku arahkan pandanganku lurus kedepan, "Aku kangen Papah. Ngeliat Papa di dalam tadi, mirip banget waktu dulu Papah aku sakit. Tiba-tiba pingsan, dipakein oksigen. Mau ngomong susah ...."
Tiba-tiba Jefri menarik tubuhku, membawaku dalam dekapannya.
Tadinya aku tidak ingin menangis lagi, tapi seperti biasanya, dalam dekapannya aku tidak bisa untuk selalu berpura-pura kuat.
Airmataku jatuh tanpa aku sadari.
"Maaf kalau situasi ini bikin kamu sedih," lirihnya sambil mengusap pipiku.
__ADS_1
Aku melepaskan dekapannya, "Kita pulang ke rumah dulu ya? Aku mau mandi."
"Iya," sahut Jefri lembut sambil mengecup keningku.
Selama diperjalanan aku dan Jefri tidak saling bicara. Jefri hanya menggenggam tanganku walau sesekali di lepasnya hanya untuk memindah tuas transmisi mobilnya.
Sesampainya di rumah, aku langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Sedangkan Jefri merebahkan dirinya ke atas ranjang, beristirahat sebentar.
"Sayang, kita ke makam Papah kamu dulu ya? Baru ke rumah Mamah. Gimana?" usul Jefri saat aku keluar dari kamar mandi.
Aku tercengang saat mendengar ucapannya.
"Boleh?" tanyaku heran.
"Bolehlah, kenapa enggak?" sahutnya sambil memeluk dan mencium pipiku, "Kalo kamu punya keinginan, apapun itu, ngomong sama aku, biar aku tau, jadi bisa kita bicarain sama-sama, ya?"
Aku mengangguk, dia memeluk tubuhku erat dan menciumi pundakku.
"Kamu laper gak? Udah jam 1 loh ini," tanyaku sambil perlahan mendorong tubuhnya untuk melepaskan pelukannya.
"Lumayan, nanti kita makan diluar aja."
"Enggak enggak! Aku masak bentar, kamu mandi aja."
"Iya iya, nurut."
Jefri kembali mencium pelipis mataku kilas lalu masuk ke dalam kamar mandi.
Aku langsung berpakaian dan melakukan ritual kewanitaanku. Mengenakan pakaian santai, mengoleskan body lotion ke seluruh tubuh, berdandan dan menata rambut yang sengaja ku gerai lalu ku jepit dengan jedai.
Kemudian aku langsung turun menuju dapur. Memasak serta menyiapkan makan siang untuk suamiku.
"Emm.. Harum. Kamu masak apa?" seru Jefri dari dalam kamar.
Ya FYI, kamar tidur kami terletak di lantai atas, bertepatan dengan sebagian lahan dapur dibawah. Dan kamar tidur kami tidak memiliki pintu seperti kamar kebanyakkan. Jadi begitu kalian menaiki tangga dan sampai di lantai atas, mata kalian akan langsung di suguhi dengan springbed ukuran kingsize serta beberapa perabotan lain yang ada dikamar kami.
"Masak capcay sama ayam goreng. Kalo kamu turun tolong sekalian bawain tas sama handphone ku diatas ranjang ya, sayang?" pintaku.
Jefri terlihat menuruni tangga sambil membawa request-an ku. Lalu berjalan mendekati ku di meja kitchen set.
"Emm, enak ini." sambil meletakkan tas beserta ponselku di atas meja kitchen.
"Lebih enak dari masakan diluar," ucapku percaya diri dan menyajikan masakan itu pada Jefri.
Jefri tertawa. Aku langsung sigap mengambilkan piring dan nasi dari magic cooker. Lalu meletakkan dihadapannya.
"Sayang, minta wadah cuci tangan dong, udah pewe banget ini," pintanya nyengir.
Aku mengambilkan sebuah wadah lalu mengisinya dengan air dari washtafel. Kemudian menaruh didekatnya. Jefri langsung mencuci tangan kanannya lalu melahap ayam goreng.
"Udah doa?" tanyaku.
"Udah, dalam hati."
Aku tertawa, kemudian aku pun ikut makan bersamanya. Duduk di sampingnya sambil sesekali meliriknya, melihat betapa lahapnya dia makan masakkanku.
Senang rasanya melihat suami sendiri makan dengan lahapnya. Apa lagi jika apapun jenis menu masakkan yang istri masak untuknya. Tanpa mengomentari rasanya terlalu asin, manis atau pun hambar..
__ADS_1