Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
S2 - Eps 57


__ADS_3

Tika POV.


Seminggu berlalu setelah aku check-up ke dokter dan makan malam bersama keluargaku, untuk memberitahukan tentang kehamilanku. Hari-hari kami jalani seperti biasanya. Setiap pagi aku pergi ke kantor dengan diantar oleh Jefri. Kemudian baru ia yang pergi ke kantornya.


Seminggu lagi batas kerjanya di perusahaan yang sekarang. Minggu berikutnya ia telah resmi mengundurkan diri dari sana dan memasuki jabatan baru di perusahaan papanya. Banyak dokumen dari perusahaan papa yang ia pelajari beberapa hari terakhir ini. Membuat Jefri terkadang tidur larut malam.


"Sayang ... Tidur yuk!" ajakku malam ini.


"Hm? Iya iya, bentar lagi aku nyusul," sahutnya yang masih saja berkutat dengan dokumen perusahaan papa.



Aku memutuskan untuk duduk disebelahnya, sambil menikmati dinginnya malam. Kami duduk tepat disamping rumah, menghadap ke arah kolam renang. Jefri masih saja sibuk membolak-balikkan beberapa kertas, mengamati semua angka dan huruf yang tercetak rapi disana.


Sekilas aku kembali teringat akan anak perusahaan Max, yang menyebabkan perusahaan papa diambang kehancuran. Hingga membuat papa jatuh sakit. Aku masih menyimpan dengan rapat masalah satu ini. Rasanya aku belum sanggup untuk memberitahukan hal itu.


"Sayang ...," ucapku.


"Hm?" sahutnya dengan dehaman.


Ku angkat satu kaki ku ke atas sofa, setengah bersila agar aku bisa duduk menatapnya. Lalu ku selipkan kedua tanganku pada pinggang dan punggungnya, mendekap dengan bahunya sebagai tumpuan dagu ku. Ku tiup telinganya.


Jefri terpekik, kemudian terkekeh pelan. "Kenapa sih? Jahil banget," tegurnya lembut.


Aku ikut terkekeh. "Kamu gak capek apa, tiap malem bacain dokumen itu?" tanyaku sambil mengelus-ngelus rambut belakangnya.


"Aku harus pelajarin basic dari perusahaan papa ini. Kan aku belum tau tentang perusahaan kontraktor kaya begini. Tahunya cuman jadi karyawan perusahaan orang." Jefri masih terfokus pada tumpukkan dokumen itu.


"Kalo semisalkan aku resign ... Apa yang aku kerjain?" tanyaku random.


Jefri menegakkan duduknya, menoleh padaku dengan seksama. "Kamu mau resign?"


"Aku masih mikir. Masa duduk di rumah aja? Kan bosen...," rengekku.

__ADS_1


Jefri membalikkan tubuhnya, sama menghadapku. Kemudian kedua tangannya memegang kedua lengan atasku mencengkram dengan erat. "Kamu cukup di rumah, besih-bersih, masak buat aku dan jaga bayi kita sampai hari kelahiran nanti," pintanya dengan mata sendunya.


Aku tersenyum kemudian berkata, "kamu tau kan, aku paling gak bisa diem di rumah duduk-duduk santai, nonton televisi nonton gosip?"


"Iya, tapi kan ...,"


"Disini lagi, sendirian! Kamunya entar ke kantor, aku ditinggal," rengekku lagi.


Jefri tertawa. "Kamu ini ada-ada aja deh. Kan entar bisa ke rumah Mamah kamu atau Mama aku, terserah kamu aja. Atau hangout jalan-jalan ke mall."


"Ke mall? Aish, males kalo sendiri."


"Ya trus, kamu maunya gimana?"


"Ya, makanya aku nanya, kan masih seandainya ...."


Aku kembali memeluk Jefri, menyandarkan kepalaku pada dadanya yang bidang. Menghirupi aroma tubuhnya yang membuatku tenang.


Aku semakin memanjakan diriku padanya. "Gendong dulu, baru aku mau tidur."


"Bentar, aku beresin filenya dulu. Ntar terbang."


Kami saling melepas pelukan ini, kemudian Jefri segera membereskan dokumeb perusahaannya lalu meletakkan dokumen itu di dalam, di atas meja makan. Kemudian kembali keluar lalu menghampiriku lagi.


"Gendong depan apa gendong di belakang?" tawarnya.


"Belakang dong!" jawabku tegas.


"Gak depan aja?"


"Ntar kamu gak bisa liat jalan,"


"Bisa! Sini!"

__ADS_1


Jefri langsung menyelipkan kedua tangannya dibawah ketiakku lalu mengangkatku. Di peluknya erat pinggangku. Kemudian ku sematkan kedua kakiku di pinggangnya. Melingkarkan kedua tanganku pada pundaknya.


Kami terkekeh geli. Sejenak Jefri terdiam menatapku. Aku membalas menatapnya. Sudah lama rasanya kami tidak saling memperhatikan seperti ini.


"Kiss?" pintanya sambil mengerucutkan bibirnya.


Ku kecup bibirnya sekilas. "Hmm no! Yang lama." Jefri memintanya lagi.


Ku kecup lagi untuk yang kedua kalinya. Sekarang dengan cepat ia menyelipkan bibirnya, bertaut menjadi satu dan saling mengecap. Menikmati dinginnya malam. Sambil perlahan Jefri melangkahkan kakinya, membawaku masuk ke dalam rumah, menaiki tangga hingga membawaku merebahkan tubuhku diatas ranjang kami.


Ia melepaskan ciuman kami. Menatapku sambil mengelus lembut pipiku. Dengan setengah berbaring pada lengan yang menjadi penyangga kepalanya dan dengan sebelah tangannya lagi yang tadi mengelusku, kini menggenggam erat tanganku.


"Kenapa?" tanyaku.


"Gak! Aku cuman lagi mikirin sesuatu."


"Apa itu?"


"Apa aku bisa jadi pemimpin di perusahaan papa? Rata-rata kan banyak yang umurnya lebih tua dari aku, yang pengalamannya lebih banyak dibandingkan aku. Sedangkan aku?"


Aku tersenyum tipis, ku elus pipinya, kemudian ku tangkupkan pipinya dikedua telapak tanganku. Ku tatap matanya lekat-lekat. Ia balas menatapku.


"Kamu pasti bisa. Kamu cuman perlu banyak tanya sama papa, gimana cara ngurusnya dan buat ngambil keputusan diawal-awal ini. Intinya jangan gegabah. Banyak kehidupan orang lain yang akan kamu tanggung mulai minggu depan. Bukan hanya kehidupan papa, mama, aku atau anak kita nanti, tapi juga seluruh keluarga karyawan diperusahaan itu."


"Iya. Kamu mau janji sesuatu buat aku?" tanyanya sambil merebahkan kepalanya di sisi kepalaku dengan lengannya sebagai bantal.


"Apa?"


"Apapun yang terjadi nanti, ingatkan aku buat tanggung jawab ini. Jangan pernah kamu berpikir buat ninggalin aku ... Apapun itu alasannya," pintanya berbisik disisiku.


"Pasti. Dan apapun yang akan kamu dapat suatu hari nanti, tolong jangan berpaling dari aku, sedetik pun."


"You have my word on it," jawabnya terdengar tegas di telingaku. Kemudian ia memeluk dan mengecup kepala sampingku lama hingga kami terlelap.

__ADS_1


__ADS_2