
Happy fasting ...
—————
Still Jefri POV.
Selesai makan malam, bi Mince yang membereskan semuanya hingga membersihkan dapur. Serta mencuci peralatan bekas kami makan. Sedangkan aku membantu Tika menaiki satu per satu anak tangga untuk kembali ke kamar.
"Aku mau duduk dulu." Tika memilih duduk di sofa tinggal yang kami miliki.
Tiba-tiba Tika mencengkram pergelangan tanganku, begitu aku hendak meninggalkannya turun untuk mengambil laptop serta dokumen yang harus aku cek satu persatu.
"Kenapa?"
"Maaf, aku gak bisa nyiapin air buat kamu mandi," lirihnya pelan tetapi malah membuat aku tersenyum.
Kemudian aku kembali mendekatinya. Bersimpuh di depan duduknya dengan kedua lututku lalu menggenggam erat kedua tangannya. "Mungkin untuk sebulan ke depan, aku yang akan nyiapin segalanya buat kamu. Sampai kamu bener-bener sembuh total. Gak ngerasain sakit atau pun nyeri lagi," Kukecup tangannya, "Tapi setelah kamu sehat, kamu wajib layani aku ... seumur hidup kamu."
Aku meraih lehernya lalu mengecup keningnya. Membawanya masuk ke dalam dekapan eratku. Dalam hati aku berdoa, semoga saja hari esok akan lebih cerah dan tidak akan lagi ada kejadian yang seperti kemarin. Aku juga berharap semoga lelaki terkutuk itu segera ditemukan. Agar kami semua bisa hidup dengan tenang.
Kemudian aku minta izin Tika untuk kembali pergi ke bawah mengambil beberapa barang yang aku tinggalkan di atas meja makan tadi.
"Bi, bibi tidur di kamar itu aja ya?"
"Tapi, Den—"
"Gak apa-apa kok, Bi. Jangan tidur di tempat lain, di kamar itu aja," ucapku tegas lalu mengangkat semua barangku.
"Oh iya, Bi, makasih sudah mau bantuin kami di sini," tambahku lagi seraya menaiki tangga menuju ke kamarku.
Sesampainya di atas, aku melihat Tika yang sedang membaca bukunya. Duduk manis di sofa tadi dengan ditambah dengan cahaya lampu sorot yang sudah dinyalakannya.
Aku memutuskan untuk segera membersihkan tubuhku, masuk ke dalam kamar mandi. Saat sedang mandi pikiranku kembali mengingat ucapan Max saat kami bertemu tadi. Dia mengatakan bahwa Dana sudah terbukti memiliki riwayat penyakit gangguan kesehatan yang mana sewaktu-waktu penyakit itu bisa kembali kambuh.
Ya, setahuku memang seperti itu lah orang-orang yang menderita penyakit ini. Tak jarang dari mereka yang psikopat bisa berubah menjadi seorang pembunuh. Namun, ada pula di sebagian dari mereka yang dapat hidup layaknya seperti orang normal. Berhubungan dengan orang normal dalam keseharian. Tetapi, bukankah tetap jarus waspada melawan orang seperti itu?
Buktinya saat aku mendobrak pintu pada kejadian seminggu yang lalu itu, aku melihatnya yang mencekik dan menampar Tika. Benar-benar bukan mencerminkan sikap kasih sayang terhadap wanita.
Aku kembali meletakkan kepalaku di bawah guyuran air shower, sekalian mencoba aoa kata orang, jika guyuran air di kepala bisa membuat pikiran tenang, siapa tahu bisa benar-benar merelekskan kepalaku yang masih terasa sedikit pusing.
Begitu selesai dan keluar dari kamar mandi aku sedikit terkejut, melihat Tika yang sudah berpindah duduk ke atas ranjang.
"Loh, kenapa gak nungguin aku sih?" protesku lalu membantunya menaikkan kedua kakinya dan menarikkan selimut untuk menutupi kakinya.
"Gak apa-apa kok, cuman dikit." Tika merubah posisi bantalnya agar dia bisa menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang.
Sedangkan aku langsung ke kamar pakaian untuk mengenakan pakaian tidurku.
"Sayang ...," seru Tika dari tempat tidurnya. Sayup-sayup aku mendengar ia memanggilku.
"Kamu liat hapeku di mobil gak? Waktu itu aku tinggal di mobil," tambahnya lagi yang dapat kudengar dengan jelas.
Kemudian aku keluar dari kamar pakaian dan berjalan mendekatinya. Setelah sebelumnya aku mengambilkan ponselnya, yang aku temukan saat tadi sore di dalam mobil sembari menunggubkabar dari Max.
"Ini?" ucapku berjalan semakin mendekatinya. Ia tersenyum melihat apa yang ada di tanganku saat ini. Senyuman lebar yang sudah lama tidak aku lihat.
Perlahan aku menaiki ranjang memberikan ponsel itu padanya kemudian merengkuhnya lagi. Lalu mengecup puncak kepalanya. Hingga rasanya dalam hati ini tidak akan pernah berhenti bersyukur, saat aku dapat memeluk jiwa dan raganya.
Tika kembali bersandar pada kepala ranjang, sambil memainkan ponselnya. Ya, selama di rumah sakit aku dan dia sama-sama melupakan ponselnya. Setiap hari pun untuk merekam si kembar hanya menggunakan ponselku.
"Sayang, pinjem hape kamu dong. Kirimin semua foto sama videonya si kembar." Dia merengek manja.
__ADS_1
Aku hanya menoleh lalu tersenyum dan mengambilkan ponselku yang tadi kuletakkan di atas nakas di samping sisi tempat tidurku. Lalu memberikan padanya.
Kami masing-masing melakukan apa yang ingin kami lakukan. Aku kembali aku terfokus pada layar laptop di pangkuanku. Dengan beberapa dokumen yang harus aku cek satu per satu. Sebab selama seminggu lebih aku mengurusi istriku di rumah sakit banyak pekerjaanku yang terbengkalai atau bahkan tertumpuk.
Namun tiba-tiba saja aku teringat akan usulan pak Hardi untuk memiliki seorang sekretaris. Memang akan lebih mudah jika memiliki seorang sekretaris, setidaknya untuk urusan mengecek dokumen seperti ini bisa dilakukan oleh seorang sekretaris. Bukan aku yang melakukannya sendiri. Jadi aku bisa lebih fokus untuk menjaga Tika dan yang lainnya nanti.
Aku menoleh melihat Tika yang sedang tersenyum menonton video si kembar. Kemudian ia sekilas juga menoleh padaku.
"Coba aja aku gak berpikir bodoh waktu itu ya? Pasti sekarang kita punya foto maternity, trus punya video bukaan juga," lirihnya terkesan sedang mengeluh.
Aku mengembuskan napasku, lalu tersenyum padanya. "Ada atau gak ada, aku lebih bersyukur melihat kalian bertiga tetap hadir dalam hari aku." Aku mengecup pelipis matanya.
Kemudian secara tiba-tiba Tika menanyakan kabar Alex padaku. "Kamu gak ada telponan sama Alex ya?" Tika mendongakkan kepalanya padaku.
Aku menatapnya lalu menggelengkan kepalaku. "Kenapa?"
"Gak apa-apa."
"Masih mau main rahasia-rahasiaan?"
"Aku cuman kangen Lisa. Kenapa dia gak datengin atau ngabarin aku?" Tika menghela napasnya dengan panjang, masih dengan menonton video si kembar.
"Jangan dipikirin dulu. Kan aku sudah bilang, pikirin diri kamu sama anak-anak dulu!" tegurku sambil mengelus lengan atasnya.
Kemudian aku lebih memilih untuk segera menyelesaikan tugasku. Agar aku dapat segera pula menemani Tika tidur hingga terlelap dan bangun keesokkan paginya.
—————
Lisa POV.
Aku mengerjabkan kedua mataku dengan perlahan. Mencoba menyesuaikan dengan sebuah cahaya yang ada di luar sana, yang begitu menyilaukan mataku. Perlahan, hingga akhirnya aku menyadari bahwa aku bukan lah berada di alam lain melainkan masih di duniaku. Dunia manusia.
"Lisa?" suara seorang lelaki yang memanggil namaku.
Aku mencoba menggerakkan kepalaku, tapi ternyata tidak bisa. Terlalu kaku dan sakit, seakan terkunci pada suatu benda. Kemudian aku mencoba menggerakkan mataku ke arah samping, mencoba melihat siapa lelaki yang menyebutkan namaku dan sekarang menggenggam erat tanganku.
"Hei, kamu tunggu sebentar, aku panggilin dokter dulu."
Lelaki itu ternyata Alex. Dia melepaskan tanganku kemudian pergi entah ke mana.
Sekali lagi aku memandangi langit-langit sambil mencoba kembali mengingat apa yang sudah terjadi padaku sebelumnya. Hingga aku bisa kembali ke rumah sakit ini. Bukan kah aku sudah bebas dari rumah terkutuk itu?
Bukan kah aku bisa berjalan sebelumnya?
"Ah!!" ringisku saat aku mencoba untuk menggerakkan anggota tubuhku.
Mataku tidak bisa melihat hingga ke bawah, ke arah tubuhku sendiri. Dan kedua tanganku terasa keram dan berat. Astaga, apa yang terjadi padaku?
Aku pejamkan kedua mataku, memaksa memory otakku untuk segera menemukan jawaban atas pertanyaanku. Merang*ang ingatkanku agar segera memberikan kilasan kejadian yang tiba-tiba menghilang sebagian.
Tak berapa lama seorang g dokter datang, beliau memeriksa kondisi mataku dengan sebuah senter yang di milikinya. Lalu menyuruhku untuk menggerakkan bola mataku, mengikuti arah cahaya senter itu. Aku melakukannya.
"Good! Sekarang coba untuk julurkan lidah Anda?" pinta dokter itu. Aku kembali melakukannya, mengikuti perintahnya.
Namun di saat dia memintaku untuk menggerakkan tangan serta kakiku, tidak ada satu pun yang bisa aku lakukan. Tangan dan kakiku tetap diam di tempatnya, walaupun aku mencoba dengan sekuat tenaga untuk menggerakkannya.
Kelopak mataku tanpa sengaja meneteskan airmata. Semakin lama semakin banyak. Mengapa aku menjadi seperti ini?
"Hei, jangan nangis. It's ok, semua pasti baik-baik aja." Alex membantuku untuk menghapus airmata yang berlinang di kedua pipiku saat ini.
Alex kemudian berbicara kepada sang dokter, menanyakan bagaimana selanjutnya tshap pemeriksaan yang harus aku jalani. Lalu bagaimana kondisiku selanjutnya.
__ADS_1
Sampai tiba-tiba aku mendengar suara pintu kamar kembali terbuka.
"Lisa? Gimana kondisi kamu? Apa yang kamu rasain?" Wajah Haikal tiba-tiba muncul di depan mataku yang terbaring lemah.
Lagi-lagi airmataku mengalir. Kini lebih banyak dari sebelumnya. Haikal mengelus kepalaku dengan tangannya yang lembut. Benar apa kata Tika, jika berhadapan dengan Haikal, pasti akan merasakan perasaan hangat. Perasaan kasih sayang kakak pada adiknya. Dan saat ini aku merasakan itu.
Tiba-tiba semua kilasan kejadian yang pernah aku alami langsung melintas perlahan. Mulai dari kejadian aku diculik, disekap, diikat bahkan sampai aku dilecehkan semuanya kembali terlintas.
Bahkan saat Tika datang, mencoba menggantikan posisiku saat itu. Tapi aku malah melakukan hal yang sebaliknya. Hatiku malah semakin berburuk sangka kepadanya.
Kemudian kilasan Max yang menyelamatkanku, Tika yang melindungiku hingga akhirnya ia yang harus merasakan timah panas dalam tubuhnya. Bagaimana dengan kondisinya? Bagaimana keadaan kandungannya? Buah hatinya?
Lalu sikap Max yang sekejap berubah, mencaciku, menyalahkanku atas apa yang telah terjadi hingga akhirnya aku berniat untuk mengakhiri hidupku.
Semua itu kembali terputar dalam ingatanku, berulang secara terus-menerus. Tanpa henti. Hingga aku merasa bersalah.
"Aaaaakkkk!!!" Aku berteriak sekeras-kerasnya dengan memejamkan kedua mataku.
Kuhiraukan mereka semua yang ada di sekitaranku, yang memintaku untuk tenang dan berhenti berteriak.
Apa aku sudah membunuh Tika dan kedua anaknya? Hingga Max sebegitu bencinya padaku saat itu?
Apa yang sudah aku lakukan pada sahabatku sendiri?
Tidak sepantasnya aku merasa iri dengan kehidupannya. Sedangkan dia begitu tulusnya menolongku tanpa memikirkan kondisinya sendiri. Tanpa mementingkan kedua bayinya.
Apa saat ini semua orang sudah membenciku?
Seketika napasku yang tadinya tidak beraturan bersamaan dengan jantungku yang berdetak dengan begitu cepatnya, perlahan kembali tenang. Lalu mataku mulai letih dan aku kembali menemui cahaya dalam kegelapan.
—————
Alex POV.
Lisa kembali tenang, setelah sebelumnya dokter Adam menyuntikkan sedikit obat penenang untuknya. Ia kembali terlelap dalam tidurnya. Entah apa yang tadi tiba-tiba dipikirkannya.
Sudah sepuluh hari ia koma. Kemudian setelah beberapa menit ia sadar, kini aku harus melihatnya kembali memejamkan matanya. Tidak tega rasanya hati ini melihat kondisinya yang seperti ini.
"Kondisi itu tadi, mirip seperti yang kita bicarakan kemarin. Sejenis trauma mendalam. Saya terpaksa harus menyuntikkan obat penenang padanya." Dokter Adam mencoba menjelaskan.
Aku hanya mengangguk saja.
Sedangkan Haikal juga melakukan hal yang sama, hanya bisa terdiam melihat kondisi Lisa yang memprihatinkan. Lisa pernah mengatakan padaku, bahwa keluarga Tika selalu membantu hidupnya. Saudara Tika yang juga selalu menjaganya.
BRAK!
Tiba-tiba pintu ruangan kembali terbuka. Om Reza masuk diiringi dengan istri beliau. Ya, aku mengenali mereka sebab saat Lisa membawaku ke London, aku sudah berkenalan dengan mereka.
Lelaki yang umurnya di atas ku sekitaran delapan hingga sepuluh tahun itu, meraung melihat kondisi Lisa. Bagaimana tidak? Saat ini Lisa hanya bisa menggerakkan kedua bola matanya. Lehernya telah di pasangi sebuah alat penyangga yang berguna untuk menopang leher dan kepalanya akibat cidera yang ia alami.
Tidak hanya beliau yang terkejut mendengar kabar ini, aku yang sama-sama saat itu sedang terluka pun merasakan hal yang sama.
Belum selesai saat itu aku sembuh dari luka tusukkan pisau yang aku alami. Aku malah harus mendengar kembali Lisa yang tertabrak mobil dan mengalami pendarahan hebat. Dan bodohnya lagi, aku baru mengetahui kondisinya sesaat setelah ia selesai melakukan operasi.
Kemudian saat kondisi aku yang perlahan membaik, kondisi Lisa malah masih tetap saja dalam keadaan tidak sadarkan diri.
Jika bisa saja terjadi,
Aku akan meminta, biar aku saja yang berada pada posisinya saat ini. Biar aku yang menggantikannya mengalami kejadian seperti ini. Jangan dia ...
Bersambung ....
__ADS_1