Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
S2 - Eps 91


__ADS_3

Clara POV.


Waktu di jam tanganku sudah menunjukkan pukul tiga lewat tiga puluh lima menit. Sudah sejak tadi aku membereskan beberapa dokumen ini. Menyimpan beberapa data yang sudah aku masukkan ke dalam sistem.


Kini saatnya untuk bersantai, sambil menunggu jemputanku datang. Aku terkekeh mengingat jemputanku itu adalah Haikal. Bukan jemputan seperti bus sekolah atau mobil travel antar kota.


Yang ini lebih nyaman dan lebih ... entahlah. Yang jelas dapat membuatku selalu tersenyum.


Aku akui, jantungku memang selalu 'dag dig dug' jika berada di dekatnya. Apalagi saat ia memerhatikan kedua orangtuaku, terlalu 'sweet' tapi aku menyukai itu.


Banyak sikapnya yang membuatku semakin jatuh hati padanya. Seperti di awal pertemuan kami.


Ia rela waktu istirahatnya diganggu oleh perempuan jahil sepertiku ini. Mengobati luka di lututku. Berbagi ranjang lalu membiarkanku beristirahat. Walaupun setelah itu ia menghukumku untuk menyusun file-file itu. Tapi aku rela, malah dengan senang hati aku mau melakukannya, walaupun sempat ada kekesalan yang aku rasakan.


Namun semuanya perlahan sirna, saat pertama kali ia mengajakku untuk menemaninya menghabiskan waktu di mall. Hingga bertemu adiknya yang sudah menikah. Saat itulah muncul perasaan itu, perasaan di mana aku selalu ingin tahu tentang kehidupannya tentang kesehariannya.


Bahkan di saat seorang anak kecil yang awalnya kupikir adalah anaknya, ia tetap saja menawan di mataku. Tapi untungnya anak lelaki itu bukanlah anaknya. Aku tidak bisa membayangkan jika benar dia sudah memiliki anak.


Lalu pertemuan kedua kami yang membuat jantungku sempat terasa hendak 'copot' saat itu. Dan dengan gentle-nya ia kembali meminta nomerku. Padahal sebelumnya sudah pernah aku berikan nomerku padanya, seingatku.


Dan yang tidak disangka-sangkanya lagi, ia berani menelponku malam itu. Membuat jantungku kembali berdetak cepat. Kemudian dengan percaya dirinya ia mengajakku untuk makan malam.


Saat itu aku pikir, aku yang bisa membuatnya terpesona dan terpukau akan penampilanku malam itu. Tapi siapa sangka, malah aku yang dibuatnya terperangah. Sebab nyatanya malam itu bukanlah dinner berdua, tapi dinner bersama keluarganya. Aku yang saat itu sudah terlalu percaya diri, tiba-tiba menjadi canggung dan bingung harus berkata apa.


Ditambah lagi yang ternyata kakaknya adalah salah satu daftar nasabah asuransi di kantorku. Sungguh kebetulan.


Tidak hanya sampai di situ saja, sikapnya yang sigap dalam menolong bundaku pun patut aku garis bawahi. Itu menandakan bahwa ia bukan orang yang memilih lari dari masalah, melainkan seseorang yang bertanggung jawab.


Belum lagi di saat aku terpuruk dengan keadaan bunda yang tidak sadarkan diri, dengan kelembutannya ia berusaha menenangkan perasaanku yang sedang kacau saat itu. Bahkan selalu menemaniku, hingga akhirnya ia akrab dengan kedua orangtuaku.


Semua itu membuatku merasa cukup. Bahkan dengannya, semua terasa berbeda. Walaupun terkadang rasa kesalku datang, akibat sikap acuhnya.


Namun lagi-lagi rasa kesalku luntur, saat mamahnya menerimaku dengan begitu ramah untuk pertemuan yang kedua kalinya. Bahkan melindungiku dari kejahilan anaknya sendiri.


Jika kembali mengingat semuanya itu, pasti bisa membuat bibirku mengembang dengan sempurna. Hanya saja rasanya kurang etis jika aku yang menyatakan perasaanku duluan padanya.


Tapi ... apa yang harus aku lakukan? Masa menunggunya terus-terusan?


Iya kalo ngajakin pacaran, lah kalo enggak?


Apa bukan buang waktu namanya?


Aku langsung merasa 'loyo' saat mengingat kembali beberapa kemungkinan menakutkan itu. Beberapa pemikiran yang mungkin hanya ada dalam otakku saja. Tanpa adanya pembahasan yang mencari kebenaran.


Kembali aku menghela napas dengan perlahan lalu menghembuskannya dengan kasar. Kemudian kuulangi sekali lagi. Bukan tanpa alasan aku melakukan itu, hanya saja hatiku seakan penuh.


Apalagi jika mengingat masa kelamku saat berpacaran dulu. Tanpa kabar apapun tiba-tiba lelaki itu menikah, lalu mengirimkan undangannya untukku. Kan sialan!!

__ADS_1


Namun, aku rasa lelaki yang satu ini berbeda, sangat berbeda. Rasanya tidak mungkin jika ia bersikap bejat apalagi bersikap tak bertanggung jawab.


Aku menunggu jemputannya. Jemputan darinya yang semakin lama membuatku semakin bosan menunggu. Beberapa menit telah berlalu dari jarum jam yang sudah melewati angka empat. Tapi belum juga dia menghubungiku, mengatakan jika dia sudah berada di halaman parkir.


Lagi-lagi aku menghela napas panjang. Bosan. Hingga tanpa terasa, satu persatu rekan kerjaku mengetuk pintu ruanganku. Mereka berpamitan dengan sengaja, membuat aku semakin merasa khawatir.


Apa terjadi sesuatu padanya di jalan?


Atau mungkin dia lupa memiliki janji untuk menjemputku?


Hmm ... Tak banyak yang dapat aku lakukan saat ini selain menunggu kabar dari teleponnya. Aku malu jika harus aku duluan yang menghubunginya.


🎶


Monday


Took her for a drink on Tuesday


We were making love by Wednesday


And on Thursday and Friday and Saturday


I met this girl on Monday


Took her for a drink on Tuesday


We were making love by Wednesday


And on Thursday and Friday and Saturday


🎶


Tiba-tiba ponselku berdering, aku segera meraih kembali benda persegi panjang itu lalu melihat siapa yang menelpon dari layarnya.


Senyumku langsung mengembang begitu nama dokter tampan itu yang muncul di layar. Lalu kubiarkan dahulu ponselku berdering hingga lagunya habis. Tidak ada maksud apa-apa, aku hanya senang melakukan itu pada lelaki yang menghubungiku.


Saat lagu nada dering itu mengalun untuk yang kedua kalinya, barulah aku mengangkat telponnya. Terdengar dengan begitu jelas suara bariton miliknya yang mengatakan jika dia sudah berada di depan lobby kantor. Menungguku.


Seketika jantungku berdetak dengan ritme yang tidak seperti biasanya. Semakin dekat dengannya, semakin membuatku salah tingkah. Padahal sebelumnya aku bisa bersikap biasa saja dalam menghadapinya. Bersikap seolah aku dan dia hanya sepasang teman biasa.


Tidak tidak, bukan sepasang, mana ada yang berteman jika sekaligus berpasangan?


Tapi entahlah ... aku kepinggirkan dulu masalah itu sejenak, sebab masih ada permasalahan yang lebih penting dari hanya sekedar hubungan pertemanan.


Haikal tiba-tiba saja membelokkan arah mobilnya, bukan menuju rumah sakit. Aku tercengang dan menatapnya, kemudian kutanyakan kemana dia akan membawaku. Dia hanya menjawabnya dengan sebuah senyum simpul di sudut bibirnya.


Beginilah jika sang dokter pintar ini sudah mulai kerasukkan, kembali pada sifatnya yang begitu menyebalkan. Terkadang memang bagus bersikap seperti ini, misterius penuh dengan teka-teki. Akan tetapi, jika selalu seperti itu juga tidak bagus bila diterapkan dalam suatu hubungan.

__ADS_1


Tapi jika sudah seperti ini, aku bisa apa?


Kabur dari mobilnya yang masih berderu kencang?


Dia kembali membelokkan arah mobilnya, kali ini memasuki wilayah parkir mall. Pusat perbelanjaan yang menjadi tempat pertama kali kami jalan berdua. Tidak banyak yang dia katakan. Dan setiap kali aku bertanya, dia selalu menjawabnya hanya dengan sebuah senyuman kecilnya, terlihat garing.


Aku terus mengikuti langkahnya, kali ini kami tidak berjalan secara bergandengan ataupun sejajar bersama secara berdampingan. Malah aku di belakangnya.


Lagi-lagi dengan susah payahnya aku menyeimbangkan langkahku, sebab langkah kakinya begitu lebar dan jalannya juga begitu cepat. Aku kewalahan lalu kutarik baju kaosnya. Spontan dia menghentikan langkahnya menatapku ke belakang yang sudah menabrak tubuhnya. Kemudian menanyakan padaku ada apa.


"Jalannya kecepetan, aku pakai heels. Sakit." Sesingkat itu kalimat yang keluar dari mulutku.


Namun siapa sangka, dia malah tiba-tiba mengangkat tubuhku bagai sedang membawa bendera pusaka. Spontan kulingkarkan kedua tanganku pada lehernya, kemudian dia kembali berjalan dengan santainya tanpa malu. Sedangkan aku? Jelas saja malu, sebab banyak mata yang melihat, bahkan menatap kami dengan tatapan aneh.


Berkali-kali aku memintanya untuk menurunkanku, percuma saja. Dia terlalu kuat untuk kulawan. Mungkin seandainya aku mengenakan sepatu biasa atau sendal jepit dengan celana panjang, aku pasti bisa melawannya, meloncat turun dari gendongannya ini!!


"Sialan!!" gerutuku.


Haikal menurunkanku saat kami sudah memasuki sebuah toko sepatu. Menyuruhku tetap diam duduk di tempat, sedangkan dia asyik mengobrol dengan pegawai toko itu.


"Bantu aku memilih sepatu yang bagus," titahnya sambil menarik tanganku untuk berdiri.


Aku membelalakkan mata. "Dari tadi aku gak ada liat sepatu cowok di sini."


"Aish, cerewet. Pilih aja satu." Lalu dia memanggil pegawai toko tadi untuk melayaniku.


Kalau sudah seperti ini sikapnya, jujur saja, aku muak! Sok perintah, sengak dan seakan menindasku.


Kemana perginya sosok pria ganteng yang tadi sempat kupuja-puja sebelum bertemu?


Dokter manis yang selalu membuat jantungku dag dig dug saat bersama?


Halah!!


Tanpa banyak basa-basi, aku langsung menunjuk satu sepatu flat berwarna hitam, sepetinya cocok untuk di pakai bersantai. Kemudian sang pegawai toko langsung menyuruhku duduk, lalu dia pergi dan kembali dengan sebuah kotak di tangannya. Menyuruhku mencobanya dan sepatu itu memang terlihat cocok di kakiku, pas!!


Kami saling menatap, aku tersenyum padanya. "Oke, saya ambil yang ini. Tolong sepatu sebelumnya saja yang di masukkan kotak. Yang ini langsung dipakai."


Aku terperangah mendengar ucapannya. Belum sempat aku bicara ingin protes, dia sudah berdiri langsung menuju meja kasir bersama pegawai itu.


"Astaga!!" gumamku saat melihat harga sepatu yang tertera di labelnya itu.


Tak banyak yang diucapkan Haikal setelah dia membawaku keluar dari toko itu. Dengan paperbag yang dijinjing di salah satu tangannya. Dia kembali membawaku memasuki sebuah toko perhiasan.


Aku seakan 'deja vu' pada toko ini. Benar saja, sebab beberapa hari setelah kenal, lelaki ini sempat membawaku ke mall ini dan ke toko ini. Kalau tidak salah untuk membeli sebuah cincin.


Kali ini apa lagi yang akan dibelinya?

__ADS_1


Apa sebuah kalung? Gelang? Atau ... anting?


Bersambung ...


__ADS_2