
Clara POV.
Kuhempaskan tubuhku ke tengah ranjang. Letih setelah seharian bekerja. Kupejamkan mataku barang sebentar sambil menenangkan napasku yang tersengal, akibat kecepatan yang kugunakan untuk menaiki anak tangga tadi menuju kamar. Dengan pakaian kerja yang masih menempel ditubuhku, aku terlarut menuju ke alam mimpi.
Tokk..
Tokk..
Tokk..
Baru sebentar rasanya mataku terpejam, mimpiku pun belum hadir, aku sudah kembali membuka mata akibat suara pintu kamarku yang diketuk. Aku menghela napas sebentar lalu beranjak bangkit dari ranjangku yang tersayang, menuju pintu untuk mengetahui siapa yang telah mengetuknya.
Kuraih knop pintu kamarku, lalu menariknya. Bunda berdiri di ambang pintu dengan wajahnya yang tersenyum manis.
"Kenapa, Bunda?"
"Makan dulu, baru istirahat lagi." Bunda lalu beranjak kembali menuruni tangga. Aku mengikuti langkah bunda dari belakang, menuju meja makan.
Disana sudah terlihat Ayah yang sedang menunggu kami, duduk di kursi kerajaannya.
"Astaga," —ucap ayah sambil menggelengkan kepalanya— "kamu pulang lebih dulu tapi masih belum mandi?"
Aku duduk di kursi samping ayah, sedangkan bunda duduk di kursi sebelahnya lagi, berseberangan denganku. Dengan senyum simpul yang aku arahkan pada ayah, bersikap anak manja. Ku jelaskan pada ayah bahwa aku tadi ketiduran. Padahal rencananya hanya ingin rebahan sebentar, sambil membetulkan letak pinggangku yang terasa bergeser.
Bunda dengan sigap langsung menyiapkan piring makan ayah dan memberikannya padaku. Ku ambilkan nasi secukupnya lalu kuberikan pada ayah. Begitu pula piring dan nasi untukku sendiri. Sedangkan bunda langsung menuangkan air minum di gelas ayah dan gelasku.
Menu makan malam kami kali ini ada ayam panggang lengkap beserta kuah sup berkaldu. Lalu kami memulai makan malam ini. Bunda menyajikan hidangan untuknya sendiri, begitupun dengan ayah yang mengambil sendiri lauknya.
Biasanya kami membicarakan sesuatu yang penting saat berada di meja makan. Tak banyak yang kami obrolkan hingga akhirnya kegiatan itu selesai. Dan biasanya, setelah makan malam, bunda selalu menyediakan camilan lain. Malam ini kami menikmati sepotong kue brownies yang telah bunda beli sebelumnya.
Ya, makan malam kali ini semuanya serba membeli, bukan bunda yang memasaknya sendiri. Sudah beberapa hari ini seperti ini, dikarenakan bunda yang selalu lembur di kantornya. Begitupun dengan ayah, banyak pekerjaan yang harus diselesaikannya. Sedangkan aku? Tetap teratur, pulang seperti biasanya dan sampai di rumah pun seperti biasanya. Tidak ada bedanya.
"Siapa pria tadi siang?" tanya bunda. Pertanyaan itu menbuatku kaget, kupikir bunda sudah melupakan hal itu, ternyata tidak.
Seketika pula aku mengangkat wajahku ke arah bunda, menatap bola matanya yang hitam kecokelatan. Bunda sesekali melihatku sambil kembali menyendokkan brownies ke mulutnya. Aku tergagap.
"Em, temen." Aku berusaha untuk tetap terlihat santai.
Namun ternyata ayah menangkap gelagatku. Tiba-tiba saja ayah menggenggam tanganku yang sengaja kuletakkan di atas meja di samping piring kecil brownies-ku. Aku menoleh pada ayah.
"Kamu sudah cukup dewasa untuk membuka hati." Ayah langsung memberikan nasihatnya.
Aku tertegun saat ayah mengatakan hal itu. Begitu pula dengan bunda yang mengangguk mengiyakan perkataan ayah. Kemudian mereka menceritakan bagaimana indahnya kisah awal pertemuan mereka. Aku mendengarkannya dengan penuh semangat.
Berkali-kali ayah menyanjung bunda, mengatakan betapa kagumnya dirinya akan sosok bunda. Menceritakan bagaimana perjuangan mereka berdua untuk menyatukan rasa cinta mereka hingga akhirnya terwujud.
Selesai makan malam dan quality time, aku menawarkan diri untuk membersihkan meja makan, dapur serta mencuci peralatan makan yang telah kami gunakan sebelumnya. Sedangkan kedua orangtua ku, mereka langsung menuju kamarnya untuk segera beristirahat.
Tugasku selesai. Aku segera kembali ke kamarku dan membersihkan diri.
***
Baru saja aku ingin menutup mata dan mencoba kembali terlelap, tiba-tiba ponselku berbunyi.
🎶
Monday
Took her for a drink on Tuesday
We were making love by Wednesday
And on Thursday and Friday and Saturday
We chilled on Sunday
I met this girl on Monday
Took her for a drink on Tuesday
We were making love by Wednesday
__ADS_1
And on Thursday and Friday and Saturday
We chilled on Sunday
🎶
Haikal calling.
Aku tersentak kaget melihat layar ponselku. Tidak percaya dengan apa yang aku lihat, tidak percaya dengan nama yang tampil dilayar ponselku. Dengan posisi duduktegak di atas ranjang lalu sedikit membetulkan suaraku, aku menerima panggilan itu.
"Hai! Ehm, soon. Kenapa nelpon? Kangen ya?" Aku tertawa setelah melontarkan kalimat itu. Haikal pun ikut tertawa diseberang sana.
"Wow! Ngajakin ngedate nih? Trus? Oke, bye!" Aku memutuskan sambungan teleponnya santai.
Ku pastikan sekali lagi bahwa telepon sudah terputus, seketika aku berlonjak kegirangan. Tidak menyangka akan mendapatkan ajakan makan malam besok hari.
'Eits, tunggu dulu. Sejak kapan gua jadi begini?' Dengan napas tersenggal akibat absurd dance yang kulakukan tadi, aku berpikir. Mencoba menelaah lebih dalam lagi tentang perasaan ini.
Kembali ku rebahkan tubuhku di atas ranjang dengan telepon genggam yang masih kupegang di tangan kananku, sedari tadi. Mataku memandang ke sana kemari, mengingat-ingat kembali bagaimana awal kami bertemu.
Sebuah seringai muncul di sudut bibirku, aku malu jika mengingat kejadian itu. Ku balikkan tubuhku lalu ku benamkan kepalaku di bawah bantal, hingga akhirnya aku tertidur pulas.
---------------------------
Tika POV.
Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore. Tinggal beberapa saat lagi waktunya absen pulang. Seharian ini aku habiskan waktu ku untuk bekerja di depan komputer, agar dokumen-dokumen di atas meja ini segera selesai dan lenyap dari hadapanku.
"Tik, gua duluan ya? Sekalian ada janji sama tim Icha. Eh, kirimin gua portfolio Wedding Organizers lengkap sama price list-nya ya?" pinta Metta sambil sibuk dengan sesuatu dengan mejanya.
"Okay!"
Sesaat sebelum Metta menjauh, aku teringat akan box merah maroon yang masih bertengger mesra disamping telepon di pojok mejaku. Aku harus menyingkirkan kembali hadiah itu.
"Mett!!" seruku.
Metta menoleh kemudian sedikit membelalakkan matanya menatapku. Kemudian dengan cepat kuraih box itu lalu kusodorkan pada Metta, ia menganga takjub.
Tak lama setelah Metta pulang dengan bahagia membawa bingkisan box merah maroon itu, aku juga mulai membereskan mejaku. Beberapa dokumen yang telah selesai aku kerjakan, sengaja ku bedakan untuk kubawa nanti sekalian ke bawah, menaruhnya di meja receptionist.
Ku matikan layar komputerku, sambil kuraih secangkir kopi milikku yang masih tersisa sedikit. Tiba-tiba ponselku berbunyi.
🎶
You so fuckin' precious when you smile
Hit it from the back and drive you wild
Girl, I lose myself up in those eyes
I just had to let you know you're mine
🎶
Aku hampir lupa menaruh ponselku dimana. Segera kuraih handbag-ku lalu merogoh isinya, mencari-cari namun tetap tidak ku temukan. Kubuka laci mejaku, tidak aja juga. Sampai akhirnya ku angkat beberapa dokumen yang tadi segaja telah kupisahkan. Ponselku tertindih disana. Ku lihat layarnya, Jefri calling. Aku tersenyum.
Kugeserkan tombol berwarna hijau yang ada di layar ponsel kemudian menjawab sambungan telepon itu. Jefri menyahut di seberang sana, mengatakan jika dirinya kini sudah ada di halaman parkir kantor menunggunya di dalam mobil. Dengan senang aku menyuruhnya untuk menungguku sebentar, agar aku bisa membereskan mejaku terlebih dahulu. Kemudian kami sama-sama memutuskan sambungan telepon.
Komputerku sudah mati. Maksudnya sudah tidak hidup eh, pokoknya sudah di shut down saat itu. Lalu ku raih handbag-ku memasukkan ponselku ke dalam sana dengan sembarangan lalu mengangkat beberapa dokumen. Belum lagi terangkat sempurna, tiba-tiba ponselku kembali berbunyi.
🎶
You so fuckin' precious when you smile
Hit it from the back and drive you wild
Girl, I lose myself up in those eyes
I just had to let you know you're mine
🎶
__ADS_1
Ku letakkan kembali segala benda yang ada di tanganku, lalu kuraih kembali ponselku. 'Lagi-lagi unknowns number!' batinku.
Lalu kuterima sambungan telepon itu. Suara lelaki tetdengar jelas di seberang sana dengan latar yang teramat sepi. Hanya suara sapaan hallo-nya yang kudengar. Setelah aku menyahut barulah ia berbicara kembali. Dari suara yang kudengar, sudah bisa ku tebak siapa pemilik suara bariton itu.
Ku jawab dengan ketus, "Apa?!"
"Kok dikasih ke orang lain lagi sih gift-nya?" tanyanya dengan nada suara yang sengaja dibuat bermanja-manja.
Aku kaget. 'Dari mana dia mengetahui ini?' pikirku bertanya-tanya.
Aku hanya diam kemudian dia tertawa keras. Lalu dia mengatakan padaku bahwa dia bisa tahu segala macam hal yang aku lakukan.
Kali ini aku tercekat kaget!
Lalu ia kembali mengatakan bahwa aku sangat terlihat cantik dengan menggunakan blouse kerja berwarna beige yang cocok dengan kulit putih mulusku. Dipadukan dengan rok hitam span yang semakin membuat lekuk tubuhku terlihat memesona dimatanya.
Spontan aku membalikkan badanku, mengedarkan pandanganku ke segala penjuru sudut lantai ini. Sejauh mataku memandang, aku tidak dapat menemukan sosok lelaki itu. Kemudian suaranya kembali menggelegar di seberang sana, tertawa kencang terbahak-bahak.
Tubuhku mulai bergetar. Aku ketakutan. Lelaki ini semakin haribsemakin menakutiku. Bola mataku tak hentinya mengerjab berkali-kali, jantungku berpacu dengan cepat, napasku tersengal. Secepat kilat ku geser tombol berwarna merah yang ada di layar, lalu ku lemparkan ponselku itu ke dalam tas.
Kakiku seakan melemah. Tubuhku serasa sempoyongan mendapati lelaki itu bisa menyebutkan detail apa yang sedang aku kenakan. Kuletakkan kedua tanganku di atas meja untuk menopang tubuhku, agar tetap terlihat dapat berdiri dengan tegak, sebelum akhirnya aku memutuskan untuk beranjak menuju ke bawah.
Ku atur napasku berkali-kali, kuraih dokumen-dokumen yang sudah selesai ku kerjakan untuk meletakkannya di meja Rossi. Agar karyawan lain pemilik dokumen-dokumen itu bisa kembali membenahi laporannya.
Dengan pikiranku yang kacau, jantung yang tak henti-hentinya berdegup kencang, aku berjalan cepat menuju ke arah tangga dan menuruni tangga dengan perlahan. Agar tidak terjatuh.
Ku kembangkan senyumanku sesaat sebelum menghampiri meja receptionist. Lalu kuletakkan dokumen-dokumen itu di atas meja samping receptionist, meja kerja Rossi. Kemudian tersenyum sambil berpamitan dengannya dan pada yang lainnya yang sedang berada disana sambil menunggu jemputan.
Berjalan cepat aku menuju keluar kantor lalu menaiki mobil Jefri. Menutupnya, mengunci manual pintu mobil, lalu langsung menarik safety belt dan menguncinya dengan mengecek berkali-kali. Baru setelah selesai aku menatap Jefri yang membeku melohat tingkahku ini.
"Kamu kenapa?" tanyanya pelan sambil menangkupkan tangan kanannya lalu mengeluskannya pada pipi kiriku. Sedangkan tangan kirinya langsung sigap mencengkram erat kedua tanganku yang sudah mulai basah karena berkeringat.
Jefri semakin terlihat bingung dengan keadaanku yang seperti ini. "Kamu kenapa sih? Kok pucat gini? Sakit?" Jefri khawatir.
Dengan cepat aku menggeleng, lalu memeluknya. Jantungku masih berpacu dengan kencang. Aku benar-benar ketakutan. Aku merasa dimata-matai, karena lelaki itu bisa menyebutkan dengan benar situasiku saat itu.
Jefri mengelus rambut dan punggungku dengan lembut, lalu bertanya sekali lagi padaku, tentang apa yang telah terjadi. Apa yang membuatku menjadi seperti ini.
Bibirku kelu, aku tidak mampu mengucapkan apapun. Yang ada dalam pikiranku saat ini hanyalah ingin segera pulang, lalu memeluk suamiku lebih lama. Aku ingin dia melindungiku.
Jefri merenggangkan pelukkannya lalu menangkap daguku, menyuruhku menatapnya. Tiba-tiba airmataku menyeruak, mengalir jatuh membasahi kedua pipiku.
"Kamu kenapa sih?" Tatap Jefri semakin khawatir. Ia langsung menarikku kembali dalam pelukkannya lalu mengecup pucuk kepalaku berkali-kali.
Ia melepaskan kembali pelukkannya, lalu tanpa bertanya lagi, dia langsung menginjak pedal gas, memundurkan mobilnya dari area parkir. Menatapku kilas lalu langsung menancapkan gas meluncur menuju pulang ke rumah.
Di sepanjang perjalanan, aku tak henti-hentinya menangis terisak. Ketakutan akan lelaki masa lalu ku itu. Lelaki yang kini kembali hadir untuk menggangguku.
Sesekali Jefri menggenggam kedua tanganku yang saling bertaut di atas pangkuanku. Aku sungguh ketakutan hanya karena lelaki itu bisa menebak dengan benar pakaian apa yang sedang kukenakan.
Dan yang lebih membuatku takut, ia mengatakan hal yang tidak senonoh padaku ditelepon. Tentang bagian tubuhku, lekuk tubuhku. Bahkan ia dengan jelas mendeskripsikan semuanya.
Bersambung ...
--------------------
Terimakasih sampai sejauh ini kalian masih setia untuk membaca karyaku.
Jangan lupa untuk membaca dan mendukung karyaku yang lainnya yaa 😘
Kalian bisa memfollow IG ku dengan nama akun @bossytika untuk melihat-lihat judul karya yang sedang aku kerjakan.
Semoga kalian bisa selalu terhibur dengan semua judul cerita dariku 🤗
Oh iya, bagi kalian yang memiliki aplikasi NovelToon, kalian bisa loh bergabung langsung ke Grup Chat-ku. Caranya gampang, kalian tinggal meng-upgrade terlebih dahulu aplikasi NovelToon kalian, kemudian login kembali, lalu cari judul karyaku. Dibagian detail novel ada tertulis fitur Grup Chat. Lalu tinggal tekan deh dan secara otomatis kalian akan masuk ke dalam Grup-ku.
Di sana kita bisa untuk say hallo atau bahkan sekedar mengobrol. Siapa tau kalian memiliki ide cerita yang ingin kalian berikan padaku 😍
Babay!!!
#salambucin💋
__ADS_1