Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
S3 - Eps 161


__ADS_3

Happy reading ...


—————


Max POV.


Dalam ruangan kerja di perusahaan, aku merenung. Memikirkan bagaimana caranya bisa segera menemukan Dana dan menangkapnya. Setidaknya agar semua permasalahan cepat selesai dan kami dapat hidup dengan tenang.


Bukan, bukan kami tapi aku. Masih ada dua kemungkinan bagi lelaki itu yang belum ia ketahui. Yang mana ia memang mengejar Tika atau ia sudah mengetahui jika saudaranya mati di tanganku. Aku tidak yakin. Dan selama aku tidak mengatakan semua ini pada Tika, aku akan selalu merasakan kekhawatiran yang berlebih.


Benar apa yang dikatakan oleh Jefri beberapa hari yang lalu. Mau sampai kapan kami tinggal di rumah mamah dan membebani pikiran mamah setiap harinya. Tapi aku pikir itu adalah cara satu-satunya agar aku bisa melindungi semuanya. Walaupun terasa berat.


Lagi-lagi aku mengembuskan napasku setelah sebelumnya aku menarik napas yang panjang. Menghirup sebanyak-banyaknya udara yang ada di sekelilingku. Sepertinya saat ini aku butuh udara segar. Aku harus keluar dari ruanganku.


Aku beranjak berdiri dari kursi empukku lalu mengambil kunci mobilku dan melangkah keluar dari ruanganku. Namun, begitu aku berhasil melewati ambang pintu ruanganku tiba-tiba saja ponselku berbunyi.


🎶


My location unknown tryna find a way back home to you again


I gotta get back to you gotta gotta get back to you


My location unknown tryna find a way back home to you again


I gotta get back to you gotta gotta get back to you


🎶


Aku merogoh saku celanaku untuk mengambil benda tipis yang melantunkan lagu berjudul Location Unknown itu. Lalu menatapi layarnya untuk melihat nama siapa yang tertera di sana, yang sedang menghubungiku. Reza calling.


Segera aku menerima panggilan telepon itu, "Hallo?"


Di seberang sana, suara Reza terdengar sampai di telinga melalui sambungan speaker ponselku. Dia mengatakan bahwa saat ini sedang ada di bandara dan memintaku untuk segera menjemputnya. Dengan senang aku mengabulkan permintaannya.


Aku memintanya menungguku di sebuah restoran yang telah kami sepakati bersama, sementara aku dalam perjalanan untuk menuju ke sana. Setelah itu kami memutuskan sambungan telepon itu. Kembali kumasukkan ponsel ini ke dalam saku celanaku lalu lkembali melangkah untuk menuju lift dan keluar menuju mobilku.


Sebelumnya aku sempat berhenti pada meja resepsionis dan meninggalkan pesan di sana jika ada orang yang mencariku untuk mengatakan atau mengatur jadwal temunya lain kali denganku. Kemudian aku kembali melanjutkan langkahku menuju tempat parkiran mobil dan masuk ke dalam mobilku. Tak perlu menunggu waktu yang lama, aku segera menyalahkan mesin mobil lalu menjalankan mobil dengan kecepatan sedang. Melewati jalan tol untuk menuju ke bandara.


Sesampainya di sana, aku langsung memarkirkan mobilku dan mendatangi sebuah restoran untuk mencari keberadaan Reza. Aku mengedarkan arah pandangan mataku untuk mencari sosok lelaki yang sudah kuanggap sebagai saudaraku itu.


Sebuah tangan melambai pada salah satu sudut restoran yang aku kenali merupakan sosok Reza, dilihat dari kejauhan. Aku berjalan mendekatinya. "Sorry, lama." Aku menarik sebuah kursi yang berada di seberangnya lalu duduk.


"Gimana kabar ibu?" tanya Reza membuka suara. Reza memanggil mamahku dengan sebutan ibu. Sebab dulu mamah merupakan bos-nya.


"Mamah baik. Walaupun beberapa minggu lalu sempat stress karena kejadian di rumah itu." Aku menjawab santai pertanyaan Reza sambil menyesap minuman yang sudah dipesankan oleh Reza sebelum aku sampai duduk di sini.


Siang ini aku menceritakan banyak hal pada Reza karena aku percaya padanya. Hanya dia yang ada di saat aku kehilangan papah. Dan hanya dia yang benar-benar membantuku dan keluargaku dalam menjalankan perusahaan papah. Bahkan dia mengajariku banyak hal tentang dunia ini. Dunia yang menurutku terlalu kejam. Dunia yang merubah pola pikirku dalam bertindak.


Hingga akhirnya aku memercayakan cabang perusahaan di London untuknya sekeluarga. Ya, sedekat itulah aku dengan Reza, dia tidak hanya sekedar sebagai saudaraku tetapi juga sebagai malaikat bagiku. Dan aku tidak akan bisa mengabaikannya.


Bahkan sampai saat ini, dia terus saja membantuku dalam segala hal. Termasuk menjaga keluargaku dari kejauhan.


"Minggu lalu waktu di London, aku iseng, cari tahu tentang perusahaan Dave. Dan sekarang, perusahaan itu masih berjalan dengan normal. Tapi tanpa pimpinan. Dan aku juga meminta rekanku buat menyelidiki perusahaan itu," jelas Reza sambil sesekali melihat sekeliling kami.


Aku mendengarkan ucapannya dengan seksama, Reza menjelaskan semua seluk beluk tentang perusahaan Dave yang ternyata saat ini berkembang pesat di kota London. Oleh sebab itu, ia juga memiliki beberapa villa di negara ini. Bahkan sang adik Dana, yang ternyata juga memiliki andil dalam kokohnya perusahaan itu.


"Jadi perusahaan furniture itu sekarang dikelola secara terbuka. Entah bagaimana sistemnya, aku belum terlalu mengerti."


Panjang lebar Reza menceritakan semua itu, tetapi tidak ada satu pun yang dapat aku terima masuk ke dalam otakku. Mendadak aku tidak bisa mendengarkan suaranya, aku hanya bisa melihat bibirnya yang bergerak, terkatup kemudian terbuka perlahan. Sekalan semuanya berjalan dengan begitu lambat.


Kilas balik saat aku menembak dada lelaki bernama Dave itu kembali muncul ke permukaan ingatanku. Begitu kuat. Kata per kata yang ia ucapkan kembali terngiang di telingaku dengan begitu jelasnya. Apalagi saat darah segar akibat timah panas yang mengucur keluar, mengotori pakaiannya saat itu. Semuanya kembali muncul. Tanpa bisa aku cegah.


Dan setelah sekian lama aku melupakan detik demi detik kejadian itu, saat ini malah kembali terputar.


"Max ... Max ... Max!!" seru Reza yang akhirnya membuyarkan lamunanku dalam kegelapan itu.

__ADS_1


Aku mengerjabkan mataku, "Ah ya? Kenapa, Za?"


Reza menatapi dengan serius. Terlihat beberapa kerutan di keningnya saat ini. Memandangiku dengan tajam dan mengintimidasi. "Kamu gak apa-apa, 'kan? Wajah kamu pucat. Apa sebaiknga kita ke rumah sakit?" Reza terdengar cemas melihatku seperti ini.


Napasku tiba-tiba terasa sesak. Perlahan aku meraih dasi yang kukenakan kemudian aku menariknya agar sedikit melonggar. Lalu aku juga melepaskan kaitan kancing kemejaku yang paling atas. Hidungku seakan tidak bisa menghirup udara, aku mencoba bernapas melalui mulutku.


Lalu tiba-tiba pandangan mataku terlihat semakin buram tidak jelas dan terlihat seperti double. Ya, berbayangan. Dan blup! Gelap.


—————


Haikal POV.


Semenjak kejadian teror tak terduga yang terjadi di rumah mamah beberapa minggu lalu, membuatku saat ini, setiap harinya harus melanggar aturan yang aku terapkan pada rumah sakit tempatku bekerja ini.


Setiap saat, aku harus membawa serta ponselku untuk tetap melekat pada tubuhku. Entah itu meletakkannya di dalam saku jas-ku ataupun sekedar untuk menitipkan pada perawat yang bertugas di meja jaga.


Baru saja aku hendak memasuki ruangan ICCU dan menitipkan ponselku pada meja jaga, tiba-tiba benda tipis itu sudah berdering merdu. Melantunkan sebuah cuplikan lagu dari penyanyi terkenal di era ini, yaitu Ed Sheeran dengan lagu yang berjudul Dive.


🎶


So don't call me baby


Unless you mean it


Don't tell me you need me


If you don't believe it


So let me know the truth


Before I dive right into you


🎶


Segera aku mengambil kembali ponselku itu. Lalu memeriksa nama siapa yang muncul di layar kaca. Yang sedang menghubungiku saat ini. Reza calling.


Suaranya tidak begitu jelas, membuat aku semakin khawatir. Berkali-kali aku mengatakan padanya untuk segera mengambil napas dan mengembuskannya agar ia bisa berbicara dengan tenang. Hingga akhirnya berhasil dan dia mengatakan bahwa Max pingsan saat bersamanya dan saat ini sedang dilarikan ke rumah sakitku.


Ada perasaan tidak yakin saat mendengar bahwa Max tumbang, sebab itu bukan lah seperti Max yang aku kenal. Karena sesibuk apa pun sia, rasanya mustahil jika keadaan memang seperti ini.


Setelah memutuskan sambungan telepon, aku segera berlari menuju ke ruangan IGD. Lalu memutuskan untuk duduk di kursi depan rungan itu sambil menunggunya datang. Aku sangat khawatir, hanya saja aku mencoba untuk menutupinya. Agar aku dapat menjaga wibawaku dalam rumah sakit ini.


Pikiranku melayang entah ke mana, membayangkan beberapa hal yang tidak masuk akal. Masih ada rasa aneh dengan kejadian yang diberitahukan oleh Reza tadi. Sungguh, Max tidak pernah tumbang sebelumnya.


Tak berapa lama pintu depan IGD terbuka dan benar saja, Max didorong dari atas brankar menuju ke dalam. Aku juga melihat Reza yang ikut berlari kecil di sampingnya hingga di depan pintu kedua. Lalu ia melihatku yang berdiri tidak jauh dari dirinya.


Dia menghampiriku. Lalu menggoncang tubuhku, entah apa yang ia katakan, aku tidak bisa mendengarkan apa pun. Kemudian aku mengarahkannya untuk duduk dan menunggu. Aku bisa melihat dengan jelas jika Reza memang sangat lah panik. Kemudian aku segera meninggalkannya ke dalam, untuk melihat kondisi Max.


Adam langsung melakukan pemeriksaan pada Max, sedang aku hanya mengamati saja. Bukannya aku tidak mau menyadarkan Max. Aku hanya tidak ingin menyentuhnya saat otakku tidak begitu bekerja seperti sekarang. Dana Adam sangat mengerti akan hal itu.


Semua proses telah Max lewati. Adam juga mengatakan jika Max hanya mengalami kelelahan saja. "Dia terlalu banyak pikiran dan ada kemungkinan dia kurang asupan makanan yang bergizi." Adam menjelaskan padaku.


Aku tidak bisa menganggapi apa-apa dari ucapan Adam tersebut. Mataku terus saja memerhatikan Max yang masih belun sadarkan diri. Dua orang perawat kini membantu untuk memasangkan selang oksigen kepada Max, agar ia bisa bernapas dengan lancar.


Lalu aku meminta salah seorang perawat untuk mengatakan kondisi Max kepada seorang lelaki yang menggunakan dasi berwarna merah di luar sana. "Katakan padanya jika pasien atas nama Max, kondisinya baik-baik saja. Hanya perlu menunggunya untuk sadar," ucapku.


Setelah sang perawat itu mengerti dengan pesan yang akan aku sampaikan, ia pun segera berlalu berpergi untuk menemui Reza di luar sana. Memyampaikan pesanku tadi.


Aku menarik sebuah kursi lalu meletakkannya di samping ranjang brankar rumah sakit ini. Menghempaskan pantatku di kursi itu dan menunggu Max sampai ia sadar.


Beberapa kali mataku hampir saja terpejam saat duduk menunggunya itu. Hingga akhirnya aku benar-benar terlelap tidur dengan posisi duduk di kursi. Sambil menunggu Max.


"Dok ... Haikal ...." Suara seorang wanita membuatku terpaksa membukakan mataku. Dan benar saja, aku berhasil tertidur. Aku menoleh ke sampingku. Ternyata wanita itu adalah Ranti.


Aku membenarkan posisi dudukku. "Eh, iya, Ran, kenapa?"

__ADS_1


Dia menatapku sambil menggelengkan kepalanya. "Kenapa tidur di sini? Gak enak di liat pasien lain yang masih sadar." Ranti mengingatkanku.


"Sorry," liriku yang kemudian aku menoleh menatap Max yang ternyata sudah mulai sadar dengan perlahan.


Aku sontak berdiri dan mendekati Max, dia menggerakkan matanya yang perlahan terbuka. Mengerjabkannya berkali-kali. Mungkin matanya merasa silau akibat lampu terang di ruangan IGD ini. Aku segera memanggil Adam sambil meraih pergelangan tangan Max, lalu memeriksa denyut nadinya.


Semua terasa normal dan sudah kembali membaik. Adam memeriksa arah pandangan kedua bola mata Max menggunakan senter kecil. Lalu Adam juga memeriksa bagian bawah perut Max, menekan seperlunya yang diiringi dengan rintihan kesakitan olehnya.


Aku tahu tanda apa itu. Kemudian Max diminta untuk tetap berbaring terlebih dahulu selama kurang lebih lima belas hingga dua puluh menit.


"Kok aku bisa sampe ada di sini? Bukannya tadi aku sama Reza?" terang Max yang bertanya padaku.


Aku mengangguk, "Iya, Reza ada di luar. Dia yang bawa kamu ke sini. Kamu pingsan selagi sama dia."


"Apa aku harus tetap ada di sini?"


"Iya, istirahat lah. Aku mau keluar nemuin Reza."


Setelah itu aku berbalik, melangkah keluar dari ruangan untuk bertemu dengan Reza. Dari kejauhan aku melihatnya yang sedang menundukkan wajahnya, seperti sedang memandangi ujung kakinya yang menginjak lantai keramik rumah sakit ini.


Pelan-pelan aku melangkahkan kakiku mendekatinya, lalu duduk di sampingnya. Aku menyandarkan punggungku pada dinding di belakang kursi. Lalu menghirup napas panjang, mengembuskannya perlahan melalui mulutku yang sengaja aku bukakan sedikit.


Aku menepuk pundak lelaki itu hingga akhirnya ia menoleh melihatku. Aku tersenyum. "Max sudah siuman. Dia cuman kelelahan."


"Syukurlah. Aku ... aku tadi—"


"Terima kasih. Untung kamu cepet bawa dia ke sini." Aku menyela ucapan Reza.


Wajar bagiku jika Reza bisa sepanik tadi. Sebab dia dengan Max memang sudah dekat. Sejak sama-sama masih bujangan hingga saat ini sama-sama telah memiliki anak. Mereka berdua juga memiliki banyak kesamaan.


Namun, yang terlihat begitu jelas adalah kesamaan mereka dalam menyayangi keluarga. Hal itu nomer satu bagi mereka berdua. Lagi pula saat keluarga kami mengalami kesulitan, Reza lah yang tetap setia berdiri di samping kami dan mengajarkan Max banyak hal.


Walaupun dulu aku pernah merasa cemburu padanya, karena Max selalu membawanya jika kami pergi jalan-jalan. Ya, begitulah kedekatan mereka berdua, mungkin karena umur mereka yang terpaut tidak terlalu jauh. Hingga hasilnya mereka sangat akrab.


Jika Tika memiliki Lisa sebagai sahabat. Maka Max memiliki Reza sebagai tempatnya berbagi selain aku.


Kemudian aku merogoh kembali saku jas putihku. Mengambil ponselku lalu menekan nomer Shilla untuk memberitahukan padanya jika Max sedang beristirahat di rumah sakit saat ini. Shilla sempat terdengar histeris tetapi itu adalah hal biasa. Dia panik.


Setelah beberapa saat, dia bisa mengontrol kembali emosinya. Lalu aku memintanya untuk memberitahukan mamah tentang kondisi Max yang aku ceritakan itu. Agar mereka segera pergi ke sini.


"Iya, aku ke sana sekarang. Terima kasih, Kal!" sahutnya di seberang telepon sana. Lalu aku langsung memutuskan sambungan telepon itu.


Bersambung ...


—————


Holla lohha ...


Ketemu lagi dan aku gak bakalan pernah bosen-bosennya buat ingetkn kalian untuk memberikan dukungan padaku.


Caranya gampang!


Kalian cukup berikan like, love, ratting dan komen yang banyak di kolom komentar.


Entah itu pendapat kalian, ide kalian, atau apa pun, tinggalkan di kolom komentar.


Laluuuuu ... jika berkenan, kalian juga bisa mendukungku melalui Vote Koin ataupun Poin.


Setelah itu kalian juga bisa bergabung ke dalam Grup Chat dalam aplikasi Noveltoon ataupun Mangatoon ini. Dengan cara menekan fitur 'Ayo Chat' yang terdapat pada beranda novel ini.


Terus ... kalian juga bisa mengikuti akunku di aplikasi ini lalu jika ingin mengetahui visual dari para karakter dalam cerita ini, kalian bisa mengikutiku dalam aplikasi Instagram dengan nama akun @bossytika, visual yang aku berikan di sana adalah versi aku yaa, jadi jika tidak sesuai, kalian bisa mencari visualnya sendiri.


Oke deh.


Sampai jumpa lagi.

__ADS_1


Babay,


#salambucin💋


__ADS_2