Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
Eps 179


__ADS_3

Jangan lupa untuk mendukung karya ini.


Caranya mudah, cukup dengan memberikan boom like serta komen pada setiap episode yang akan diterbitkan.


Hanya dengan menekan tanda like dan memberikan komen kalian pada cerita ini, sudah cukup untik membuatku senang.


Terima kasih.


@bossytika


——————————


Tika POV.


Aku menjerit sekuat tenaga dengan mamah yang mencoba menenangkan di sampingku, hingga akhirnya Hans langsung membantu menggendong Jefri di punggungnya lalu segera menuruni tangga. Dan saat itu, Igo sudah berada di anak tangga, dia langsung menghubungi seseorang melalui sebuah alat yang terselip pada kerah bajunya. Igo membantu mamah menuruni untuk tangga.


Namun entah mengapa, hati ini tergerak ingin menoleh, melihat kondisi lelaki itu. Lelaku kepara*at yang membuat hidupku berantakan. Aku melihatnya terkapar dengan darahnya yang sudah mengalir di sekitar tubuhnya. Banyak dan pekat. Matanya terbuka, memandang ke arah lain. Igo tiba-tiba menarik tanganku, membuatku tersadar lalu kembali menoleh padanya.


“Biar mereka yang beresin. Ayo.” Igo kembali menarik tanganku lalu aku menjawab dengan anggukan kepala seraya menuruni anak tangga. Mengikuti perintahnya.


Bergegas kami menyusul Hans yang membawa suamiku keluar dari rumah ini. Situasi di lantai bawah hingga keluar rumah dengan sekejap langsung aman terkendali. Beberapa dari mereka ada yang kehilangan nyawanya, ada pula yang masih merengek kesakitan. Aku tidak memedulikan mereka semua.


Di luar pagar, sudah ada Brandy yang membukakan pintu mobil untuk Hans dan Jefri. Kemudian mereka menyuruhku masuk. Sedangkan mamah dan Igo masuk ke mobil yang satunya lagi.


Aku memangku kepala Jefri selama dalam perjalanan menuju ke rumah sakit. Menatapi wajahnya di bawah temaram cahaya lampu jalanan. Dengan detak jantungku yang begitu kuat. Oksigen pun seakan enggan untuk masuk ke dalam tubuhku saat ini. Kedua tangan ini gemetar melihat kondisinya.


Darah segar terus saja mengucur dengan derasnya pada dada atasnya yang tertembak. Perlahan mulai membasahi pangkuanku. Dan semua itu semakin membuat air mataku kembali jatuh. Aku panik dengan kondisinya.

__ADS_1


Tiba-tiba Brandy berpaling, mengulurkan tangannya lalu menyentuh leher Jefri, memeriksa sesuatu di sana yang tidak aku mengerti. Kemudian dia menarik tanganku, menempelkannya pada permukaan bagian tubuh Jefri yang tertembak tadi. Dari sana, aku bisa merasakan desiran darah yang terasa bergerak. Mengalir keluar dari tubuhnya.


Brandy menatapku. “Tahan dan jangan terlalu keras menekan. Seenggaknya bisa memperlambat pendarahan itu. Detak jantungnya masih ada, walaupun lemah. Kamu harus kuat! Semua akan baik-baik saja,” ucapnya tegas padaku.


Kemudian dia kembali pada posisi duduknya di depan dan menyuruh Hans untuk mempercepat laju mobil itu.


***


Sudah satu jam berlalu, semenjak aku duduk di depan ruang operasi ini. Lagi-lagi aku hanya ingin membawa suamiku ke rumah sakit di mana Haikal berada. Saat ini kakakku yang satu itu sedang berada di dalam ruangan tersebut, untuk membantu dalam proses operasi mengeluarkan timah panas yang tersemat pada tubuhnya.


Aku mengerti betul dengan apa yang sedang suamiku rasakan dahulu, saat aku yang berada di posisisnya kini. Panik, cemas, gelisah bahkan rasa takut datang begitu saja membelenggu hati. Membuat air mata ini terus saja jatuh tak terelakkan.


Begitu pun dengan yang lainnya. Mereka hanya bisa terdiam. Larut dalam pemikiran masing-masing hingga saling menguatkan. Dan mungkin saja, mereka semua sesekali menatapku, memerhatikan keadaanku yang tidak mampu lagi untuk berdiri.


Tak berapa lama kemudian, kedua orang tua Jefri—mertuaku, datang. Mama Allena langsung memelukku. Papa Atta mengelus puncak kepalaku.


“Mama menitipkan anak kalian pada Nita dan kebetulan kedua orang tuanya juga sedang berada di rumahnya. Gak apa-apa, 'kan?” tanya mertuaku sambil memegangi kepalaku agar wajahku menatapnya dan dia benar-benar bisa melihat wajahku yang berantakan ini.


Pakaian yang aku kenakan cukup banyak darah. Bahkan celana jeans yang tadinya basah dengan darahnya, kini terlihat sudah hampir mengeringkan.


Aku kembali menatap mama Allena. "Gak apa-apa, Mah. Mereka pasti mengerti kondisi kedua orang tuanya,” jawabanku hampir stabil padanya saat ini.


Aku melepaskan dekapan kami, kemudian kembali duduk menunggu Haikal keluar dari ruang operasi dan membawa kabar baik untukku. Mamah terus mendampingiku, bahkan beliau terus mencoba menenangkanku hingga akhirnya aku benar-benar berhenti menangis dsn menjadi lebih tenang dari sebelumnya.


Bersandar pada pundak mamah membuatku jauh lebih tenang. Mamah terus saja mengelusku, seakan dia tidak merasakan trauma atau sejenisnya. Max mendekati aku dan mamah, kemudian memberikan sebuah bungkusan padaku.


“Apa ini?” Aku mendongakkan wajahku menatapnya yang berdiri di depanku. Lalu aku membukanya yang ternyata isinya sebuah pakaian.

__ADS_1


“Gantilah agar lebih bersih. Sekalian basuh diri kamu. Aku bakalan di sini, gak ke mana-mana buat jagaian Jefri.” Max kemudian duduk di sampingku, menyarankan mamah untuk pergi bersama menemaniku ke toilet.


Sudah tidak mampu lagi rasanya mulut ini untuk berkata-kata. Bahkan untuk sekedar mengucapkan rasa teeima kasih saja, lidah ini seakan kelu. Kemudian mamah menggiringku ke toilet berdua. Dengan tangannya, beliau mengusapkan kedua tanganku di bawah aliran air wastafel, membasuh segala bekas darah yang mengering pada tanganku.


“Apa memang gak sebaiknya kamu membersikan semuanya, Nak? Mamah akan di sini, nungguin kamu, ya?” saran mamah yang kemudian aku turuti.


Benar-benar tidak ada penolakan yang aku lakukan, bahkan aku terlalu menuruti saran mereka. Sesekali terlintas bayangan Jefri di beberapa waktu yang lalu. Saat dia tiba-tiba muncul di rumah Dana, berniat untuk menjemput kami.


Entah sejak kapan Dana memiliki senjata itu.


Setelah selesai membersihkan tubuhku, aku langsing keluar dari bilik toilet. Mamah terlihat tidak ada, mungkin menungguku di luar. Kemudian aku mematut diriku di dalam pantulan cermin.


Memerhatikan wajahku yang terlihat megang. Mengapa semua ini harus terjadi padaku? Apa semua masalah yang datang selama ini padaku, bisa aku katakan sebagai penghapus dosaku di masa lalu?


Bisakah aku hidup dengan tenang setelah semua ini terjadi?


“Tuhan, apa kehidupan yang aku jalani memang harus berliku seperti ini?” gumamku seraya menundukkan wajahku.


Tidak ada lagi tetesan air mata yang sanggup keluar dari kedua mataku. Air mata itu seakan kering begitu saja. Rasa takut kehilangan suamiku kini kembali menyerang. Aku sungguh tidak sanggup jika harus membesarkan kedua anakku tanpa dia di sisiku.


Tiba-tiba sentuhan di pundakku kembali mengagetkanku, yang mana ternyata itu adalah sentuhan tangan mamah. “Kamu harus kuat, mamah yakin semuanya sudah berakhir. Max sudah memastikan dia memang tidak bernyawa lagi.” Mamah memberitahukan berita itu padaku, serasa sebuah embusan angin segar.


Aku memeluk mamah begitu saja. “Sekarang kamu harus kuat untuk Nathan dan juga Naila. Apa pun yang terjadi, ya?” tambah mamah yang aku balas hanya dengan anggukan kepalaku.


Benar ucapan mamah. Aku harus kuat, aku harus bertahan walaupun terasa sesak. Alu harus siap menerima semua kemungkinan yang akan terjadi. Bukan hanya untuk diriku saja, tetapi juga untuk semuanya. Karena ini, adalah jalan yang aku lalui. Karena pada awalnya, semua ini adalah rencanaku.


'Andai saja aku tidak memintanya untuk menjemputku, mungkin semua ini tidak akan terjadi,' bisik batinku seraya mengembuskan napasku dengan kasar.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2