Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
S3 - Eps 164


__ADS_3

Happy reading ...


—————


Tika POV.


Kami kembali merapikan pakaian masing-masing yang sempat terbuka dan terlepas dari tubuh masing-masing. Setelah itu aku meraih gelas minumanku, meminum es teh yang dapat menghapus dahagaku saat ini. Dengan detak jantung yang masih berdegup tidak beraturan.


"Aku pulang ya?" izinku pada Jefri.


Namun dia malah menarikku dan menyuruhku untuk duduk di atas pangkuannya, saat ia sudah kembali duduk di kursi kerjanya. Dia masih bermanja padaku, memeluk pinggangku dan membenamkan wajahnya di antara kedua dadaku.


"No, temenin aku kerja di sini," pintanya manja. "Bentar lagi kelar kok! Habis itu kita pulang."


Aku mengecup puncak kepalanya lalu ia mendongakkan wajahnya, kukecup kilas bibir tebalnya itu. Lalu dia meraih ponselnya dan menekan layarnya dan mendekatkan benda tipis itu pada telinganya.


"Hallo, Hans? Kamu pulang aja, nanti istri saya buar pulang sama saya. Iya, makasih ya." Jefri memutuskan sambungan teleponnya lalu kembali meletakkan ponselnya di atas meja kerjanya.


"Kamu tahu nomer telepon Hans?" Aku sedikit terkejut dengannya yang ternyata memiliki nomer telepon Hans, penjaga sekaligus driver yang ditugaskan oleh Igo di rumah mamah.


"Tahu dong, sampe nomer telepon bi Mince juga aku punya." Dia tersenyum menggemaskan.


Setelah itu aku meminjam ponselnya untuk memainkan games, selama ia menyelesaikan pekerjaannya. Sebab ponselku ada di dalam tas yang tergeletak di atas sofa, sedangkan Jefri tidak mengizinkanku untuk beranjak pergi dari pangkuannya. Walaupun hanya sebentar.


Satu jam berlalu, sudah semua permainan di ponselnya aku mainkan. Tidak banyak, hanya ada lima jenis permainan saja dalam benda itu. Onet, Teka-Teki Silang, Cacing, Mobile Legend dan juga Scramble. Sungguh permaian yang mengasah otak. Aku memainkannya dari awal hingga mulai bosan dengan semua permaian itu, kemudian aku letakkan kembali ponselnya di atas meja.


Aku menghela napas, lalu ikut memerhatikan layar kaca komputernya. Sesekali aku meliriknya, bahkan diam-diam aku melihatnya yang begitu fokus menyelesaikan pekerjaannya. Dan dia bisa fokus melakukan itu, saat ada aku yang dengan santainya duduk di atas pangkuannya. Mungkin jika aku yang berada di posisinya, aku tidak akan bisa melakukan itu. Yang ada pikiranku akan selalu mengarah ke hal-hal yang tidak penting. Mes*m salah satunya! Aku terkekeh dalam hati.


Kali ini sudah dua jam lebih berlalu dan waktu sudah menunjukkan pukul tiga lewat empat puluh lima menit, setidaknya begitu yang terlihat pada jam dinding di atas pintu ruangan ini. Tiba-tiba saja Jefri menarik daguku lalu mengecup bibirku. Kemudian tersenyum begitu melepaskannya. "Done," lirihnya sambil menatapku.


"Baguslah, ayo kita pulang." Aku berusaha untuk berdiri, melepaskan bokongku pada pangkuannya. Untungnya dia membiarkanku berdiri bergitu saja, tanpa terus menyekapku untuk selalu menempel pada tubuhnya. "Tapi kita ke super market dulu ya? Belanja buat anak-anak."


"Uang aku di ATM sisa dikit. Soalnya sebagian tabungan aku masukin ke kas kantor buat gaji semua karyawan kemarin. Trus kemarin juga aku transfer lagi buat biaya renovasi kamar kita," jelasnya, aku berhenti melangkah menuju sofa kemudian berbalik. Menatapnya lagi dan kembali menghampirinya yang sudah berdiri di balik meja kerjanya.


Aku mengalungkan kedua tanganku pada pundaknya lalu merapatkan tubuhku pada tubuhnya. Menatap kedua matanya, mencari sebuah tanda kebohongan yang tidak aku temukan pada lelaki di depanku saat ini. "Semenjak kita nikah, trus buah hati kita lahir dan tumbuh berkembang sampai detik ini, semua pakai uang kamu. Uang gaji aku kerja dulu sampai gak tersentuh sedikit pun. Padahal niat aku kerja, ngumpulin uang itu buat keperluan rumah tangga kita."


"Ya, tapi 'kan tetep aja aku gak enak pakai uang kamu. Udah tugas aku 'kan buat nafkahin kamu sama anak-anak."


"Sekali-sekali gak apa-apa, Sayang. Kamu juga lagi susah, masa aku tambahin masalah kamu?" tambahku lagi.


Jefri memelukku, mengecup keningku dengan begitu lembut. Dan sayup-sayup aku mendengar ia mengatakan rasa terima kasihnya padaku atas pengertianku padanya.


Kemudian kami segera bersiap untuk turun menuju ke mobil, setelah Jefri membereskan semua berkas dan beberapa barang penting yang wajib ia bawa pulang setiap harinya.


Semua mata tertuju pada kami berdua saat Jefri memelukku di sepanjang koridor lantai menuju lift. Puluhan pasang mata dari karyawannya memandangi kami. Tak jarang beberapa karyawan terlihat tersenyum atau bahkan ada beberapa yang berani menegur kami, menyapa dengan begitu sopan.


"Biasanya kalau kamu pulang kerja, mata mereka semua pada ngeliatin kamu gitu ya?" tanyaku merasa sedikit risih saat kami berdiri di depan lift kemudian masuk saat pintu terbuka.


Entah mengapa kali ini aku merasa tidak nyaman diperhatikan seperti itu, padahal sebelum menikah dengan Jefri, pekerjaanku menuntutku untuk selalu merasa yakin dan percaya diri untuk berhadapan langsung dengan orang lain. Walaupun ratusan pasang mata yang memandangku atau mungkin memerhatikanku.


"Enggak juga, mungkin mereka liatin kamu. Istri aku 'kan pesonanya luar biasa. Cantiknya gak ada yang bisa ngalahin," godanya seraya mengecup telingaku. Aku langsung spontan mencubit pinggangnya, genit sekali!


Ting!


Pintu lift terbuka, kami sudah berada di lantai dasar gedung ini. Kemudian Jefri menggenggam erat tanganku dan membawaku melangkah keluar dari lift itu menuju meja resepsionis. Di sana ia memberikan beberapa dokumen yang harus diberikan pada beberapa divisi lain untuk kembali ditinjau ulang. Setelah itu tiba-tiba saja suara seorang lelaki memanggilnya terdengar begitu nyaring di belakang kami.


"Jef ... Jefri!" sorak seorang lelaki yang membuat aku dan Jefri serempak menoleh ke belakang kami.


Ternyata Brandy. Suara dia lah yang sejak tadi memanggil-manggil nama Jefri. "Hai, Tik. Apa kabar?" sapanya padaku setelah lumayan dekat.


"Baik, kok elu ada di sini?"


"Ada perlu ini sama laki lu." Dia menunjuk Jefri dengan mengerucutkan bibirnya.


"Perlu apa sama gua?"

__ADS_1


"Tawaran lu yang kemarin itu."


Jefri mengangguk kemudian meminta waktu sebentar untuk menyelesaikan urusannya pada pegawai resepsionisnya. Kemudian, Jefri mengajak Brandy untuk mengikuti kami pergi ke super market yang akan kami tuju. Untuk membicarakan semuanya di sana. Brandy menyetujuinya.


Akhirnya kami segera menuju ke sebuah super market yang aku maksudkan dengan menggunakan mobil masing-masing. Sepanjang perjalanan menuju super market, Jefri hanya diam. Tidak mengatakan apa pun tentang apa yang akan dibicarakannya dengan Brandy, membuat aku penasaran.


"Sayang, Brandy mau ngomongin apaan sih? Kamu nawarin dia apa?" Aku mulai kepo.


Jefri menoleh padaku sekilas lalu kembali fokus pada jalanan yang ada di depannya. "Oh itu, aku nawarin dia jadi sekretaris di kantor. Soalnya aku makin kewalahan sendiri. Nyusun jadwal meeting, periksa laporan. Belum lagi kalo aku yang mesti presentasi ke perusahaan lain, biar dapet tender. Bikin bahan presentasi sendiri."


Aku mengangguk-anggukan kepalaku tanda mengerti akan penjelasannya. Akhir-akhir ini, aku memang lebih sering melihatnya yang semakin sibuk. Bahkan hampir setiap malam dia begadang, menatap layar laptopnya di atas tempat tidur.


Bahkan pernah satu waktu aku mendapatinya sedang memeriksa keadaan anaknya dan menggantikan popok mereka di tengah malam. Membiarkanku beristirahat dengan nyenyak. Dia sungguh melakukan semua itu tanpa mengeluh.


Lagipula, begitu saat ini aku mendengarnya menawarkan posisi sekretaris pada Brandy membuat hatiku sedikit lega. Itu artinya, dia menjaga perasaannya hanya untukku. Benar bukan?


Tiba-tiba Jefri meraih tanganku mencengkeram erat jemariku lalu menariknya untuk menyentuh bibirnya. Dia mengecup punggung tanganku. Aku menatapnya sejak awal dia menyentuh tanganku hingga saat ini, sedangkan dia hanya sesekali menoleh padaku. "Aku gak mau kamu cemburu kalau aku punya sekretaris wanita. Jadi lebih baik Brandy yang jadi sekretaris aku."


Seketika kedua sudut bibirku tertarik begitu mendengarnya mengucapkan kalimat itu. Bahagia? Pastinya! Wanita mana yang tidak bahagia saat lelakinya mengucapkan kalimat itu? Dan untungnya selama ini Jefri selalu memegang semua ucapannya. Semoga saja seterusnya ia seperti ini. Menjaga hatinya, menjaga perasaanku dan menjaga pernikahan kami.


Setelah melewati perjalanan selama kurang lebih sepuluh menit, akhirnya kami sampai di sebuah wilayah super market yang lumayan besar. Jefri membawaku berjalan bersamanya dengan menggenggam tanganku. Mendekati Brandy yang memarkirkan mobilnya lebih dekat dengan pintu masuk pusat perbelanjaan itu.


"Ayo, ikut ke dalam. Di sana kita bisa bicara," ajak Jefri pada Brandy yang kemudian berjalan mengekor di belakang aku dan Jefri.


Sesampainya di dalam Jefri memintaku untuk berbelanja sendiri di dalam super market, sementara dia dan Brandy akan duduk mengobrol di bagian café yang juga ada di tempat ini. Aku menyetujuinya.


"Hati-hati ya? Kalau ada apa-apa, telepon aja." Jefri mengecup pelipisku lalu aku beranjak berjalan meninggalkan mereka berdua untuk membahas urusan mereka. Aku tidak ingin ikut campur.


Aku langsung mengambil kereta dorong lalu mulai memasuki super market itu. Berjalan perlahan melalui lorong demi lorong yang terdapat rak-rak besi tinggi. Yang isinya berbagai macam makanan serta minuman, bahkan bahan yang bersifat sabun dan lainnya pun ada di sini. Semua lengkap.


Langkahku langsung menuntunku, mengarah menuju ke bagian balita. Aku mengambil beberapa barang keperluan untuk Nathan dan juga Naila. Seperti popok, bedak, peralatan mandi dan masih banyak lagi yang lainnya. Aku juga mengambil beberapa keperluan untukku dan juga Jefri. Sampai akhirnya aku merasa telah melupakan sesuatu.


Segera aku mengambil ponsel dalam tasku lalu menghubungi Jefri sambil berdiri melihat-lihat sebuah rak yang isinya memuat semua keperluan lelaki.


Namun tiba-tiba saja saat aku kembali memasukkan ponselku ke dalam tas ...


Brak!!


Kereta dorongku ditabrak oleh kereta dorong lainnya yang sontak membuatku menoleh dan melihat siapa orang yang sudah menabraknya. Seorang wanita yang langsung menyibakan rambutnya lalu mengatakan permohonan maafnya kepadaku.


"Maaf, maaf!" serunya cepat.


Namun saat mata kami saling menatap, seketika kami berdua saling mematung. Terdiam seribu bahasa. Sedangkan aku terkejut melihatnya karena wanita itu adalah Paula.


Wajahnya terlihat pucat dan salah satu pipinya terlihat lebam. Begitu pula dengan salah satu sudut bibirnya yang terlihat sedikit robek. Aku melihat matanya yang bergerak memandangi isi dari kereta dorongku. Ia melihat barang belanjaanku.


"Sayang ...," sapa Jefri yang tiba-tiba muncul di sampingku.


Aku menoleh padanya yang seketika juga menoleh pada Paula. Dapat kulihat ekspresinya yang sedang menatap dingin pada mantan pacarnya itu. Bahkan beberapa detik kemudian keningnya memunculkan beberapa lipatan sebagai tanda ketidaksenangannya dengan apa yang telah ia lihat.


"Ayo, aku sudah ambil beberapa." Jefri langsung menarik tanganku serta mengambil alih kereta dorong yang memuat semua belanjaanku. Memasukkan barang yang ada di tangannya ke dalam troli. Sambil melangkah pergi, Jefri juga sempat mengambil beberapa barang lagi. Aku sempat menoleh ke belakang, melihat Paula yang masih berdiri kaku di tempatnya tadi.


Kini aku dan Jefri sedang berdiri mengantri menuju kasir. Aku menatapnya yang terkesan cuek saat ini. Kutangkupkan salah satu telapak tanganku pada pipinya lalu kugerakan agar matanya menatapku. "Kamu gak penasaran wajah Paula bisa lebam gitu?" tanyaku penuh hati-hati.


Tampaknya Jefri tidak menyukai aku membahas tentang mantan pacarnya itu hingga akhirnya ia menarik pipinya dari telapak tanganku. Membuang pandangannya ke arah lain. Lalu mendengus kesal, aku dapat mendengarnya.


"Itu bukan urusan kita," tegasnya lagi.


Sepertinya mood-nya langsung berubah saat itu. Aku dapat memaklumi sikapnya. Mungkin ia masih merasa kesal dengan wanita itu. Entahlah, aku memang tidak pernah lagi membahas waniya itu. Karna aku juga memang tidak mau.


Begitu semua barang belanjaan kami telah diperiksa dan dibayar, aku dan Jefri kembali menemui Brandy lalu bersama-sama dengannya melangkah keluar dari tempat pusat perbelanjaan itu, sambil Jefri yang mendorong kereta belanjaan kami menuju ke parkiran mobil.


Brandy lebih dulu sampai ke mobilnya dan berpamitan pada kami. Lalu aku dan Jefri melanjutkan langkah menuju ke mobil kami. Membuka bagasi dan memasukkan belanjaan itu satu per satu ke dalam mobil. Baru setengah barang belanjaan itu berhasil kami pindahkan, tiba-tiba Brandy kembali muncul di belakang kami.


"Jeff, itu 'kan pak Hardi?" Tepuk Brandy pada pundak Jefri sambil mengarahkan pandangan matanya ke sebuah mobil yang tak jauh dari posisi kami saat ini.

__ADS_1


Aku dan Jefri menoleh, mengikuti arah pandangan Brandy. Betapa terkejutnya aku saat melihat pak Hardi yang juga sedang memasukkan barang belanjaannya ke dalam mobil. Namun bukan terkejut karena aktifitas beliau itu, melainkan saat mataku menangkap sesosok wanita yang dengan jelas itu adalah Paula! Dengan susah payah aku menelan salivaku, lalu refleks menoleh ke arah Jefri.


"Dan itu Paula, 'kan?" lanjut Brandy, mempertegas semua yang sudah aku lihat.


Sinar amarah terlihat jelas pada kedua mata Jefri. Pandangan matanya terus saja mengamati aktifitas itu. Membuat aku seketika takut untuk menegurnya apalagi untuk sekedar menyentuh tangannya. Tubuhnya terlihat menegang, mematung tanpa kulihat adanya gerakan naik dan turun pada dadanya untuk bernapas.


Tiba-tiba Jefri melangkahkan kakinya, berjalan ke samping mobil dan ternyata mengarah kepada mereka. Aku dan Brandy seperti terlambat untuk menyadari gerakannya itu hingga akhirnya langkah kakinya berhenti tepat di dekat pak Hardi dan juga Paula.


"Pak Hardi?" tegurnya dengan tegas.


Aku dan Brandy sudah tidak bisa lagi untuk menariknya atau bahkan menahan langkahnya untuk tidak menemui kedua orang itu. Dan yang sialnya lagi, saat ini aku tidak tahu jalan pikirannya, mengapa dia tiba-tiba melangkah menuju ke sini? Siapa yang ingin di datanginya? Pak Hardi atau Paula?


"Loh, Papa udah kenal Jefri?" tanya Paula pada pak Hardi yang sontak membuat mulutku menganga lebar, lalu kututupi dengan tangan kananku. Sedang tangan kiriku kini menyelip menggenggam lengan Jefri.


Aku benar-benar terkejut mendengar Paula memanggil lelaki itu dengan sebutan papa. Lelaki yang selama dua tahun ini mencurangi papa mertuaku; papa Jefri. Beberapa detik kemudian tiba-tiba Jefri menarik sebuah amplop yang terlihat sebagian dari saku belakang celana pak Hardi.


"Ini apa?" tanyanya masih dengan nada suaranya yang tenang.


Aku turunkan genggaman tanganku, lalu kucengkeram erat jemarinya. Aku takut Jefri akan meledak saat ini, di tempat ini. Sedangkan pak Hardi sekejap menjadi gagu. Mulutnya terbuka, seperti akan berbicara, tetapi tidak mengeluarkan suara.


Sekali kali, Jefri dengan tegas menanyakan tentang amplop coklat yang lumayan tebal itu dengan logo perusahaannya di sana. "Ini uang apa?" Dia menepuk amplop itu pada dada bidang lelaki tua di hadapannya itu.


Beberapa detik hening. Pak Hardi menundukkan kepalanya. Sedangkan Paula tiba-tiba melangkah maju, berdiri di samping papanya lalu berucap, "Ini uang gaji papa, apa urusannya kamu nanyain hal pribadi papa?" bentak Paula.


Mungkin dia tidak terima melihat Jefri yang dengan sesuka hatinya menarik amplop milik papanya itu. Ditambah lagi perlakuan Jefri sekarang yang terlihat seperti menindas pak Hardi.


"Kamu gak usah ikut campur. Ini urusan aku sama dia," hardik Jefri.


Tiba-tiba Paula merebut amplop coklat itu lalu berseru, "Ini jadi urusan aku karena dia papa aku! Kamu yang mestinya gak usah ikut campur urusan papa!"


Aku kembali menarik tangan Jefri, begitu pula dengan Brandy yang berusaha membujuk Jefri untuk tidak memedulikan sikap Paula. Sebab aku dan Brandy sangat yakin, jika saat ini Jefri sedang menahan amarahnya dan bisa jadi karena prilaku Paula, rasa amarah itu akan meledak begitu saja.


"Udah, Jeff, ayo pulang," lirih Brandy yang diikuti dengan tarikan tanganku padanya.


Jefri terlihat menarik napasnya lalu perlahan mengembuskannya. "Saya tunggu surat resign Anda besok pagi di atas meja kerja saya." Penuh penekanan Jefri mengatakan kata demi kata hingga satu kalimat itu berhasil ia lontarkan dengan pandangan matanya yang geram.


Sedangkan pak Hardi terlihat begitu terkejut lalu mengangkat kepalanya, menatap kedua mata Jefri. Lalu sepersekian detik kemudian, Jefri membalikkan langkahnya dan menarik tanganku untuk mengikuti langkahnya. Menjauh dari kedua orang itu. Begitu pula dengan Brandy.


Jefri langsung membukakan pintu mobilnya untukku dan menyuruhku masuk, tetapi aku menolak. Aku malah menyuruhnya untuk masuk. "Kamu yang masuk. Biar aku nyetir." Aku langsung merebut kunci mobil yang entah sejak kapan sudah ada di tangannya.


Lalu dengan sigap, Brandy membantuku memasukkan sisa belanjaanku yang masih ada di dalam kereta dorong dan dia menutupkan bagasi mobil itu.


"Udah sana, biar ini gua yang balikin."


"Makasih ya," ucapku yang segera masuk ke dalam mobil.


Aku langsung menyalakan mesin mobil, memasang safety belt-ku lalu memundurkannya setelah melihat Brandy yang menjauhkan kereta dorong itu dari belakang mobil. Lalu menekan klakson sebagai tanda pamit pada Brandy.


Dari kejauhan, aku melihat pak Hardi yang mendadak menampar pipi Paula hingga dia tersungkur. Aku sempat terkejut melihat itu, ingin menghentikan laju mobil, tetapi suara tegas Jefri malah membuatku lebih takut lagi.


"Jalan!" tegasnya.


Aku mengembuskan napasku melalui mulut. Tidak percaya dengan apa yang sudah aku lihat barusan. Lalu diam-diam aku menoleh ke sampingku, melihat Jefri yang saat ini menyandarkan tubuhnya, memejamkan kedua matanya dengan siku kirinya yang sengaja ia sematkan pada kaca jendela. Sambil jari jemarinya yang mengurut pelan pelipis matanya. Ia terlihat kacau, sangat kacau.


Di sepanjang perjalanan, Jefri hanya diam dan masih melakukan hal yang sama sejak tadi. Bahkan sekarang duduknya semakin melorot, terlihat tidak bersemangat.


Jelas saja tidak bersemangat. Bagaimana tidak? Menemukan bukti awal tentang amplop itu. Amplop yang sengaja dia rencanakan dengan karyawan bagian keuangannya. Lalu ditambah lagi dengan drama tadi. Drama bahwa ternyata pak Hardi adalah ayah dari mantan pacarnya yang sudah lama menipunya.


Bukankah double sakit hatinya?


Pak Hardi menipu papanya dan anaknya pak Hardi; Paula, pernah juga menipunya dulu. Sempurna bukan?


Aku hanya bisa terdiam melihatnya yang seperti ini. Tidak ada kata-kata yang bisa aku ucapkan untuk menenangkannya selain keheningan yang dapat aku berikan. Membiarkannya menenangkan pikiran dan batinnya sendiri.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2