Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
Eps 208


__ADS_3

Selamat membaca ...


——————————


Still Haikal POV.


Braaakk!!


Suara pintu yang aku dorong keluar begitu saja. Untungnya pintu ini sudah didesain khusus agar tidak berbunyi nyaring saat tertutup secara sendirinya. Agar tidak mengganggu suasana dalam rumah sakit, walaupun dinding gedung ini telah dilapisi dengan bahan kedap suara.


Aku langsung menghirup udara segar sambil mengedarkan pandanganku ke sekeliling gedung bagian belakang ini. Di bawah sana terdapat sebuah taman yang memang disediakan untuk para pasien. Agar dapat menghirup udara luar kamar mereka sambil menikmati suasana tenang.


Saat ini aku berdiri di lantai tiga. Yang mana adalah bagian pertengahan dari gedung rumah sakit ini. Aku mencengkeram erat pagar besi yang menjadi pelindung bagunan ini. Menatap beberapa pasien yang masih berada di taman untuk berjemur. Ada yang didorong oleh seorang perawat dan ada pula yang sedang bersama dengan anggota keluarganya. Semua terlihat segar dan gembira.


Lalu kedua bola mataku mendapati sepasang kekasih yang sedang duduk menikmati udara di sana. Sang wanitanya merupakan pasienku minggu lalu, aku masih ingat betul wanita itu bernama Juwitha, seorang karyawan di salah satu perusahaan swasta. Dia datang ke sini dengan keluhan yang biasa saja, sistem pencernaan dan sepertinya sekarang sudah membaik apalagi saat ini terlihat sang kekasih menyuapinya makanan. Aku lega melihat itu.


Hiks! Huhuhu ....


Suara tangis yang tiba-tiba terdengar sayup-sayup. Pelan tetapi juga termasuk jelas di telingaku. Dengan cepat aku menoleh ke arah bawah tetapi tidak aku temukan siapa pun. Bahkan seorang pasien anak-anak yang sedang bersama dengan orang tuanya pun terlihat tidak sedamg menangis. Ya, Putri nama anak-anak itu, dia malah terlihat sedang asik mengunyah makanannya dengan tangan yang tertancap jarum dari selang infus. Jadi tidak mungkin 'kan jika dia makan sambil menangis?


Aku masih menoleh ke sana kemari untuk mencari sumber suara tangisan itu. Hingga seorang dokter turun dari tangga lantai atas menuju ke arahku.


“Permisi, Dok,” sapanya yang aku balas dengan sekali anggukan kepala. Dia adalah dokter Kiki, yang ahli dalam mengatasi penyakit dalam. Rasanya juga tidak mungkin jika dia yang menghasilkan suara isak tangis itu.


Kemudian aku menengok ke arah tangga atas menuju lantai empat, sepertinya sepi. Namun, begitu aku menengok ke lantai bawah menuju lantai dua, di sana aku mendapati sesosok orang yang aku kenal. Yang masih mengenakan seragamnya tetapi bagian atasnya ia tutupi dengan selembar jaket rajut.


Aku mengembuskan napasku lalu perlahan menuruni anak tangga itu, berjalan mendekatinya. Dia yang menangis itu adalah Jovanka. Duduk di lantai dengan menyelipkan wajahnya di antara kedua lututnya yang ditekuk. Sambil memeluk erat kakinya.


Hanya saja aku tidak tega melihat seorang wanita menangis. Bukan karena dia adalah Jovanka, tapi lebih karena dia adalah karyawanku saat ini. Meskipun statusnya hanya seorang anak magang baru di rumah sakit ini.


Sedari tadi di dalam jasku memang tersimpan sebotol kopi yang bekas aku minum di ruanganku tadi. Aku mengeluarkan botol minuman dingin itu, sambil mendekatinya lalu menempelkan badan botol tersebut ke pipinya. Dia terpekik kaget lalu menoleh, mengangkat wajahnya menatap aku yang berdiri di sampingnya.


“Suara nangisnya terlalu nyaring. Mengganggu kedamaian para pasien di taman sana.” Aku berucap tanpa menatapnya.


“Ini buat aku?” lirihnya pelan membuat aku terpaksa menoleh menatapnya.


“Enggak, ini bekas.” Saat aku hendak menarik botol itu dengan secepat kilat Jovanka menarik dan merebut botol itu. Lalu membuka tutupnya dan meneguk isinya beberapa kali.

__ADS_1


Terkejut melihat reaksinya itu, lalu aku memutuskan untuk menyandarkan punggung pada dinding di sampingnya dan berkata, “Belum pernah 'kan ngalamin kejadian kayak tadi?” Aku menoleh sekilas ke arahnya yang masih duduk di lantai sambil memandang jauh ke arah taman di bawah, dia mengangguk lalu kembali memutar penutup botol kopi tadi dan menyapu mulutnya dengan punggung tangannya sendiri. Sekaligus menghapus air mata di pipinya.


Kini dia sudah berhenti menangis. Yang tertinggal hanya sisa isakan yang sesekali masih terdengar. Lalu aku kembali melanjutkan ucapanku. “Itulah pengalaman yang sesungguhnya. Bukan dengan menguasai secara teori saja, tetapi sebuah pengalaman dan jam terbanglah yang akan membentuk kecerdasaan seseorang untuk bersikap. Dalam teori, mungkin semua ilmunya sama, tetapi di lapangan, cara eksekusinya yang lebih dipentingkan.”


“Aku sudah menjelaskan tadi kepadanya kalau setiap tindakan memiliki prosedur yang harus dilaku—”


“Memang prosedur harus dilaksanakan, aku yang meminta prosedur itu wajib dilaksanakan karena aku yang membuat peraturan itu. Tapi bukan berarti harus terpaku ke sana. Kamu harus berimprovisasi karena otak manusia itu berkembang.” Kemudian setelah mengatakan itu aku memutuskan untuk melangkah pergi meninggalkannya.


Namun, begitu tepat tanganku hendak menarik kenop pintu tiba-tiba saja wanita itu berkata, “Terima kasih karena sudah menolongku. Aku tidak menyangka jika akan diperhatikan seperti ini,” ucapnya dengan lantang dan percaya diri.


Aku terkekeh dan mencengkeram erat kenop pintu di depanku dan tanpa menoleh kepadanya aku menjawab, “Aku akan menolong semua permasalahan yang terjadi di bawah kekuasaanku. Dan aku akan lakukan itu untuk seluruh karyawan yang bekerja padaku. Karena aku harus menjaga nama baik rumah sakit ini ... bukan karena urusan personal. Jadi tolong jangan salah mengartikan.” Baru aku menoleh kepadanya yang masih memeluk erat kedua lututnya itu dan memandangiku. “Ingat lagi, aku ini pimpinan di sini. Jadi kontrol diri kamu untuk bersikap. Jangan pernah melebihi batas lagi, ini yang terakhir.”


Setelah itu aku langsung membuka pintu dan masuk ke dalam, tanpa menghiraukannya dan tanpa memedulikan kondisinya lagi. Rasanya ada sedikit penyesalan dalam diriku. Tidak habis pikir ternyata wanita itu malah berpikiran yang berlebihan hingga membuatku menyesal sudah menghampirinya. “Tahu begitu aku tidak akan menolongnya tadi. Sial!” gumamku merutuki keputusanku dan melangkah dengan cepat untuk menjauh dari sana.


Siang hari menjelang, pekerjaanku hampir selesai. Hanya tersisa beberapa file dalam komputer yang harus aku kirimkan kepada pemilik rumah sakit ini. Sekaligus mengirimkan data diri milik dokter Ranti untuk segera di proses.


Tok tok tok ...


Aku tersentak mendengar suara pintu ruanganku yang diketuk, kemudian terbuka dan sosok Clara hadir di balik pintu itu. Seketika senyuman di wajahku merekah bak kelopak bunya mawar yang terbuka.


“Kok gak bilang kalo udah pergi menuju ke sini?” sambutku begitu dia menutupkan kembali pintu itu lalu melangkah menghampiri meja kerjaku.


“Oh, tadi aku diluar. Hape-nya dalam laci,” ucapku dengan tangan yang menarik laci meja dan mengambil ponsel itu. “Oh iya, ada chatnya. Sorry ya enggak bales?”


Clara menganggukkan kepala. “No problem.”


“Bentar ya, aku kelarin kirim email aja. Habis itu kita langsung pergi. Soalnya mamah juga pasti udah nungguin kita di rumah.” Mataku melirik jam tanganku lalu bergegas menyelesaikan semua tugasku hari ini.


Setelah semuanya selesai dan aku sudah membereskan beberapa dokumen yang memenuhi meja, aku segera pergi keluar ruangan bersama dengan Clara. Menggenggam tangannya hingga sampai ke parkiran mobil lalu segera menuju ke rumah mamah.


**


Sesampainya di rumah mamah, betapa terkejutnya kami berdua karena mendapati seluruh anggota berkumpul. Ada Max dengan Shilla dan juga kedua putrinya. Lalu ada juga Tika dan Jefri bersama si kembar.


“Kenapa rame-rame begini, Mah?” tanyaku saat melihat mamah yang sibuk di dapur. Sedangkan Clara langsung mengerdikkan bahunya lalu membantu Shilla untuk menyiapkan meja makan dan merapikan hidangan makan siang kami.


“Gak apa-apa, mamah cuman mau kita ngumpul, makan siang bareng sama calon menantu mamah. Apa gak boleh?”

__ADS_1


“Bo—boleh, Mah. Cuman aku bingung aja. Mendadak tadi pagi mamah bilang gitu, ya aku 'kan bingung aja.”


“Udah gak usah kebanyakkan bingung. Nih, taruh di meja makan, kita makan sekarang.” Mamah menyuruhku untuk membawa wadah nasi dan meletakkannya di atas meja makan.


Dan seperti biasanya, kami semua melewati makan siang kali ini dengan begitu berbeda. Sebab saat ini ada Clara yang mendampingiku, tidak seperti dulu, di mana aku selalu duduk sendiri dan terkadang malah dengan sengaja aku selalu menghindari acara seperti ini. Tapi tidak lagi untuk hari esok dan seterusnya.


Selesai makan siang, tiba-tiba mamah mengeluarkan sebuah kotak pipih persegi panjang lalu menyodorkan kotak itu kepada Clara yang duduk di dekatnya. “Ini untuk kamu, simpan ini karena ini salah satu barang berharga bagi mamah. Dan mamah akan sangat senang kalau kamu mau menerimanya.”


Wajah Clara berubah, dia terperangah melihat kotak itu yang aku sendiri saja tidak tahu apa isinya. “Tapi Mah ...,”


“Jangan ada tapi-tapian dan jangan merasa tidak nyaman. Karena ini sudah mamah khususkan untuk kamu yang sebentar lagi menikahi anak lelaki mamah. Semoga saja dia tidak menyakiti hati kamu untuk ke depannya,” ucap mamah sambil menepuk-nepuk tangan Clara.


Sedangkan Clara terlihat bingung dan mungkin merasa tidak nyaman. Sebab beberapa kali aku melihatnya yang melirik kepada Tika dan juga Shilla. Hingga akhirnya Tika berkata, “Gak apa-apa, itu dari Mamah memang khusus buat kamu. Jangan merasa tidak enak karena ada aku ataupun Shilla. Kami juga sudah mendapatkan hadiah yang sesuai saat kami akan menikah dulu. Jadi sekarang giliran kamu.” Tika tersenyum menatap Clara.


“Jadi mamah mengumpulkan kalian siang ini bukan hanya ingin sekedar untuk makan siang bersama aja. Tetapi ada maksudnya dan tujuannya. Mamah harap, dengan segala ujian hidup yang sudah kita lalui bersama selama ini, akan membuat kita menjadi keluarga yang semakin kuat semakin solid. Jangan sampai ada suatu hal di masa depan yang akan bisa memecahkan kita. Mamah sudah cukup senang siang ini melihat kalian semua rukun. Sulit untuk menyatukan dua buah kepala dengan dua buah keluarga. Tapi saat ini kalian membuat mamah bangga,” tutur mamah sambil meneteskan air matanya.


“Mamah bangga anak-anak mamah bisa menyatukan tiga keluarga baru kepada mamah. Semoga ke depannya kalian selalu solid seperti ini, karena mamah gak tahu sampai kapan mamah bisa melihat kalian bahagia menjalani rumah tangga kalian masing-masing.” Mamah menghapus air matanya hingga membuat Tika berdiri dari kursinya dan segera memeluk mamah. Sedangkan aku dan Max hanya saling berpandangan melihat semua yang terjadi siang ini.


Dan aku rasa, baru kali ini mamah mengatakan kalimat itu. Sebelumnya mamah tidak pernah mengatakan hal-hal yang terlalu bersifat emosional. Bahkan kepergian papah saja membuat mamah harus bersikap kuat untuk mencontohkannya pada kami.


Kemudian tiba-tiba saja terlintas dalam benakku, apa tidak sebaiknya jika aku juga melakukan hal yang sama seperti Max dan juga Tika setelah menikah nanti? Yaitu untuk tinggal secara mandiri, toh aku juga sudah memiliki rumah sendiri. Ya sepertinya itu adalah keputusan terbaik agar tidak ada rasa iri ataupun rasa saling menyalahkan.


Ya, sepertinya aku memang harus kembali membicarakan masalah ini dengan Clara.


Bersambung ...


——————————


Jangan lupa untuk mendukung karya ini.


Caranya, cukup dengan memberikan like serta komen pada setiap episode ini ya.


Jangan lupa juga buat vote loh ya 😒


#salambucin


Babay ...

__ADS_1


@bossytika 💋


__ADS_2