Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
S2 - Eps 65


__ADS_3

Still Tika POV.


Keesokan harinya ...


Pagi-pagi sekali aku sudah bangun dari tidurku. Tidak seperti biasanya, pagi ini aku langsung bersiap untuk memasak, memberikan sarapan untuk suamiku, namun juga ada Lisa pagi ini yang harus aku layani.


Saat aku hampir selesai memasak, Jefri baru bangun dari tidurnya. Itu di tandai dengan seruannya yang memanggilku. 'Untung memasaknya sudah selesai,' pikirku.


Kemudian kutinggalkan sejenak wilayah dapur, kembali menaiki tangga menuju ke kamar. Jefri masih berada di atas ranjang, lengkap dengan selimutnya dan mata yang kembali terpejam. Aku hanya terkekeh melihat tingkahnya pagi ini.


Aku beranjak menuju sudut kamar, membuka lemari pakaian kemudian menyiapkan pakaian kerja untuk Jefri.


"Sayang, aku barusan nelpon Alex ...," lirih Jefri saat aku meletakkan pakaiannya di atas ranjang.


"Kamu suruh dia ke sini?" jawabku spontan.


"Enggak, aku cuman ngabarin dia aja kalo Lisa udah ada, biar dia gak terlalu khawatir lagi."


Aku duduk di sudut ranjang. "Mereka butuh waktu buat berpikir," lirihku menatap Jefri yang kini duduk dan mendekatiku.


Ia merangkulku, membawa ku ke dalam dekapannya. Mengecup pucuk kepalaku. Lalu menasihatiku agar aku tidak terlalu keras pada Lisa. Menyuruhku untuk membiarkan Lisa tenang beberapa hari ini. Jefri juga mengatakan hal yang serupa pada Alex. Menyuruh Alex untuk memikirkan segala, karena menurutnya, setelah menikah, harus ada salah satu pihak yang bisa meredam emosi atau bahkan berpikir jernih.


Setelah aku dan Jefri siap dengan pakaian kerja, kami segera turun menuju dapur. Ku sediakan sarapan untuk kami, lalu aku segera beranjak menuju kamar yang di tempati Lisa. Ia masih tertidur dengan lelap.


Perlahan aku membangunkannya. Ku lihat pipinya masih agak memar akibat ulahku. Aku juga merasa bersalah padanya karena menamparnya sekeras itu.


Lisa bangun dan menggeliat. Aku seakan melihat Lisa kecil yang dahulu sering tidur seranjang denganku. Aku tersenyum kilas, lalu menyuruh Lisa untuk segera sarapan.


Pagi ini dengan suasana baru kami sarapan bersama. Jefri melontarkan jokes-nya hanya untuk sekedar membuat aku dan Lisa tertawa bersama dan itu sukses. Aku yang melihat Lisa tertawa pun menjadi sangat bahagia, seakan melihat Lisa yang dahulu aku kenal.


"Lu di sini aja ya? Ngapain pulang sih, lagian juga kalo lu pulang di sana juga sendiri, 'kan?" ucap Tika.


"Trus kalo kalian ngantor, gua di sini sama siapa? Sendiri juga, 'kan?" Lisa cemberut, mengerucutkan bibir layaknya anak kecil yang lagi ngambek.


Aku dan Jefri tertawa melihatnya. Lalu Jefri mengusulkan untuk makan siang bersama di rumah nanti. Aku menyetujuinya tapi tidak dengan Lisa. Dia bersikukuh ingin pulang saja karena pagi ini dia sudah merasa lebih baik.


Dengan terpaksa aku menyetujuinya. Selesai sarapan Lisa segera mandi dan aku meminjamkan satu setel pakaian untuk dikenakannya.


Lalu kami pun keluar rumah bersama-sama...


----------


Clara POV.


Tookk..


Tookk..


Tookk..


"Iya masuk," sahut Clara dari dalam ruangannya. Ia sedang mengerjakan laporan akhir bulannya. Clara mengangkat kepalanya, melihat siapa yang telah mengetuk pintunya. "Oh, silahkan masuk."


Aku berdiri, kemudian mempersilakan lelaki itu untuk duduk. Aku memperkenalkan diriku padanya. Lelaki ini ternyata seorang pengusaha besar di kota ini. Dia memang customer kantorku. Sudaha lama, bahkan sebelum aku bekerja di kantor ini.


Sebelumnya kami memang sering berkomunikasi, tapi hanya melalui sambungan telepon kantor. Dan hari ini, maksud kedatangannya ke sini untuk membicarakan beberapa dokumen perpanjangan polis asuransi untuk seluruh karyawan yang ada di perusahaannya.


Setelah dua jam berlalu kami membahas beberapa hal penting dan mendiskusikannya, tentang kelanjutan polis untuk karyawannya. Tiba-tiba sebuah pertanyaan keluar dari mulut lelaki itu. Pertanyaan yang sifatnya pribadi, bukan berhubungan dengan dunia asurasi ataupun dengan kesepakatan kerja perusahaannya dengan kantorku.


"Maaf, apa Anda sudah memiliki pasangan?" tanya lelaki itu padaku.

__ADS_1


Aku sempat terdiam beberapa detik, mencerna pertanyaan sederhana dari lelaki itu lalu menjawab, "Maaf, apa pertanyaan itu ada hubungannya dengan kerjasama ini?"


Lelaki itu terkekeh pelan sambil menundukkan wajahnya. Kemudian meraih segelas kopi yang telah disediakan untuknya lalu menyeruputnya.


"Maaf mungkin ini hanya pemikiran saya saja. Tolong lupakan pertanyaan yang saya ajukan tadi pada Anda. Anggap saya tidak pernah bertanya apapun." Lelaki itu pun berdiri, seraya ingin berpamitan.


Sekilas ku lirik nama pemilik dokumen yang ada di atas mejaku. Tertulis 'Mr. Maxweliam Giles', lalu aku ikut beranjak dari kursiku dan mengantarkan lelaki itu hingga di ambang pintuku.


"Sekali lagi terimakasih atas perpanjangan kerjasamanya, semoga bisa terus terjalin," ucapku seraya berjabatan tangan padanya. Ia hanya tersenyum kemudian berlalu. Aku kembali ke dalam ruanganku.


"Seperti ada yang aneh," batinku.


Aku kembali membuka dokumen-dokumen tadi. Nama lelaki itu seakan tak asing menurutku.


Monday


Took her for a drink on Tuesday


We were making love by Wednesday


And on Thursday and Friday and Saturday


We chilled on Sunday


I met this girl on Monday


Took her for a drink on Tuesday


We were making love by Wednesday


And on Thursday and Friday and Saturday


We chilled on Sunday


Ponselku berdering tiba-tiba.


Lagi-lagi telepon dari bunda.


Kuangkat sambungan telepon itu, kemudian suara bunda menyahut terdengar diseberang sana. Bunda mengajakku untuk makan siang bersama, karena Ayah sedang ada urusan. Kupenuhi permintaan bunda ini. Lalu aku bersiap, kemudian keluar dari ruanganku dan mengatakan kepada Rendi jika aku akan istirahat makan siang bersama dengan keluargaku.


Aku menuju ke parkiran sepeda motorku. Membuka jok motor dan mengambil beberapa kelengkapan sebelum aku mulai berkendara.


Kugunakan jaketku, masker mulut, sarung tangan serta penutup kepala alias helmku. Kemudian menyalakan mesin motor lalu segera meluncur ke kantor bunda.


Sebelumnya aku juga sering pergi untuk sekedar makan siang dengan bunda atau bertiga bersama ayah. Dan biasanya aku tinggal meluncur menuju tempat dimana kami akan makan. Sedangkan kali ini bunda meminta untuk menjemputnya karena ayah sibuk ada urusan mendadak.


"Kamu makan apa?" tanya bunda yang menyodorkan buku menu rumah makan ini padaku.


Aku langsung menyambut buku itu kemudian melihat-lihat isinya, membolak-balikkan jalaman demi halaman hingga akhirnya aku putuskan untuk memesan seporsi nasi ayam capcay dan segelas es teh manis. Sedangkan bunda lebih memilih mie goreng seafood dan teh manis hangat.


Setelah pesanan kami di hidangkan, kami mulai memakan makanan masing-masing, hingga akhirnya pertanyaan bunda membuat ku tersedak.


Uhuuk..


Uhuuk..


Kuraih gelas minumku kemudian meneguknya beberapa teguk hingga pencernaanku ini terasa lancar.


"Bunda cuman tanya, kamu sudah punya pacar atau belum? Kok malah sampai keselek gitu sih!" protes bunda. Aku hanya tersenyum hambar.

__ADS_1


Tak kuhiraukan pertanyaan bunda tadi, aku hanya kembali melanjutkan makan siangku ini.


"Kapan hari bunda liat kamu pulang diantar sama temen kamu, itu cowok, 'kan?"


Dan sekali lagi pertanyaan bunda membuatku tersedak untuk yang kedua kalinya.


"Bunda ngintipin aku ya?" selidikku setelah berhasil menstabilkan kembali kondisi tenggorokkanku. Ku tatap bunda dengan tatapan mata yang sengaja ku sipitkan sedikit, layaknya tokoh sinetron di dalam televisi.


Bunda terkekeh geli melihat tingkahku, lalu melanjutkan makannya kembali, begitupun dengan diriku.


Selesai makan siang, aku kembali mengantarkan bunda ke kantornya lagi. Namun siapa sangka, di parkiran aku bertemu dengan seorang lelaki yang ku kenal sebelumnya. Dia memanggilku, kemudian menghampiri. Sedangkan bunda terheran-heran melihat lelaki itu sambil melepaskan helm dan memberikannya padaku.


"Siapa itu?" tanya bunda sambil menyenggol lenganku.


"Temen."


"Jangan bohong,"


Lalu aku menoleh menatap bunda. "Beneran masih temen, Bun!" ralatku dengan nada memelas.


Seketika bunda melempar pandangannya kemudian tersenyum ke arah lain. Aku menoleh mengikuti arah pandangan bunda. Ternyata bunda tersenyum menatap lelaki yang tinggal lima langkah lagi mendekati kami.


Lelaki itu adalah Haikal. Lelaki yang selama ini selalu muncul dalam ingatan di kepalaku. Lelaki yang selalu pendiam namun penuh kejutan, menurutku.


Haikal menyapaku dan menyapa bunda, sambil memperkenalkan diri, dia menyalami punggung tangan bunda. Bunda yang lengannya diraih pun menjadi agak sedikit kikuk dengan perlakuan Jefri.


Hingga bunda putuskan untuk meninggalkan kami berdua di halaman ini, mengobrol.


"Habis makan siang ya?" tanya Haikal.


Aku hanya menganggukkan kepalaku cepat, lalu Haikal menanyakan kembali jadwalku setelah ini mau kemana, kukatakan bahwa aku akan segera kembali ke kantorku karena masih banyak pekerjaan yang belum terselesaikan.


Lalu tiba-tiba Haikal meminta nomer teleponku, menyodorkan ponselnya dan menyuruhku untuk menekan nomernya dilayar ponsel itu. Aku terdiam beberapa detik sambil menatapnya dibawah terik matahari.


'Bukankah aku sudah pernah memberikannya nomer teleponku? Saat kejadian aku membereskan dokumen gudangnya?' batinku.


Namun kemudian tanpa berkata-kata lagi, segera kuraih ponselnya lalu menekan nomer teleponku dan langsung kutekan tombol panggilan hingga suara ponselku berbunyi didalam tasku.


"Biar adil. Gua juga save nomer lu."


Tidak disangka, Haikal mengembangkan senyumannya padaku lalu menerima kembali ponselnya yang kusodorkan. Tidak menunggu lama, aku segera berpamitan padanya lalu kembali menyalakan mesin motorku dan meluncur menuju ke kantorku.


Namun sebelum terlalu jauh, aku beberapa kali melirik Haikal melalui kaca spionku. Terlihat jelas di sana, jika Haikal sedang menatap kepergianku. Tanpa beranjak masuk ke dalam Bank, sebelum aku yang menghilangkan bayangannya karena aku berbelok saat memasuki jalan raya.


Ada rasa bahagia yang muncul dalam hatiku, bukan hanya karena tiba-tiba secara tidak sengaja bertemu dengannya disini. Terlebih karena dia yang meminta nomer teleponku. Itu artinya ada kemungkinan dia yang akan duluan menghubungiku nanti.


Di sepanjang perjalanan menuju kantor, tidak henti-hentinya aku mengembangkan senyuman terbaikku. Bukan untuk memperlihatkan senyuman itu kepada sesama pengguna jalan raya, tapi karena hatiku terasa seperti sedang berbunga, bermekaran. Rasanya senang sekali!


Sesampainya di kantor, aku segera kembali menuju ke ruanganku. Tak lupa aku menyapa seluruh karyawan yang ada, yang berpapasan denganku. Bahkan kuperlihatkan kepada mereka senyuman termanis yang aku miliki.


Begitu memasuki ruangan, kembali ke kursiku, aku langsung mengambil ponsel di dalam tasku. Namun aku kembali terkejut, melihat dilayarnya ada sebuah pesan singkat melalu Whatsapp.


+62812-5231-xxxx : Sudah sampai di kantor?


Me : Sudah duduk.


Ada senyuman lagi yang mengembang di kedua sudut bibirku. Tak menyangka bahwa akan secepat ini Haikal menghubungiku.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2