Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
S2 - Eps 99


__ADS_3

Lisa POV.


Alex menerima ajakkan Haikal untuk menemaninya pergi ke minimarket di depan komplek rumahnya. Hal ini membuatku semakin yakin, pasti ada hal penting yang akan Max tanyakan padaku.


"Kamu kenal Dana?" tanya Max setelah berhasil menyulut rokoknya.


Aku mengangguk menjawab pertanyaannya itu. Sebelumnya Max juga menanyakan siapa lelaki yang datang bersamaku tadi. Kukatakan bahwa dia adalah Alex, pacarku sekaligus sahabatnya Jefri. Kemudian kami kembali membahas tentang Dana.


Ya, lelaki sinting yang kini mengganggu hidupku dan juga hidup Tika. Sebelumnya aku tidak menyangka jika Dana akan berbuat seperti itu. Meneror Tika dengan mengirimkan beberapa hadiah serta menelpon Tika dengan mengatakan berbagai hal yang sudah tidak penting lagi. Menurutku.


Tadinya kupikir, Dana tidak akan berniat untuk menghancurkan pernikahan Tika dan Jefri. Kupikir dia hanya ingin mengetahui kehidupan Tika setelah menikah, apakah Tika bahagia atau tidak. Tapi semakin kukatakan bahwa Tika bahagia, semakin gencar pula Dana melakukan aksinya.


Bahkan yang sempat kudengar terakhir kali, jika Dana menyadap CCTV kantor Tika untuk mengetahui pergerakkan Tika. Dan menurutku itu sudah tindakkan yang salah. Apalagi dengan ancamannya terakhir kali bertemu denganku, hingga membuatku menghindarinya dan jatuh pingsan.


Dana memang merupakan lelaki yang tergolong kaya saat ini akibat usahanya. Belum lagi karena lingkungan pergaulannya yang berada di atas golongan high class, hingga membuatnya terlalu sombong dan angkuh untuk mendapatkan sesuatu. Termasuk mendapatkan hati Tika.


"Kamu tahu rumahnya di mana?" tanya Max lagi sambil mengembuskan asap dari batang rokok yang dihirupnya.


"Dia di sini gak punya rumah dan setahu aku di Bali, dua punya villa yang sering dia tinggali dengan kawan-kawannya. Karena saat di Bali kemaren, aku tinggal di salah satu villanya dalam seminggu." Aku membeberkan semua tentang Dana pada Max.


Sama seperti Tika, sebenarnya aku juga takut, sebab jika satu masalah sudah sampai ke tangan Max, maka jangan berharap untuk minta ampun lagi. Sebab Max akan melindungi anggota keluarganya dari segala kesedihan dan gangguan yang mengancam kebahagiaannya.


Ya benar, Max sudah kuanggap sebagai kakakku sendiri, begitu juga dengan Haikal. Sebab saat aku kehilangan kedua orangtuaku, keluarga inilah yang pertama kali membantuku. Hingga saat ini pun, Max masih membantu usaha keluargaku di luar negeri. Dan aku tahu itu.


"Jadi menurut kamu, Dana bakal ngapain lagi setelah ini? Dia nekatan gak sih orangnya?" tanya Max menjadi semakin menggebu, penasaran dengan latar belakangnya.


Aku merogoh kotak rokok dalam tasku kemudian juga menyulutnya, mengisap setiap asap rokok yang masuk ke dalam paru-paru kemudian kuembuskan sisanya. Sebelumnya aku sudah meminta izin Max untuk merokok juga dan dia mengizinkan.


Kemudian perlahan aku mulai menceritakan kembali tentang Dana. Bahwa Dana yang sekarang bukanlah Dana yang dulu lembut dan bersahaja. Tapi Dana yang sekarang adalah sesosok lelaki yang terobsesi dengan wanita yang dicintainya. Terobsesi dengan kelembutan Tika.


"Aku gak tahu kenapa sekarang Dana bisa senekat itu. Dia seolah-olah sudah tergila-gila sama Tika. Terakhir ketemu dia, aku juga sempet bilang buat relain Tika, biarin Tika bahagia dengan pilihannya. Tapi dia kayak gak rela," jelasku pada Max yang masih menatapku sambil mendengarkan pengakuanku.


"Sialan!!" decak Max.


Saat ini Max terlihat gusar, kemudian dia meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja. Kemudian terlihat sedang mengetikkan sesuatu pada ponselnya. Aku hanya mampu memperhatikanya. Hingga akhirnya Max kembali menatapku, "Kata Haikal, kamu yang ngasih tiket Tika sama Jefri ke Maldives, bener?"


Aku kembali mengangguk, "Ya, kenapa?"


"Duit dari mana? Dari lelaki temennya yang di Bali itu?" selidik Max, aku hanya mengangguk lemah.


Aku memang sengaja menghabiskan uang itu. Beberapa sudah aku sumbangkan ke panti-panti asuhan, sebagian lagi aku masukkan ke tabungan deposito. Kini yang tertinggal hanya sebuah mobil dan juga beberapa lembar pakaian yang kubeli saat bersama dengannya.


***


Saat Haikal dan Alex kembali, pembicaraanku bersama Max juga telah berakhir. Aku telah membeberkan semua tentang Dana pada Max, yang di mana akhirnya, Max juga harus mengetahui tentang kehidupanku beberapa minggu lalu terakhir.


Aku mengembuskan napas sambil melihat Alex yang langsung duduk di sampingku. Kemudian Haikal yang meletakkan beberapa botol minuman di atas meja dan beberapa bungkus camilan.


"Lisa udah cerita juga ke Alex semua tentang Dana ya?" sergah Haikal padaku. Spontan aku menjawab dengan anggukkan kepala.


"Trus kalian ada rencana apa?" Sambil sesekali Alex menatap Max dan Haikal secara bergantian.


Sebenarnya kami belum mengetahui dengan pasti, maksud dan tujuan dari Dana yang bersikap seperti itu pada Tika. Entah memang karena terobsesi atau hanya sekedar berencana ingin menghancurkan hubungan pernikahan itu. Dan kami harus mencari tahu penyebabnya dahulu.

__ADS_1


"Mungkin buat sementara kita pancing dia dulu, biar dia cepat keluar dari tempat persembunyiannya. Sambil menunggu semua itu terjadi, nanti sepulangnya Tika sama Jefri dari liburannya, kita harus bicara ke mereka," usul Haikal. Kami menyetujuinya.


Mungkin memang benar, mestinya mencari tahu terlebih dahulu apa yang menyebabkan Dana bisa jadi seperti itu. Agar lebih mudah untuk menangani untuk selanjutnya.


Awalnya, aku dan Alex memiliki rencana sendiri dalam menghentikan lelaki sialan itu. Kami berencana hendak membiarkannya memata-matai Tika sampai dia merasa letih sendiri, tapi sampai sejauh ini, kami malah takut, Tika-nya yang tidak bisa bertahan.


Dan aku tidak pernah mengatakan bahwa Tika sedang hamil saat ini. Sebab aku takut, takut jika Dana gelap mata dan mencelakai Tika beserta anak dalam kandungannya itu, karena usia kehamilan Tika yang masih sangat muda.


Sempat terlintas dalam otakku beberapa hari ini, bahwa akulah penyebab kegilaan Dana. Aku yang menyebabkan semua ini terjadi, bahkan aku juga yang sudah mau memberikan info tentang Tika padanya. Oleh karena itu, mestinya aku yang menghentikan semuanya.


Tika sudah mau berbaik hati memaafkan kesalahanku, menerimaku kembali menjadi sahabatnya. Begitu pula dengan Alex, dia mau menerima kekotoran tubuhku. Kebejatanku mengkhianatinya hanya karena persoalan sepele.


Dan karena ulahku, kini semua orang haruas berpikir keras untuk mencari jalan keluarnya.


"Lis ... Lisa ...." Suara Haikal membuyarkan lamunanku dengan segala pemikiranku, aku langsung menoleh padanya. "Lu ngelamun mulu."


Kuberikan senyum terpaksaku lalu berkata, "Mestinya gua yang bertanggung jawab penuh dengan masalah ini. Karena masalah ini muncul akibat dari perbuatan gua. Dan lagi, Tika sudah terlalu baik mau memaafkan kesalahan gua itu. Bukan kalian yang harusnya mikirin jalan keluarnya, tapi gua!"


Alex membelai lenganku, mencoba menenangkanku saat ini. Tak terasa air mataku mulai menetes, membasahi pipiku yang tidak bisa lagi aku tahan. Kini aku merasa malu kepada mereka semua. Malu akibat nafsu sesaatku.


Tadinya aku berpikir dengan melupakan semua itu, maka tidak akan ada yang merasa terbebani. Tapi nyatanya pikiranku salah, melupakan kejadian itu tidak semudah mendelete file yang ada dalam komputer. Tapi melupakan semuanya sama seperti menghilangkan virus, begitu dihapus, sewaktu-waktu virus itu dapat kembali lagi masuk, merusak jaringan data yang lainnya.


Ya, seperti itu lah lelaki sialan itu. Lelaki yang dulu pernah aku cintai, tapi juga aku benci. Lelaki yang juga pernah menikmati tubuhku. Saat aku dilema meninggalkan kota kelahiranku.


Entah apa yang ada dipikiranku saat dua minggu yang lalu itu, entahlah ... aku benar-benar ingin melupakannya.


"Lis, gimana kalo elu nginep di sini? Lagian Haikal juga gak pernah tidur di sini. Takutnya tu laki bakalan nyamperin lu ke rumah lagi," usul Max.


Aku hanya menggelengkan kepala, dalam benakku, aku sudah membuat Tika repot dengan semua ini dan aku tidak ingin menambah lebih banyak orang lagi untuk memikirkan semuanya. Aku pasti bisa menghandle semua ini.


Setelah beberapa lama kemudian kami mengobrol, akhirnya aku dan Alex memutuskan untuk berpamitan sebab jam juga sudah menunjukkan pukul sebelas malam.


Alex mengantarkanku pulang. Selama di perjalanan tak banyak yang aku lakukan. Mataku hanya mencoba memperhatikan apa yang ada di pinggiran jala, dengan pikiranku yang melayang entah kemana.


"Udah jangan terlalu kamu pikirin lagi. Aku juga tadi udah ngomong kok sama Haikal." Alex membelai kepalaku sambil terfokus pada setir mobilnya.


"Tapi semua ini karena aku. Coba aja andaikan aku gak mau diajak barter?"


"Tapi kamu juga korban sekarang. Kita lupain deh masa senang-senang kamu saat itu. Setelahnya, kamu malah diuber-uber sama dia," tegas Alex.


Tidak ada lagi yang bisa aku katakan. Dalam hati aku hanya bisa merutuki semua kesalahanku, kecerobohan yang aku perbuat saat itu.


Akhirnya kami sampai di depan pekarangan rumahku, Alex mengatakan bahwa dia tidak bisa menemaniku malam ini karena dia harus pulang ke rumahnya, bukan pulang ke apartment-nya. Semenjak Alex memutuskan ingin tetap menikahiku, dia selalu diminta orangtuanya untuk tidur di rumah mereka. Dan itu menyebabkan Alex sekarang jarang menemaniku di rumah, walaupun hanya sekedar untuk menemaniku tidur. Tidak melakukan apa-apa.


"Gak papa kan malam ini kamu sendiri?" tanya Alex memastikan sekali lagi. Aku hanya mengangguk. Kemudian Alex segera memasuki rumahku dan mengecek semua jendela dan pintu belakang, ingin memastikan bahwa semua telah terkunci aman dari dalam.


"Usahain telepon selalu aktif ya? Trus kalo ada apa-apa dari luar, kamu langsung kabarin aku aja, jangan di cek sendiri. Oke?" tegas Alex yang kemudian mengecup keningku dalam dekapannya.


Setelah itu, Alex berpamitan untuk pulang. Dia menyuruhku untuk mengunci pintu depan selepas dia pergi, aku melakukannya. Kuintip dari celah gorden, hingga akhirnya bayangan mobilnya pergi menjauh.


Kurebahkan tubuhku tepat di tengah ranjang sambil memejamkan mata. Kubiarkan lampu kamar yang tetap mati, hanya ada cahaya yang berasal dari ruangan tengah, yang masuk melalui celah pintu kamar yang sengaja kubuka. Lalu aku mencoba untuk menenangkan diri. Hingga tiba-tiba aku merasa ada yang mengikat kedua kakiku, kemudian beralih mengangkat sebelah tanganku lalu mengikatnya pada tiang sandaran ranjang. Saat aku membuka mata, ternyata sosok Dana-lah yang melakukan itu. Aku meronta, berteriak meminta tolong.


Namun semua usahaku terlihat percuma, malah membuat Dana semakin menyeringai menatapku.

__ADS_1


Dia kembali meraih tanganku yang satunya, dengan paksa diikatnya pada sisi satunya lagi. Kini lengkaplah sudah, aku tidak bisa berkutik.


"Ini pertanyaan gua yang terakhir. Dimana alamat rumah Tika? Alamat dia tinggal bersama suaminya itu?" tanya Dana dengan tegas.


Aku semakin berteriak meminta tolong, meronta sekuat tenaga. Tapi Dana tak hilang akal, dia segera merobek sprei-ku dengan pisau belati yang sedari tadi sudah ada di salah satu tangannya. Lalu memasukkan robekkan itu ke mulutku, menyumpalnya. Tidak ada lagi yang bisa aku lakukan, hingga tak terasa pelupuk mataku telah basah, siap meluncurkan tetesan bulir-bulir air mata. Aku menangis dalam ketakutan.


Kini Dana duduk di atas kursi meja riasku, menatapku dengan penuh amarah. "Gua mau lu bicara, bukan teriak. Kalo elu bicara dan jawab pertanyaan gua, gua bakal lepasin lu kok! Oke?"


Dia mencoba bernegosiasi denganku, tak banyak yang bisa aku pikirkan saat itu. Aku hanya mengangguk mengikuti permintaannya. Perlahan dia kembali berdiri mendekatiku, melepaskan sumpalan kain yang dimasukkannya tadi ke dalam mulutku. Dalam tangis, aku bernapas lega sambil menatapnya.


"Bukannya perjanjian kita udah selesai?" tanyaku dengan napas yang masih tersengal.


Dia menyeringai menatapku. "Sejak kapan perjanjian kita selesai?"


"Sejak gua ninggalin temen lu di villa itu. Perjanjian kita berakhir sejak gua ninggalin pulau Bali kan?" Aku berteriak menjelaskan padanya. Emosiku semakin meningkat.


Dia terus menampakkan seringai jahatnya, kemudian dia kembali berdiri, dengan pisau belati yang ada di tangan kanannya. Dia duduk di atas ranjang di sampingku. Kemudian tertawa terbahak-bahak. Entah apa yang sedang dia tertawakan. Yang ada, tawanya itu semakin membuatku takut.


Dibelainya pipiku dengan menggunakan pisau belati itu, aku terperangah. Aku tidak berani untuk bergerak sedikitpun. Jangankan untuk bergerak, bernapas saja aku sulit.


"Denger baik-baik, perjanjian kita berakhir kalau gua udah bisa ngedapetin Tika. Dan selama itu belum terwujud, jangan harap lu bisa hidup tenang. Ngerti?" ancam Dana sambil melepaskan pipiku dari tajamnya belati itu. Aku bernapas lega.


🎢


Wait, can you turn around, can you turn around?


Just wait, can we work this out, can we work this out?


Just wait, can you come here please? 'Cause I want to be with you


🎢


Tiba-tiba ponselku berdering. Aku membuka mata. Langsung ku cek tubuhku yang masih dalam posisi semula. Berbaring telentang tepat di tengah ranjang, tanpa kaki dan tangan yang terikat. Aku bernapas lega, begitu menyadari ternyata semua tadi hanyalah sebuah mimpi.


Kemudian ku raih ponselku yang terus saja berdering. Tika caliing. Segera ku terima telepon itu.


"Hallo? Iya gak papa, gua baik-baik aja ...."


Tika menanyakan kabarku, dia juga menceritakan betapa indahnya kota Maldives. Tak ada henti-hentinya dia mengucapkan terima kasih atas hadiah yang aku dan Alex berikan.


Aku bersyukur Tika dapat menikmati liburannya.


Bersambung ...


β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”


Gimana gimana??


Udah tegang atau biasa aja??


Tinggalin komen kalian tentang episode kali ini yahh 😘


Babay πŸ’‹

__ADS_1


__ADS_2